SIMPLYASEP.COM Pada hari Selasa 25 Agustus 2020 jam 09.02 WIB pagi hari saya mendatangi kantor BCA Kubu Raya untuk keperluan menyetor tunai melalui Teller di Bank tersebut.

Saya tiba di Kantor BCA Kubu Raya sekitar jam 09.10 WIB. Sengaja saya datang pagi karena kuatir kalau datang siang antrian panjang. Tapi begitu saya masuk ke dalam Gedung Megah BCA Kubu Raya kekuatiran saya sirna karena luas nya bagian dalam Bank tersebut, sejuk, dan nyaris tidak ada antrian. Saya merasa nyaman

Saya memang ingin menyetor tunai melalui Teller Bank dan sengaja saya tidak menyetor dengan menggunakan Cash Deposit Machine yang ada di dalam bank tersebut karena saya ingin sekalian print (mencetak) rekening koran atau print di Buku Tabungan.

Sata pun mengisi lembaran Bukti Setoran yang sudah tersedia di Bank tersebut. Karena saya sudah terbiasa menyetor tunai dengan menggunakan bukti setoran, jadi saya tidak ada masalah mengisinya. Masyarakat yang ingin menyetor tunai di Bank BCA juga tidak perlu kuatir

karena petugas siap membantu mengisikannya, dan atau bisa liat langsung dari contoh pengisian lembaran Bukti Setoran yang sudah tertempel. Tinggal ikuti saja Mudah kan

Data data yang saya isikan di dalam lembaran Bukti Setoran adalah sebagai berikut

• Jenis rekening
• Nomor rekening customer
• Berita/keterangan
• Nama penyetor
• Alamat penyetor
• No rekening\
• Jenis setoran, jumlah/ nominal
• Tanda tangan penyetor

Setelah blamko Setoran Tunai dirasa lengkap, saya pun berjalan dengan tenang menuju loket 3 kalau tidak salah. Mohon saya dikoreksi jika salah sebut ya. Nyaris tidak ada antrian, saya pun tidak diberi nomor antrian. Mungkin saat itu memang sedang tidak ada antrian

TELLER :  Nama Iena terpampang di depan saya. Saya sempat mengambil foto plang namanya saja.  Teller ini lah yang memeriksa  dengan cermat Blanko Bukti Setoran yang saya isi. Foto Asep Haryono
TELLER :  Nama Iena terpampang di depan saya. Saya sempat mengambil foto plang namanya saja.  Teller ini lah yang memeriksa  dengan cermat Blanko Bukti Setoran yang saya isi. Foto Asep Haryono

BUKTI SETORAN :  Inilah bukti setoran yang ternyata saya salah tulis di keterangan nominalnya, dan itu saya ketahui karena blanko bukti setoran ini diperiksa dengan telilti oleh Teller Iena. Foto Asep Haryono
BUKTI SETORAN :
  Inilah bukti setoran yang ternyata saya salah tulis di keterangan nominalnya, dan itu saya ketahui karena blanko bukti setoran ini diperiksa dengan telilti oleh Teller Iena. Foto Asep Haryono


Salah Isi Bukti Setoran
Di loket 3 tersebut , petugas Teller yang melayani nasabah bernama Iena, saya tau dari plang nama yang ada di depannya. Saya berasumsi Teller yang melayani saya ini namanya Iena kaena saya melihatnya dari plang nama yang di depannya.

Dibalik pembatas kaca, saya menyerahkan blanko Setoran Tunai yang sudah di isi, lengkap dengan Buku Tabungan BCA dan beberapa lembaran pecahan 100 ribu di dlamnya serta kartu ATM

“ATM tidak perlu pak” katanya kepada saya. Dia hanya mengambil blanko Setoran tunai yang sudah saya isi, uang tunai, dan buku tabungan saya Kartu ATM diserahkan kepada saya

:Oh iya maaf. Saya grogi” kata saya

Petugas Teller yang berparas manis ini hanya senyum senyum saja mendengar jawaban saya tadi itu.

Tiba tiba, Petugas Teller memberitahu saya bahwa jumlah uang yang saya setorkan itu berjumlah Rp.3.200.000- sedangkan dalam lembaran Setoran Tunai yang saya isi tertera Rp.2.200.000 Ada selisih 1 juta rupiah.

Kaget juga saya

“Silahkan pak bikin yang baru lagi, dengan mengisi lagi Blanko Setoran tunai dari awal, dan angkanya ditulis 3.200 000 ya pak” kata Teller

Teller itu memberikan lagi kepada saya 1 buah blanko Setoran tunai yang masih kosong untuk saya isi kembali dengan benar dan angka yang akan disetorkan harus tertulis 3.200.000 sesuai dengan jumlah uang yang disetorkan
|
Transaksi pun sukses. Saya pun menerima salinan atau copy Bukti Setoran yang sudah diverifikasi oleh Teller Iena. Saya pun berjalan dengan tenang keluar dari Bank BC Kubu Raya untuk kembali ke rumah

Pada kesempatan yang berharga ini, saya mengucapkan Terima Kasih kepada Bank BCA Kubu Raya atas excellent servicenya,

Secara khusus ucapan terima kasih kepada Iena, Teller BCA Kubu Raya atas keteleitian, kejelian serta kejujurannya dalam melayani saya sebagai nasabah baru yang menyetor tunai di Bank BCA Kubu Raya hari itu

Saya senang menjadi nasabah Bank BCA Kubu Raya karena pelayanannya yang prima, penuh perhatian kepada customer/nasabah dan siap membantu nasabah setiap saat. Well done BCA Kubu Raya.  Keep up  the good work (Asep Haryono)

Putri Diana tahu tentang perselingkuhan yang Pangeran Charles sembunyikan dengan Camilla Parker Bowles - dan dia memberi tahu simpanan suaminya bagaimana perasaannya tentang hal itu.

Setelah dinasihati oleh teman-teman untuk mengabaikan kecurigaan perselingkuhan antara suaminya Pangeran Charles dan teman lama Camilla Parker Bowles, Putri Diana merasa bahwa dia harus memberi pemikiran pada suaminya, menurut rekaman arsip dari National Geographic. Diana tahu apa yang dia hadapi ketika dia mendekati Camilla tentang perselingkuhannya, dan rupanya begitu pula Pangeran Charles.

Baca juga Apa yang dirasaka Putri Diana saat pertama kali bertemu dengan Pangeran Charles

Camilla dan Pangeran Charles sedang mengobrol dengan teman lain di ruang bawah ketika Diana meminta untuk bersenang-senang sendirian dengan Camilla. Menurut rekaman itu, Diana ingat Charles dengan panik berlari ke atas bertanya kepada teman itu apa yang akan dilakukan Diana.


Photo courtesy Shutterstock
Photo courtesy Shutterstock

Meskipun Putri Wales mengatakan bahwa dia "takut" terhadap Camilla, Diana memberitahunya dengan berani, "Aku ingin kamu tahu bahwa aku tahu persis apa yang sedang terjadi."

Camilla berusaha menghindari klaim itu dengan mengatakan dia tidak tahu apa yang dibicarakan Diana. Diana ingat Camilla mengatakan bahwa dia memiliki "semua yang dia inginkan" dan "semua pria di dunia." Ketika ditanya apa lagi yang dia inginkan, Diana memberi tahu Camilla, "Aku menginginkan suamiku."

Anehnya, Diana meminta maaf kepada Camilla karena menghalangi dia dan Charles, tetapi dia masih marah. "Aku tahu apa yang sedang terjadi," katanya kepada Camilla. "Jangan perlakukan aku seperti orang idiot."

Diana tidak bodoh, karena pada tahun 1994 Charles mengakui perzinahannya, dan pada tahun 1996, pasangan itu mengajukan gugatan cerai. Seperti yang kita semua tahu, Pangeran Charles akhirnya menikahi Camilla pada tahun 2005.

Bagaimana Diana berhadapan dengan Camilla adalah hal yang berani dan juga sekalgus menakutkan; dia tidak bisa tidur pada malam berikutnya. Diana mengatakan bahwa meskipun dia masih merasa cemburu, dia juga merasakan "perubahan besar" sesudahnya.  (Jayna Taylor-Smith)


 

Sumber: Ekspres

Pontianak (SIMPLYASEP.COM)   Pada tanggal 11 Agustus 2020 yang lalu saya ingin mentransfer pembayaran atas pemesan produk Herbal dari LAZADA melalui ATM Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang ada di dalam di Kantor BRI Arteri 2 Supadia Kubu Raya Kalimantan Barat . 

Saya mendatangi  BRI Arteri 2 Supadio itu sekitar pukul 12.30 WiB di hari tersebut.  Saya memang Nasabah BRI sejak beberapa tahun yang lalu, mungkin sejak tahun 2016 saya sudah menjadi nasabah BRI Teuku Umar Pontianak.

Saya tiba di Kantor BRI Arteri 2 Supadio Kubu Raya sekitar jam 12.40 wiB, jamnya orang pada makan siang.  Tapi saya tidak ada masalah karena saya hanya akan mentransfer melalui mesin ATM nya saja.  Karena mungkin sedang jam makan siang, nyaris tidak ada antrian di dalam gedung BRI Arteri 2 Supadio Kubu Raya tersebut.

Begitu saya tiba, saya langsung masuk ke dalam Kantor BRI Ayani 2 Supadio Kubu Raya dan langsung melakukan transaksi di dalam Kantor BRI tersebut.  Di kantor BRI Arteri 2 Supadio itu ada 2 buah mesin ATM beda pecahan uangnya. Yang di bagian dalam ATM BRI untuk uang pecahan 100K , sedangkan 1 buah mesin ATM BRI di luar samping nya adalah ATM BRI untuk pecahan 50K 

ATM Bank BRI.  Foto Asep Haryono
ATM Bank BRI.  Foto Asep Haryono


Uang Tidak Keluar
Saya pun berdiri di depan mesin ATM BRI pecahan 100K di dalam kantor tersebut.  Saya mengeluarkan ATM BRI saya lengkap dengan kertas yang berisi catatan nomor rekening yang akan saya transfer hari itu.   Rekening tujuan saya adalah nomor rekening Bank Lain milik salah seorang supplier Herbal yang saya pesan produknya secara daring. Besar uang yang saya transfer sebesar Rp.810.000,- (Delapan Ratus Sepuluh Ribu Rupiah).

Saya memasukkan kartu ATM BRI saya terlebih dahulu, kemudian memasukkan Personal Identification Number (PIN) , saya mencek Saldo terlebih dahulu, kemudian menekan tombol transfer ke Bank Lain, mencantumkan Kode Bank tersebut , singkat kata transaksi SUKSES.  Dana sebesar 810K itu berhasil  terdebet dan terkirim  Print out kertas sebagai tanda bukti transaksi sukses pun keluar

Baca juga  TIPS Mengganti Buku Tabungan BRI Yang Sudah Penuh

Transaksi kedua, saya menarik cash sebesar Rp.100.000,- (Seratus Ribu Rupiah).  Saat itu mesin ATM BRI seperti ada gangguan. Beberapa kali saya menekan layar sentuh atau tombol disampingnya screen mesin ATM menu pilihan yang ada di layar mesin ATM tidak bergeming sama sekali.  Perasaan saya sudah tidak nyaman saat itu.  Setelah muncul menu Penarikan Tunai, saya pun menekan menu pilihan yang ada di layar sebesar 100K,   uang tidak keluar, tetapi anehnya Kertas Prin Out keluar dan tercetak SUKSES.  

Saat itu juga saya melaporkan kepada Security (Satpam) yang bertugas hari itu, saya lupa namanya orangnya tinggi ganteng. membantu saya dan mencoba mengatasi masalah yang saya hadapi  Dia pun meminta saya untuk tetap tenan jangan panik dan meminta saya untuk menunggu 1 x 24 jam biasanya uang akan kembali ke rekeninh nasabah.  


Sebenarnya saya ingin langsung mengurusnya melalui Customer Service BRI Arteri 2 Supadio tersebut, namun karena saya sudah terlambat masuk kantor hari itu, saya memutuskan untuk menunggu saja 1 x 24 jam seperti yang disarankan satpam bank tersebut     Saya masih bisa mengurusnya besok hari tentunya

Menghubungi BRI Pusat Melalui Twitter

Masih di hari yang sama 11 Agustus 2020 itu juga setelah dari Kantor BRI Ayani 2 Arteri Supadio, saya masuk kantor terlebih dahulu, dan saya tiba di kantor sekitar pukul 13.10 WIB.  Saya langsung membuka Laptop kerja saya dan mencoba menghubungi Bank Rakyat Indonesia (BRI) Pusat melalui akun resmi Twitter BRI @kontakBRI dan diterima oleh Customer Serive BRI Pusat Prisk, Yuka dan Zain

Oleh Customer Serive BRI Zain, saya pun menceritakan kronologis kejadiannya, dan setelah dilakukan pengecekan tidak ada laporan pengaduan dari saya.  Saya disarakan untuk segeras membuat laporan ke kantor cabang BRI mana saja dengan membaw Buku Tabungan , KTP dan Kartu ATM.  Saya sudah siapkan semua persyaratan yang diminta.    Berikut di bawah ini adalah rekaman percakapan saya dengan pihak BRI Pusat Jakarta
 






Atas saran dari akun Twitter resmi BRI itu pula, saya menyiapkan semua yang diminta untuk membuat laporan ke Bank BRI Cabang Teuku Umar  Pontianak tempat saya membuka rekening.   Saya memutuskan untuk mendatangi kantor BRI Teuku Umar Pontianakdi hari berikutnya atau pada hari Selasa ,l 18 Agustus 2020.

18-8-2020 : Saya Membuat Laporan Nasabah
Seperti yang sudah direncanakan pada hari itu Selasa 18 Agustus 2020 jam 07.30 WIB pagi hari saya sudah meluncur dari rumah kediaman saya di Komplek Duta Bandara Kubu Raya menuju kantor BRI Teuku Umar Pontianak.  Jarak yang ditempuh dari rumah saya ke kantor BRI Teuku Umar Pontianak sekitar 30 menit.

Saya tiba di Kantor BRI Teuku Umar Pontianak sekitar jam 07.45 WIB. Sengaja saya datang pagi karena kuatir kalau datang siang antria panjang. Maklum saya akan berkonsultasi dengan pihak Customer Servicenya jadi harus datang lebih pagi, sehingga saya bisa mendapat nomro Antrian 1.

Saya memang akhirnya mendapat nomor antrian 1.

Tepat jam 08.00 WIB saya sudah duduk berhadapan dengan salah seorang Customer Service BRI Teuku Umar Pontianak yang aknirnya saya ketahui bernama Usman. Saya tau dari plang nama yang ada di depannya.   Setelah saya ditanya keperluannya apa barulah saya menceritakan kronologis kejadiannya kepada dia secara runut dari awal hingga akhir dengan singkat jelas padat.

Saya ceritakan kepada Usman bahwa pada tanggal 11 Agustus 2020 sekitar jam 12.00 WIB  saya melakukan transaksi melalui Mesin ATM BRI yang ada di Kantor BRI cabang Arteri Supadio Kubu Raya. 

Ada 3 transaksi yang saya lakukan di mesin ATM BRI Ayani 2 Kubu Raya pada tanggal tersebut  



  • Pertama, transfer ke Rekening Bank Lain sebesar Rp.810.000,l dan berhasil dengan sukses, ada print outnya   
  • Kedua, saya menarik tunai sebesar 100K transaksi sukses, namun uang tidak keluar, 
  • Ketiga saya menarik cash 200K di ATM BRI di tempat lain Sukses.  Semua ada print outnya.

Baca juga Pengalaman Mengurus Kartu ATM BRI Yang Pasif


Dan tujuan saya hari itu adalah membuat laporan transaksi berhasil namun uang tidak keluar. Saya keluarkan Buku Tabungan BRI saya, kartu ATM, dan E-KTP atas nama saya sendiri Asep Haryono. Saya pun membawa tiga lembar kertas print out transaksi yang saya lakukan pada tangga 11 Agustus 2020 tersebut

Saya sempat pesimis saat memberikan keterangan tersebut di hadapan CS Bank BRI Teuku Umar tersebut. Pasalnya kertas sudah tercetak SUKSES namun uang tidak keluar. Darimana pihak BRI akan mempercayai laporan saya. Saya bahkan sudah siap dengan verifikasi  rekaman CCTV transaksi di ATM BRI yang saya lakukan di tanggal 11 Agustus 2020

 Sampai segitunya. Saya pun wait and see saja

Dan oleh Usman, pengaduan saya ditangani dengan baik. Beberapa pertanyaan yang diajukannya berhasil saya jawab dilengkapi dengan data data yang menunjang seperti kertas print out, ATM dan Buku Tabungannya. Laporan saya pun diprosesnya

Oleh Usman staf BRI Teuku Umar Pontianak ini laporan saya dibuat semacam berita acara yang berjudul BRICare Trouble Report lengkap dengan nomir ID tickernya



Trouble Ticket ID : xxxxxx
Call Type ID : xxxxxxx
Deskripsi { : Nasabah  BRI Gagal Tarik Tunai  dan Terdebet di ATM BRI
Tanggal Transaksi : August 11, 2020 : 12,00 AM

Detail : Nasabah gagal melakukan transaksi tarik tunai sebsar Rp.100.000 sebanyak 1 kali pada tanggal 11 Agustus 2020 jam 12.47 WIb




Dan Usman pun menyerahkan  BRICare Trouble Report tersebut dan berpesan kepada saya untuk menjaga Ticket Pengaduan tersebuta dengan baik dan jangan sampai hiang, Saya membaca Ticket tersebut sudah senang karena Laporan saya diterima dan dinyatakan Vaid dan sah.  Pihak BRI Teuku Umar percaya dengan pengaduan yang saya sampaikan karena pengaduan saya sudah dilakukan Bank Checking dan diverifikasi oleh Pihak Bank

Jadi saya mengalami apa yang dinamakan kejadian Nasabah BRI Gagal Tarik Tunai dan Terdebet di ATM Ini pengalaman yang pertama bagi saya selama menjadi nasabah BRI sejak sekitar tahun 2016 yang lalu



Ini loh yang namanya Bang Usman yang bertugas di Bank BRI Teuku Umar Pontianak yang melayani pengaduan saya sebagai Nasbah BRI.  Terima Kasihs udah membantu saya ya.  Mohon maaf fotonya saya ambil diam diam Foto Asep Haryono
Ini loh yang namanya Bang Usman yang bertugas di Bank BRI Teuku Umar Pontianak yang melayani pengaduan saya sebagai Nasbah BRI.  Terima Kasihs udah membantu saya ya.  Mohon maaf fotonya saya ambil diam diam Foto Asep Haryono

NAMA : Ini papan nama USMAN yang melayani pengaduan saya di hari itu Selasa 18 Agustus 2020 yang saya ambil fotonya untuk kelengkapan tulisan ini. Foto Asep Haryono
NAMA : Ini papan nama USMAN yang melayani pengaduan saya di hari itu Selasa 18 Agustus 2020 yang saya ambil fotonya untuk kelengkapan tulisan ini. Foto Asep Haryono

Inilah yang dinamakan BRICare Trouble Report  nya



19-8-2020. Uang Saya Sudah Kembali Ke Rekening Malam Hari 


Saya senang sudah membuat laporan kepada pigak Bank BRI Teuku Umar Pontianak, dan laporan saya dianggap sah dan Valid.  Terbukti dengan Berita Acara BRICare Trouble Report nya sudah saya genggam    Saya pun pulang ke rumah dan beraktifitas seperti biasa untuk mempersiapkan agenda kerja saya untuk esok harinya Rabu, 19 Agustus 2020

Di hari Rabu 19 Agustus 2020 (atau tepat 1 hari dari laporan atau pengaduan yang saya buat -red) tepatnya pada jam 23.00 WIB Malam hari ada SMS  Banking masuk ke dalam Handphone Samsung Galaxy A10S saya.  Saya liat nama pengirimnya adalah BankBRI dan setelah saya buka isi SMS nya saya senang karena pada malam itu Uang saya sebesar 100K sudah kembali masuk ke rekening saya. 

Alhamdulillah

Saya memang mengaktifkan BRI SMS Banking yang selalu memberitahu kepada saya setiap transksi baik DEBET atau KREDIT dari ATM saya selalu ada notfikasinya terkirim ke Handphoen saya.  Saya pun mengcapture SMS tersebut untuk dokumentasi penulisan.

Ini loh sisi SMS dari BankBRI nya



Screenshot SMS BankBRI. Uang masuk malam hari.  Mantaff
Screenshot SMS BankBRI. Uang masuk malam hari.  Mantaff


Alhamdulillah. Terima Kasih BRI Teuku Umar Pontianak


Saya jadi punya pengalaman.  Dari pengalaman ini saya menghimbau para Nasbah BRI untuk segera melakukan pengaduan atau laporan apa pun jika mengalamai masalah saat melakukan transaksi di Bank BRI.  Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, dan BRI pasti selalu siap membantu mengatasi masalah nasabah seperti saya

Pada kesempatan yang berharga ini saya mengucapkan Terima Kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada

  • Bank BRI Cabang Arteri 2 Supadio Kubu Raya
  • Bank BRI Cabang Teuku Umar Pontianak

Secara khusus ucapan terima kasih kepada Usman, di Kantor BRI Teuku Uma Pontianak yang sudah menerima dan mengurus pengaduian saya sebagai nasabah Juga buat Bang Shandy Staf Satpam Kantor Bank BRI Cabang Arteri 2 Supadio atas bantuannya juga.

Mereka dengan sabar melayani keluhan dan pengaduan saya dan berhasil membantu mengatasi masalah saya sebagai salah satu nasabah setia bank BRI. Saya bangga menjadi Nasabah BRI Keep up the good work. Well done BRI  (Asep Haryono)




www.simplyasep.com  "Silahkan den mau beli bendera yang mana yang kecil ada harganya 5000 rupiah cocok untuk anak anak" goda Kang Nano membujuk saya agar membeli salah satu koleksi bendera merah putihnya. Dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74 tahun lalu, ada banyak pedagang Bendera bermunculan di mana mana bak jamur di musim hujan.   Saya berhasil melakukan wawancara salah seorang pedagang Bendara di sepanjang Jalur Ahmad Yani 2 Kubu Raya Kalimantan Barat.

Berikut liputannya. Selamat membaca


Saya saat itu (29/7) saya memang ingin memeriksakan motor Honda SupraFit saya ke bengkel motor di kawasan Jalan Supadio, namun bengkel bukanya masih satu jam lagi. Sambil menunggu bengkel motor itu buka , saya mencoba mengajak ngobrol penjual bendera yang mangkalnya tidak jauh dari bengkel motor tersebut.

"Nama saya Kang Nano, saya dari Garut, rumah saya di Bandung, sudah berkeluarga anak saya satu, di Pontianak ini baru beberapa hari, jualan bendera di sini pindah pindah gitu" kata Kang Nano membuka obrolan siang itu. 


Baca juga INSPIRASI : Kisah penjual Pastel Yang Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Dia datang ke Pontianak bersama beberapa teman teman lainnya yang diajak oleh seorang agen yang memperkerjakan mereka berjualan Bendera. "Jadi di Pontianak ini saya baru beberapa hari, belum banyak tau jalan jalan sekitar ini untung saja ada kawan saya yang juga penjual bendera juga yang sudah paham jadi bisa bantuin kalau nda ya tersesat" katanya

Ketika saya tanya mengapa kota Pontianak yang menjadi pilihannya berjualan Bendera dia pun menjawab "Sebenarnya nda rencana bisa sampai ke sini (Pontianak-red) saya iku agen saja, jadi agen yang bilang kalau kita jualan di Pontianak aja" katanya. Hasil keuntungan dari jualan musiman seperti bendera ini menurutnya lumayan dan bisa bersih dibawa pulang.

"Jualan Bendera memang musiman, makanya agen saya bilang udah jual aja benderanya, laku nda laku gajinya tetap dibayar 2 juta rupiah" katanya. Dia menyebut jika bendera tidak laku tetap dikembalikan ke agen, dan dihitung ulang mana yang laku dan mana yang masih ada sisa. "Semuanya harus pas . jika ada yang kurang ya resiko saya harus ganti, potong gaji gitu" katanya.

Dia juga sudah mendengar kalau banyak orang seperti dirinya yang merantau ke Pontianak sudah lebih dahulu sukses seperti penjual Batagor, Sol Sepatu, dan juga Siomay.

"Oh ya itu temen teman juga walau tidak kenal namanya dari kampung ya rasanya sudah seperti saudara" kata Kang Nano sambil menyebut daerah asalnya di Bandung dan sekitarnya. Kang Nano kaget mendengar saya bicara dengan aksen Bahasa Sunda "Oh bukan kang, saya mah Indonesia aja lahir kebetulan di Jakarta cuma memang ada blasteran Sunda, karena ayah saya Almarhum dari Cirebon gitu kang" jawab saya sekenanya. Kang Nano manggut manggut saja 


JUALAN : Kang Nano berjualan bendera berpindah pindah . Bergaya ditempat lokasi usahanya. Foto Asep Haryono
JUALAN : Kang Nano berjualan bendera berpindah pindah . Bergaya ditempat lokasi usahanya. Foto Asep Haryono

SENANG : Kang Nano tidak berkeberatan fotonya diambil untuk keperluan penulisan feature ini. Foto Asep Haryono
SENANG : Kang Nano tidak berkeberatan fotonya diambil untuk keperluan penulisan feature ini. Foto Asep Haryono




"Iya waktu itu Agennya yang menjanjikan nih kamu pekerjaannya mencari iikan hiu di laut gajinya 3 juta rupiah per bulan ditambah makan yang nyaman" gitu kata kang Nano. Dia dan kawan kawan lainnya yang menerima tawaran pekerjaan itu diminta berbelanja membeli baju baju dan makanan sebagai bekal selama di perjalanan yang memakan waktu sekitar 1,5 tahun
"Belanjanya di Koperasi Agen itu dan uangnya dipinjamkan sebesar 3 juta rupiah sama agen dan dibayar (dipotong) dar Gaji yang dierima selama melaut dan setelah kontrak melautnya selesai, jika tidak mampu mengembalikan pinjaman ini akan dipukuli sama BodyGuard yang badannya besar besar itu" katanya. Ngeri ngeri sedap saya mendengar cerita kang Nano ini.
"Dipukulin bagaimana kang?" kejar saya. "Ya dipukulin digebukin namun tidak sampai berdara kok dipukulnya juga pake tangan kosong, ya sakit juga namanya juga dipukulin" kata Kang Nano. Dia pun menceritaka ada beberapa rekan seperjuangannya yang berasal dari Lombok yang tidak tahan kena pukul sama Bodyguardnya karena tidak mampu kembalikan pinjaman.
"Sekarang kawan saya yang dari Lombok itu jadi gila" katanya. Dia bersyukur sepulang dari melaut ini penghasilan yang didapatnya tidak kurang dari 18 juta rupiah cukup besar untuk dibawa pulang ke kampung halamannya di Bandung. "Itu sudah dipotong pinjaman koperasi sebesar 3 juta" tambahnya

Ada yang unik ketika Kang Nano tiba di rumahnya di Bandung disambut sama istrinya dengan penuh haru. "Iya istri saya menyangka saya sudah meninggal karena lebih dari 1 tahun nda ada kabar sama sekali telepon, surat gitu namanya juga melaut di kapal, dan rambut saya gondrong panjang sekali ya nda ke urus gitu" katanya.

Sambil merokok Kang Nano pun melanjutkan ceritanya saat melaut memancing di laut yang penuh dengan penderitaan. "Pokoknya susah deh namanya juga melaut, kapalnya motor sih ada layarnya, untuk makan sehari hari aja di kapal laut apa adanya, sayur pun encer mau dimakan atau nda ya terserah, udah gitu kapal sering dihantam ombak sampai nyaris mau tenggelam, wah susah deh"

Kini kang Nano sudah berkumpul dengan keluarganya di Bandung. Namun hasrat merantaunya kembali memanggil tapi kali ini tidak melaut lagi. "Ini jualan Bendera aja saya mah, lumayan gajinya 3 juta biar cuma musiman aja, laku nda laku yang tetap dibayar penuh ini gajinya" kata Kang Nano.

Ketika saya tanya rencana masa depannya , dia pun sejenak terdiam. Matanya menerawang memandangi deretan bendera bendera yang dijualnya. "Mungkin saya mau usaha sendiri di Bandung biar cuma percetakan atau fotokopi gak apalah asal dekat sama keluarga". (Seperti yang dituturkan kepada Asep Haryono)


SIMPLYASEP.COM It is almost certain that not many people know the name Mitragyna Speciosa, even the common name KRATOM, many of whom may not know him. Yes, Kratom, a name that I myself am also one that just knows the name kratom after seeing the product first hand. And the opportunity finally came when I visited one of the Kratom entrepreneurs in Pontianak on Sunday morning (9 August 2020) around 09.00 WIB at his residence in Paris Haji Husin 2 Pontianak.

The first time I heard the name KRATOM, if I'm not mistaken, was from Kang Otong Rosyid, my best friend at college, and now he has managed the famous Panama Chicken Noodles some time ago. It was from him that I recognized the word and I didn't know what shape and appearance this thing called Kratom was. I also do not have any interest in just finding out on the Internet, the point is I am normal, the reaction is not interesting maybe at that time

First to Knowing Kratom
And finally when I checked the pen pal account that I was a member of (a non-paying member, aka not a Premium class member - free member - red) there was a message entered in my account inbox on the pen pal's website. If I'm not mistaken, the Pen-Pals world is right, I'm sorry if I'm wrong.

And when I opened the message, there was a foreign name who came from a foreign country too. His name is Milan Brabec, from the Republic of Czeh, a European country. In his message he suddenly felt that I was a person who could get "trust" (trust) from him to work with in a business collaboration. I don't know what business he wants to offer me. People I don't know at all suddenly offer a business partnership. Obviously this is very suspicious. 

Add caption
But later my suspicions were not proven. Okay, continue the story

Now from the meeting in the inbix, it continues to communication via email. From this email communication, my suspicions were finally answered, which apparently he asked for cooperation to send goods to him. The point here is that I was asked to buy goods (with his money of course) and then the goods were sent to his country. And the item in question is Kratom or the Latin name Mitragyna Speciosa

Frustate Seeking Good Supplier
This is where my mind-boggling journey begins. I immediately received an "assignment" from him to look for his ordered items, namely 18 kilograms of Kratom with a certain type, and half of them I had to order from LAZADA, one of the most popular online shops in Indonesia. I am already a member of this online shop, but just look at the items for price appeal, but never shop.

But in the end I also shop at LAZADA for the first time, and the shopping is also shopping for goods ordered by Milan, namely Kratom as much as 9 Kilograms

I already called it a dizzying trip, right? So, how dizzy?
I had to search for a local Kratom supplier, who had to go through the AGROMARET website according to my friend's recommendation, but ended up hunting to several suppliers or direct sellers (direct sellers). For the price of the Kratom itself, my friend already has a handle, so if what I am looking for, the price can be in the range of the price he has, which is 80,000 IDR.

There were about 4 or 5 Kratom suppliers that I interviewed and I also selected based on the criteria held by Millan Brabec. All evaluations, from the analysis of the price of the product itself to the technical evaluation of the shipment, which were originally intended to be sent to the Czech Rep, but were later transferred to his address in Germany. Germany is in the Zone 6 area for Kratom lovers, for sure what a zone zone is in terms of sending Kratom abroad

From 4 or 5 Kratom suppliers finally narrowed to 2 and finally I decided to sign a contract with Decky Oktavianto, the Kratom supplier whose photos I have included below.

Decky showed me his awesome Kratom at his home, and it was really amazing, and awesome.  Photo Asep Haryono
Decky showed me his awesome Kratom at his home, and it was really amazing, and awesome.  Photo Asep Haryono

This is Red Kratom which has not been organised  Photo Asep Haryono
This is Red Kratom which has not been organised  Photo Asep Haryono

I got Decky's name and address also from my friend who is also my neighbor at the Kubu Raya Airport Ambassador Complex, Budi Wiranto. And the moment below is finally I can touch directly (touch physically) what is called Kratom in powder form (powder)

Why was Decky chosen to get this Kratom order contract because I saw his honesty in doing business. People taking fees or profits, of course, are fine and legal.

However, if the profit or commission requested is outrageous, and he casually mentions that the number of the COMMISSION he wants is no longer a commission but is already included in the area of ​​Pungli or Liar Pungli. Not Aji Mumpung, and that's what I like from this Kratom Kalbar entrepreneur profile

When discussing the issue of FEE or the Commission from Kratom, I am a common person, aka Honest Kacang Ijo. I myself have never mentioned the amount of the FEE or commission from my friend from Germany. If anything (and it seems so) is purely the result of the gift., The result of Milan Brabec's sincerity himself who decides the amount of commission or fee I receive because I have worked so hard to help him find the kratom he ordered.

Millan Brabec himself was amazed at me.

Even in an email he asked me, am I satisfied with the commission or fee he gave me? I answered that I did not think about a bonus (even though who needs to be fond of money-red), but I have integrity and morals when dealing with money to other people, especially if I am a foreigner.

I used to hang out with foreigners when I was active in the Indonesian kangaroo, so the name Bule for me is just like any other human being.

I told Millan not to worry about whether I was satisfied or not with the bonus that was given to me. I just said the important thing is that the 18 kilogram Kratom package the order can get to his hands, he is always the owner, and that for me has been very enjoyable.

Personally, this is the first time I have received a transfer of millions of rupiah from a friend overseas that entered my account. Even though it's just "hitchhiking: aja because I only keep shopping, he's only me shopping and all the groceries belong to him. But obviously that's an achievement for me too. Never before with such a value.

There is something more meaningful than this story. Yes, if you want to tell a story. It is a friendship that, God willing, will last forever regardless of race, ethnicity, nation and country, may the presence of Milan Brabec and his family be included in the pages of my life to make me a good friend and friendship forever. I hiope so and I know sio. (Asep Haryono)

simplyasep.com   The Hajj is an annual Islamic pilgrimage to Mecca, the holy city of Muslims, and obligatory obligations for Muslims that must be carried out at least once in their lives by all adult Muslims who are physically and financially able to travel, and can support their families during their absence.

Hajj is one of five pillars of Islam, in addition to the Shahada, Salat, Zakat, and Shaum or Fasting in Ramadhan.  Hajj is the largest annual meeting of people in the world. Circumstances that are physically and financially capable of performing the Hajj are called istita'ah, and a Muslim who meets these requirements is called mustati. Hajj is a demonstration of the solidarity of Muslims, and their submission to God (Allah).

The word Haji means "intend to travel", which connotes both the outer actions of the journey and the action into the intention. The pilgrimage in homage to the miracle and its legend today serves to unite Muslims and remind all followers of Islam that they are equal in the eyes of god.

Every night and days I always dreaming of going Pilgrimage to Mekkah or Umrah.  Ya Allah please help me to visit YOURHOUSE in Mecca
Every night and days I always dreaming of going Pilgrimage to Mekkah or Umrah.  Ya Allah please help me to visit YOURHOUSE in Mecca


As such, pilgrims strip themselves of the material trappings of wealth and status and wear the plain white seamless robes of Ihram to indicate their spiritual state.

In addition to circling the Kaaba, pilgrims say two Rakaat prayers at the Place of Abraham, re-enact Hajarah's hunt for water between Safa and Marwah, drink from the Zamzam Well, stand vigil at Mount Arafat and on the plains of Muzdalifa and cast stones at three pillars, a symbolic act representing evil being driven from the hearts of men.

The Hajj takes place between the eighth and 13th day of Dhu al-Hijjah, the date of which alters every year by the Gregorian calendar because the Islamic lunar calendar is 11 days shorter.

Eid al-Adha also falls on the 10th day of the month. This is a Festival of Sacrifice in honour of Abraham's willingness to sacrifice Ishmael at Allah's request, a supreme act of faith, which he was prevented from having to carry out by the deity providing him with a goat to slaughter in his son's stead.

Today, the same animal is sacrificed in memory of the story. It is cut into thirds: one portion is given to the impoverished, another to friends and relatives and the last retained and eaten by the family.

I wish I could Pilgrimage To Mekkah
When talking about Umrah or Hajj, it will be very attractive to anyone who wants to visit the house of Allah SWT. I, Alhamdulillah, from birth to the age that is arguably not young anymore (Head 4-ed) the desire to go Hajj or Umrah has always been my beautiful dream day and night.

The reality is yes. To depart for Hajj in accordance with the provisions of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia, the cost is around Rp. 40,000,000 (Fourty Five Million Rupiah) standard. The waiting period for the city of Pontianak and its surroundings at this time according to the news is quite long between 5-10 years. As for UMRAH, the minimum cost varies between IDR 20-30 million and can depart at any time.

One of the fifth pillars of Islam is Going for Hajj for the Able. Carrying out Hajj is one of the obligatory pillars of Islam for the Servant of God who has the ability. So if a friend is able to go to the Hajj to the holy land immediately fulfill that obligation. Do not delay the delay again.

Hajj is a worship that must be carried out by every Muslim, especially for those who are able, by visiting the Holy Land and doing all the practices that have been arranged and set up according to the teachings of the Prophet Muhammad.

I have been very eager to leave Umrah. Various offers came to me either through credit assistance programs from Banking for Umrah (first go to pay later), save or run a business or MLM business for Umrah or Hajj programs.

The average information I got mentions the budget for leaving Umrah to the Holy Land ranging from 25 to 30 million rupiah. Do not be tempted by the offer to leave Umrah at low cost. There have been many incidents that have been deceived because they were tempted to leave Umrah at a very low cost

Hajj can only be done once a year. Going to the Holy Land to perform the legal pilgrimage is mandatory, especially for those who can afford it. The Word of Allah SWT

 "Doing Hajj is a human duty to Allah, that is (for) people who are able to travel to the House. Whoever denies (the obligation of Hajj), then verily Allah is Rich (does not need anything) from the universe. "(Surat Ali Imron: 97).

Pilgrimage means human beings or beings who visit God, the Almighty, the Creator. Over a long period of time, pilgrims visit the house of Allah SWT and other must-have places. That is why the Hajj is also called his guest. The Most Merciful and the Most Gracious.

Already Have a Robe for Umrah
Luckily for friends who this year were given an "invitation" by Allah SWT to depart for Hajj or Umrah to the Holy Land. I have not yet left Umrah especially the Hajj, but I already have one of the equipment for Umrah, namely Gamis, this beautiful and clean white robe is not what I bought.

In my note the Robe from Saudi Arabia was sent by a friend of mine AMIRA in the SCTV group. The SCTV news site was once a forum, and I included an active forum in it. From SCTV's best friend, the name AMIRA in Saudi Arabia sent me this beautiful robe for me, maybe in the 1998 era. I don't really remember because it's been so long

I myself am not sure if this is the name Gamis for male Umrah? Please, who has left Umrah or Hajj to comment here, or provide information on what kind of clothes I have. Is this a Hajj Robe? Please enlighten.

PRIZE: This is an Arab Turban (sorry if the name of this item is wrong, because I don't know its name). Giving Ustad which I captured myself with Tongsis. Photo of Asep Haryono

Just look at the high size of the big Maybe that's the original picture of Arab residents, yes Photo of Asep Haryono /
Just look at the high size of the big Maybe that's the original picture of Arab residents, yes Photo  Asep Haryono 


I got this shirt or robe from one of my colleagues, Amira, from the SCTV community group, which I still keep well. The plan is that I will make it into sewing to fit my 160-inch 3-inch height.

It seems that my desire to leave UMRAH is not stopped. I want Hajj, but my neighbor who has HAJI said that HAJI is a lot of requirements, and he suggested me to just UMRAH first. Aaminnn.

However, considering that the costs incurred for UMRAH worship are at least 20 million rupiah, it is still an obstacle for me who is currently still struggling out of debt bondage, and still struggling to provide for his family.

The struggle to get UMRAH is still in my beautiful dream at bedtime. Hopefully Allah SWT will stabilize me to be able to immediately go to the House to perform Hajj or UMRAH.

Yes Allah SWT, the Most Merciful, the Most Merciful, make it easy for Allah's servant to be able to visit at the house of YOU in the House of God, to kiss Hajar Aswad and to the grave of the Prophet Muhammad. Aamin Ya Rabbal Alamin.
 (Taken from many references)
Recently I experienced a little problem when managing my Transcript in the Faculty of Teacher Training and Education (FKIP) Tanjungpura University Pontianak, I was last recorded as a student majoring in English Education class of 90 indeed intending to take care of the transcript from Odd semester 1990/1991 to 1995 / 1996l It's been a long time, maybe more than two decades.

Unfortunately the value data that I have do not exist. I'll tell you later. The current wisdom of FKIP Untan is that the data of students over 10 (ten) years is deleted. ‘" If it is not written off, it will certainly accumulate, "said Dr. Martono, Dean of the Teaching and Education Faculty (FKIP) of Tanjungpura University, whom I met on the second week of August 2017. From here the problem began to surface. I will try to share it to the loyal readers of my blog.


TOUR: One of the old documents of a photo when me and a team from SENAT FKIP UNTAN visited Kuching Malaysia in 1994. Personal Doc
TOUR: One of the old documents of a photo when me and a team from SENAT FKIP UNTAN visited Kuching Malaysia in 1994. Personal Doc


Chronological Loss of Transcript Value
I did not succeed in completing my higher education bench at this campus. I'm trying to make a flashback back to the era of 1994. Why should the 1994 flashback story not be at the beginning of the year I entered and was accepted at this leading State University (PTN) in West Kalimantan? Because I suspect my student activities in 1994 became the starting point for my lecture to fall apart.

In 1994, I and several members of the SENAT Faculty of Teacher Training and Education (FKIP) of Tanjungpura University such as Delisbeth, Yeti Suyasti, Sri Nur Aeni, Eni Rosnija, Anwar Saputra, Mahyus, Sukiman and several other names visited the Titian Muhibah and Arts at IM Sarawak and Brunei Darussalam.

I still remember the activity from February 1 - 14, 1994 ago. Unfortunately after the activity was completed, it turned out that it only arrived at Sarawak ITM, and it did not reach Brunei Darussalam. 


The two names that I mentioned last (Anwar Saputra and Sukiman) Alhamdulilah have now been successful both as entrepreneurs and as politicians in the House of Representatives of the Regional Representatives of West Kalimantan. Well after this activity ended successfully and we all returned to normal classes, I was not able to re-register in the 1994/1995 academic year. And somehow I felt normal at the time.

Catatan Asep Haryono

Saya mulai bergabung di Harian Pontianak Post pada tahun 2002 sebagai staf EDP (elektronic data processing) waktu itu kemudian ditarik ke staf Redaksi hingga akhirnya saya resign (mengundurkan diri secara hormat-red) pada bulan Maret 2016.  Jabatan terakhir saya staf Sekretaris Redaksi merangkap Website Content Specialist  yang salah satu tugas saya waktu itu adalah melakukan modernisasi data atau mengupload konten berita website resmi Pontianak Post 

Jadi secara teknis sudah sekitar 14 (empat belas tahun) saya sebagai orang kantoran atau sebaga pegawai kantoran. Banyak kawan kawan saya yang menanyakan alasan apa saya sampai harus melepaskan jabatan yang konon kata orang sudah lumayan mapan.  Apa iya sih sudah dibilang Mapan?  Perasaan saya sih biasa aja deh. 

Mungkin maksudnya dijaman mendapatkan pekerjaan sudah sangat sulit sekarang ini, mengapa saya melepaskannya begitu saja. Mungkin itu pemahaman orang kepada saya  Saya bisa memahami

Bagaimana tidak. Bekerjanya aja di lantai 5 gedungnya tinggi, dengan fasilitas peralatan kantor yang baik, ruangan ber AC, dkelilingi staf atau pegawai yang rata rata berparas lumayan dan benar benar orang kantoran, duduknya dibelakang meja.  Gaji tetap. Itulah yang orang sering katakan sebagai yang namanya zona aman.

Mengapa saya mengundurkan diri di jamannhya orang bekerja keras untuk bisa mendapatkan status sebagai pegawai kantoran atau pekerjaan tetap?. Apakahi bekerka di Pontianak Post yang merupakan salah saru perusahan terbesar di Kalimantan Barat, groupnya JPNN (Jawa Pos News Network) itu.  Perusahaan koran yang memiliki tagar Pertama Dan Terutama Di Kalimantan Barat itu menjadi salah satu perusahaan terbesar di Kalimantan Barat

Sebenarnya ini sudah memasuki wilayah pribadi, too personal question, tapi yang bisa saya paparkan di sini hanya umumnya, dan normatif sifatnya, bahwa mengundurkan diri karena ingin dekat dengan anak anak saya, usaha sendiri, dan punya kebebasan waktu.   Mengapa kebebasan waktu, apa waktu bekerja sebagai orang kantoran tidak bebas waktunya? Hahahha

Secara teknis demikian adanya.  Saya harus datang ke kantor pada pukul 08.00 WIB sesuai dengan finger print pada mesin absen elektronik (Sebelumnya absen menggunakan kartu-red), jam makan siang hanya 1 jam kira kira demikian, dan pulang pada pukul 16.00 WIB (Sore hari). 

Tidak ada lembur  Maksud saya tidak uang pengganti untuk kerja lembur, jadi usahakan jangan sampai lembur karena tidak ada duitnya hehehe.   Nah bisa dibayangkan setiap hari saya nangkring di kantor 8 (Delapan) jam setiap hari, kecuali hari Ahad (Minggu) dan itu berlangsung selama belasan tahun.  Hanya untuk departemen saya (online) hari Ahad juga masuk walau cuma sebentar yakni meng online kan berita terbaru portal Pontianak Post.  Kan saya di bagian website, tukang upload kira kira begitu.

Nah portal kan online setiap hari otomatis tenaga pengelolalanya juga gitu.  Selama saya di depatemen itu saya tidak mendapat asisten, juga tidak punya anak buah. Tenaga admin web hanya saya sendiri.  Inilah kelak yang memberikan banyak batasan saya untuk libur atau cuti tahunan mudik ke Bekasi. Saya cuti harus mencari sendiri tenaga pegganti, yang seharusnye menjadi tanggung jawab perusahaan.

Jadi pertanyaan mengapa saya resign dari Pontianak Post mohon maaf tidak dapat saya sebutkan secara khusus di halaman blog kesayangan saya ini , namun secara general (umum) sudah saya sampaikan di atas. Memang normatif saja yakni ingin bisns sendiri, dan ternyata memang benar benar bisnis sendiri yakni Milagros.  Apa itu Milagros ?

Silahkan baca selengkapnya di sini - Milagros Semakin viral 


SILATURAHMI : Ini saya difoto oleh Agus "Pakkades"  Lay Outer  di lantai 5 Gedung Pontianak Post Graha Pena baru baru ini sekitar jam 20.30 WIB pertengahan bulan Oktober 2017 lalu. Silaturahmi ke Pontianak Post.  Foto Agus Pakkades
SILATURAHMI : Ini saya difoto oleh Agus "Pakkades"  Lay Outer  di lantai 5 Gedung Pontianak Post Graha Pena baru baru ini sekitar jam 20.30 WIB pertengahan bulan Oktober 2017 lalu. Silaturahmi ke Pontianak Post.  Foto Agus Pakkades




Tetap Menjalin Silaturahmi
Selama saya menjadi pegawai kantor (baca : bekerja di perusahaan orang) memang banyak memberikan warna dalam kehidupan saya.  Baik dan buruk tentunya ada dalam lembaran lembaran catatan tersebut. 

Saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk hanya menyampaikan kebaikan dan hal positif saja, dan itu menjadi catatan tersendiri untuk saya selama bekerja di Pontianak Post. Masa 14 tahun bekerja adalah masa yang tidak bisa dikatakan sebentar.  Satu dekade lebih itu.  Luar biasa juga setianya ya. Ehm.  Mungkin kalau saya ASN (aparatur Sipil Negara) atau PNS sudah eselon IV barangkali ya. Sayangnya saya bekerja di swasta, jadilah sebutannya Pegawai Swasta.

Resign atau mengunduran diri dari bekerja di sebuah perushaan swasta adalah optional atau pilihan seseorang dan itu adalah hak pribadi yang harus dihormati. 

Perkara orang menebak nebak pasti karena urusan gaji juga relatif. Walaupun secara fakta orang memang perlu Gaji yang baik dan masa depan yang cerah.  Ini adalah kenyataan dan sekaligus impian setiap orang yang bekerja di perusahaan swasta.  Beda halnya jika anda PNS, masa depan sudah pasti cerah. Selama  negara Indonesia masih berdiri PNS tidak perlu takut dipecat.  Beda dengan swasta, masa depan anda tergantung bos. Hahahhaa

MEGAH : Inilah Graha Pena Pontianak Post di Jalan Gajah Mada 2 - 4 Pontianak, saya di lantai 5 nya.  Foto kenanga bulan Agustus 2013  Foto Asep Haryono

Resign dari Kantor adalah hak setiap orang.  Walaupun demikian, saya tetap berusaha menjalin silaturahmi dengan kawan kawan senasib dan seperjuangan yang masih bertahan dan memilih tetap di zona aman bekerja di perusahaan swasta karena itu juga hak progratif mereka yang juga saya hormati.  Sebagai mantan pegawai swasta tentu saya banyak makan asam garam (pengalaman)  yang bisa saya berbagi di kesempatan yang berharga ini.

Walaupun saya sudah tidak bekerja lagi di Pontianak Post, namun Insya Allahh saya akan tetap menjalin Silaturahmi dengan kawan kawan semuanya  Terima kasih atas semua kenangan manis yang sudah kita rasakan bersama sama, senang sama sama, makan kue sama sama, indahnya kenangan itu. Kini kenangan indah itu akan diwujudkan dengan silaturahmi yang tidak akan terputus.  Keep in touch kawan kawan ya. Hatiku Tetap Di Pontianak Post. (Asep Haryono)
Saat saya masih berstatus pegawai atau karyawan di harian Pontianak Post, saya memang satu kantor dengan seorang pegawai di bagian akuntansi atau penagihan (inkaso).  Maaf kalau saya salah menyebutkan bidang pekerjaannya. Mohon saya dikoreksi.  Beliau bernama Pak Surya.  Saya tidak menanyakan kepadanya nama lengkapnya siapa yang saya tau  adalah beliau ini bernama Pak Surya.  Soal kelahiran saya juga kurang tau. Yang jelas Pak Surya berbahasa Indonesia. Hehehe.

Saya selama bekerja di kantor sangat senang dengan kehadiran pak Surya baik di saat senggang di kantor, sedang minum teh bersama di kedai teh yang berada di sebelah kiri dan kanan kantor, atau sedang bersama sama Jamaah di Masjid yang ada di Gang Dungun.  Hal yang pertama yang selalu saya ingat dari Bapak yang satuini adalah kerapihan dan kepatutannya dalam hal berbusana kantor. Pak Surya selalu rapih dalam penampilan sehari hari di Kantor.

Mulai dari seragam kantor yang rurin dikenakanya.  Kami punya beberapa stel Seragam yang harus di kenakan minimal 3 hari dalam seminggu  Hari Senin , Selasa dan Rabu serta Jumat (batik) biasanya adalah hari hari berseragam. Kita aja udah pada jarang yang pake Seragam (dan lagi juga itdak ada sanksi yang dijatuhkan oleh perusahaan hanya karena karyawannya tidak pake Seragam).

Tapi tidak bagi seorang Pak Surya.  Setiap hari kerja Pak Surya sangat rapih berbusana kantor. Very formal, lengkap dengan ID card atau name tag mencantel di saku kemeja kantornya.    



TELADAN : Inilah profil pak Surya yang saya dapatkan dari profil WA nya. Saya mohon izin mencantumkannya di sini.  Beliau teladan bagi kita semua.  Foto WA Pak Surya
TELADAN : Inilah profil pak Surya yang saya dapatkan dari profil WA nya. Saya mohon izin mencantumkannya di sini.  Beliau teladan bagi kita semua.  Foto WA Pak Surya



Hutang Dianggap Lunas
Ada catatab kecil bagi saya pribadi.  Beberapa tahun yang lalu (mungkin sekitar tahun 2013 kalau tidak salah) saat saya masih bekerja di Pontianak Post ( saya resign pada bulan Maret 2016 setelah 13 tahun bekerja-red) pernah pada suatu hari saya mengalami kempes atau ban Bocor saat akan pulang kantor.

Saya tidak memiliki cukup uang di dompet saya waktu itu, atau mungkin sedang cekak kali hahaha.   Nah saya melihat ada Pak Surya juga sedang bersiap untuk pulang.

Saat Pak Surya sedang akan menstarter motornya, saya menghampirinya dan meminta kesediaan Pak Surya untuk meminjamkan uang sekedarnya hanya untuk menambal motor saya yang saat itu sudah menjelang sore.  Pak Surya pun dengan sigap mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan selembar pecahan uang Dua Puluh Ribuan kepada saya. Saya pun mengucapkan terima kasih sambil  menyebutkan kapan saya mengembalikannya tentu dengan ucapan Isnya Allah.

Entah kenapa hingga saat saya resign dari perusahaan tersebut di bulan Maret 2016 hingga terakhir kembali berjumpa bersilaturahmi dengan Pak Surya pada bulan Juli 2017 saat melayat rumah 
Bapak H.Tabrani Hadi, mantan CEO Pontianak Post, yang ditinggal wafat sang istri tercinta beliau hari itu, Ibu Hajjah Nyimas Tabrani Hadi.   Saya berjumpa lagi dengan Pak Surya. Selain bersenda gurau, saya pun mengutarakan permohonan maafnya soal hutang Rp.20.000 yang pernah saya pinjam dari pak Surya.

Baca juga - Hatiku Tertinggal Di Pontianak Post

Pak Surya begitu kaget karena tidak menyangka hal seperti itu masih dingat oleh saya.  "Ah sudahlah ikhlas ikhlas ikhlas" katanya.  Padahal saya sudah siap membayar hutang saya pada Pak Surya sebesar Rp.20.000 seperti yang saya pinjam dari Pak Surya. 

Pak Surya boleh saja tidak ingat tapi saya selalu ingat hutang hutang saya.

Alhamdulilah Pak Surya tidak mempermasalahkan (Uang 20 ribu itu) dan mengikhlaskannya. Saya pun tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih, semoga Allah SWT melimpahkan berkahnya untuk Pak Surya.

Pak Surya orangnya baik, ramah dan santun dalam bertutur sapa.  Yang saya ingat ya itu tadi, dalam hal berbusana di kantor Pak Surya orangnya.  Busana kerja yang rapih dengan Name tag disakunya.  Beliau begitu bangga dengan perusahaan tempat bekerjanya.  Jadi jika ada misalnta pemilihan karyawan teladan dan atau pegawai dengan busana terbaik dalam bekerja di kantor, saya pasti akan menominasikan atau menjagokan Pak Surya.  I will vote for you Pak Surya.

Sekarang saya berusaha untuk mencari nomor WA dan juga telepon Pak Surya. Walau pun saya sudah tidak sekantor lagi dengan Pak Surya namun saya tetap menjalin Silaturahmi dengan Pak Surya, dan juga dengan kawan kawan seperjuangan saya lainnya baik yang sudah resign seperti saya dan atau yang masih aktif bekerja di Harian Pontianak Post. Saya tidak tahu apakah Pak Surya masih bekerja di Pontianak Post atau sudah resign/  Ada yang tau?  (Asep Haryono)





Kubu Raya Sudah menjadi kebiasaan bagi siapa saja yang menunggak pembayaran LISTRIK dan atau PDAM akan mendapatkan selembar "Surat Cinta" yang berisi informasi tagihan yang harus dilunasi dan atau dibayarkan disertai dengan "ancaman" akan dilakukan pemutusan sambungan sementara hingga bongkar total perangkatnya. 

Hari itu Senin (6 Januari 2020) awal tahun baru diawal dengan datangnya "Surat Cinta" dari PDAM yang berisi informasi tagihan tunggakan PDAM yang harus dilunasi agar terhindar dari pemutusan sambungan sementara dan atau bongkar rampung peralatan  Saya sudah pernah mengalami apa yang dinamakan bongkar rampung peralatan PDAM . Setiap pelanggan yang sudah kena bongkar rampung maka diwajibkan membayar kembali ongkos penyambungannya sebesar Rp.350.000,- (Tiga Ratus Ribu Rupiah)



TEGURAN : Selembar surat pemberitahuan dari PDAM Kubu Raya nominal yang harus dilunasi serta deadlinenya tercantum dalam lembaran "Surat Cinta" ini.  Foto Asep Haryono
TEGURAN : Selembar surat pemberitahuan dari PDAM Kubu Raya nominal yang harus dilunasi serta deadlinenya tercantum dalam lembaran "Surat Cinta" ini.  Foto Asep Haryono


Nah agar terhindar dari pemutusan sambungan PDAM ini, memang sudah sewajarnya sebagai konsumen PDAM atau pelanggannya untuk membayar tepat waktunya mulai dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 20 Setiap bulannya. Jika terlambar maka akan dikenakan biaya adminstrasi keterlambatan


Untuk membayar rekening PDAM bisa dilakukan dengan berbagai cara.  Kamu bisa membayar tagihan PDAM dengan menggunakan faslitas di ATM , alfamart, INdomaret, atau bisa datang langsung ke kantor pelayanan PDAM di kota kalan masing masing. 

Baca juga Dampak Buruk Banjir Bagi Seorang Blogger

Anda tidak perlu bersilat lidah, membela diri atau adu argumentasi dengan petugas PDAM atas keterlambatan pembayaran tagihan anda.  Anda sudah telat membayar dan harus segera membayar.  Anda berada di posisi yang kalah. Sebaga pelanggan PDAM yang baik, bayarlah rekening PDAM anda tepat waktu setiap bulannya.   Jangan lewat tanggal 20 agar tidak terkena denda ya (Asep Haryono)
Pontianak Kalah sahabat judul tulisan saya hari ini mungkin agak nyengir atau terheran heran "Dampak Buruk Banjir Bagi Seorang Blogger" Biasanya kan pada umumnya Dampak buruk banjir bagi kesehatan atau apa saja yang berkaitan dengan aktifitas keseharian manusia.  

Ini dampak buruk Banjir Bagi Seorang Blogger.   Hahaha iya sengaja memang, Agar pembahasannya nanti tidak terlalu melebar bak seorang pakar lingkungan membahas habitat ekosistem atau apalah.  Banyak orang yang tau dampak buruk Banjir bagi kesehatan manusia.  Banyak orang yang tau penyebab terjadinya banjir  Namun tidak semua orang tau dampak buruk Banjir bagi seoramg Blogger atau penulis blog


Pertama. Tempat Untuk Ngeblog terasa sulit
Jelas sudah. Karen rumah dimasuki air alias kebanjiran, Blogger mengalami kesulitan untuk mencari tempat yang aman dan dan nyaman dalam melakjukan aktifitas ngeblognya. Coba bayangkan. Dimana anda akan menaruh Laptopnya jika tidak dibantu dengan meja.  

Itu juga jika punya meja komputer.  Nah bagi yang tidak punya meja Komputer seperti saya sekarang ini bagaimana cara mengatasinya.   Bisa pake meja makan atau meja ruang tamu.  

Pokonya apa saja dengan posisi bidang datang karena Laptop harus diletakkan dalam bidang yang datar seperti meja itu tadi.  Belum lagi posisi kedua kaki saya.   Dalam kondisi banjir seperti ini tentu saya tidak mau merendam kedua kaki saya di dalam banjir.  Selain kedingingin, kaki banyak berendam di air juga bisa berdampak pada kesehatan kulit.  Ada ancaman kena Kutu Air yang bisa sangat perih di sela sela kaki.   

Kedua. Banyak Air Dimana mana
Oh ya sudah jelas  Namanya banjir atau kebanjiran. Dimana mana ya ada air. Namun yang saya maksud di sini adalah kenyamanan dalam melakukan aktifitas ngeblog (menulis, browsing) jadi terkendala dan tidak nyaman, Bagaimana tidak bagi yang tidak punya meja Komputer , harus menggunakan meja yang lain asal permukaan datar dan itu juga penuh "perjuangan".  

Bagi saya yang saa ini tidak punya Meja Komputer, mengetiknya pun harus di meja ruang tamu yang bentuknya lebih rendah dari meja komputer.  Walhasil saat saya mengetikkan keyboard untuk typing, kedua kaki atau sebelah kaki saya harus diangkat ke meja.  Sungguh tidak sopan sekali.   Untung aja tidak ada orang, tidak ada siapa siapa di rumah saat saya ngebloh dalam suasana banjir. Kaki saya ada di atas meja seolah mau "saingan" sama laptop

KEBANJIRAN :  Seperti inilah "perjuangan" saya agar tetap bisa mengerjakan tulisan dan mengfungsikan diri sebagai Blogger. Dalam kebanjiran pun harus tetap Online untuk menulis dan sharing.  Foto Asep Haryono
KEBANJIRAN :  Seperti inilah "perjuangan" saya agar tetap bisa mengerjakan tulisan dan mengfungsikan diri sebagai Blogger. Dalam kebanjiran pun harus tetap Online untuk menulis dan sharing.  Foto Asep Haryono




Ketiga,  Harus Ada Tempat Alternatif

Jelas dengan kondisi yang sudah saya sebutkan dalam bab Pertama dan Kedua di atas,  seorang Blogger harus putar keyboard eh putar Otak untuk mencari tempat cadangan atau tempat pilihan yang lain jika kondisi mengebloh di rumah sudah tidak dirasakan nyaman dan aman lagi.  Mengapa ada komponen "aman" di sini? Karena AIR adalah musuh listrik   Oleh sebab itu logo Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu ada lambang Air.  

Semua instrumen dan instalasi di rumah terancam berendam di air dan itu sangat berbahaya dan bisa mengancam keselamatan jiwa. Mengebloh adalah aktifitas menggunakan perangkat elektronik bisa berupa HP, IPAD, NoteBook, hingga laptop.  Dan mereka itu semua terhubung dengan kabel charger ke instrumen listrik dan itu harus terjaga dari air demi keselamatan anda.  Jika memungkin kamu harus siap siap pindah ke Warnet, ke Masjid untuk bekerja atau ditempat lain asal tidak ada banjirnya

Masih banyak lagi dampak buruk Banjir bagi seorang Blogger.   JIka PLN padam alias listrik tidak menyala juga sudah merupakan "BONUS" bagi seorang Blogger dalam suasana kebanjiran seperti ini.   Seperti dalam slogan Radio Republik Indonesia dengan slogan mendunianya "Sekali di Udara Tetap di Udara" nah kalau blogger mungkin saja sloganya "Sekali ONLINE tetap ONLINE" Hahaha.  Ngarang bener Asep nih  (Asep Haryono)
Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia