banner sosial media simplyasep.com

F.A.Q | Disclaimer | Sitemap

Catatan Asep Haryono
Akhirnya sampailah kami sekeluarga untuk berbelanja Souvenir di Malioboro.  Sebenarnya Malioboro sudah bukan yang pertama kami kunjungi.  Dalam beberapa tahun terakhir ini, Malioboro  memang menjadi salah satu daya magnet yang luar biasa bagi para wisatawan baik yang datang dari dalam negeri sendiri, maupun yang datang dari luar negeri. 

Kami sekeluarga menuju Malioboro dari rumah kami di Pundak IV, Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo pada pukul 08.10 WIB dengan menumpang bis umum yang berukuran kecil menuju areal sekitar terminal Sentolo, kemudian lanjut dengan bis kota ukuran sedang (entah apa namanya) dan langsung diturunkan di areal sekitar K.H Ahmad Dahlan.   Ini kalau tidak salah.  Mohon saya dikoreksi kalau salah okeee.  Dari sinilah kami menumpang lagi becak.  

Berhubung ada 4 (empat) orang : saya sendiri (penulos), istri tercinta, dan kedua anak saya , Abbie (7 thn) dan adiknya Tazkia Putri (5 thn) jadi kami harus menyewa 2 (dua) becak.   


Saya dan Tazkia menumpang becak yang dikayuh dengan tenaga manusia (becak konvensional), dan bundanya serta Abbie menumpang becak dengan tenaga pendorong mesin (becak bermotor-red).  Dengan tarif yang relatif terjangkau, sampailah kam semua di persimpangan Bank BNI kawasan Malioboro.  Here we comes..

Memburu Kaos DAGADU
Ada banyak aneka souvenir yang menawan  yang bisa diperoleh di Maliboro mulai dari aneka cindera mata dalam bentuk miniatur Tugu Djogja, aneka gantungan kunci dengan segala bentuk dan harganya, alat alat rumah tangga, dan yang salah satu yang diburu para wisatawan dalam dan luar negeri adalah keychain (gantungan kunci) dan atau aneka Kaos Dagadu.   Khusus yang yang aseli atau original bisa juga diperoleh di Mall Mailoboro lantai basement (latar bawah).


Saya mencari kaos Dagadu pesanan rekan saya dulu di Pontianak Post , Nay Ashri, yang secara khusus order (memesan) kaos kaos Dagadu yang menjadi kesukaannya.  No problem (tidak ada masalah).   


Nay Ashri menginginkan baju kaos yang bermotif khas Djogjakarta dengan 4 (empat) pilihan warna fave nya yakni Merah Marun (Merah cabe0, Biru Dongker , Hitam dan Putih.   Bukan hal yang sulit untuk mencari kaos Original Dagadu di Malioboro.  Nyaris banyak warga Djogja yang paham, dan mereka pasti akan dengan senang hati memberi informasi yang benar dan tepat bagi wisatawan yang mau mencari kaos Ori Dagadu.

Atas saran dari kawan kawan Angkring, saya sekeluarga pun meluncur ke Mall Malioboro yang memang berada tidak jauh dari hotel kami menginap, Merbabum di kawasan wisata Sosrowijayan.  Hanya berjalan kaki beberapa menit saja sampailah kita ke salah satu Mall terbesar di Djogjakarta itu.  Saat kami memasuki Mall Malioboro saya tidak langsung mendapatkan tempat penjualan Kaos Ori Dagadu.

"Oh ada mas, silahkan jalan saja lurus ke depan nanti ada tangga berjalan yang berada di bawahnya dan di sana ada jual Dagadu Ori mas" kata mba yang stand by di meja Information (informasi).    Alhamdulillah, kami pun menemukannya.  Langsung saja memilih 2 (dua) buah T-Shirt pesanan rekan saya itu, dan langsung membayarnya di tempat yang sudah disediakan.   


Saya mendapatkan 2 (dua) kaos Ori Dagadu yang berwarna Hitam dan Putih.   Setelah memilih corak yang sesuai, maka saya diberi kartu kecil bertuliskan angka 2.  Saya yakin ini nomor antrian untuk membayar di cashier (kasir).  Benar saja saya pun berjalan agak bergeser ke kiri dari etalase, dan mendapatkan kasir    Satu kaos Ori Dagadu dibandrol dengan harga Rp.80.000,- (Delapan Puluh Ribu Rupiah),  Jadi total yang harus dibayar di kasir berjumlah Rp.160.000,-

"Bagaimana kalau mas ambil kaos lagi 3 buah jadi totalnya Rp.400.000,- mas dan berhak mendapakan potongan harga (discount) sebesar 15 persen" bujuk mba di bagian kasir dengan senyum nya yang manis.   

Ahaai saya kalau dikasih senyum manis gitu suka gerogi deh.  Kalau dikasih uang malah nda gerogi hahahahhaa.   "Sampun mba.  Sudah cukup hanya perlu dua saja kok" tolak saya secara halus.  Saat itu mamang ada gelaran Discount (potongan) harga.  Untuk pembelian T-Shirt minimal Rp.400.000,- akan mendapatkan potongan harga sebesar 15 persen.   Tawaran yang lumayan di saat THR belum turun.

Buka Puasa di Masjid Kauman
Masih ada 2 (dua) kaos Dagadu lagi yang dipesan oleh rekan Nay Ashri, wartawan Pontianak Post.   2 Kaos Dagadu lainnya ada di kawasan pinggiran di sepanjang Malioboro.   


Berderet deret para penjual souvenir di kawasan pinggiran Malioboro mulai daaneka miniatur Tugu, Sendak sendal, gantungan kunci, kaos kaos Dagadu kelas 2 (semacam KW nya-red) dan masih banyak lagi.  Nah dua kaos terakhir pesanan Nay Ashri ini dari kawasan ini.

Tinggal dua warna lagi yang belum ada yakni Biru Dongker, dan Merah Cabe.  Tidak sulit juga mendapat kaos kaos "semi" Ori Dagadu di kawasan sepanjang Malioboro ini   

Saya pun sigap "berburu" kaos kaos pesanan kawann saya itu sekeluar dari Mall Malioboro yang arahnya menuju hotel kami menginap di areal kawasan wisata Sosrowijayan.     Alhamdulillah dapat.    Satu buah kaos "semi" ori Dagadu ini dibandrol dengan harga Rp.35.000 (ada bordirnya-red).   Khusus yang ini tidak disertai nota (bon). 

Entah memang penjualnya tidak menyertakan Bon (nota), atau mereka sengaja tidak mengadakan nota karena dipikirnya transaksinya fast (cepat).  Jadi memerlukan banyak "waktu" menulis nota pembelian  Beda dengan membeli kaos ORI Dagadu kelas Mall seperti di Mall Malioboro yang terprint secara komputer nota pembeliannya.   


Sedangkan untuk wrap (pembungkus) masing masing sudah memilikinya.  Baik di kelas Mall maupun kelas pinggiran Malioboro, semuanya memiliki kantong wadah berbahan kertas.   Sungguh sebuah pengalaman berbelanja Kaos Dagadu yang sederhana, mudah, murah meriah,dan sekaligus menyenangkan.

Oh ya terakhir saya lupa menceritakan bagaimana dengan buka puasanya? Apakah buka puasanya juga di Malioboro.   Beberapa jam sebelum berkumandangnya adzan Magrib tanda waktu berbuka puasa untuk kawasan Mailoboro dan Sekitarnya, kami sudah turun dari Merbabu Hotel di kawasan wisata Sosrowijayan, menumpang andong menuju Masjid Kauman.  


Tarif andongnya sekitar Rp.50.000,-.   Sayang sekali saat kami tiba di Masjid Kauman sudah mendekati adzan Magrib, kami tidak medapatkan nasi bungkus sebagaimana jamaah lainnya yang sudah terlebih dahulu datang sebelum kami.

"Maaf mas, nasine sudah habis, datangnya terlambat sih" kata mba yang sempat saya tanyakan kenapa kami sekeluarga tidak mendapatkan nasi gratis.  Rupanya hari itu Masjid Kauman membagi Takjil berbuka puasa free aias gratis buat para Jamaahnya yang ingin berbuka puasa di Masjid Kauman.  

Menunya teh manis hangat, dan satu buah nasi bungkus.    Karena datang terlambat, kami hanya diberi "pengganti" nasi berupa roti isi nanas dan coklat dan beberapa bungkus korma keci.  Saya melihat plastik pembungkus kormanya yang ada label "telkomsel".  Waw ada sponsor dari Telkomsel rupanya ya.  

Menu yang saya liat dari nasi bungkus gratis untuk Jamaah berbuka puasa di Masjid Kauman beruoa nasi hangat, satu potong kecil ayam gorengm suiran sayur,  "Oh gratis mas, setiap hari  ada pembagian nasi bungkus" kata salah seorang jamaah yang saya tanyakan.   


Siang nanti jam 12.00 WIB saya sekeluarga check out, dan melanjutkan perjalanan ke Wates untuk memesan Bis Eifisiensi untuk kembali ke Jakarta sekitar tanggal 12 Juli 2016 mendatang  Sengaja di awal takut kehabisan atau harga semakin naik lagi.  Menrut plan kami sekeluarga kembali ke Pontianak pada tangga 14 Juli 2016 mendatang berangkat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta.  To be continued. Bersambung (Asep Haryono)



TATO :  Sekelompok turis sedang ditato di kawasam Malioboro.  Saya minta izin untuk memfoto aktifitas ini, dan izin sudah diberikan  Thank you.  Foto Asep Haryomo
TATO :  Sekelompok turis sedang ditato di kawasam Malioboro.  Saya minta izin untuk memfoto aktifitas ini, dan izin sudah diberikan  Thank you.  Foto Asep Haryomo

MAL MALIOHORO :  Salah satu mall terbesar di Jogjakarta ini banyak menyediakan aneka barang kesukaan pengunjung.  Kaos ori dagadu ada di bagian basementnya. Foto Asep Haryono
MAL MALIOHORO :  Salah satu mall terbesar di Jogjakarta ini banyak menyediakan aneka barang kesukaan pengunjung.  Kaos ori dagadu ada di bagian basementnya. Foto Asep Haryono

BECAK BERMOTOR :  Salah satu moda yang terkenal di Malioboro.  Andong Bermotor. Dengan tarif yang terjangkau mengantar anda ke Malioboro.c Foto Asep Haryono
BECAK BERMOTOR :  Salah satu moda yang terkenal di Malioboro.  Andong Bermotor. Dengan tarif yang terjangkau mengantar anda ke Malioboro.c Foto Asep Haryono

MALIOBORO :   Berbagai souevinir murah meriah ada di sepanjang Malioboro ini muali dari sendal, aneka kaos anak anak, gantungan kunci dan banyak lagi. Foto Asep Haryono
MALIOBORO :   Berbagai souevinir murah meriah ada di sepanjang Malioboro ini muali dari sendal, aneka kaos anak anak, gantungan kunci dan banyak lagi. Foto Asep Haryono

DAGADU ORI :   Berbagai  model kaos Dagadu ORI bisa diperoleh di Mall Maliboro di bagian bawah ya,  Harga per itemnya 80 ribu rupiah. Dijamis puas. Foto Asep Haryono
DAGADU ORI :   Berbagai  model kaos Dagadu ORI bisa diperoleh di Mall Maliboro di bagian bawah ya,  Harga per itemnya 80 ribu rupiah. Dijamis puas. Foto Asep Haryono

DAGADU ORI :   Berbagai  model kaos Dagadu ORI bisa diperoleh di Mall Maliboro di bagian bawah ya,  Harga per itemnya 80 ribu rupiah. Dijamis puas. Foto Asep Haryono

ANDONG :   Salah satu ciri khas Malioboro adalah Andong.  Siap mengantar anda ke berbagai tujuan sesuai dengan jangkauannya.  Misalnya ke Masjid Kauman bisa kena  tarif 50 ribu rupiah. Foto Asep Haryono

BUKA PUASA :  Jamaah Masjid Kauman sedang bersantap buka puasa bersama.  Ada pembagian takjil gratis di sini. Nasi bungkus dan teh juga kue kue.  Datang awal ya. Foto Asep Haryono
BUKA PUASA :  Jamaah Masjid Kauman sedang bersantap buka puasa bersama.  Ada pembagian takjil gratis di sini. Nasi bungkus dan teh juga kue kue.  Datang awal ya. Foto Asep Haryono

MEGAH :  Para pengunjung Mall Malioboro membludak malam itu (25/6). Aula bagian tengahnya penuh aneka jualan baju baju.  Foto Asep Haryono
MEGAH :  Para pengunjung Mall Malioboro membludak malam itu (25/6). Aula bagian tengahnya penuh aneka jualan baju baju.  Foto Asep Haryono

NASI KUCING :  Lelah berputar putar, menikmati nasi kucing dahulu di kawasan Sosrowijayan. Murah meriah dan nyaman.  Foto Asep Haryono
NASI KUCING :  Lelah berputar putar, menikmati nasi kucing dahulu di kawasan Sosrowijayan. Murah meriah dan nyaman.  Foto Asep Haryono

ISENG : Sebenarnya tak nyaman juga penulis ikut mejeng dalam artikel yang ditulisnya.  Cuma takut dibilang HOAX, hahaha.  Ya udah pasang aja. Ini loh saya benaran ada di sini, Malioboro. Hehhee.  Foto Asep Haryono
ISENG : Sebenarnya tak nyaman juga penulis ikut mejeng dalam artikel yang ditulisnya.  Cuma takut dibilang HOAX, hahaha.  Ya udah pasang aja. Ini loh saya benaran ada di sini, Malioboro. Hehhee.  Foto Asep Haryono
Catatan Asep Haryono

Alhamdulillah, memasuki Mudik hari ke 3 di Desa Kembang Pundak IV Nanggulan Kulonprogo masih belum banyak tempat yang dikunjungi.  Hanya di sekitar kawasan Pundak dan sekitarnya saja yang saya coba telusuri dengan menggunakan Sepeda Motor milik mbah Kung (Sebutan dari Ayah sang istri-red). 

Berbekal sepeda motor saya pun berkeliling sebentar saja di kawasan dekat dekat saja.   Saat artikel ini ditulis waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB dan badan sudah  terasa letih. Hhehe  Tapi draft naskah tulisan ini sudah ada sejak siang setelah Sholat Jumat.  Beberapa foto hasil jepretan saya sendiri juga disertakan dalam cerita hari ini.

Kawasan Nanggulan dan sekitarnya memiliki akses jalan mulus aspal yang cukup baik.  Dan mungkin karena di desa, banyak pengendara sepeda motor di sini yang memakai helm standar. Walaupun nyaris tidak terlihat polisi lalu lintas atau mobil Patwal atau Patroli Lalu Lintas bersliweran seperti di kota Pontianak pada umumnya. Begitu juga dengan yang tidak memakai helm juga ada. 


Bahkan saya sendiri kedapatan juga sering tidak membawa (helm) saat ke depan membeli pulsa dan lain sebagainya.

Aqiqah Sekilas
Oh iya bagaimana dengan cerita aqiqahan yang diselenggarkan kemarin. Dalam DAY 02 Aqiqah dan Oleh oleh , saya hanya memaparkan persiapan menjelang acara Aqiqahan dimulai ya.  Alhamdulillah menyambung cerita Aqiqahan kemarin, Alhamdulillah acaranya berlangsung sukses, walaupun singkat dan dengan suasana dan sarana yang sederhana namun cukup memadai baik dari segi venue (tempat acara) hingga makanan yang disajikan.

Untuk makanan yang disajikan untuk para undangan antara lain hidangan teh hangat yang sudah terasa manis dengan kadar yang secukupnya.  Sebab kami juga menjaga kesehatan kadar gula dari para tetamu yang rada rada sudah berusia lanjut (maaf).  

Untuk makanan utamanya adalah nasi putih pulen dan Tongseng. Tidak lupa kerupuk juga disertakan,   Para tamu yang datang adalah warga komplek Pundak IV saja yang nyaris semua bapak bapaknya adalah Jamaah Masjid At Taqwa.

Bagaimana dengan sambel?  Untuk yang satu ini hidangan Tongseng diracik dengan tingkat kepedasan yang rendah. Jadi bagi yang kurang suka rasa pedas bisa menerimanya.  Agak sulit memang membuat menu masakan untuk banyak orang dengan tingkat kemauan dan selera yang berbeda beda.  Selera memang tidak dapat diperdebatkan.

Saya sempat bertanya bagaimana dengan teknis pelaksanaannya kepada “panitia” Aqiqah, istri saya sendiri.  “Buka Puasa ne piye karena banyak jamaah masjid At Taqwa di sini yang pasti langsung bergegeas sholat berjamaah apakah buka puasanya kue kue ringan dulu,  lalu mereka pada sholat Magrib berjamaah lalu balik lagi ke sini untuk buka beratnya begitu?” Tanya saya.  


 “Oh tidak, mereka buka puasane langsung buka berat, dan selesai langsung menuju masjid untuk magrib” jawab istri saya.  Dan memang yang saya liat di lapangan persis seperti yang diperkirakan.

Begitu adzan Magrib untuk wilayah Nanggulan Kulon Progo hari itu (23/6) pukul 17..28 WIB berkumandang, para undangan yang hadir langsung menyambar menu masakan “berat” yang memang sudah dipersiapkan.  Hidangan kue kue dan juga masakan Tongseng, nasi dan minuman teh hangat yang menggugah selera.  Tidak banyak waktu bagi mereka “menikmati” berbuka dengan waktu injury time seperti ini.  


Memang tidak lama kemudian suara Iqomah pun berkumandang dari pengeras suara Masjid At Taqwa yang jaraknya cukup dekat dengan rumah.  Para tamu pun bergegas keluar dari rumah, menuju masjid. Tidak lupa saya dan ayahnya Istri “mengantar” tamu sampai di pintu lalu kami semua bersama sama menuju Masjid At Taqwa untuk Sholat Magrib Berjamaah

Full Bahasa Jawa
Saya yang memang blasteran Sunda – Jawa (Almarhum ayah Cirebon –Almarhumah Ibu Semarang) yang memang tidak bisa sama sekali boso jowo (Bahasa Jawa) banyak mengalami kesulitan memahami warga pundak yang menggunakan Bahasa Jawa. 

Beberapa dari mereka memang menanyakan kepada saya dalam bahasa Jawa yang sama sekali saya tidak tau artinya dalam bahasa Indonesia.  “Maaf mas, saya belum bisa bahasa jawa” kata saya meminta excuse.  “oooo bahasa Indonesiaaaaa” kata mereka. Saya pun tersenyum saja.

Berkunjung ke Jogjakarta pada umumnya, atau Pundak IV Nanggulan pada khususnya sudah kesekian kalinya bagi saya    Beberapa masjid di sini memang banyak menerapkan full bahasa Jawa bahkan saat berlangsungnya Sholat Jum’at.  Khatib Jumat ada yang berbahasa Jawa seperti Masjid At Taqwa dalam komplek Pundak IV Nanggulan ini. 

Mau tidak mau saya banyak terdiam saja menyimak khutbah Khatib Sholat Jum’at yang disampaikan dalam Bahasa Jawa.  Yang saya suka di Djogjakarta ini adalah keramahtamahan warga Djogja nya yang keren banged. Warga Pundak IV tempat base camp mudik saya selama ini juga  terkenal ramah, dan murah senyum. Itu yang membuat saya terkesan akan keramah tamahan warga Djogja baik kepada sesama warga Djogja sendiri atau kepada “tamu asing” seperti saya ini.  

Dalam waktu dekat saya dan istri serta anak anak sudah merencakanan untuk jalan jalan ke beberapa tempat wisata sesuai dengan jangkauan waktu dan dana yang tersedia untuk itu.   Jalan jalan kurang seru kalau tidak disertai dengan wisata kuliner dan aktifitas berbelanja oleh oleh tentunya.   Dua hal itu selalu menyerttai para traveler

Keliling Nanggulan
Akhirnya jalan jalan jarak dekat pun berhasil saya lakukan dengan meminjam motor milik Pak Ponijo, ayah mertua.  Oh ya sekilas “rute” yang saya tempuh yang dekat saja , bahkan ada yang ditempuh dengan berjalan kaki tralala.  Beberapa foto berhasil saya rekam selama touring itu. 

Kembang yang merupakan masuk dalam wilayah kecamatan Nanggulan mempunyai luas 437.249 ha. Jumlah penduduknya saya kurang tau update terbarunya. Namun dari data lama tercatat 1.129 KK, 5.894 jiwa. Entah ini data tahun berapa. Jadi berapa  jumlah penduduk Desa Kembang yang sekarang saya tidak tau.

Menurut data dari Wikipedia menyebutkan bahwa Desa ini berlokasi di kecamatan Nanggulan, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari sejarah berdirinya sendiri desa Kembang ini terbentuk atas Maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1946. 

Maklumat itu membahas tentang Penggabungan Kelurahan yang ada dalam wilayah hukumnya.  Sehingga dengan demikian 3 (tiga) Kelurahan : Boto, Pundak, dan Kenteng dilebur menjadi satu “kelurahan” yang otonom : Kelurahan Kembang.   Nah cukup sedikit aja pelajaran sejarahnya. 

Sederhana mungkin bagi penduduk setempat, namun bagi saya adalah berkah dan apresiasi yang luar biasa.   Saya yang banyak di “manja” oleh kemudahan fasilitas kota besar yang tinggal pencet, atau tinggal pakai saja, tidak di sini  Untuk mandi saja harus menimba air darke dalam sumur.  

Saluran PDAM memang sudah masuk, namun belum maksimal penggunaannya  Air di sini yang jernih dan bagi saya terasa begitu dingin padahal hari sudah siang.  Tetap saja airnya sejuk dan dingin terasa menyentuh kulit pori pori saya.
 
Mengingat mudik lebaran saya sekeluarga di Nanggulan Kulon Progo terbilang cukup lama hinga perkiraan tanggal 14 Juli 2016, beberapa agenda kunjungan ke tempat wisata yang berada di kota Djogjakarta seperti berburu supenir di Malioboro sudah direncanakan. 

Walau sudah bukan yang pertama kali berkunjung (ke Malioboro) namun  tetap saja kangen melihat dan mengalami sensasi keindahan dan gemerlapan Malioboro dan aneka masakan dan Menikmati Makan Malam di Malioboro  Belum lagi dengan aneka Kaos DAGADU aseli dan supenir menarik lainnya.  Rasanya sudah tidak sabar ya hihii.   

Ada juga sahabat saya dulu di Pontianak Post, seoran wartawati yang tidak dapat saya sebutkan namanya yang pesan 4 (empat) buah T Shirt khas Djogja.  Saya rencanakan beli di Dagadu saja, pusatnya T Shirt keren khas Djogja.

“Saya pesan 4 kaos yang unik dank has Djogja ya kang, warnanya Merah cabe, Biru Dongker, Putih serta hitam, nanti tinggal dikabari berapa biaya dan ongkos kirimnya, nanti di transfer” tulisnya di pesan singkat BBM yang saya terima.

 “Kapan kapan liburan Djogja bareng ya kang, tak puas rasanya keliling Djogja waktu itu” tambahnya lagi di pesan singkat BBM nya,  Kalau sudah ada “pesan sponsor” seperti ini agenda berkunjung ke Malioboro sudah masuk agenda “wajib”  hehehehe.  Ahaaayy.  To be continued.  Bersambung. (Asep Haryono)

KLENTENG : Suasana pasar Klenteng di Nanggulan,  Kulon Progo yang nyaris sepi di pagi hari namun penuh sesakk di malam hari.  Foto Asep Haryono
KLENTENG : Suasana pasar Klenteng di Nanggulan,  Kulon Progo yang nyaris sepi di pagi hari namun penuh sesakk di malam hari.  Foto Asep Haryono


INDAH : Salah satu sudut di sekitar rumah. Kawasan sawah nan luas dikelilingi pegunungan. Terasa sejuk dan menyegarkan. Foto Asep Haryono
INDAH : Salah satu sudut di sekitar rumah. Kawasan sawah nan luas dikelilingi pegunungan. Terasa sejuk dan menyegarkan. Foto Asep Haryono


ASRI : Suasana di sekitar rumah banyak dikelilingi pephonan dan Hutan yang aseri Membuatnya syahdu dan sejuk dimata juga dihati. Foto Asep Haryono
ASRI : Suasana di sekitar rumah banyak dikelilingi pephonan dan Hutan yang aseri Membuatnya syahdu dan sejuk dimata juga dihati. Foto Asep Haryono


MASJID AT TAQWA : Walaupun sederhana namun aktifitas jamaahnya luar biasa  Di masjid ini juga ada kegiatan TPA dan Remaja Masjid.   Jumatan full bahasa Jawa, Foto Asep Haryono
MASJID AT TAQWA : Walaupun sederhana namun aktifitas jamaahnya luar biasa  Di masjid ini juga ada kegiatan TPA dan Remaja Masjid.   Jumatan full bahasa Jawa, Foto Asep Haryono


GANG :  Dari gang kecil inilah nanti akan bertemu Masjid At Taqwa yang sudah keliatan dari kejauhan sebelah kiri. Penduduknya ramah ramah. Saya suka. Foto Asep Haryono
GANG :  Dari gang kecil inilah nanti akan bertemu Masjid At Taqwa yang sudah keliatan dari kejauhan sebelah kiri. Penduduknya ramah ramah. Saya suka. Foto Asep Haryono


KREATIF : Dusun Pundak IV ini banyak usaha ekonomi yang kreatif seperti apotik hidup, pembuatan abon dan banyak lagi.  Dua jempol deh. Foto Asep Haryono
KREATIF : Dusun Pundak IV ini banyak usaha ekonomi yang kreatif seperti apotik hidup, pembuatan abon dan banyak lagi.  Dua jempol deh. Foto Asep Haryono


GAYA :  Ini bukan beneran mau ke Sawah  Cuma gaya aja.  Takut dikira HOAX kalau foto penulis tidak disertakan.  Ah masa iya sih segitunya. Foto Asep Haryono
GAYA :  Ini bukan beneran mau ke Sawah  Cuma gaya aja.  Takut dikira HOAX kalau foto penulis tidak disertakan.  Ah masa iya sih segitunya. Foto Asep Haryono


AQIQAH :  Inilah suasana tamu undangan yang hadir dalam rangka syukuran Putri kami, Tazkia.  Kebanyakan dari Jamaah Masjid At Taqwa. Foto Asep Haryono
AQIQAH :  Inilah suasana tamu undangan yang hadir dalam rangka syukuran Putri kami, Tazkia.  Kebanyakan dari Jamaah Masjid At Taqwa. Foto Asep Haryono


BERAT : Karena waktunya singkat hingga Iqamah, jadi begitu Adzan Magrib tanda waktu berbuka berkumandang, para tamu langsung gabruk hidangan utama.  Nasi Putih dan Tongseng. Foto Asep Haryono
BERAT : Karena waktunya singkat hingga Iqamah, jadi begitu Adzan Magrib tanda waktu berbuka berkumandang, para tamu langsung gabruk hidangan utama.  Nasi Putih dan Tongseng. Foto Asep Haryono
 

   
Catatan Asep Haryono

Terima kasih atas komentar dari kalian semua atas tulisan saya kemarin yang berisi dan berjudul "Bakpia Pathok Oleh Oleh Khas Djogja" yang tayang pada tanggal 28 Februari 2015 yang lalu.  Diantara para pengunjung terselib komentar dari MamiE FuNkY.    Saya jadi grogi dikunjungi oleh Travel Blogger yang sudah berpengalaman Travel Dalam dan Luar Negeri seperti MamiE FuNkY ini.  Grogi sekaligus bangga blog saya yang gado gado ini dikunjungi oleh beliau.

Jogja memang tidak akan pernah habis diceritakan.  "Masak ya ke Jogja terus,emang gak bosen ya kang?"  tanya Mba Dwi Puspita atau biasa kita kenal dengan Mba Dwi'ex Someo, blogger cantik dari Surabaya dalam komentarnya.   Alhamdulillah saya merasa ingin sekali datang dan datang lagi ke Jogjakarta.  Rasanya selalu ada yang "kurang" kalau berada di Jogjakarta.  Nah kali ini oleh oleh kunjungan saya ke Jogja 17-19 Februari 2015 saya kembali menurunkan catatannya.  Kali ini fokus pada Jajanan lesehan di Malioboro.   Menikmati Makan Malam Di Malioboro.

Saya dan Istri turun dari Hotel tempat kami menginap di kawasan Sosrowijayan yang memang sangat dekat dengan Kawasan wisata Malioboro.  Direkomendasikan jika niatnya ingin explore (menjajagi, menjelajah-red) Mailoboro disarankan untuk mencari akomodasi (penginapan) dekat dengan Kawasan Malioboro.  Rata rata untuk kelas Budget Hotel (Hotel murah meriah-red) sekitarMalioboro harganya merakyat dengan sewa per malamnya mulai dari Rp.120.000,- ke atas.    Nah kami turun sekitar pukul 20.00 WIB.  Dengan berjalan dari Hotel langsung ke Malioboro.   Mau makan. :P

Ada banyak lesehan di Malioboro.  Berjejer sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia.  hiehiehie.  Mau pilih yang mana terserah anda.  Saya dan Istri memilih random (acak) saja.  Karena nyaris menu menu Kuliner di lesehan sepanjang Malioboro mempunyai kemiripan satu sama lainnya.   Menu menu standar seperti Pecel Ayam, Nasi Goreng , Bakso Sapi , Pecel Lele, dan tentunya Gudeg ada di mana mana.  Rata rata lesehan Malioboro nyaris sama "jualannya".   Jadi kami bebas saja milihnya.
Akhirnya pilihan jatuh suka suka kami saja.   Saat duduk dengan manis sambil melihat menu menu yang ada , tiba tiba "musisi jalanan" mulai beraksi (pinjam istilah dalam lagunya mas Katon Bagaskara-red).   Lagu yang dinyanyikannya pun cukup enak dii dengar dan berbahasa Indonesia. Nah ini dia.  Tadinya saya sudah menduga lagunya berbahasa Jawa   Saya tidak paham Bahasa Jawa kecuali istri saya yang memang asli "pabrikan" Jogjakarta.   Andai lagunya berbahasa Jawa pastilah saya akan minta istri saya menterjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia.
Satu catatan di sini adalah Musisi Jalanan ini datang silih berganti.  Jadi siapkanlah uang recehan anda untuk sekedar memberi insentif kepada para Musisi Jalanan Malioboro ini.  Sekali mereka datang kemudian pergi, kemudian datang lagi Musisi Jalanan yang lain.  Entah secara kebetulan atau bagaimana saat kami menikmati santap malam di lesehan Malioboro ini tercatat ada 3 (tiga) Musisi Jalanan yang menghibur kami.  Baik perorangan maupun kelompok.  Hiehiheiheihee.
Pengamen jalanan Malioboro sedang beraksi
Para musisi Jalanan Malioboro siap menghibur anda selagi bersantap malam.  Siapkan uang recehan anda buat mereka.  Sodaqah gitu deh.   Foto Asep Haryono

Aneka Hidangan Pelengkap Sego Kucing
Aneka hidangan "asesoris" Sego Kucing (Nasi Kucing-red) di  Jalan Sosrowijayan juga tidak kalah memikat dan menggugah selera.   Dengan harga yang terjangkau dan pas di kantong.  Harga merakyat dan cita rasa yang memikat.  Itulah Kuliner Malioboro.   Foto Asep Haryono
Ayam dan KEpiting rebus
Ada kepiting Rebus selain menu standar lain di lesehan Malioboro.  Bagi anda yang memiliki penyakit tertentu yang melarang menyantap Kolesterol sebaiknya diperhatikan minimal menjaga porsi asupan porsinya      Foto Asep Haryono
Babat
Tumpukan babat atau sejenis Sop Buntut atau Iga.  Siap disajikan pada anda.  Bagi anda yang memiliki penyakit tertentu yang melarang menyantap Kolesterol sebaiknya diperhatikan minimal menjaga porsi asupan porsinya      Foto Asep Haryono
Pecel Lele
Aneka sambal pelengkap hidangan lesehan Malioboro.  Mulai dari sambel ulek, sambel terasi hingga sambel khusus untuk Pecel Lele.   Ada yang suka PEcel Lele?  Saya suka bangeds.  Sejak kapan sih saya menolak sama makanan?  Foto Asep Haryono
penjual sedang menyajika pesenan saya
Saay sempat memesan juga satu porsi Bakso Sapi di kedai lesehan Malionoro ini.  Sayang sekali saat saya tanya adakah Saos Sambel (Saos Cabe) untuk Bakso Sapi nya?  Mereka menjawab tidak ada.  Hanya ada Saos Tomat saja.   Foto Asep Haryono


Menu kuliner lesehan Malioboro memang sangat menggugah selera.  Sedikit mengingatkan buat Sahabat yang kebetulan (Maaf) terkena penyakit tertentu yang melarang mengkonsumsi Kolesterol sebaiknya dijaga dengan baik ya.   Soalnya nyaris semua lesehan Malioboro ini full daging dagingan mulai dari Jeroan babat, limpa, Ati Ayam, Daging Ayam , Sate Kambing Sate Ayam , Kepiting Rebus, Udang Goreng, Burung Dara goreng, dan masih banyak lagi.   


Himbauan dari Dinas Pariwisata Jogjakarta juga sudah meminta para Wisatawan  yang datang untuk menikmati Kuliner Malioboro agar tetap waspada, dan berhati hati dengan barang bawaannya.  Khusus kepada para penjaja Makanan (Warung makanan) sepanjang Areal Malioboro dihimbau untuk tidak menggunakan Minyak Goreng berkali kali.  

Plang Himbauan agar tidak memakai Minyak Goreng berulang kali
Plang Himbauan agar tidak memakai Minyak Goreng berulang kali.  Plang ini berhasil diambil gambarnya saat penulis menyusuri kawasan Malioboro. Foto Asep Haryono

Mari kita ciptakan Kuliner di Malioboro yang sehat dengan tidak menggunakan Minyak Goreng yang sama berkali kali.  Demikian bunyi papan informasi yang tersebar di beberapa sudut Malioboro.   Benar juga ya.

Sebagai penutup artikel tentang Menikmati Makan Malam Di Malioboro akan saya tutup dengan rekomendasi untuk waspada terhadap Harga.  Maksudnya, dan ini memang anjuran dari Traveler lainnya yang kami temui,  agar mencek terlebih dahulu harga yang dupasang dalam lembaran menu dengan penjualnya.   Sebagai contoh seporsi Bakso Sapi yang harganga tertera di Daftar Menu harus sesuai dengan yang kita santap.  Jangan sampai anda "dijebak".  Harga makanan dalam daftar menu ternyata tidak sama dengan yang anda makan. Enjoy Jogjakarta    (Asep Haryono).

Catatan Asep Haryono

Setelah kemarin (Selasa, 6 Agustus 2013) berjumpa dengan si fenomenal Mas Harry Van Yogya di pangkalannya di depan Hotel Airlangga di kawasan Jalan Prawirotaman, maka agenda DAY 06 saya ini agak sedikit dipayungi oleh "awan kelabu" karena anak saya, Abbie Muhammad Furqan Haryono (5 thn) , kurang fit badannya agak panas.

Mungkin karena selama 2 (dua) hari kemarin dia asyik bermain ke sana ke mari dengan adiknya, Tazkia, dan juga bermain main dengan tetangga rekan sebayanya.  Ada sedikit konflik batin dalam diri saya saat akan melakukan sightseeing atau jalan jalan ke kota Jogjakarta kalau dirumah anak saya sedang terkulai lemah dan demam. 

Akhirnya izin diberikan oleh bunda, jadi saya agak merasa tenang.  Tidak lupa saya dititipi pesan bundanya untuk membeli parasetamol penurun panas anak anak di Apotik.  Jadilah DAY 06 saya ini dibarengi dengan "misi khusus" beli obat di apotik.  DAY 06 kunjungann saya di Jogjakarta ini adalah berburu cindera mata (souvenir) di kawasan wisata Malioboro Jogjakarta.  Berikut laporannya.  Cieeeeeeeeeeeeee
Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia