Beranikah Dunia Tanpa Amerika Serikat ?

Menakar Hubungan Indonesia Dan Amerika Pasca Pengakuan Sepihak AS terhadap Yerusalem Sebagai Ibukota Israel

Catatan Asep Haryono

Setelah Donald Trump , presiden Amerika Serikat, mengumumkan secara sepihak pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel,  Amerika Serikat sudah seperti di "keroyok" ramai ramai oleh dunia Internasional.  Sejarah mencatat bahwa masa depan kota Yerusalem akan ditentukan oleh perundingan langsung antara Palestina dengan pendudukan israel.  Mengapa disebut pendudukan, karena Israel memang secara sengaja mencaplok wilayah Palestina sejak lama.

Kalau melihat dari latar belakang pengakuan sepihak Amerika Serikat yang di "wakili" oleh Presidennya, Donald Trump, karena janji janji yang sudah dilemparkan Trump kepada para pendukungnya.  Salah satu janji Donald Trump dalam perebutan kursi Presiden Amerika Serikat dengan rival tradisionalnya, Hillary Clinton, adalah pengakuan Israel sebagai pemilik sah kota Yerusalem. Dan kini setelah Trump terpilih, dia pun melaksanakan "janji" nya.

Baca juga  - Trump or USA Claims Jerusalem Decision?



DONALD TRUMP :  Saat memberikan sambutan menggantikan Amitab Bachan dalam konferensi Pemuda Asia Tenggara YES 2009. Foto Asep Haryono
DONALD TRUMP :  Saat memberikan sambutan menggantikan Amitab Bachan dalam konferensi Pemuda Asia Tenggara YES 2009. Foto Asep Haryono
Dalam perkembangan terbarunya, Negara Negara yang tergabung dalam Majelis Umum PBB berjumlah 128 negara di mana Indonesia berada di dalamnya kompak mendukung sebuah resolusi PBB untuk mendesak Amerika Serikat untuk menarik pernyataannya yang mengakui Israel sebagai Ibukota Israel.  Sayang sekali resolusi yang sebenarnya tidk mengikat itu (karena bukan berasal dari resolusi Dewan Kemanan-red) di Veto secara telak oleh Amerika Serikat. Dengan demikian resolusi itu bisa ditunda dan atau dianggap tidak ada.  


Ancaman Stop Bantuan Keuangan
Seperti sudah banyak diperkirakan oleh banyak pihak, Amerika Serikat dengan kekuatan hegemoni ekonominya atas dunia menebar "ancaman" untuk menunda. menghentikan atau memangkas bantuan keuangan kepada neagra negara yang menentang Amerika Serikat dan atau mendukung resolusi PBB tersebut.   Ini sudah dipredisik oleh banyak pengamat hubungan Internasional dari seluruh dunia.

Indonesia, dan ratusan negara di dunia lainnya yang saat ini membina hubungan diplomatik yang baik dengan Amerika Serikat bisa saja "terganggu" dari konflik politik yang sekarang terjadi. Dampaknya sangat multidimensi karena dari urusan Politik ini bisa menjalar kemana mana hingga pada akhirnya akan merambah kepada dunia pendidikan. 

Dampak langsung bagi Indonesia sebagai salah satu negara warga negaranya banyak yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat mulai dari Strata 1 hingga PHD atau doktor.  Atau mungkin para alumni USA itu harus mengembalikan dana pendidikan yang sudah dikeluarkan yang nilainya ratusan juta dollar Amerika itu?   Kalau membayangkannya saja sudah seram.

Lebih "mengerikan" lagi misalnhya gelar gelar yang sudah diraih oleh orang orang Indonesia hasil perjuangan bertahun tahun menempuh pendidikan di Negara Paman SAM itu bisa saja dicopot dan atau tidak diakui.  Kalau sudah begini sudah runyam urusannya.  Apalagi kalau sampai terjadi usir mengusir Duta Besar nya masing masing itu sudah bisa diprediksikan hubungan Bilateral kedua negara, Indonesia dan Amerika Serikat, berakhir.

Dunia internasional banyak menggunakan mata uang Dollar Amerika Serikat sebagai metoda pembayaran dan perekonomian. Bisa saja dunia internasional "membalas" Amerika Serikat dengan melakukan Boycott (boikot) terhadap mata Uang internasional US Dollar itu dengan menggunakan mata uang lainnya seperti EURO yang sudah semakin dikenal ini.

Dapatkah dunia mengucilkan Amerika Serikat yang konon dianggap semakin pongah itu?  Amerika Serikat yang selama ini dikenal sebagai negara yang merasa dirinyalah yang paling berhak "menghukum" negara lain bisa dibalas dengan perlakuan yang sama.  Dunia Internasional "mengadili" Amerika Serikat di kursi pesakitan? Mungkinkah itu bisa terjadi?

Jika Mr Donald Trump benar benar tersinggung berat oleh prakarsa penolakan pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Yerusalem  yang diusung oleh Indonesia dan ratusan negara negara Islam lainnya dengan memangkas bahkan menghentikan program dukungan pendidikannya, maka bisa dipastikan akan banyak mahasiswa/mahasiswi Indonesia yang saat ini sedang berjuang menempuh S1 hingga S3 nya di negara Paman SAM itu bisa terhenti.  Tidak ada lagi yang namanya program BEASISWA Amerika untuk Indonesia.

Jika skemario di atas berjalan apa adanya, dan Donald Trump masih baper alias tetap tersinggung dengan prakarasa negara negara Islam yang mendukung Resolusi PBB itu bisa saja lebih melebar kepada hubungan Bilateral kedua negara. Tarik menarik duta besarnya masing masing, hingga penurunan status hubungan Amerika Serikat dan Indonesiai yang sudah terjalin manis ini terancam akan berantakan. Kedua negara,  Indonesia dan Amerika Serikat bisa  saja terputus atau diputuskan. Memang Dilema.  Beranikah Dunia Tanpa Amerika Serikat? (Asep Haryono)

No comments:

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog