Jual Milagros disini

OPINI : Manajemen Penyelenggaraan Lomba Blog

Catatan Asep Haryono

Salah satu kegiatan yang membuat para penulis blog (baca : blogger) bersemangat dalam menulis blog adalah lomba atau kompetisi yang bertema blog.  Sebenarnya ada sedikit perbedaan penafsiran mengenai kriteria apa yang sebenarnya bisa menjadi lomba blog. 

Ada lomba menulis atau writing competition namun penempatannya di dalam blog peserta.  Kemudian ada lomba desain blog (blog design) yakni lomba yang khusus tentang keindahan bangunan atau infrastruktur sebuah blog. Serta masih banyak lagi sejenisnya.  Semuanya bermuara pada blog itu sendiri

Beberapa hal berikut ini sering menjadi bahan pertanyaan para peserta sebuah kompetisi atau lomba bertemakan blog yaitu kriteria lomba atau kompetisi,  dewan juri yang menilai hasil karya peserta lomba blog , jenis award atau penghargaan atau hadiah bagi para pemenang.   Baiklah saya akan coba bahas satu persatu secara singkat saja dalam artikel saya pada kesempatan kali ini.

  1. Kriteria Lomba Blog
  2. Dewan Juri atau Juri Penilai
  3. Penghargaan (award) atau Hadiah pemenang 

Kriteria Lomba Blog
Salah satu hal pokok dalam setiap penyelenggaraan lomba Blog adalah kriteria atau faktor faktor apa saja yang akan dinilai dari sebuah lomba atau kompetisi bertema blog.   Saya berikan contoh : Kriteria penilaian meliputi kesesuaian antara judul dengan tema , jumlah minimal kata , kedalaman konten , kelengkapan lomba dan masih banyak lagi lainnya.  Sosialisasi kriteria lomba blog memang seharusnya disampaikan kepada para calon peserta lomba sehingga mereka bisa memperhitungkan kekuatannya di aspek mana saja dia akan kemungkinan mendapat poin tertinggi. Ini pendapat saya

Konsistensi dewan juri juga harus dijaga.  Jangan sampai ada suara suara sumbang terhadap kriteria dewan juri setelah pemenang diumumkan.  Memang dewan juri sudah bisa memasang "tameng" dengan kalimat "keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak melayani surat menyurat".  Di sinilah dewan juri menunjukkan kekuasaannya. Kalau sudah ada kalimat seperti itu siapa lagi yang mau memprotes, mendemo atau mempertanyakan keputusan dewan juri. Calon peserta seperti di "bungkam" kebebasan berpendapatnya jika dewan juri sudah mengeluarkan "jurus maut" nya yang satu itu.

Konsistensi yang saya maksudkan di sini adalah kesesuaian antara kriteria lomba blog dengan output yang dihasilkan atau dikirimkan para pesertanya.  Saya beri contoh mudah : Jika yang dinilai adalah postingan atau konten artikel maka dewan juri tidak perlu buang waktu menelanjangi desain (design) atau keindahan bangunan sebuah blog karena bukan lomba desain blog.  Jadi jangan tertukar.  Lomba blog yang utamanya adalah artikel justru malah yang keluar sebagai pemenang adalah blog yang indah, canggih dan gemerlapan bentuk fisiknya

Dewan Juri Penilai
Dalam sebuah lomba apa pun jenisnya tentu kriteria penilaian dibuat oleh dewan juri yang harus dipatuhi oleh para peserta lombanya.  Dalam sebuah kompetisi atau lomba blog, tentu dewan juri membuat kriteria atau syarat apa saja yang harus dipatuhi oleh para pesertanya. 

Jika para peserta lomba blog tidak memenuhi butir butir persyaratan dan syarat ketentuan yang dibuat oleh dewan juri maka ancaman diskualifikasi atau pembatalan kepesertannya dalam lomba bisa diaktifkan. Juri tentu berhak membatalkan calon peserta karena dianggapnya abuse (melanggar) syarat dan ketentuan lomba blog yang sudah ditetapkan dewan Juri

Dalam sebuah lomba Blog mana pun sangat tidak elok jika Juri hanya satu orang saja.  Ini menimbulkan dugaan atau sangka buruk pada peserta terhadap kinerja dan sportifitas juri dalam sebuah lomba. Jika juri hanya 1 (satu) orang saja sangat berpotensi penilaian berdasarkan feeling sang juri atau potensi subyektifitasya sangat besar. 

Hal semacam ini sebaiknya disadari oleh para penyelenggara lomba blog sebelum kegiatan lomba ini benar benar di gelar dan diikuti oleh umum.  Para peserta berhak tahu kondite, kredibilitas dan kapasitas dewan juri lomba. Kalau perlu umumkan siapa nama nama dewan juri nya, apa profesi mereka sehari hari selain sebagai juri.  Itu jauh lebih memberikan kepuasan semua pihak

Penghargaan atau Hadiah Pemenang
Hadiah uang atau fresh money masih menjadi idaman para peserta lomba blog. Memang pada umumnya hadiah bagi para pemenang lomba blog selain daripada sertifikat ataupun piala hadiah uang merupakan dambaan bagi para pemenang atau para juara lomba.  

Ukuran besar kecilnya nominal hadiah uang bagi para pemenang bisa menjadi hal yang lain yang masih bisa didiskusikan kembali. Ukuran nominal hadiah uang sebenarnya relatif. Tergantung dari cakupan lomba itu sendiri apakah lokal atau bersifat nasional.  Makin tinggi level lomba sampai penyelenggaraan ke tingkat nasional , maka hadiah uang akan lebih besar lagi.  Saya kira inilah analogi saya.

Bagaimana dengan sertifikat pemenang atau piagam penghargaan?  Walau hakikatnya berupa selembar surat keterangan pemenang bertanda tangan panitia penyelenggara beserta stempelnya, tetap diburu para blogger.  Mengapa? Karena selembar surat keterangan (piagam pemenang atau sertifikat kejuaraan lomba) menjadi nilai tambah bagi sang blogger itu sendiri.  Piagam lomba blog atau sertifikat juara blog bisa menaikan "gengsi" atau "pasaran" sang blogger di mata masyarakat.  Terlebih bagi blogger yang punya jasa desain blog tentu akan menaikkan reputasinya port folio nya.  Trust me. Percayalah

Timbul pertanyaan mengelitik.  Apakah nominal hadiah lomba blog yang berupa hadiah uang disosialisasikan terlebih dahuu kepada para peserta?.  Apakah panitia penyelenggara lomba blog harus atau wajib mencantumkan hadiah hadiah apa yang akan mereka dapatkan jika berhasil menjadi juara 1, 2 atau 3?. Silahkan sahabat blogger memberikan tanggapannya atas 2 poin pertanyaan dalam artikel ini. Saya akan mencoba menyampaikan pandangan dan pendapat saya untuk menjawab dua pertanyaan di atas.

Pendapat pertama saya : Sebaiknya diumumkan.
Saya punya alasannya.  Jika hadiah hadiah diumumkan, maka dampak positifnya para peserta lomba akan lebih bersemangat.  Karena hadiah hadiah sudah jelas terpampang didepan mata.  Namun hal berbeda akan terjadi jika panitia penyelenggara lomba Blog tidak mendapatkan bantuan dana dari sponsor.  Ini lazim jika panitia penyelenggara tidak menganggarkan hadiah hadiah pemenang diambil dari pos budgetnya sendiri melainkan full bergantung sepenuhnya pencairan dari sponsor.

Jika hal ini terjadi dimana para peserta yang sudah gembira berhasil memenangkan kompetisi atau lomba blog tentu akan berharap segera menerima hadiah yang sudah menjadi HAK nya itu.  Para pemenang lomba tentu akan merasa kecewa jika mereka harus menunggu sampai hadiah dari sponsor cair dan baru diberikan kepada mereka.   Sampai berapa lama hadiah itu bisa mereka terima? Sampai berapa lama mereka harus menunggu apa yang menjadi haknya itu?

Dalam pandangan saya seharusnya ini tidak boleh terjadi.  Para peserta atau para pemenang nantinya tidak perlu diajak ikutan pusing.  Panitia penyelenggara lomba blog lah yang harusnya yang pusing.

Para peserta tidak mau tau. Mereka hanya tau begitu dinyatakan menang hadiah ya diterima. That the way it goes (memang seharusnya begitu)   Kalau hadiah lomba nya saja belum ada, belum tersedia atau belum cair dari sponsor, sebaiknya lomba blog ditunda waktu penyelenggaraannya. Jangan dibiasakan tradisi yang tidak santun ini sebab akan menjadi preseden buruk untuk penyelenggaraan (lomba) serupa dimasa yang akan datang.

Keputusan Juri Mutlak
Sudah diketahui oleh para peserta lomba blog bahwa keputusan juri bersifat final, bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat  Kira kira seperti itu "pakem" nya.  Dalam sebuah perlombaan atau kompetisi lomba blog selalu saja ada kesan dan komentar yang bernada miring baik terhadap kriteria penilaian dewan juri sampai kepada personality  (kepribadian), capability (kapasitas kemampuan) dan integrity (integritas komitmen) dari dewan juri itu sendiri.

Ada yang menyorot background (latar belakang) dari dewan juri yang disebut tidak paralel atau tidak sesuai dengan bidang lomba yang dinilainya (yang di-jurinya-red).  Sebagai contoh : Lomba Blog bertema tentang keluarga berencana (KB), dan juri nya ada yang berlatar belakang illmu eksakta seperti Matematia. 

Hal ini tidak urung bisa menjadi pemicu tanda tanya dan keputusan yang dibuat dewan juri dipertanyakan kemudian hari. Padahal kita semua tahu "pasal 1:  Keputusan Juri adalah mutlak".  Namun bisakah kemudian keputusan dewan juri itu digugat atau dipertanyakan kembali?  Saya jawab tentu saja bisa digugat tentu dengan catatan (keputusan yang dibuat juri) sesuai dengan syarat dan ketentuan lomba yang sudah disepakati bersama dan atau dibuat oleh dewan juri sendiri.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengikuti lomba blog salah satu merek Personal computer (PC) yang terkenal di kota Pontianak. Saya menggugat keputusan dewan juri yang memenangkan si A karena setelah saya cek karya artikel atau tulisan sang Juara I itu ternyata dipastikan melebihi batas maksimal 600 kata yang dibuat oleh dewan juri itu sendiri. 

Yang lebih heran lagi jurinya justru hanya 1 (satu) orang saja.  Saya merasakan lomba blog yang saya ikuti ini "cacat", namun apa dikata.  Ya seperti itu tadi keputusan juri bersifat final.  Saya diberi "pelipur lara" atau mungkin "dibungkam" dengan sejunlah uang dan sebuah barang.  Padahal saat itu saya tidak menang sama sekali.  Tapi "tawaran" itu saya terima juga. Hahhaa.  Daripada nda dapat apa apa.  Akhirnya "kesalahan" juri yang satu ini saya "maaflkan". 

Suara sumbang atau bernada miring juga kerap dilontarkan kepada dewan Juri dari mereka yang kalah atau tidak menang.  Dalam sebuah kompetisi atau lomba, protes dari pihak yang "kalah" adalah hal biasa.  Namanya juga demokrasi.  Hanya saja perlu dilihat substansi dari protesnya itu harus dibuktikan kebenarannya. 

Orang bicara harus dengan bukti atau data barulah orang akan percaya. Dugaan adanya "main mata" antara peserta dengan Juri atau panitia penyelenggara lomba seharusnya tidak dilihat atau dipandang secara parsial. Karena bisa saja seorang peserta kenal baik dengan sang Juri karena kedekatan primordialnya, teman kuliah waktu dulu , teman SMA dan lain sebagainya.

Hal hal seperti itu bisa saja terjadi dan memang sering terjadi. Kalau pun misalnya sang Juara I ternyata teman dekat atau sahabat sang Juri harus disikapi secara wajar sebagai sebuah hasil akhir dari suatu proses.   Kalau ternyata konten atau hasil karya sang Juara I memang benar benar bagus, apa yang mau diprotes?. Mari kita coba dudukkan persoalan ini pada substansinya. Dewan Juri juga harus bebas , netral dan tidak memihak sehingga tidak menimbulkan kecemburuan dan prasangka buru dari peserta lomba lainnya.  (Asep Haryono)

PRESENTASI :  Dalam sebuah lomba blog, para peserta kadang diminta untuk mempresentasikan hasil karyanya di depan dewan juri seperti pada foto ini saat saya ikut dalam lomba blog ICT Kubu Raya tahun 2013.  Foto IST





4 comments:

  1. Iya bener, kalau yang diikuti adalah lomba blog dimana kualitas diutamakan, maka yang pertama dinilai yaitu kualitasnya, kedalaman isi, kesesuaian tema, keaslian tulisan. Dan jika semua itu sudah terpenuhi,baru pada desain sebagai visualisasi. Dan sayangnya sekarang sudah banyak blogger dengan tulisan menarik lengkap dengan desainya, dimana desain bisa menambah poin penilaian, tapi yang utama adalah konten blog itu sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya setuju dengan mas Amir,,,, dalam dunia blog sering disebut konten is the king... Karena itu untuk lomba blog harus pertama dilihat adalah kontennya dahulu..

      Delete
  2. Thanks for share mas Asep. Salam kenal juga ya. Saya setuju klo isi jd yg utama, tp semua sangat tergantung juri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Napitupulu Rodame : Slaam kenal juga. Iya ini artikel berdasarkan pengalaman saya sebagai peserta beberapa lomba blog yang pernah saya ikuti Hanya sekali saja sebagai penyelenggara lomba. Hiheheheihee. Memang Juri juga sih

      Delete

Bandara Supadio Pontianak Bandara Supadio Pontianak Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog