Ketika Doktrin Radikalisme Ditanamkan Kedalam Keluarga

Opini Asep Haryono

Masih hangat saat ini adalah serangan terkoordinat terhadap 3 buah gereka di Kota Surabaya yang dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri yang menelan belasan korban jiwa dan puluhan lainnya terluka.  Kita semua mungkin sudah mengetahui bahwa para pelaku bom bunuh diri ternyata adalah satu KK (kepala Keluarga) atau satu Keluarga.

Sebagaimana yang dilansir oleh Tribunnews, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan, ledakan bom di Surabaya adalah benar dilakukan oleh satu keluarga dengan Dita Oeprianto sebagai kepala keluarganya.  Kemudian pelaku lainnya adalah Puji Kuswati (Istri Dita) dan ke empat anak anaknya,. Dua anak laki laki dan 2 anak perempuan.

Berdasarkan atas berita dari Tribunnews itu saya mencoba menelusurinya di jejaring maya Facebook dan ternyata berhasil menemukan akun facebook Puji Kuswati (istri Dita) yang salah satu fotonya ternyata cocok seperti yang dimuat dalam halaman website Tribunnews tersebut.  Berikut ini adalah salah satu fotonya yang diambil dari halaman facebook Puji Kuswati


Salah satu foto Puji Kuswati bersama anak anaknya dalam halaman akun Facebook miliknya.  Sengaja foto anak anaknya diblur atau dikaburkan untuk menghormati dan menjaga kerahasiaan. Foto dari Internet


Tidak Ada Kesan Radikal

Nah sahabat semuanya bisa melihat foto Puji Kuswati yang diduga berfoto bersama dengan keempat anak anaknya. Dua anak laki laki dan dua anak perempuan. Foto ini dposting oleh Puji Kuswati pada tanggal 20 Januari 2014 yang llalu.   Hal ini jelas menunjukkan Puji Kuswati sudah berhenti bersosial media Facebook sejak tanggal tersebut.

Dalam foto tersebut jelas terlihat
 Puji  mengenakan hijab berwarna cokelat, serta menggunakan kaca mata. Bersama Puji terlihat 2 anak laki laki yang sudah beranjak usia remaja, dan 1 anak laki laki yang ada perban di keningnya, Kemudian ada 2 anak perempuannya yang semuanya mengenakan jilbab.
"Kucing emak dan kucing anak berbagi pindang tanpa bertengkar.... Pinter ya... He..he... Siapa yg suka bertengkar berebut makanan???".  Ini adalah postingan terakhir Puji Kuswati pada tahun 2014 tersebut 
Portal berita Tribunnews menyebut kedua anak perempuan Puji Kuswati bernama Fadhila Sari (12) dan Pamela Riskita (9) dan 2 anak laki lakinya bernama Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16).

Dari foto foto yang ada dalam akun facebook Puji Kuswati tidak ada tanda tanpa radikalisme dalam gallery foto foto dan ataupun kalimat postingannya,  Justru banyak foto foto kebahagian dan keceriaan mereka sebagai sebuah keluarga yang harmonis, dan bersahaja.  Tidak ada tanda tanda kesan atau muatan radikalisme sama sekali. Setidaknya itu dalam pengamatan saya terhadap akun Facebook Puji Kuswati

Sedih Sekaligus Prihatin : Anak Anak Dikorbankan

Tribunnews menyebutlkan bahwa pelaku utama Bom Bunuh Diri Dita Oeprianto baru pulang Suriah yang nota benenya adalah berafiliasi atau menjadi salah satu jalan menuju kelompok ISIS. 

Jangan tanya dari mana Dita Oeprianto bisa membawa Bom berdaya ledak tinggi.  Apakah Dita meracik, membuat dan merangkai Bom itu sendiri karena kepandaian dan kemampuannya sendiri? 

Atau kah ada pihak tertentu yang "memodali" atau "membekali" Dita dan anggota keluarganya berupa bom bom mematikan yang siap diledakkan.    Ini hanya dugaan saya saja.  Kita tunggu saja hasil penyelidikan menyeluruh aparat kepolisian yang tengah mengusut tuntas kasus terorisme ini.

Saya merasa sangat berduka. Perasaan sedih bercampur marah. 
Sedih Sekaligus Prihatin : Anak Anak Dikorbankan.   Saya tidak dapat membayangkan bagaimana seorang kepala keluarga seperti Dita Oeprianto ini mampu meyakinkan dan menjelaskan maksud dan tujuannya kepada Puji Kuswati dan ke empat anak anaknya untuk menjadi pelaku bom bunuh diri

Mungkin Dita Oeprianto memberi doktrin "JIHAD" kepada istri dan anak anaknya sesuai dengan pemahaman Dita, dan diamini dan dipatuhi oleh anak anak dan istrinya.   Dalam ISLAM memang ada penekanan bahwa sang ISTRI harus patuh dan menurut kepada suaminya. Namun patuh dan menurut yang bagaimana dahulu, dan itu menjadi pertanyaan.

Kesetiaan dan kepatuhan sang Istri dan juga anak anaknya dimanfaatkan dengan baik oleh Dita Oeprianto ini.   Saya tidak dapat menyembunyikan perasan sedih, haru, sekaligus bercampur marah karenanya. 

Anak anak yang seharusnya bersekolah, ceria bermain bersama anak anak lainnya, apalagi malam ini adalah hari perdana Tarawih di bulan Suci Ramadhan 1439 Hjiriah, mereka di "korban"kan Dita Oeprianto untuk sama sama menjadi pelaku bom Bunuh Diri.  Dita Oeprianto, Puji Kuswati dan keempat anak anaknya sudah tewas kaena meledakkan diri menyerang tiga Gereja di Kota Surabaya hari Senin (14/1) lalu.

Saya sedih karena saya juga memiliki anak anak, Salah satu korban Bom bunuh diri itu anak perempuan berusia 9 tahun yang seusia dengan anak perempuan saya.  Saya merasa sangat sedih dan berduka ada 4 anak yang sedang lucu lucunya itu harus ikut tewas karena diajak bunuh diri oleh orang tuanya.

Serangan teroris ini tidak ada kaitannya dengan agama. Tidak ada agama di dunia ini yang mentolerir tindakan biadab seperti ini.   Semua agama menyebarkan kedamaian dan cinta persahabatan.  Menjadi pembom bunuh diri adalah tindakan terorisme yang merupakan musuh kemanusiaan, musuh kita semuanya.

Bangsa Indonesia harus bersatu bersama sama menumpas teroris pengecut seperti ini sampai ke akar akarnya,. Sebagaimana pesan Presiden Republik Indonesia, Jowo Widodo, kepada Kapolri agar menindak dengan tegas setiap pelaku teroris yang nyata nyata menganggu keamanan dan persatuan NKRI hingga ke akar akarnya.  Kita jangan takut. Mari kita sama sama melawan Terorisme.
.(Asep Haryono)

1 comment:

  1. Sedih mendengarnya, saya cuma heran sama si ibunya. koq tega ya sama anaknya. masak naluri keibuannya tidak muncul. semoga Tuhan melindungi saya dan keluarga dari perilaku-perilaku yang menyimpang.

    ReplyDelete

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog