Jual Milagros disini

In Memorium Selamat Jalan Pak Darto

Foto terakhir dengan Alm Pak Darno, Nopember 2016. Foto IST
Foto terakhir dengan Alm Pak Darto, Nopember 2016. Foto IST

Catatan
Syafaruddin Usman MHD

Masih segar dalam ingatan. Masih terngiang dipendengaran. Begitulah pertemuan, percakapan, dan perjumpaan yang ternyata yang terakhir kali, antara saya dan Pak Darto. Innalillahi waina Ilaihirajiun ... Pak Darto dengan lapang dan tenang menghembuskan napas yang terakhir. Sejak muda menyendiri, dan diakhir hayatnya pun ditempuh dengan kesendirian. Namun, tak sedikit kebaikan yang menemani, mengantarkan serta mengiringi kepergiannya.

Sejarawan, tokoh pendidik, sang guru yang bersahaja ini wafat dalam usia 83 tahun, setelah detak terakhir jantung kehidupannya tak lagi diteruskan, Rabu, 25 Januari sekitar pukul 5.

Pak Darto, meninggal dunia tanpa sakit yang diderita di usia senjanya. Karenanya, wajar bila tak sedikit mantan anak didiknya yang kini sudah banyak yang "jadi orang" melampaui sang guru, melepas dan mengantar keberangkatannya ke ala  barzah.

Sekitar sebulan lalu, saya bersama rekan sejawat Juniar Purba dan Poltak Johansen, bersama merayakan ulangtahun Pak Darto, 83 tahun. Tak ada tiup lilin, tak juga tepuk riuh, kecuali doa dan peluk cium hangat kami bertiga untuknya. Seketika itu, mata orangtua yang santun  bertutur dan ramah berbicara itu berkaca-kaca.

Terngiang dipendengaran saya kini, ketika itu Pak Darto yang kini sudah tiada di tengah-tengah kami berkata: Terima kasih anak-anakku, ini untuk pertamakalinya saya merayakan ulang tahun, seumur saya 83 tahun, tidak pernah saya lakukan. Bu Juniar, jangan doakan saya panjang umur, tapi doakan, semoga diusia saya yang sekarang ini hidup saya tetap bermanfaat untuk semua orang.

Itulah ungkapan lirih dengan tukus ikhlaa yang diucapkan pria yang hingga akhir hayatnya tetap sendiri ini. Saya tertegun, terkesima, tak  berkata apa-apa ketika itu, kecuali mengucapkan rasa syukur atas karunia Nya untuk sang pendidik kawakan ini.

Maka cukup mengagetkan buat saya, ketika pagi hari Rabu, 25 Januari saya mendapat kiriman pesan WA dari kolega saya yang mengabarkan Pak Darto telah tiada. Seyogyanya, siang harinya saya bermaksud menemui beliau di ruang kerjanya di Kantor Diknas Kalbar, selain seperti biasa bincang-bincang sejarah, juga mengantarkan pita mesin ketik untuknya. Pak Darto memang senang mengetik, meski sejumlah besar naskah yang saya terima darinya selama ink menggunakan tulisan tangan beliau.

Selain itu, saya juga bermaksud memberikan buku untuknya. Biasanya kalau saya kembali dari Jakarta, atau dari tempat lain di luar Kalbar, oleh-oleh khusus saya buat beliau adalah buku. Sepertinya, kami sama-sama penyuka dan penyinta buku.

Tak dibantah, Drs H Sudarto adalah sejarawan mumpuni Kalimantan Barat. Lelaki asal Yogyakarta ini sejak 1964 mewakafkan hidupnya sebagai pendidik di daerah ini. Mula-mula bertugas di Sambas, kemudian Pontianak, hingga sempat memegang beberapa posisi penting di lingkungan Dikbud Kalbar.

Pak Darto, begitu akrab almarhum disapa, adalah tokoh pendidik yang mempunyai rasa sosial yang tinggi. Setahu saya, gaji ataukah pensiun atau tunjangan lain yang beliau peroleh, diperuntukkan buat kemajuan pendidikan, dengan cara disumbangkan ke lembaga pendidik ataukah wakaf masjid.

Orang tua satu ini dikenal piawai, bersahaja, dan sangat jujur. Selain itu semua, Pak Darto adalah seorang yang taat beragama, dia adalah muslim yang soleh.

Dalam belasan tahun terakhir, saya dan beliau selalu tampil bersama mengisi seminar dan ceramah, serta sebagai narasumber di media elektronik televisi. Tutur katanya halus, kalimatnya terpelihara, intonasi ucapnya mengagumkan. Begitulah kesan yang saya dapat dari gaya bicara almarhum ini.

Saat saya bersama Juniar Purba dan Poltak Johansen menyambanginya, untuk merayakan usia ke 83 Pak Darto Nopember tahun lewat, nampak sekali pancaran kegembiraan diwajahnya. Senyum yang khas memberikan wibawa yang tinggi pada penulis sejumlah buku sejarah Kalbar ini.

Manusia berkehendak, namun pada kesudahannya Tuhanlah yang menentukan segalanya. Dan, Pak Darto pun bersimpun pada takdir Nya. Diiringi ratusan pelayat, kebanyakan anak didik almarhum semasa sekolah dulu, dengan cuaca mendung menggantung, setelah disholatka  dirumahnya yang sangat sederhana dan di masjid dekat kediamannya, jasad orang tua bijaksana ini pun diantarkan dipembaringan abadinya di Pemakaman Muslim Jalan Danau Sentarum Pontianak.

Selamat jalan guru kami, selamat jalan sejarawan, kelak di kampung akhirat tempat kita yang kekal abadi kita akan berjumpa lagi, akan kita lanjutkan diskusi dan canda tawa kita yang sementara ini terhenti.

Innalillahi waina Ilahirajiun ... Pak Darto, beristirahatlah dengan lapang dan tenang di alam sana, doa kami senantiasa kepada Nya agar engkau dicurahkan rahmad dan ampunan dari Allah Swt.

*) Syafaruddin Usman MHD, peminat kajian sejarah dan budaya kalimantan Baray.   

No comments:

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog