Jual Milagros disini

OPINI : Dilarang Kasbon

Ada kejadian unik beberapa hari yang lalu saat saya mengisi bensin di Pertamini di kawasan Kuala Dua atau arah menuju Rasau.  Pertamini adalah bahasa gaulnya dari Pertamina. 

Maksudnya di sini adalah penjual bensin eceran di pinggiran jalan dengan bentuk dispenser penjualnya mempunyai kemiripan yang amat tinggi dengan Dispenser yang digunakan oleh PERTAMINA.  Kejadian uniknya adalah saya melihat di tanki dispenser itu adalah larangan untuk tidak merokok, menyalakan hp dan yang terakhir dilarang kasbon.  Hah, kasbon?

Dalam kehidupan sehari hari tentu kita tidak terlepas dari apa yang dinamakan pinjam meminjam atau dalam bahasa gaulnya kasbon.  Dengan kata lain dilarang ngutang. Bahasanya sudah tidak ada lagi yang perlu diperhalus.  Ngutang atau berhutang. Sengaja saya tidak membahasnya dari sisi dokmatis agama untuk menghindari polemic atau pro kontra.  Substansi dari tulisan saya kali ini adalah mengapa urusan kasbon atau ngutang dicantumkan dalam 3 larangan di atas.  Dilarang merokok, Dilarang menyalakan api, dan dilarang kasbon.

Serendah itukah para kasboner? Padahal untuk urusan pinjam meminjam seperti ini konsumennya tidak lagi kaum marjinal atau masyarakat sipil.  Pada direktur, bahkan pengusaha bermobil mewah sekalipun berbondong bondong mengajukan kredit atau pinjaman ke Pegadaian atau Bank.  Gejala apa ini.   Namun pada umumnya mereka mengajukan “kasbon”, terutama dari kalangan “the have” seperti di atas, menjaminkan barang berharga mereka seperti mobil, tanah, rumah dan lain sebagainya.

Anda punya credit card atau kartu krredit?  Taukah sebenarnya makna hakiki dari kepemilikan kartu kredit itu sendiri? Uang plastik begitu kira kira kata orang menyematkannya adalah kartu hutang pada dasarnya,. 

Anda membeli barang barang kebutuhan rumah tangga misalnya, dengam menyodorkan kartu kredit, maka anda berhutang pada mereka dan sistim pembayaan dikemudian hari. Bukankah itu juga dinamakan Kasbon atau berhutang.  Jadi siapakah sebenarnya kasboner itu?

DILARANG KASBON : Saat saya mengisi bensin di Pertamini saya melihat ada larangan kasbon di Dispenser bensinnya. Ini menarik. Foto Asep Haryono
DILARANG KASBON : Saat saya mengisi bensin di Pertamini saya melihat ada larangan kasbon di Dispenser bensinnya. Ini menarik. Foto Asep Haryono


Namun pada prakteknya untuk dilevel rumah tangga , perilaku kasboner sering tidak simpatik.   Ini memang sering terjadi di masyarakat.  Pada prakteknya pemberi kredit (kreditor) memberikan sesuatu dengan janji pembayaran di kemudian hari, maka penerima kredit (kasboner) sebaiknya memberikan catatan mengenai kapan atau wakti pelunasannya. Hal ini akan semakin mudah jika ada ketentuan hitam putihnya tercantum hak dan kewajibannya. 

Namun jika kasbon nya sendiri nilainya tidak seberapa akankah perlu dibuatkan semacam surat perjanjian seperti itu? Mungkin secara ekstrim tidak, namun harus ada itikad baik untuk melunasi (kredit atau hutang) itu sendiri. Tidak bermaksud membiarkan diri, pura pura tidak tau atau bahkan berniat tidak mau melunasi. 

Beda kasusnya jika yang bersangkutan sudah tidak berdaya lagi untuk melunasinya, maka kembali kepada para pemberi kredit untuk melakukan restrukturisasi atau penundaan pembayaran hutangnya.  Jika mengampuni atau memaafkan dengan melakukan “pemutihan” tentu saja berhati mulia, namun sangat jarang terjadi hal hal kasuistik seperti ini.  Oleh karena itu dilarang Kasbon (Asep Haryono)

No comments:

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog