Jual Milagros disini

Kebahagiaan Itu Adalah Keluarga

Refleksi Milad Pernikahan
11 Desember 2005 - 11 Desember 2016
Catatan Asep Haryono

"Ada rasa nyaman di dalam kekuatan cinta  yang membuat segala sesuatu  dapat terus berlangsung , jika tidak , maka pikiran pun kacau dan hati hancur".  Penggalan quote dari William Wordsworth (1770-1850) seolah mewakili perasaan penulis dalam mencoba memaknai 11 (sebelas) tahun usia pernikahan kami pada tanggal 11 Desember 2016 ini.

Begitu luasnya definisi cinta dan bahagia jelas tidak dapat penulis gambarkan dalam tulisan sederhana kali ini. Sebuah renungan dan merupakan cerminan bagi diri keluarga penulis dalam Milad Pernikahan yang ke-11 tahun. Agar tidak terlalu melebar, tulisan ini dibatasi pada kesan yang penulis alami dalam  berkeluarga dari awal hingga sampai pada saat tulisan ini selesai

Menikah di sebuah dusun yang bernama Desa Kembang di daerah Kulon Progo (sekitar 1 jam dari kota Jogjakarta) pada tanggal 11 Desember 2005 adalah sebuah langkah besar dalam hidup penulis.

Sebuah perjanjian hebat (Mitsaqan Ghaliza) yang disaksikan oleh Allah SWT, adalah sebuah amanat yang harus diaga, dikawal, dan dibina hingga akhir.  Catatan perjalanan dari silaturahmi , khitnah hingga akad nikah tertuang sudah dalam tulisan penulis sebelumnya yang bisa sahabat baca kapan saja.  Love Of My life part one dan Love Of My life part Two sehingga penulis tidak perlu menuliskannya lagi di sini.

Keluarga Adalah Istimewa
Keluarga adalah sebuah kesatuan dimana pria dan wanita diikat dalam sebuah janji yang hebat dengan saksi Allah SWT.  Ada banyak sekali parameter atau ukuran sebuah keluarga bahagia. Seperti yang sudah penulis sampaikan pada bagian awal tulisan sederhana ini bahwa keluarga bahagia ada banyak ukurannya, dan cara pandangnya berbeda beda bagi setiap pasangan suami istri (pasutri). 

Ada keluarga yang berbahagia karena ada dua nakhoda yang mengayuh mencari nafkah untuk keluarga dan anak anak mereka. Suami dan Istri yang sama sama bekerja. Bekerja di sini tidak identik dengan pekerja kantoran atau pengusaha/wiraswasta. Apa pun yang dilakukan selama itu bisa menghasilkan materi atau nafkah untuk keluarga bisa dikatakan sudah "bekerja".  Dua sumber penghasilan sering diasumsikan keluarga itu pasti bahagia karena ada dua sumber keuangan.  Dua sumber nafkah. 

Namun kadang kenyataan berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kenyataan.  Seperti kata Mario Teguh The Golden Ways "janganlah berkompromi dengan penilaian orang kepada kita, tingkatkanlah kualitas diri kita agar orang lain bisa memperbaiki penilaiannya kepada kita" memang ada benarnya, setidaknya itu yang dirasakan penulis. Jadi biarlah masyarakat memandang keluarga kita makmur dan kaya dan semoga itu menjadi doa yang Insya Allah dijabah oleh Allah SWT, Aamiin.

Keluarga Ideal

Dalam prespektif pada umumnya keluarga ideal adalah dimana sang Ayah bekerja di perusahaan dengan busana kerja yang rapih atau menggunakan dasi dengan mobil yang baik, anak anak yang bersekolah sang adik di SD, dan sang kakak di SMA, dan ibu yang menarikan mereka di rumah. 

Se ideal itukah keluarga Indonesia? Kalau memang itu benar benar ada tentu adalah sebuah kebenaran.  Ada banyak keluarga Indonesia yang diberikan kemudahan oleh Allah SWT menjadi keluarga sempurna. Sayangnya tidak semua keluarga Indonesia mendapatkan kesempatan memperoleh predikat perfect family (keluarga sempurna).  Stereotip kesempurnaan memang ambigu bercabang, karena kita punya kerangka dalam pikiran kita tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna. Biar sedikit ada cacatnya, Semua orang tahu itu. Keluarga yang seperti apakah yang sahabat idamkan untuk dikejar?

Dalam buku "Life Excellent" - Menuju Hidup Yang Lebih Baik karya Reza M Syarief memberikan gambaran jelas mengenai model keluarga yang bisa menjadi pilihan atau mungkin jenis yang anda alami sekarang. 

  1. Model Rumah Tangga Gaya Hotel
  2. Model Rumah Tangga Gaya Rumah Sakit
  3. Model Rumah Tangga Gaya Pasar
  4. Model Rumah Tangga Gaya Kuburan
  5. Model Rumah Tangga Gaya Sekolah


Model Rumah Tangga Gaya Hotel digambarkan sebagai keluarga yang menerapkan gaya rumah tangganya seperti memperlakukan HOTEL.  Semua orang tahu apa itu Hotel.  Yaitu sebuah tempat yang tidak ditinggali selamanya, sebuah tempat yang hanya ditempati sementara waktu (temporary).  Keluarga adalah perjuangan untuk ditinggali untuk seumur hidup hingga akhir.  Nah tipe HOTEL ini seperti anda (suami atau istri) memperlakukan keluarga seperti menginao di hotel. Gambarannya jelas jika mengina di hotel sebagai tempat untuk beristirahat (tidur), makan (dapur) dan buang (maaf) air.

Model Rumah Tangga Gaya Hospital (Rumah Sakit). Semua orang pada umumnya sudah memahami apa fungsi sebuah Rumah Sakit. Sebuah tempat untuk merawat orang yang sakit yang kemudian disebut dengan pasien. Nah pasien ini tentu mendapat perawatan dari Dokter hingga akhirnya sang pasien berhasil disembuhkan penyakitnya dengan perawatan yang bai k oleh sang dokter itu tadi.  

Nah Dokter merasa dialah yang paling berjasa telah merawat pasien hingga bisa sembuh dan Pasien pun merasa juga paling berjasa telah memberikan pemasukan bagi rumah sekitnya, Dia berobat ke dokter tentu dengan membayar dan itu menjadi pemasukan bagi sang dokter. 

Suami dan Istri merasa berjasa bagi keluarga.  Uang mu Uang Ku.  Jika sang istri punya penghasilan itu adalah uangnya karena tanggung jawab nafkah keluarga adalah di tangan suami.  Hal ini akan menjadi pertengkaran jika sang suami tidak bekerja dan istri yang bekerja dan dianggap sebagai "pemimpin" dan berjasa dalam hal memberi nafkah keluarga. Harga diri suami jatuh karena diremehkan sang istri yang bekerja sementara sang suami menganggur.   Jika sudah memutuskan berkeluarga seharusnya sudah tidak ada lagi istilah 'uang mu uangku", yang ada adalah uang kita

Kulon Progo 11 Desember 2005. Dokumentasi Keluarga
Kulon Progo 11 Desember 2005. Dokumentasi Keluarga

Dokumentasi Keluarga

Rumah Tangga Gaya Pasar.  Nah apa lagi ini?.  Semua orang tahu kalau pasar tempat terjadinya aktivitas ekonomi yaitu terjadinya proses jual beli. Si pembeli tentu saja ingin memperoleh barang dengan harga yang semiring atau semurah mungkin, sedangkan sang Penjual tentu saja ingin memperoleh keuntungan yang maksimal dari produk dagangannya dengan harga yang semahal mungkin.  Salah kah sang Penjual dan Sang Pembeli. 

Sang Suami kekeuh (pokoknya) bertindah sebagai kepala rumah tangga bertanggung jawab terhadap nafkah, jadi urusan tetek bengek masak dan anak anak menjadi tanggung jawab istri.  Sang Istri pun tetap ingin setara dengan suami, juga bekerja dan aktif membantu keuangan keluarga. 

Lalu anak anak siapa yang mengurusnya? Perlukah kehadiran pengasuh di rumah untuk mengasuh anak anaknya?  Kehadiran pengasuh bisa berdampak ekonomi karena akan ada biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar gaji pengasuh. Siapkah opsi ini diambil jika sang suami dan istri tidak mempermasalahkan soal anggaran namun dampak psikologis akan mengemuka. Sang anak akan lekat dengan pengasuhnya bukan karena kedua orang tuanya, Ini akan muncul permasalahan baru.  Dalam keluarga tidak ada kata "pokoknya". Perlu dibutuhkan pengertian untuk saling tawar menawar atau kompromi. 

Rumah Tangga Gaya Kuburan (grave).  Mendengar kata kuburan saja sudah terlintas di benak kita gambaran gambaran yag tidak sehat (menyeramkan-red) akan kesan angker sebuah kuburan atau pemakaman. Suasana sepi, sunyi dan hening adalah suasana sebuah kuburan (grave). 

Model rumah tangga gaya kuburan adalah model terputusnya saluran komunikasi dua arah (verbal) antara suami dan istri.  Tiadanya komunkasi antara suami (ayah) dan istri (ibu) selama bertahun tahun dalam biduk rumah tangganya menciptakan ruang hampa dan kebisuan diantara mereka berdua.  Tentu hal ini akan berdampak serius terhadap perkembangan anak anaknya kelak. Tidak ada kosa kata yang mereka bisa pelajari dan dengar bisa menjadikan anak anak mereka mengalami gagap bicara.  Sesuatu yang harus dihindari dari model menata rumah tangga gaya kuburan seperti ini>

Hadirkan perangkat teknologi seperti email, internet, WA dan BBM memang bisa menjadikan hidup menjadi lebih mudah berkomunikasi terutama dari tempat yang jauh menjadi lebih dekat   Namun sebaliknya jangan sampai hadirnya perangkat canggih itu justru "menjauhkan" yang dekat.  Sang suami "berbicara" kepada istrinya hanya melalui pesan singkat WA atau BBM padahal letak mereka hanya bersebelahan kamar. 

Begitu hampa-nya komunikasi, tidak ada nya komunikasi bisa menyebabkan salah penafsiran atau salah pemahaman,  Banyak pengalaman menyebutkan terjadinya kesalahpahaman dalam menerjemahkan pesan tertulis WA atau BBM.  Orang justru lebih senang bicara melalui percakapan telepon daripada menuliskan pesan singkat SMS atau WA itu tadi. Dari sinilah peran penting komunukasi yang real harus tercipta dalam keluarga agar tidak terjadi kesalah pahaman

Model Keluarga Gaya Sekolah. Seperti apakah model keluarga gaya sekolah yang dimaksud oleh pengarang buku
"Life Excellent" - Menuju Hidup Yang Lebih Baik karya Reza M Syarief ini.  Beliau menyebutkan bahwa dalam model rumah tangga sekolah adalah penerapan 3A yakni Asah, Asih dan Asuh. Dalam membentuk rumah tangga yang samawa (Sakinah mawahdah dan warrahmah) yang Reza M Syarief sebut dengan istilah asmara (AS sakinah MAwahdah Warrahmah) adalah kegiatan saling menerima dan memberi. 

Suami (ayah) memberikan asah, asuh, dan juga asih kepada Istri (ibu), dan begitu juga sebaliknya sang Istri (Ibu) juga memberikan hal yang sama kepada sang Suami (Ayah). Jadi dalam model menata  gaya Sekolah ini tercipta komunikasi dua arah yang saling memberikan asih, asah, dan asuh.  Reza M Syarif menekankan pada kata "saling" dalam arti tercipta komunikasi dua arah yang saling memberi dan menerima asah, asih, dan asuh satu sama lainnya. Sehingga dengan demikian tercipta berbagi pengetahuan (Sharing knowledge), dan berbagi pengalaman (sharing experiences). Kebahagiaan Itu Adalah Keluarga. (Asep Haryono)

Referensi :

  • Life Excellent - Menuju Hidup Lebih Baik, Reza M Syarif. Penerbit Gema Insani Group
  • Bahagia Pada Masa Tua - Panduan Praktis Untuk Keluarga, Nancye Bourke , Penerbit Kanisius



4 comments:

  1. Wah, sudah lama saya gak melakukan blogwalking, termasuk ke blog-nya Kang Asep. Membaca postingan ini, aduh, saya merasa tersindir sekali. Tujuh tahun menikah, sepertinya suasana kehidupan pernikahan sudah pernah berganti-ganti mengalami 5 model menikah yang disebut di atas. Mungkin begitulah high-and-low of a marriage ya, Kang. Berarti ini menjadi PR bagaimana agar pernikahan saya ke depannya bisa terus diperbaiki supaya mengikuti satu model yang positif saja. Salah satunya mungkin dengan terus mengingat-ingat bahwa pernikahan saya adalah, mengutip tulisan ini, sebuah "perjanjian hebat" (ini kata-kata yang terdengar 'grandeur' sekaligus bikin deg-degan). Terima kasih untuk sharing-nya, Kang. Sungguh mencerahkan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Diar Adhihafsari L Assalamualaikum Mba Diar. Wah alhamdulillah. Terima kasih sudah mampirs. Senang bisa berbagi buat sesama, semoga mendapat berkh dari Allah SWT

      Delete
  2. selamat merayakan ulang tahun pernikahan kang Asep.. Semoga selalu bahagia dan sejahtera bersama keluarga.
    Refleksi yang sangat menyentuh hati ... nambah ilmu bagi diri saya .. terima kasih kang ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Mohammad Fanirifanto : Alhamdulillah. Senangnya bisa berbagi kepada sesama. Terima kasih atas ucapan selamatnya Semoga doa doanya di jabah Allah SWT Aamiinnn..

      Delete

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog