Jual Milagros disini
Loading...

OPINI : Ketika Kematian Di tangan Manusia

Catatan Asep Haryono

Freddy Budiman sudah beristirahat dengan tenang.  Tidak perlu lagi kita ungkit ungkit dosa dan kesalahannya lagi sehingga menyebabkan beliau di pidana mati. Sungguh tidak etis rasanya menjelekkan orang yang sudah meninggal. Jika dianggap sebagai contoh kasus biarlah menjadi lembaran pelajaran berharga bagi kita semuanya. Bahwa kejahatan Narkoba adalah kejahatan luar biasa dampak buruk yang bisa ditimbulkannya.

Gambar ilustrasi Hukuman Tembak.  Gambar dari KlikBontang COM


Siapakah Freddy Budiman?  Barangkali ada yang belum tau izinkan saya untuk memaparkan secara singkat saja ya. Pria asal Surabaya ini yang memulai "karir" sebagai pencopet ini adalah salah satu bandar Narkoba kelas kakap di Indonesia.  Sepak terjangnya dalam dunia narkoba terhenti dihadapan regu tembak di Lapangan Tembak, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat dini hari lalu.  Almarhum dimakamkan di Surabaya sesuai dengan wasaitnya.


Mengapa harus dihukum mati? 
Nah Yang memberatkan adalah bahwa angka kematian yang ditimbulkan oleh bahaya Narkoba di Indonesia sangat tinggi. BNN menyebutkan 40 sampai dengan 50 orang meninggal dunia setiap harinya karena penyalahhunaan barang haram ini.   


Nah bayangkan jika yang meninggal karena bahaya narkoba 50 orang per hari x 30 hari sebulan x 12 bulan dalam 1 tahun maka akan didapat hasil 18.000 orang Indonesia yang meninggal dunia setiap tahun karena bahaya Narkoba. Dengan rasio seperti ini maka diperkirakan ada 18,000 orang Indonesia akan tewas karena kejahatan Narkoba.  Jadi mengeksekusi mati 1 orang demi menyelamatkan 18.000 nyawa orang lain masih bisa diterima

Saya pernah bertanya kepada seorang Bapak yang pernah menjadi "algojo" untuk terpidana mati kasus pembunuhan di Pontianak  Saya bertemu dengannya beberapa hari yang lalu.  Ketika saya tanya bagaimana perasaan beliau saat melaksanakan "tugas" itu. 

"Tetap stress bang, Biarpun saya melaksanakan tugas negara dan ada surat penetapan tugas itu, siapa yang bisa menjamin kalau apa yang saya lakukan itu tidak berdosa, tetap saja saya membunuh orang"
katanya.  Menurut saya ini fakta yang menarik.

Lalu saya bertanya lagi kepada bapak itu  " bukankah bapak tidak tau apakah senjata yang bapak gunakan itu berisi peluru atau tidak , kan tidak ada yang tau?" tanya saya selidik. "ya saya tau donk bang,  senjata yang berisi peluru dengan senjata yang berpeluru hampa jelas beda bunyi nya, dan saya tau itu" kata bapak itu.  Silahkan anda menafsirkan sendiri makna dari jawaban bapak ini.

Walaupun secara eksplisit hukuman mati dijatuhkan oleh Hakim Agung dan dilaksanakan oleh para eksekutor alias "algojo" , fakta fakta di lapangan membuktikan bahwa TUHAN adalah yang menyebabkan itu semua  Ada peran dan campur tangan TUHAN atas nasib kelangsungan hidup para hambaNYA. Urusan mencabut nyawa, urusan kematian, termasuk hal hal yang menjadi urusan dan hak preogratif TUHAN Yang Maha Esa.
"Kita semua milik Allah SWT, dan kepada Allah SWT pulalah kami akan kembali".  Innalillahi Wainnailaihi Radjiun.  (Asep Haryono)

2 comments:

  1. Wah serem juga ya kang kalau jadi algojo penembak mati itu bisa mengalami stress.. tapi kang kalau tidak salah yang menembak kan bukan sendirian yah mungkinada 8 orang penembak jitu namun peluru yang asli kita tidak tahu ada di pistol yang mana..

    ReplyDelete
  2. ya, artinya kang asep satu posisi sama saya.
    yaitu nggak pengin dieksekusi, hehe

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog