Jual Milagros disini
Loading...

Alan Kurdi : Balita Yang Bertahan Dan Tewas

Andai Aylan Kurdi masih hidup, usianya sudah 4 (empat) tahun pada tanggal 2 September 2016 ini.   Aylan Kurdi , bocah Syria, ditemukan sudah tidak bernyawa. 

Jasad bocah tersebut ditemukan oleh Polisi pantai Turki dengan masih mengenakan kaos merah, celana panjang warna biru dengan sepatu yang masih terikat di kedua kakinya.  Kematian balita tersebut membuat geger dunia setelah fotonya viral beredar luas di dunia maya.


Satu tahun setelah berita kematiannya, seolah menggambarkan betapa perjuangan mencari kebebasan bagi warga Syria masih berlangsung hngga kini.  Mungkin ada puluhan ribu anak anak Syria berjuang mencari kebebasan dan ketenangan dari ganasnya konflik peperangan di negerinya, dan lari menyeberangi laut Mediterania.

Hadi. Photo courtesy edition.cnn.com

Bagi mereka yang beruntung selamat bisa menyeberang ke Yunani setelah melewati ganasnya laut Mediterania tentu hanyalah "rumah" penampungan sementara yang biasanya berbentuk pusat rumah rumah tahanan Yunani.

Seperti pada anak anak suku Kurdi yang tidak pernah menjejakkan kakinya di daratan Eropa jika mereka tidak tenggelam di tengah lautan saat menumpang di kapal kapal kecil yang mengarungi ganasnya laut Mediterania.  Padahal orang tua mereka sudah memnayar para penyelundup untuk bisa membantu mereka melarikan diri dari Syria.   

Cerita berikut ini adalah contoh kecil mereka yang beruntung selamat bisa mencapai Yunani meraih kebebasannya setelah melewati ganasnya laut Mediterania dan mereka gagal di tengah perjalanan saat melarikan diri dari Syria dan tewas tenggelam di laut.

Hadi, Balita 3 tahun
Namanya Hadi.  Nama yang sebenarnya mempunyai kemiripan yang sangat tinggi dengan  nama orang asia atau Indonesia.  Hadi bocah Syria berusia 3 tahun ini sudah  6 bulan lamanya menunggu untuk direlokasi di sebuah tempat yang aman di Yunani.  Keluarganya meninggalkan Syria pada bulan Oktober 2015 ketika perang meluluh lantakkan rumahnya.  Setelah pergi ke Turki, mereka membayar para penyelundup mereka sebesar  3000 Dollar untuk bisa naik ke kapal mereka untuk berlayar menuju Yunani

Sejak tiba pada bulan February yang lalu, keluarga dari lima bersaudara ini menetap di berbagai camp penampungan hingga akhirnya mereka bisa pindah ke sebuah hotel dimana mereka masih harus menunggu perjanjian untuk bisa mengajukan permohonan relokasi ke tempat yang aman di Yunani.


Ibunda Hadi, Salwa (38 tahun) adalah guru di Damaskus dan mendirikan sebuah sekolah mini di salah satu kamp penampungan pengungsi Syria,  Tidak ada buku buku untuk belajar di sekolah tersebut.  Mereka mengatakan kepada Amnesti Internasional agar bisa pindah ke Jerman untuk menemui keluarganya.

Dilaver Dan Mahmoud
Dilaver (4 tahun) dann adiknya Mahmoud (1 tahun) adalah Baita Syria.  Keluarganya membayar penyelundup nereka 2000 dollar untuk bisa naik kapal menuju daerah antara  Turki dan Yunani. "Kapalnya tidak layak dan tidak aman" kata Ayah Mohammad kepada Dewan Pengungsi Norwegia  Mereka sanggup berlayar di tengah lautan dan melawan dinginnya laut Mediterania di waktu alam jika bisa belayar menuju tujuan yang diimpikanna. 

Ibunda mereka, Faida. mengatakan bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain lari dari kota Al Hasakah di sebelah utara Syria.  "Kami sudah tidak punya rumah lagi, tidak ada uang sama sekali, tidak ada pekerjaan, dan jelas tidak punya masa depan  untuk anak anak" kata Faida.  Keluarganya sendiri terdaftar di kepulauan Chios di Yunani, dan berharap suatu saat nanti mereka pulang ke Jerman memulai kehidupan yang baru.

Yusuf dan Adiknya Yunus Tewas Tenggelam
Pada tanggak 31 Oktober 2015, sejarah mencatat dua Balita Syria bernama Yusuf (4 tahun) dan adiknya Yunus (2 tahun) tewas tenggelam dalam usaha mereka menyeberangi laut Mediterania saat menuju Yunani. 

Ayahnya , Haji Shafi  kehilangan 2 dari 4 anaknya saat menaiki kapal kecil menyeberangi laut tersebut menuju sebuah daerah antara Turki dan Yunani.  "Cuacanya buruk sekali, hujan turun dengan derasnya, dan banyak gelombang laut" katanya kepada Amnesty Internasional

"Orang orang di kapal itu pun sangat ketakutan begitu kapal dihempas dan pecah dilautan, semua pada berloncatan terjun ke laut, kapal terbalik dan saya tidak dapat menyelamatkan 2 anak saya tersebut" kata Yusuf.

Keluarga yang terdiri atas 6 orang itu melarikan diri dari Afghanistan, mereka takut dipaksa untuk bergabung dengan Taliban, dan harus membayar 1000 dollar per 1 orang dewasa dan 500 Dollar untuk anak anak agar bisa melarikan diri keluar dari Afghanistan melalui laut.  


Setelah musibah itu, keluarganya memutuskan untuk kembali ke Istanbul (Turki) dimana mereka bisa tidur di bawah  jembatan "Kami tidak membuat rencana, kami tidak bisa membuat keputusan apa pun saat itu" kata Haji Shafi.  "Kami sangat shock"

Rasal, Bocah 5 Tahun, Selamat
Rasal tinggal di Kamp penampungan pengungsi Lesvos di Yunani.   Ini yang kedua kalinya Rasal dan keluargannya telah berusaha untuk bisa lari meninggalkan Syria.

Kali ini, bocah 5 tahun ini harus kehilangan tas kecil satu satunya harta miliknya yang tersisa saat itu ketika perahu karet yang mereka tumpangi saat berlayar menuju pantai Yunani itu terbalik di tengah laut. 

"Kami terombang ambing tanpa nasib yang jelas di tengah laut untuk waktu yang sangat lama" kata Rasal kepada Palang Merah Internasional mengenai kisah perjalanannya dari Turki "Saya lapar dan haus, dan gelombang laut yang ganas dan terus terus menimpa kepala saya saat di laut" katanya.  


Rasal sudah tidak ingat lagi kapan saat terjadi gencatan senjata di negerinya Syria, kecuali Sidra, saudara perempuannya yang berusia 13 tahun.  "Itulah sebabnya kami sangat sedih" katanya   Keluarga itu pun berharap bisa pindah ke Jerman.

Farah Tewas Tenggelam , 31 Oktober 2015
Adalah Farah namanya, bocah dari Afghanistan yang tewas tenggelam di kapal yang sama saat melalukan pelayaran dalam rangka melarikand iri diantara Turki dan Yunani.  Dua anggota keluarga lainnya sudah pindah terlebih dahulu dalam rangka mencari tempat yang aman bagi pendidikan anak anak mereka

"Sebelum mencapai daratan Eropa, kami kumpulkan sejumlah informasi, kami pelajari dan ternyata tidak ada hak untuk melanjutkan pendidikan untuk putra putri kami di sini Turki" tegas paman Rasal kepada pihak Amnesti Internasional. "Kami tidak ingin anak anak kami nantinya kurang berpendidikan" katanya  Dan itu alasan utama kami coba untuk bisa pindah ke Turki

Kini kedua keluarga itu telah kembai ke tanah  Turki.  Dengan anak anak mereka yang sudah tiada dan juga uang tabungan mereka yang semakin menipis jumlahnya , merea tidak dapat berangkat ke Afghanistan atau Eropa .



Sumber :
Judul Asli : Alan Kurdi's journey: The children who survived and perished
Diterjemahkan secara bebas dari sumber aslinya di - http://edition.cnn.com/2016/09/01/europe/alan-kurdi-anniversary-children-refugees/index.html

2 comments:

  1. saya miris. saya ingat berita itu setahun lalu.
    saya pun berdoa untuk yang sudah meninggal, maupun yang selamat dan nasibnya nggak tentu kini

    ReplyDelete
  2. selebihnya saya bersyukur, anak2 saya tinggal di bumi yang damai ini

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog