OPINI : Dilema Hukuman Mati TKI Di Arab Saudi

Kubu Raya. Berita dari CNN Indonesia tertanggal 19 Maret 2018 yang berjudul dan berisi  " TKI Asal Madura Dihukum Mati di Arab Saudi' menyebutkan bahwa  Pemerintah Arab Saudi telah menghukum mati Muhammad Zaini Misrin pada Minggu (19/3) waktu setempat dengan cara hukuman pancung. Muhammad Zaini Misrin adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kebetulan berasal dari daerah asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Dalam berita yang berbeda dari sumber yang berbeda TKI yang bernama 
Muhammad Zaini Misrin itu dieksekusi walau masih dalam proses pengajuan Peninjauan kembali (PK) atas tuduhan pembunuhan yang ditujukan kepadanya. CNN Menyebutkan pengajuan PK yang dimaksud sebenarnya sudah ditolak oleh Hakim setempat yang menyidangkan almarhum.

Baca juga TKI Ku sayang TKI ku Malang

TKI dihukum dengan cara penggal kepala sampai mati sudah sering kali terjadi Sudah ada beberapa warga negara kita yang dipenggal kepalanya oleh algojo Arab Saudi setelah proses pengampunannya ditolak oleh keluarga korban. Hukum Arab Saudi yang menerapkan hukum Qisas dimana dugaan pembunuhan harus dibayar atau dibalas dengan nyawa juga.  Sistim hukum di Arab  Saudi hanya bisa longgar (tidak dihukum pancung) jika keluarga korban memaafkan.

Sumber foto dari News Okezone
Sumber foto dari News Okezone



Masih segar dalam ingatan kita  Pemerintah Arab Saudi juga pernah memenggal kepala seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bernama Ruyati binti Satubi Saruna pada Sabtu, 18 Juni 2011, juga diduga karena kasus pembunuhan terhadap majikan yang memperkejakan almarhumah.  Juga masih ada lagi lainnya juga TKI yang meregang nyawa diujung pedang para Algojo Arab Saudi.  Dimanakah negara saat dibutuhkan oleh warga negaranya?


Kasus pemenggalan TKI atas nama Ruyati binti Satubi Saruna ini sempat viral ke seluruh dunia, dan menjadi salah satu isu internasional.  Bahkan pemerintah Perancis melalui penasehat Presiden Prancis untuk Urusan Asia Pasifik, Bertrand Lortholary terkejut dan menyatakan keprihatinan yang mendalam atas voni mati yang dijatuhkan kepada Tenaga Kerja Indonesia tersebut

Baca juga Prancis Syok Mendengar Hukuman Pancung TKI

Saat warga negaranya berjuang mencari nafkah dengan bekerja di luar negeri sebenarnya sudah membuat negara ini seharusnya malu karena dianggap tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi warga negaranya hingga harus mencari sendiri dengan mencari pekerjaan di luar negeri.  Ini sudah ada dalam Undang Undang Dasar (UUD) pasal 27 ayat 2 Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Namun hukum tetaplah hukum. Penegakan hukum (law enforcement) tiap negara memang berbeda. Di sisi hukum Internasional memang suatu negara tidak dapat mencampuri sistim hukum negara lain. 

Bandingkan saja dengan penerapan hukuman mati dengan cara ditembak bagi para Bandar Narkoba tak perduli dari negara manapun.  Bahkan warga negara Indonesia sendiri yang terbukti secara sah dan meyakinkan dan sudah mempunyai ketetapan hukum tetap dan sudah dijatuhi hukuman mati juga tidak ada ampun. Tiada pengecualian.  Tetap ditembak mati.

Hanya saja perbuatan baik tidak sama dengan perbuatan tidak baik. TKI bekejra di negara lain untuk mencari nafkah dan penghidupan yang layak. Bandar Narkoba mencari nafkah dan penghidupan yang layak di negara kita  dengan cara menjerumuskan orang dengan Narkoba. Ini jelas beda. Namun sustansinya sama yakni dihukum sampai mati baik dengan cara ditembak, digantung ataupun dipancung keoalanya.   Mari kita liat di sisi kemanusiaan saja.


Tidak hanya di Arab Saudi, di Malaysia dan di negara manapun dimana TKI itu bekerja. Sudah menjadi kewajiban bagi negara untuk berbuat semaksimal mungkin melindungi warga negaranya dalam keadaan apa pun dan dalam kondisi bagaimanapun.

JIka hukum dan perundang undangan sudah tidak dapat diterobos, tidak ada celahnya, marilah kembali kepada sisi kemanusiaannya saja. Warga Negara Indonesia (WNI) sudah bekerja keras membanting tulang sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dl luar negeri, untuk masa depan keluarganya, penghidupan yang layak, dan Negara juga mendapat devisanya.

Negara meraup keuntungan dari setiap TKI yang bekerja di luar negeri.  Ini adalah fakta yang tidak dapat terbantahkan. Maka dari itu, karena Negara sudah mendapat keuntungan devisa dari setiap rupiah yang diraih oleh warga negaranya yang bekerja di luar negeri, sudah sepatutnya negara Hadir di saat warga negara membutuhkannya.   (Asep Haryono)


No comments:

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog