Frequently Ask Question | Disclaimer | Site Map

Pelajaran Hidup Dari Almarhumah Ibu Tercinta

www.simplyasep.com  Sudah lebih dari 3 (tiga) tahun lamanya saya, adik dan saudara ditinggal oleh kedua orang tua,  Alhamrhumah Ibu menghadap Allah SWT pada tanggal 11 September 2015 yang lalu, dan Alharhumah Ayah wafat setahun sebelumnya.   Bisa dikatakan saya sudah menyandang gelar anak Yatim Piatu. Sudah kehilangan AYah dan Ibu. 

Mungkin pada bagian yang akan datang In sya Allah saya akan tuliskan bagian ceritanya,  Pada kesempatan ini saya mencoba mengurai pelajaran hidup yang sudah diajarkan oleh almarhumah Ibu saya selama beliau masih hidup. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi saya pribadi khususnya, dan semoga bermanfaat buat pembaca lainnya

Betapa Susahnya Mencari Uang

Saya adalah anak ke 8 (delapan) dari 9 bersaudara.   Adik saya, saya sendiri, dan 1 kakak perempuan, 6 kakak peremuan.  Berbeda dengan kultur penyebutan anggota keluarga di Pontianak (Kalimantan Barat).  Kalau orang Pontianak menyebut kata "Kakak" itu identik dengan berjenis kelamin perempuan, dan laki laki tertua disebut dengan abang ya kan.

Nah kalau dalam kultur masyarakat di Jawa pada umumnya, dan Jakarta pada khususnya (Saya lahir dan dibesarkan di daerah Pademangan Jakarta Utara-red) penyebutan "Kakak" itu berjenis kelamin Laki laki lebih umum. Sedangkan perempuan yang berusia dewasa, tertua di sebut dengan Mbak.  Sapaan "Mas" juga lebih umum di Jakarta, padahal sebutan itu umum dalam kultur masyarakat Jawa

Tema pertama adalah pelajaran hidup betapa susahnya mencari Uang. Tentunya kita sudah paham yang dimaksud tentu adalah uang yang Halal donk. Jangan disalah persepsikan dengan mencari Uang Tidak Halal berarti mudah kalau dari susunan terbaliknya. Hehehe. Jangan dibolak balik ah. Pada intinya adalah mencari uang dengan bekerja adalah sebuah perjuangan sendiri.  Almarhumah ibu adalah panutan buat saya. 

Sejak saya tinggal bersama Almarhumah dari sejak bayi hingga tamat SMA di Bekasi (era 1989), saya waktu itu belum paham bagaimana sebenarnya mencari uang.  Jelas pada tahun itu saya belum bekerja sama sekali, saat itu saya baru tamat SMA di bekasi (Saya alumni SMA Negeri 2 Bekasi angkatan 1989)  


Saya bersama Almarhumah Ibu. Foto ini diambil sekitar tahun 2014 yang lalu saat saya sekeluarga mudik ke Bekasi. Foto dokumen keluarga
Saya bersama Almarhumah Ibu. Foto ini diambil sekitar tahun 2014 yang lalu saat saya sekeluarga mudik ke Bekasi. Foto dokumen keluarga



Sejak anak anaknya hidup berkeluarga dan mandiri, semua adik dan saudara saudara tentu saja sudah memiliki kehidupan dan keluarga masing masing,. Banyak saudara saudara saya menetap di Jakarta, Bekasi, Cikampek dan di Tanggerang. 

Saya terakhir bersama ayah dan ibu sampai saya menamatkan SMP dan SMA di Bekasi (1989), yang akhirnya saya memilih Perguruan Tinggi di Pontianak, Kalimantan Barat.  Saya lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) 1990 . Saya tidak lulus di UMPTN 1989.  Kelak pada bagian ini saya akan tuliskan di masa yang akan datang in sya Allah


Kakak kakak atau saudara saudara yang tinggal berjauhan dari rumah orang tua kadang membuat ayah dan ibu merasa "kesepian".  Kebahagiaan mereka baru terpancar saat anak anaknya datang menengok dan bersilaturahmi ke rumah orang tua di Bekasi biasanya satu kali seminggu dan atau sekali setiap bulan. 

Bahagia Ayah dan Ibu semakin membuncah takala anak anaknya datang dengan keluarganya masing masing. Bayangkan kalau 9 anak anaknya datang ke rumah dengan "pasukan" nya anggap saja 1 anak (bawa istri/suami dengan anak 2 saja maka akan didapat jumlah 9 x 3= 27).  Ya ada 27 orang kumpul di rumah wah ramainya sudah kaya pasar Hehehe

Nah itu waktu merkea pada datang.  Pada hari hari biasa itulah yang saya duga adalah waktu yang membuat mereka merasa "kesepian". Namanya juga anak sudah memiliki tanggung jawab mengurus keluarganya masing masing, kadang ada saja kendala salah satu dari anak anaknya yang terlambat "menyetor" iuran bulanannya kepada Ayah dan Ibu. 

Tiada Bantuan Orang Lain selain Diri Sendiri
Termasuk saya tentunya. Saya kadang lebih banyak "absen" nya dalam hal iuran.  Nah pelajaran hidup inilah yang saya jadikan panutan.  Betapa ibu (almarhumah) bekerja keras "menghidupi" ayah yang sudah tidak bekerja lagi dengan mengajar ngaji anak anak, memberi pelajaran ngaji dan sejenisnya. Dari sinilah almarhumah ibu sudah memiliki "income" sendiri dari hasil mengaji dan mengajar ngaji anak anak.  Saya sudah merasakan sendiri betapa sulitnya mengais rupiah demi rupiah jika tidak memiliki pekerjaan tetap sama sekali. 

Saya jadi teringat akan kisah inspiatif motivator Nomor 1 Indonesia, Andrie Wongso dalam bukunya "22 Wisdom and Success" halaman 36 kalau tidak salah.  Dalam buku itu disebutkan bahwa "sesungguhnya tidak ada orang lain selain diri kita sendiri yang bisa menolong diri melewati berbagai ujian dan tantangan".   Kemudian ada lagi kutipan seperti ini "Dibantu oleh orang lain pun, tanpa anda berani memulai dari diri sendiri  untuk berusaha, belajar dan berjuang, ulet dan tidak menyerah pada keadaan, maka anda tidak akan pernah meraih sukses".


Betapa pelajaran Hidup yang dicontohkan oleh Almarhumah Ibu sudah memberikan pencerahan yang luar biasa bagi saya, salah satu anaknya yang kini tinggal di pulau Kalimantan Barat sejak puiuhan tahun yang lalu.  Saya mulai menginjakkan kaki di Pontianak, Kalbar ini pada tahun 1990 yang lalu, dan ALhamdulillah sering mudik ke BEkasi, menengok orang tua. 

Saya sudah merasakan betapa susahnya mendari uang jika tidak memiliki pekerjaan tetap (Alhamdulillah atas izin Allah SWT saya sudah memiliki pekerjaan tetap sejak setahun yang lalu-red).  Namun masa masa "sulit" saya di rantau Pontianak seperti merupakan refleksi apa yang sudah dialami oleh almarhumah Ibu.

Betapa sulitnya mencari rupiah demi rupiah untuk keluarga. Betapa sengsaranya tidur di malam hari dengan perut perih menahan lapar. Saya sudah melalui semua itu. Betapa susahnya hidup tanpa uang sepeserpun.  Semua pelajaran hidup ini sudah masuk ke dalam hati. Seperti dalam lirik lagunya Maher Zain, bahkan sampai mencapai bulan dan bintang.

Kenangan bersama Ayah dan Ibu akan selalu ada di dalam hati saya, dan akan selalu ada di dalam hati saya sampai akhir nanti. Saya termasuk yang beruntung menjadi salah satu anaknya yang berhasil berfoto dengan kedua orang tua secara lengkap dibanding saudara saudara lainnya selama mereka masih hidup. 

Saya bilang mungkin. Karena bisa saja ada saudara saudara saya lainnya yang juga memiliki foto yang sama seperti saya. Kemungkinan itu selalu ada, dan saya mungkin tidak tau. Wallahu Alam. Nah Dan foto saya bersama kedua orang tua saya selagi mereka masih hidup merupakan harta saya yang tidak ternilai yang saya akan jaga dengan segenap jiwa dan raga saya 
(Asep Haryono)

No comments:

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog