Ketika Orang Memanfaatkan Sebuah Bencana

Opini Asep Haryono.

Indonesia saat ini tengah berduka. Indonesia under attack. Serangan bom terkoordinasi menyerang tiga buah Gereja di Surabaya. Pelakunya diduga dalah satu kepala keluarga. Apa yang terjadi sebenarnya masih dalam pengusutan pihak kepolisian, namun apa yang terjadi sekarang menjadi lebih berwarna. Kini sebuah bencana bisa menjadi "amunisi" untuk berbagai maksud dan tujuan.

Dengan tetap menyampaikan bela sungkawa yang sedalam dalamnya terhadap keluarga korban serangan bom tersebut, dan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum dalam hal ini pihak kepolisian untuk mengusut tuntas "dalang" atau pelaku pengeboman biadab itu. 

Saya pun mendukung tekad kita semuanya, dan sesuai dengan perintah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, agar Polri mengusut tuntas aksi terorisme ini sampai ke akar akarnya. Namun masih saja ada pihak yang memanfaatkan bencana ini untuk banyak maksud dan tujuan.  



Anggota kepolisian bersiap meledakkan bom sisa di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Akibat ledakan itu, 5 mobil dan 30 motor terbakar.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG). Sumber Foto Kompas
Bukan hal yang dirahasiakan lagi begitu ada bencana datang bukannya membantu korban maslah "sibuk" berfoto selfie dan update status. Nyaris semua orang mengeluarkan statement atau pernyataannya baik yang mengutuk aksi pelaku atau pun "mendadak pakar" dalam hal terorisme dan kejahatan. Ramai ramai orang menjadi "ahli dadakan" terhadap sebuah bencana. Berbagai "ulasan" dan juga "analisa" bak seorang pakar. 

Salahkah itu semua? Tentu saja tidak.  Setiap warga negara berhak menyampaikan pendapatnya dan dijamin dengan Undang Undang Dasar 1945.  Tentu dengan catatan konten atau pun muatan daripada pernyataan dan pendapat itu tidak bertentangan dengan hukum, tidak mengandung unsur SARA, tidak mendeskreditkan pihak lain, tidak menjatuhkan orang lain, bukan unsur seksualitas, tidak ada unsur kekerasan bahkan bukan sebuah ujaran kebencian.

Sosial media kini sudah menjadi semacam "kendaraan" atau "alat" untuk mempromosikan diri, dan mempopulerkan diri sendiri. Sebenarnya sah sah saja sejauh tidak mengandung unsur unsur yang sudah saya sebutkan di atas tadi seperti tidak mengandung SARA, ujaran kebencian dan  lain sebagainya. Yang justru disesalkan adalah menjadikan berita sebuah bencana atau musibah dan memanfaatkannya sebagai ajang unjuk diri dan aktualisasi diri. 

Istilahnya "mendompleng" ketenaran sebuah bencana yang sebenarnya ingin untuk unjuk diri. Memang beda beda tipis atau istilahnya 11-12 dengan postingan yang tulus dari lubuk hati yang dalam berkomentar atau menyampaikan pendapat atau membuat status atau postingan terkait sebuah tragedi atau bencana.

Orang membuat status atay memposting rasa duka mendalam dan dukunhgan simpati terhadap korban sebuah tragedi atau bencana tidak bisa secara otomatis diberi "label" mendompleng ketenaran sebuah berita duka, berita tragedi atau berita bencana. Kita tidak boleh punya prasangka buruk terhadap itu.  Namun demikian sebuah tragedi dan bencana sebenarnya memiliki "nilai jual" yang bisa mengangkat nama seseorang setinggi langit atau bahkan menjatuhkan nama orang sedalam lautan.

Sebuah tragedi, sebuah bencana atau musibah lantas dibungkus oleh pihak pihak tertentu dan menjadikanya sebagai "amunisi" untuk menyerang lawan lawan politiknya atau kepada pemerintah yang sah.  Bencana datang karena pemimpinnya lemah dan lain sebagainya.  Apa relevansinya antara musibah yang datang dengan kepemimpinan seseorang? Tidak bisa mengkambing hitamkan orang lain karena sebuah bencana.  Lucu dan seratus persen ridak masuk akal.

Musibah , bencana , kecelakaan atau tragedi apa pun bisa datang kapan saja, bisa datang kepada siapa saja, dan dimana saja.  Musibah atau bencana datangnya setiap waktu dan setiap kali datang tidak pernah memberi tahu.  Saya berpendapat bencana, musibah atau tragedi yang datang harus menjadi bahan renungan kepada diri kita semua, dan menyadari kekurangan kita sebagai manusia, juga menyadari sebenarnya ada kekuatan yang MAHA DAHSYAT yaitu Allah SWT 
.(Asep Haryono)

No comments:

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog