Jual Milagros disini


2 Tahun Ibunda Wafat. Tunggu Aku Ibunda

Add caption

Catatan Asep Haryono
Insya Allah hari  Senin 11 September 2017 tepat 2 (dua) tahun Ibunda saya, Almarhumah Siti Rochayah, wafat meninggalkan saya, adik dan saudara saudara.  Almarhumah wafat pada tanggal 11 September 2015 yang lalu di sebuah rumah sakit di Bekasi.

Sedangkan Ayahanda, Almarhum Sudjud sudah lebih dahulu wafat pada tanggal 21 Juni 2014 yang silam

Saya hanya terlambat sekitar 2 jam di hari wafatnya ibunda 
11 September 2015 di Bekasi.  Saya belum sempat melihat wajah almarhumah untuk yang terakhir kalinya, belum sempat mencium keningnya.  Saya tiba di rumah duka di Jl Sarbini Kranji Bekasi saat prosesi pemakaman Ibunda sudah selesai di hari itu. Tanpa sempat mengganti baju setelah tiba dari Pontianak, saya langsung nyekar ke makam Almarhumah ibunda saya di Pemakaman Kober di belakabg rumah, juga di Bekasi.

Sama sama belum sempat melihat yang terakhir

Saat ayanda saya wafat pada tanggal 21 Juni 2014 yang lalu, saya tidak dapat melihat wajah almarhum untuk yang  terakhir kalinya. Saya tiba di rumah duka beberapa hari setelahnya.

 Dan untuk kali keduanya, saat Ibunda tercinta wafat di hari itu 11 September 2015 hari Jumat  Subuh, saya sekeluarga sedang bersiap menuju Bandara untuk terbang ke Bekasi. Tiba di rumah duka terlambat sekitar 2 jam dari prosesi pemakamannya hari itu sekitar jam 10.00 WIB.

KENANGAN : Bersama Almarhumah Ibunda Siti Rochayah di hari menjelang saya sekeluarga kembali ke Pontianak pagii itu bulan Agustus 2013.  Foto Rudi Maryati
KENANGAN : Bersama Almarhumah Ibunda Siti Rochayah di hari menjelang saya sekeluarga kembali ke Pontianak pagii itu bulan Agustus 2013.  Foto Rudi Maryati

Sebenarnya saat Ibunda dikabarkan KOMA satu hari sebelumnya oleh saudara saudara di Bekasi,  saya sekeluarga di Pontianak sudah pegang tiket untuk berangkat ke Bekasi besoknya 11 September 2015.  Tiket pesawat saya adalah penerbangan pagi. Saya lupa jam terbangnya.

Nah di saat saya , istri dan 2 anak anak saya sudah berada di TAXI pagi itu menuju Bandara Internasional Supadio untuk terbang ke Bekasi, kabar duka akhirnya tiba.

Di dalam pembicaraan telepon, ada suara lelaki yang saya duga adalah pemimpin porsesi pemakaman Ibunda.  Beliau meminta keikhlasan saya karena prosesi pemakaman segera dilakukan.

Dalam tradisi anak anaknya harus hadir semuanya di acara pemakaman, hanya saya saja (anak ke 8) yang tinggal di kota Pontianak.  Jadi terkendala jarak. Sedangkan prosesi pemakaman segera dimulai di Bekasi.

Saya pun menyampaikan pesan kepada beliau, agar prosesi pemakaman ibunda saya dilanjutkan saja tanpa harus menunggu kehadiran fisik saya.

Saat itu saya sedang bersiap menuju Bandara    Saya ikhlas tidak dapat melihat prosesi pemakaman ibunda.
Saya tiba di rumah duka di Jl Sarbini Kranji Bekasi saat prosesi pemakaman Ibunda sudah selesai di hari itu. Tanpa sempat mengganti baju setelah tiba dari Pontianak, saya langsung nyekar ke makam Almarhumah ibunda saya di Pemakaman Kober di belakang rumah, juga di Bekasi.
KENANGAN : Saya sempat foto bersama Ayah Bunda saat itu di hari menjelang saya sekeluarga kembali ke Pontianak pagii itu bulan Agustus 2013. Saya sudah ada firasat saat itu Foto Rudi Maryati
KENANGAN : Saya sempat foto bersama Ayah Bunda saat itu di hari menjelang saya sekeluarga kembali ke Pontianak pagii itu bulan Agustus 2013. Saya sudah ada firasat saat itu Foto Rudi Maryati

Seperti Sudah ada Firasat


Pada lebaran tahun 2013 bulan Agustus kalau saya tidak keliru catatannya, saya memang sudah ada IDE untuk berfoto bersama kedua orang tua saya saat itu. Saya sempat berpikir kapan lagi bisa foto bersama kedua orang tua tercinta. Kapan lagi kalau tidak saat itu.   Saya seperti sudah ada firasat.

Saya harus punya foto bersama ayah ibu, dan itu saja dalam pemikiran saya.  Firasat memang ada, namun saya "ingkari", saya alihkan. Pokoknya saya harus foto bersama Ayah Ibu itu saja.  Saya tepis pemikiran lain

Saya sempat berpikir untuk mudik ke Bekasi tentu tidak sedikit sumber daya (Waktu, tenaga, dan biaya) yang terlibat, dan itu semua harus dipersiapkan dengan baik.

Makanya begitu ada kesempatan mudik 
saya sekeluarga di Bekas sekitar bulan Agustus 2013 yang lalui, langsung saya manfaatkan untuk foto foto bersama Ayah dan Ibu. Alhamdullihh saya sudah ada dokumentasinya.  Saya berfoto bersama ayah dan ibu tercinta saat mereka masih hidup. Dan ini menjadi salah satu harta saya yang tidak ternilai.

Ada 2 buah wasiat yang Almarhumah titipkan buat saya dan saudara saudara lainnya, dan biarlah wasiat itu menjadi rahasia kami sekeluarga, dan hanya Allah SWT saja yang tahu.  Insya Allah saya segera melaksanakan wasiat Almarhumah Ibunda tercinta saya.

Almarhumah Ibunda melahirkan 9 (Sembilan) anak anaknya.

Saya adalah anak ke 8 dari 9 bersaudara.  1 adik laki laki, 1 kakak perempuan, dan 7 kakak laki laki.   Kalau di Pontianak istilah "kakak" merujuk pada gender perempuan (female), sedangkan dalam terminologi masyarakat kultur Jawa, istilah "Kakak" merujuk pada gender laki laki atau perempuan.  Hanya saya saja yang saat ini berada di Kalimantan Barat, sedangkan adik dan semua saudara berada di Pulau Jawa yang tersebar di Jakarta, Bogor, Bekasi dan Bandung.



Saya atas  nama keluarga besar Almarhumah memohon keikhlasan para kerabat sahabat, dan sanak keluarga untuk dapat memaafkan kesalahan dan kehilafan almarhumah Ibunda saya semasa hidupnya, serta mendoakannya agar ibunda saya diampuni segala dosanya oleh Allah dan diterima semua amal ibadahnya oleh Allah SWT.

Ibunda , terima kasih sudah menjadi ibuku, membesarkan ku dan merawat ku hingga saat ini.   Saya dan semua saudara saudara akan selalu menyertai ibunda dalam doa.    



Tunggu aku Ibunda.  Alfatihah....


No comments:

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog