Ketika “Tanggal Tua” Telah Datang

Kubu Raya.Istilah ini merujuk kepada situasi keuangan yang senin “kamis” yang biasa terjadi di akhir bulan.  Mengatur keuangan memang susah susah gampang.  Ini berdasarkan pengalaman pribadi soalnya.   Mungkin persoalan dasarnya adalah gaya hidup dari diri kita masing masing, Sejauhmana pola pengaturan keuangannya.

Kebutuhan hidup yang semakin meningkat ditambah dengan harga harga yang terus menjualang membuat banyak orang  yang menjerit.  Ditambah lagi dengan situasi ekonomi yang belum stabil dimana mana pekerjaan sulit diperoleh, angka pengangguran yang selalu bertambah menambah kompleks permasalahan.

Pakar keuangan keluarga  Safir Senduk dan Rekan dalam sebuah kesempatan pernah menuyampaikan “kunci” keberhasilan dalam pengelolaan keuangan keluarga adalah bisa menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran.  Jika penghasilan tidak mencukipi maka gaya hidup harus diatur sedmikian rupa.
Jika bisa pendapatan ditambah jika ingin meningkatkan pengeluaran. 

Jika pemdapatan tidak bertambah maka pengeluaran yang tidak perlu harus ditekan sedemikian rupa.  Belanja belanja yang tidak “penting”  bisa ditunda atau bahkan mungkin dibatalkan.  Namun yang lebih baik lagi adalah pendapatan bertambah sedangkan pengeluaran bisa ditekan.  Maka selisih dariapdanya bisa digunakan untuk saving (menabung).


TANGGAL TUA :  Seperti inilah ilustrasi saat tanggal tua datang menjelang. Uang disaku tinggal lembaran seperti ini.  Foto Asep Haryono
TANGGAL TUA :  Seperti inilah ilustrasi saat tanggal tua datang menjelang. Uang disaku tinggal lembaran seperti ini.  Foto Asep Haryono


Namun, tambah Safir Senduk dan Rekan,  tradisi saving (menabung) dipersepsikan sebagai “sisa” dari pengelolaan anggaran keluarga.  Seharusnya, kata Safir Senduk . menabung (saving) harus dianggap sebagai “pengeluaran”.  Dengan kata lain tradisi menabung harus dipaksakan harus ada dalam anggaran keluarga


Keinginan VS Kebutuhan
Saya masih ingat apa yang disampaikan oleh Safir Senduk dan Rekan, pakar keuangan keluarga, pernah mengatakan bahwa salah satu kunci keberhasilan pengelolaan keuangan adalah mampu membedakan mana kebutuhan dan keinginan.  

Jika bias membedakan makna dari kedua kalimat itu, maka pengelolaan keuangan keluarga dapat diatur sedemikian rupa.   Beliau mencontohkan terhadap kepemilikan sebuah perangkat alat komunikasi seperti telepom genggam (Handphone).  Memiliki sebuah Handphone saat ini cukup penting sebagai sarana komunikasi.  Ini namanya sebuah kebutuhan.

Jika Handphone tidak dimiliki, maka kemungkinan besar akan mengalami masalah komunikasi seperti tidak bisa menghubungi dan atau dihubungi.  Ini yang dinamakan sebagai kebutuhan.  Jika tidak terpenuhi maka akan menimbulkan masalah.  Beda halnya dengan Handphone yang memiliki fitur canggih.  Nah ini yang namanya keinginan.

Sudah punya Handphone yang berfungsi sebagai alat komunikasi namun masih mau yang lebih canggh itulah yang dsiebut dengan keinginan. Artinya jika keinginan ini tidak tercapai maka tidak berakibat aoa apa, karena Handphone yang sudah ada dan tidak canggih iru misalnya masih bisa dipakai untuk komunikasi.(Asep Haryono)

2 comments:

  1. ngikutin handphone mah gak bakal ada habisnya :D

    ReplyDelete

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog