Jual Milagros disini
Loading...

DAY 18 Mengikuti Syukuran Khitanan Di Kulon Progo

Catatan Asep Haryono

Bapak Paijo adalah salah satu warga Pundak Tegal, Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta. Rumahnya tidak jauh dari rumah kediaman saya basce camp selama mudik di kecamatan ini sejak 22 Juni 2016 yang lalu. 

Kalau dari Masjid ATTAQWA sangat dekat, cukup berjalan ke dalam gang yang ada di tengah tengah yang menuju jalan ke rumah kami.  Nah Bapak Paijo inii baru saja melaksanakan Khitanan putranya dan syukurannya sendiri baru saja diselenggarakan tanggal 9 Juli 2016 malam hari.  Acaranya sendiri selesai sekitar pukul 22.10 WIB.  Bagaiaman jalan ceritaya dan apa yang unik dari acara syukuran Khitanan di Kulon Progo ini berikut catatannya. 

Laporan Asep Haryono. Kulon Progo

Jam menunjukkan pukul 20.10 WIB malam itu, saya diajak Sabiyan, yang kemudian saya sebut dengan Lik Sap, sudah menunggu saya di rumah.   Beliau memang masih family dengan istri saya yang memang aseli orang Kulon Progo. Beliau tetangga dan rumahnya berdekatan dengan rumah .  Setelah berganti pakaian, saya melihat Lek Sap sudah mengenakan batik lengan panjang, celana panjang kain berwarna gelap, menggunakan Peci (Kopiah kalau di Pontianak-red) dan menggunakan sandal jepit.

“jam delapam acaranya ya Sep, ini sudah waktunya yuk pergi” ajak Lek Sap.  Putri kecil saya, Tazkia sudah merengek karena sudah ngantuk.   Saya biasanya mengantar putri kecil saya untuk tidur karena sudah seharian main bersama kakaknya, Mas Abbie.

Akhirnya sukses pula dibujuk untuk di rumah saja tidak ngikut, dan saya dan Lek Sap pun bisa bergerak jalan kaki menuju rumah Bapak Paijo untuk menghadiri pengajian dalam rangka Syukuran Khitanan putranya.  Acaranya sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak pukul 09.00 WIB di pagi harinya, dan saya mendapat “tugas” sebagai salah satu penerima tamunya.


Belum Waktu Makan
Siang hari sebelumnya, saya menjadi salah satu penerima tamu di rumah yang punya hajatan, dan dengan mengenakan kemeja lengan pendeuk berkerah tentunya, celama kain dan bersendal jepit saya duduk dan berdiri dengan senyum dipasang sana sini menyambut para tamu tamu undangan yang datang ke rumah Pak Paijo itu. 

Tak perlu banyak “cuap cuap” hanya pasang wajah senyum menyambut para tamu yang rata rata berasal dari warga Pundak IV itu sendiri. Tua Muda Besar Kecil silih berganti.   Kalau sudah member salam dan memberi ucapan selamat datang buat para tamu ini mengingatkan saya dulu saat jadi “raja sehari”  atau walimahan dulu tahun 2005 yang lalu

“mari mas, mba pak.  Monggo”  sapa saya kepada para tamu yang datang.  Perbendaharaan (kosa kata) Bahasa Jawa yang saya kuasai sangat memprihatinkan kalau tidak mau dikatakan memang tidak bisa sama sekali.   Hanya ucapan sehari hari saja yang sudah hafal di luar kepala sampai ke pelabuhan sana jauhnya.  

Pengucapan conversation (percakapan)  sehari hari bahasa Jawa memang menjadi andalan saya jika bersapa dengan warga Pundak yang semuanya berbahasa Jawa seperti “pinten regone ?”  (Berapa harganya), “Matur Suwun” (Terima Kasih)’ seperti itulah.  Jadi kalau dijawab dengan cas cis cus sama warga Pundak dalam Bahasa Jawa saya akan stop mereka dan berkata “maaf  bahasa Jawa saya kurang sekali” hahaha.  Mengharukan.

Tidak terasa jam meuunjukkan pukul 11.00 WIB dan tidak lama lagi akan terdengar suara Adzan Zhuhur berkumandang dari pengeras suara Masjid ATTAQWA yang memang lokasinya berdekatan rumah tempat acara syukuran tersebut. 

Saya pun “mengundurkan diri” dari BPT alias “barisan penerima tamu” untuk bergegas menuju dalam rumah yang sudah tersedia aneka menu prasmanan makan siang. Rungannya dekat, cukup berjalan kaki 1 menit saja sudah sampai. Dalam ruangan tersebut juga banyak para tamu undangan yang sedang menikmati hidangan makan siang.

Saya “utus” putri kecil saya, Tazkia untuk “minta izin” makan siang, dan izin pun akhirnya diberikan  Saya pun langsung “menyerbu” meja Prasmanan untuk makan siang.   Menu nya sederhana namun cukup menggugah selera seperti sambel kentang ati khas ketupat lebaran,  rendang telur puyuh, dan aneka oseng oseng atau tumisan. Minus ayam goreng atau rendang  Tidak ada kerupuk tidak menjadi masalah buat saya.   Yang ada sudah lebih dari ekspetasi saya.

Setelah makan siang selesai, saya pun minum air putih dalam gelas (air mineral) ukuran mini Baru kali ini saya melihat air mineral dengan ukuran yang lebih kecil dari standar air mineral dalam gelas sekitar 220 Ml.   Mereknya cukup unik “Mandala”.  Merek lokal saya kira dan hanya diproduksi dan diedarkan untuk wilayah Kulon Progo dan sekitarnya  Kalau di Pontianak mungki “Passy” atau “For 3” nya gitu deh.

Selesai menikmati makan siang , saya pun kembali merapat ke BPT atau Barisan Penerima Tamu bergabung dengan bapak bapak yang lain.  Tiba tiba istri saya muncul dan member tahu bahwa saya sudah boleh makan siang, dan tuan rumah sudah memberi “lampu hijau”. 

Dalam hati saya bilang “Laa tadi kan saya sudah makan siang” gumam saya dalam hati.   “Maaf bunda, ayah tadi sudah makan” jawab saya kepada istri.  “Lo piye mas (Bagaimana mas ini), tadi belum waktunya makan, kita kan di sini membantu tuan rumah memasak dan menerima tamu, jadi kalau makan siang nunggu dulu biarkan tamu tamu dahulu yang makan” semprot istri saya    Terdiam membisu saya


Dikira Ada Peragaan Busana
Malam harinya adalah pengajiannya.  Seperti yang sudah saya ceritakan di bagian awal dari tulisan ini malam harinya pukul 20.10 WIB, saya diajak Sabiyan, yang kemudian saya sebut dengan Lik Sap itu tadi untuk kembali ke tempat hajatan,  Acaranya beda.  Kalau tadi siang adalah jadi penerima tamu, sedangkan acara  malamnya ada “pengajian”. 

Sengaja saya beri tanda  kutip di sini karena tidak murni mengkaji Ayat Alquran.  Dalam pemahaman saya “pengajian” adalah membaca Al Quran dan diterangkan maksud dan makna ayat itu.  Rupanya menghadirkan penceramah Pak Ustad dengan tema tertentu dan kita duduk mendengarnya saja.  Seperti mimbar Sholat Jumat atau Kultum saat Sholat Tarawih di Bulan Suci Ramadhan.

Sejak dari rumah menuju tempat hajatan dalam hati saya sudah menduga kalau dalam khutbah atau ceramahnya pasti menggunakan Bahasa Jawa.   Dan memang sesuai dengan prediksi saya  Begitu saya duduk diantara bapak bapak warga Pundak yang sudah duduk terlebih dahulu, saya sudah mendengar kata sambutan dari panitia penyelenggaranya saja sudah full bahasa Jawa.  Tidak ada penjelasan secara gamblanng dalam bahasa Indonesia.

Mereka tidak tau kalau dianatra para jamaah dalam pengajian itu terselip budak Pontianak hehehe. Saya sendiri memang menetap di Pontianak saat ini dan saya tidak bisa berbahasa Jawa.   Dari sinilah saya sudah pastikan dalam 1 atau 2 jam ke depan saya akan full bengong karena tidak tau apa yang disampaikan oleh pas Ustad yang diundang jadi penceramah di sana.

Hanya tema nya saja yang saya pahami yakni tentang Khitanan.   Ada dalil dan dasar surah yang dikutip dari ayat Suci Al Quran namun tetap saja terjemahannya disampaikan dalam bahasa Jawa.  Saya bengong lagi.   Untuk mengisi “kekosongan” karena tidak tau apa yang disampaikan, saya pun mengisi waktu dengan “kegiatan” sendiri seperti membaca Detik com, membalas BBM, dan menyapa teman dan sahabat saya di Pontianak melalui BBM dan WA.

Sesekali saya ikut tertawa karena jamaah lain juga pada tertawa.   Seolah olah saya paham apa yang disampaikan penceramah sekedar memberi “pesan” ke orang orang agar tidak Nampak (tidak ketauan) kalau saya tidak mengeri bahasa Jawa sebagai pengantar pak Ustad tadi.

Ada yang unik di acara syukuran kitanan ini.  Tidak sampai 30 menit acara ceramah berlangsung keluarlah sekitar 5 gadis manis berjilbab dengan kemeja yang nyaris sama,  Berjejer rapih ke belakang seperti sedang ada peragaan busana di cat walk.   

Mereka berjejer baris ke belakang di tengah tengah bangku bangku para jamaah     Persis seperti peragaan keselamatan penerbangan oleh awak kabin pesawat.  Seperti itu, Berjejer rapih berbaris ke belakang.  “Mengapa ada peragaan busana di acara serperti ini?” Tanya saya dalam hati.

Tidak lama kemudian keluarlah 5 pria berpeci dan kemeja rapih sambil membawa Baki Baki yang berisi kotak kotak makan malam.   Mereka membagikan ke masing masing para gadis berjilbab itu tadi dan mereka secara serempak menyebarkan (membagikan) kotak kotak makan itu tadi ke pada Jamaah di sebelah kiri dan kanannya.  Berzigzag. 

Saya sempat merekamnya dalam jepretan foto.   Oh itu maksudnya  Jadi mereka bukan sedang melakukan peragaan busana seperti di cat walk, melainkan  bersiap membagikan kotak kotak makan malam kepada para Jamaah yang hadir di kiri dan di kanannya. 

Kemudian para jamaah pun menyantap kotak makan malam tersebut.  Saya memperhatikan di kiri dan di kanan nyaris semua bapak bapak yang saya liat asyik menyantap kotak makan malam yang sudah dibagikan para “pramugari” tadi.   Saya tidak.  Maksudnya saya tidak memakannya malam itu karena perut saya masih terisi penuh sejak magrib tadi   Saya membawa pulang saja kotak makan malam ini. 

Beberapa menit kemudian seorang remaja masjid (saya duga remaja masjid IrmaDeka- Pundak, miliknya remaja masjid ATTAQWA-red) keluar sambil membawa teko tehh berukuran cukup besar.  Dia memeriksa satu per satu gelas gelas para Jamaah   Jika terdetek gelas itu sudah hamper habis, atau sudah setengah, pemuda tadi dengan sigap mengisinya kembali.   (Asep Haryono)

NIKMAT :  Hidangan di meja yang khas dari Desa Kembang Nanggulan berupa kue kue dan arem arem.  Teh hangat nikmat juga  tersedia. Mau nambah ya silahkan. Foto Asep Haryono
NIKMAT :  Hidangan di meja yang khas dari Desa Kembang Nanggulan berupa kue kue dan arem arem.  Teh hangat nikmat juga  tersedia. Mau nambah ya silahkan. Foto Asep Haryono

PENERIMA TAMU : Saya termasuk di antara para bapak bapak ini, bertugas menyambut tamu yang datang dan mengantar tamu pulang. Foto Asep Haryono
PENERIMA TAMU : Saya termasuk di antara para bapak bapak ini, bertugas menyambut tamu yang datang dan mengantar tamu pulang. Foto Asep Haryono

RUMAH : Inilah rumah yang punya hajatan Syukuran khitanan putranya. Diambil gambarya siang hari pas saya bertugas jadi penerima tamu. Foto Asep Haryono
RUMAH : Inilah rumah yang punya hajatan Syukuran khitanan putranya. Diambil gambarya siang hari pas saya bertugas jadi penerima tamu. Foto Asep Haryono

MANIS :  Kue yang ada di toples ini rasanhya manis. Semanis tamu undangan yang saya ambil fotonya secara candid.  Iseng aja.. Foto Asep Haryono
MANIS :  Kue yang ada di toples ini rasanhya manis. Semanis tamu undangan yang saya ambil fotonya secara candid.  Iseng aja.. Foto Asep Haryono

MAKAN MALAM : Denga sigap para "pramugari" ini membagikan kotak kotak makanan kepada para jamaah   Tadinya sempat dikira ada peragaan busana. Foto Asep Haryono
MAKAN MALAM : Denga sigap para "pramugari" ini membagikan kotak kotak makanan kepada para jamaah   Tadinya sempat dikira ada peragaan busana. Foto Asep Haryono

BAHASA JAWA : Khatib atau penceramahnya menggunakan Bahasa Jawa Kromo Inggil.  Tingkatan bahasa yang halus para orang tua.  Saya bengon aja karena tidak paham sama sekali. Foto Asep Haryono
BAHASA JAWA : Khatib atau penceramahnya menggunakan Bahasa Jawa Kromo Inggil.  Tingkatan bahasa yang halus para orang tua.  Saya bengon aja karena tidak paham sama sekali. Foto Asep Haryono

HABIS : Para tamu undangan menikmati nasi kotaknya. Banyak yang sudah habis. Ada yang dibawa pulang seperti saya malam itu. Foto Asep Haryono
HABIS : Para tamu undangan menikmati nasi kotaknya. Banyak yang sudah habis. Ada yang dibawa pulang seperti saya malam itu. Foto Asep Haryono

TUANG : Jika terdetek gelas itu sudah hampir habis, atau sudah setengah, pemuda tadi dengan sigap mengisinya kembali. Foto Asep Haryono
TUANG : Jika terdetek gelas itu sudah hampir habis, atau sudah setengah, pemuda tadi dengan sigap mengisinya kembali. Foto Asep Haryono

NIKMAT : Sajan prasmanannay sederhana. Non Daging dan rendang namun cukup nikmat.  Ada sambel kentang kereceknya juga loh.  Foto Asep Haryono

SIBUK : Para kaum perempuan masih tetap sibuk memasak dan menyiapkan makanan bagi para tamu undangan  yang datang silihh berganti. Foto Asep Haryono
SIBUK : Para kaum perempuan masih tetap sibuk memasak dan menyiapkan makanan bagi para tamu undangan  yang datang silihh berganti. Foto Asep Haryono

PISANG :  Buah pisang tidak disajikan di meja makan. Silahkan petik sendiri kaeena buah pisangnya sudah di"kerek" seperti bendera. Foto Asep Haryono
PISANG :  Buah pisang tidak disajikan di meja makan. Silahkan petik sendiri kaeena buah pisangnya sudah di"kerek" seperti bendera. Foto Asep Haryono

4 comments:

  1. Kalo memunggu acara bubar trus makan, bisa pingsan lah awak nich hahaha

    ReplyDelete
  2. Sekolah SMA ku di Nanggulan, Kulon Progo lho bang, yang letaknya dekat dengan kali progo atau Jembatan Ngapak :D

    ReplyDelete
  3. Haha singkatan nya keren kang BPT yaitu Barisan Penerima Tamu :) saya kira Badan Pemerintah Tegal :D

    ReplyDelete
  4. Waaah acaranya ramai sekali.. Seru yaa mas

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog