Jual Milagros disini
Loading...

DAY 15 : Tradisi Lebaran Di Pundak IV Nanggulan Kulon Progo

Catatan Asep Haryono

Alhamdulillah selesai sudah puasa Ramadhan selama 30 (tiga puluh) hari, dan hari ini tanggal 6 Juli 2016 bertepatan dengan tanggal 1 Syawal 1437 Hijriah umat Islam di seluruh Indonesia merayakan hari kemenangannya,  Hari Raya Idul Fitrie  

Catatan mudik lebaran saya yang suah dimulai sejak tanggal 22 Juni 2016 yang lalu Insya Allah masih akan terus berlangsung hingga tanggal 12 Juli 2016 mendatang    Pada hari pertama Idul Fitri 1437 Hijriah ini, saya sekeluarga masih di base camp Dusun Kembang Pundak IV Nanggulan Kulon Progo.   

Agenda DAY 14 catatan perjalanan mudik saya di Kulon progo antara lain adalah pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1437 Hijriah , Berziarah ke Makam orang tua mertua saya, dan bersilaturahmi dengan kerabat, saudara dan handai taulan.  Hari pertama Idul Fitri 1437 Hijriah di Pundak IV dimulai dengan Sholat Iedul Fitri di plaza Masjid ATTAQWA Pundak IV Nanggulan Kulon Progo

Sholat Idul Fitri
Sholatnya sendiri sama seperti daerah lainnya di seluruh Indonesia tepat pada pukul 0700 WIB pagi.  Setelah malam harinya saya mengikuri Takbir Keliling yang selesai sekitar pukul 22.00 WIB.  Saya kira tadi malam ada pertandingan sepakbola nyata tidak atau belum ada.  Alhamdulillah tepat 1 hari menjelang memasuki Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah sudah ada televise berwarna di rumah Bapak Ponijo ( mertua saya di Jogja-red).

TV berukuran 32 Inchi merek Samsung itu dirasa lebih dari cukup untuk member warna saran hiburan dan informasi di rumah.  TVRI SPK Jogja menjadi salah satu channel kesukaan saya. 

Kalau di Bali saat saya masih aktif sebagai Champion KangGuru Indonesia langganan nontonnya Bali TV.  Program KangGuru Indonesia sudah berakhir bulan Juni 2016 kemarin.

Ada sedikit insiden dari sang khatib merangkak Imam sholat Idul Fitri tadi. Sang Imam lupa membaca Takbir di rakaan kedua, dan langsung membaca surah Al Fatihah. Namun kekeliruan ini langsung di sadari oleh sang Imam, namun tidak urung para jamaah sholat Id pun sudah member tanggapan dengan mengucap Subhanallah.

Pada sholat Idu Fitri selalu dimulai Sholat terlebih dahulu baru kemudian disusul dengan pelaksanaan khutbah Sholat Idul Fiti.  Sedangkan dalam Sholat Jumat dimulai dengan Khutbah Jumat terlebih dahulu baru kemudian Sholatnya.    Para jamaah tidak meninggalkan plaza Masjid begitu sholat Idul Fitri selesai dilakukan.  

Sholat Idul Fitrinya sendiri full menggunakan Bahasa Jawa yang belum saya pahami sama sekali.  Aada beberapa kosa kata sehari hari Bahasa Jawa yang paham arti dan cara pengucapannya namun jumlahnya sangat terbatas dan benar benar memprihatinkan.  Jadi selama berlangsungnya khatib Idul Fitri itu saya praktis tidak dapat memahami sama sekali  

Kemudian setelah selesai, para jamaah berdiri rapih juga dengan barisan Jamaah perempuan yang ada di bagian belakang jamaah laki laki.  

Mereka membetuk barisan seperti halnya barisan shaf shaf Sholat, namun bukan untuk sholat lagi melainkan bersalaman satu persatu melingkari satu sama lainnya sehingga semua Jamaah bisa langsung bersalaman dan bersilaturahmi dengan semua Jamaah masjid.  Subhanallah sungguh indah sekali.  Secara tidak langsung 1 warga Pundak sudah berlebaran satu sama lainnay saat itu.

Mengunjungi Makam Leluhur
Selesai mendirikan Sholat Idu Fiti,  kami sekeluarga dan rombongan pulang ke rumah terlebih dahulu baru kemudian bergerak menuju Makam para leluhur dari keluarga istri.  

Namanya Komplek Pemakaman Pundak yang letaknya agak sedikit ke “dalam” wilayah pundak yang amsih dipenuhi banyak pohon yang masih asri dan juga dengan latar belakang pegunungan atau bukit Menorah.

Letak makamnya memang agak ke dalam dan jalan menuju ke komplek Pemakaman Muslim warga Pundak IV itu turun naik  , licin dan cukup terjal    Mungkin karena pertimbangannya ada orang tua pihak istri (Mertua-red) yang sudah sepuh, dan sungguh tidak tega rasanya membiarkan mereka berjalan turun naik jalanan yang cuku p panjanng , dan berdebu.  Kami pun bergerak ke makam Pundak IV dengan menumpang mobil Xenia milih kakak dari istri.

Yang unik saat memasuki gerbang makam Pundak IV ini para pengunjung (Jamaah ) yang datang dimint kerelaannya untuk melepaskan atau mencopot sandal atau sepatunya saat memasuki areal makam.  

Kondisi tanah pemakaman Mulim Pundak IV ini sama pada umumnya ada yang berpasir dan ada sebagian yang rinda dan berumput hasah karena embun .   Namun demikian saya sepat mendeteksi ada seorang jamaah atau pengunjung yang enggan melepaskan sendalnya, dan masu ke kawasan makam

“Ini makam dari pihak orang tua saya” kata Pak Ponijo “memimpin” doa disebuah gundukan makam yang saya duga adalah letak makam leluhur beliau.   Setelah puas mengambil beberapa gambar saat mereka berdoa, pandangan mata saya tertuju pada sosok seorang ibu yang sudah berusia sepuh sedang menyapu sebuah makam dengan sebuah sapu lidi.

Saya sempat menduga kalau ibu ini adalah petugas khusus dari Pemakaman Pundak untuk membersihkan dn merawat makam makam.  “Oh bukan , itu adalah peziarah maka juga sama seperti kita, dan nenek itu membersihkan makam milik anggota keluarganya sendiri” kata mas Suripto.   Beberapa keluarga keluarga lain juga banyak yang nyekar setelah mereka melaksanakan Sholat Ied tadi .  Ada yang datang sendiri, dan ada juga yang datang beramai ramai.

Makan Ketupat Bersama
Pulang dari Sholat Idul Fitri di Masjid AT TAQWA Pundak IV Nanggulan, saya dan keluarga besar dari pihak istri berjalan santai pulang ke rumah untuk menikmati ketupat lebaran khas Pundak IV.  

Kami duduk dengan rapih dengan posisi melingkar dan kadang berhadapan.  Tidak ada masalah dengan posisi duduk yang penting “posisi” menu utamanya Sate Ayam, Opor Ayam, Ketupat da kerupuk, tidak jauh dari hadapan saya  Hiehiehiee

Menu utamanya Ketupat dengan sambel kentang cabe yang berasa pedas, sate ayam, opor ayam lengkap dengan kuahnya  dan juga kerupuk.   Makan jika tidak dilengkapi dengan sambel dan kerupuk rasanya kurng lengkap bagi sebagian orang.

Sate ayamnya bakar sendiri? Oh tidak.   Sate ayamnya sendiri memesan dari Pusat pemotongan ayam dan bebek AbazMulyo yang sudah terkenal di Pundak IV.  AbazMulyo ada wiraswasta yang menjadikan rumah tinggalnya sebagai pusat pemotongan ayam Islami, menerima pemesanan sate ayam untuk berbagai keperlua , aqiqahan, aneka roti, dan juga jasa pemotongan hewan ayam.   Begitu kita kira profil AbazMulyo ini.

Langsung Berlebaran
Tidak ada dikotomi hari pertama lebaran khusus untuk keluarga dekat, dan untuk kerabat dan handai taulan di tempat jauh sedangkan para tetangga dekat di hari yang lain.  Tradisi ini melekat pada kultur masyarakat Pontianak. 

Namun berbeda dengan  tradisi Lebaran di Pundak IV Nanggulan Kulon Progo Jogjakarta ini.   Bahkan saat kami baru pulang Sholat Idul Fitri dan sedang bersantap makan sekeluarga pun para tetangga sudah berdatangan untuk berlebaran   Awesome.   Jadi mau tidak mau kami “mewakili” anggota keluarga lain yang sedang bersantap untuk menyambut tamu yang datang berlebaran.

Yang unik di sini adalah tradisi saling berkunjung Silaturrahmi lebarannaya itu.   Satu rumah misalnhya, kami sebut saja begitu, bergerak “rombongan” untuk berlebaran ke tetangga yang lain yang masih di komplek Pundak IV.

Namun di saat yang nyaris bersamaan, para tetangga lain yang juga rombongan juga keluar rumah untuk berlebaran ke rumah yang lain.  Jadi bisa jadi saat kami sekeluarga mendatangi satu rumah isinya sang penghuni ruah sudah “kabur”.   Rumahnya dibiarkan kosong, bahkan ada yang pintu rumahnya terbuka lebar.   Berisiko kemalingan?  Ini dia yang mau saya cerita sedikit.

Mungkin karena Desa Pundak IV Nanggulan Kulon Progo ini masyarakatnya religious (Amiin) sehingga tidak ada kekuatiran kalau rumah kosong ditinggal pemiliknya Sholat atau ke pasar, Insya Allah rumah aman aman saja.  Saya tidak pernah merasa kuatir ngecas Android saya di ruang tamu bahkan saat ruang tamunya tidak dikunci saat saya ada keperluan ke luar rumah.

Tidak pernah ada kekuatiran barang di rumah, di meja tamu, di colokan TV ruang Tamu ditinggal begitu saja saat tuan rumah pergi dan ruah dalam keqdaan tidak terkunci.


Insya Allah amann aman saja. Anak anak senang sekali saat diberi “sangu” dari pemilik rumah yang merasa senang dengan kehadiran mereka.  Anak anak sudah seperti memiliki “penghasilan sendiri” di setiap Idul Fitri.   Uang berjumlah ratusan ribu rupiah berhasil dikantong anak anak itu, semoga mereka menabung untuk keperluan sekolahnya. (Asep Haryono)
 


MAKAM : Inillah pemakaman Muslimin milik warga Pundak IV yang bisa dikunjungi ole masyarakat setempat.  Foto Asep Haryono
MAKAM : Inillah pemakaman Muslimin milik warga Pundak IV yang bisa dikunjungi ole masyarakat setempat.  Foto Asep Haryono

SHOLAT ID : Suasana saat akan dimulainya shalat Idul Fitri di Masjid ATTAQWA Pundak IV Nanggulan Kulon Progo.  Khatibnya berbahasa Jawa..  Foto Asep Haryono
SHOLAT ID : Suasana saat akan dimulainya shalat Idul Fitri di Masjid ATTAQWA Pundak IV Nanggulan Kulon Progo.  Khatibnya berbahasa Jawa..  Foto Asep Haryono

KETUPAT LEBARAN : Suasana saat akan dimulainya shalat Idul Fitri di Masjid ATTAQWA Pundak IV Nanggulan Kulon Progo.  Khatibnya berbahasa Jawa..  Foto Asep Haryono
KETUPAT LEBARAN : Suasana saat akan dimulainya shalat Idul Fitri di Masjid ATTAQWA Pundak IV Nanggulan Kulon Progo.  Khatibnya berbahasa Jawa..  Foto Asep Haryono

SILATURAHMI :  Hari pertama Lebaran langsung bersilaturahmi dan berlebaran sesama warga Punda IV.  Foto Asep Haryono
SILATURAHMI :  Hari pertama Lebaran langsung bersilaturahmi dan berlebaran sesama warga Punda IV.  Foto Asep Haryono

MINTA MAAF :  Tradisi lebaran di Pundak IV adalahh minta maaf kepada para sesepuh anggota keluarga   Mendengr nasihat yang disampaikan denganc cara bisik berbisik seperti ini.  Menarik. Foto Asep Haryono
MINTA MAAF :  Tradisi lebaran di Pundak IV adalahh minta maaf kepada para sesepuh anggota keluarga   Mendengr nasihat yang disampaikan denganc cara bisik berbisik seperti ini.  Menarik. Foto Asep Haryono

BUKAN PETUGAS :  Mereka tampak seperti petugas makam yang sedang bertugas membersihkan makam.  Mereka sebenarnya adalah peziarah juga yang membersihkan makam anggota keluarganya.  Menarik. Foto Asep Haryono
BUKAN PETUGAS :  Mereka tampak seperti petugas makam yang sedang bertugas membersihkan makam.  Mereka sebenarnya adalah peziarah juga yang membersihkan makam anggota keluarganya.  Menarik. Foto Asep Haryono



No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog