Jual Milagros disini

Tradisi Bertukar Makanan

Catatan Asep Haryono

Dalam masyarakat Melayu di Pontianak tradisi bertukar makanan adalah hal yang lumrah serta umum. Hal sederhna saja.  Saat seseorang yang membawa sepiring makanan misalnya,  yang kemudian dikemasnya dalam sebuah piring atau rantang kemudian diberikan kepada tetangganya. 

Tak lama kemudian di hari yang sama atau hari yang berbeda tetangga yang mendapat kiriman makanan itu kembali bertamu untuk mengembalikan rantang atau piringnya namun juga sudah ada makanan di dalamnya.  Tradisi bertukar makanan ini menarik bagi saya untuk mengulasnya sesuai dengan kapasitas dan penafsiran saya.  Anda bebas memberikan penafsiran sendiri atas tradisi bertukar makanan ini.  Tapi inilah pandangan saya.

Tradisi bertukar makanan dalam masyarakat Melayu di Pontianak sudah menjadi turun temurun dalam kultur budaya masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan, persahabatan dan keharmonisan dalam bertetangga yang memang sudah ada landasan hukumnya terutama bagi penganut agama Islam seperti saya.     Bertetangga dengan santun memang sangat dianjurkan dalam Agama Islam, dan juga dengan penganut agama lainnya di Indonesia.   Tetangga yang terdekatlah yang pertama menolong kita disaat kita membutuhkan pertolongan.  Untuk yang satu ini kita tentunya sudah sepakat. 

Bagaimana dengan Tradisi Bertukar Makanan ini?  Memang tidak secara khusus ada kesepakatan antara kedua belah pihak untuk merencanakan bertukar makanan.  Yang ada adalah tetangga yang membagikan masakan olahannya, masakan kreasinya untuk diberikan kepada tetangga agar bisa "icip icip" begitu kira kira penjelasannya. 

Tetangga atau orang yang mendapat free mencicipi makanan ini tentu tidak memiliki kewajiban moral untuk "membalas" kebaikan mereka.  Namun konteksnya akan berbeda jika sang tetangga menghadiahkan, dengan niat yang sudah dipersiapkan memberikan hadiah makanan kepada tetangganya. 

Maka sebagai kewajiban moral (bukan merasa "berhutang" makanan -red) sang tetangga pun balik menawarkan makanan.  Ini baik sekali karena dapat merekatkan hubungan sosial dengan para tetangga secara nyata dan bertatap muka secara fisik dan bukan daring (online) melalui sosial media dengan perantaraan Gawai (gadget).

SOP : Penulis mendapat balasan SOP atas makanan yanb sudah penulis berikan kepada tetangga. Sebuah contoh. Foto Asep Haryono
SOP : Penulis mendapat balasan SOP atas makanan yang sudah penulis berikan kepada tetangga. Sebuah contoh. Foto Asep Haryono
 



Bisa Mubazir
Bagaimana kalau makanan yang dipertukarkan itu ternyata bukan selera sang tetangga?  Bukankah makanan yang sudah dibuat dengan susah payah dan dengan biaya dan waktu yang tidak sedikit itu ternyata tidak tersentuh sedikitpun oleh sang tetangga?  Tentu tidak akan diketahui, namun jika itu benr benar terjadi dan sampai diketahui oleh sang tetangga yang memberikan makanan tentulah akan menyakiti hatinya.

Sebagai contoh si Fulan menghadiahi sepiring makanan berupa kue lapis kepada seorang tetangganya.  Dan sebagai balasan atas kebaikannya, sang tetangga itu pun balik menghadiahkan si tetangga yang baik itu dengan makanan buatannya, sepiring rendang jengkol.   Ini bisa menjadi masalah.

Kenapa bisa meniadi masalah? Karena bisa jadi sang tetangga yang mendapat "balasan kebaikan" ternyata anti Jengkol.   Bahkan bila rendang jengkol itu dikasih keju pun tetap tidak disentuhnya. Karena sang tetangga tidak selera, dan atau rendang Jengkol itu bukan kesukaannya, bukan seleranya. Bukankah ini berpotensi makanan itu akan mubazir, dan mungkin akan terbuang sia sia.  Bukankah perbuatan mubazir sangat tidak ditolerir.  Tetapi kalau dasarnya orang tidak suka dengan rendang Jengkol, apa harus dipaksa paksa untuk menerimanya/ Tentu saja tidak.  Selera memang tidak dapat diperdebatkan. (Asep Haryono)

No comments:

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog