Jual Milagros disini
Loading...

Candi Prambanan Menakjubkan! - Part Two

Bagian kedua dari tiga tulisan
Catatan Asep Haryono

Bagi yang baru datang di blog ini dan atau yang malas membuka cerita pada bagian pertama DAY 20 : Menjelajah Candi Prambanan , dapat saya gambarkan ringkasan Bagian Pertama kemarin :

Ringkasan Bagian Pertama - Abstraksi
Saya Asep Haryono, mudik lebaran di Yogyakarta dari tanggal 22 Juni s/d 12 Juli 2016.  Saya sekeluarga ramadhan sekaligus merayakan perayaan Idul Fitri di rumah mertua saya di Dusun Kembang, Pundak IV, Nanggulan, Kulon Progo ( 1 jam dari kota Jogjakarta-red).

Dari hari pertama (DAY 01) hingga saat artikel ini ditulis (DAY 21), saya sering ditemani oleh local guide saya yang juga tetangga sebelah rumah di Pundak IV yakni Mas Sabiyan atau akrab kami sapa dengan Lik Sap.   

Di bagian pertama, pada intinya adalah certia saya berkunjung ke Candi Prambanan diantar atau ditemani oleh Lik Sap hari Senin 11 Juli 2016 yang lalu.  Diceritakan persiapan menjelang keberangkatan ke Candi Prambanan dengan Lik Sap dengan menggunakan Sepeda Motor. 

Dengan persiapan yang cukup sederhana, hingga sampai ke Parkiran Sepeda Motor kawasan Taman Wisata Candi Prambanan.  Ada banyak cerita kekonyolan dari sejak berangkat dari rumah hingga sampai membeli karcis Masuk ke kawasan Candi Prambanan.

Sebelum saya memulai travel report DAY 20 Menjelajah Candi Prambanan – Bagian kedua ini, saya terlupa untuk menceritakan profil singkat siapa Mas Sabiyan atau akrab saya sapa dengan Lik Sap ini  Beliau  memang masih satu family (keluarga) dari pihak istri saya,  Beliau tinggalnya beberapa rumah saja dari rumah kediaman orang tua istri (mertua) di Pundak IV Nanggulan Kulon Progo. 

Nah Lik Sap inilah yang juga sebagai Local Guide saya selama berada di Yogyakarta, sekaligus guide saya selama kunjungan di Taman Wisata Candi Prambanan.   Nah sekarang kita mulai travel report bagian Keduanya. Selamat membaca.

Candi Yang Masih Misteri
Dari brosur brosur yang saya dapatkan darti Tourist Information Center (TIC) atau Pusat Informasi Wisatawan yang letaknya berada di sisi kiri pintu masuk pembelian tiket masuk Karcis Terusan Candi Prambanan – Ratu Boko banyak menceritakan sejarah prambanan. 

Lembaran brosurnya sendiri dicetak sederhana saja dengan tampilan warna yang cukup sederhana.    Brosur Prambanan yang saya dapatkan ini dicetak oleh PT Taman Wisata Candi – Unit Prambanan yang beralamat di Jalan Raya Yogya – Solo KM 16, Prambanan Yogyakarta  55571.

Dari brosur yang saya baca tertulis sejarah daripada Candi Prambanan yang konon juga identik dengan sebutan Candi Roro Jonggrang   Sudah banyak tulisan sejarah Candi Prambanan yang tersebar di Internet yang mudah diakses oleh masyarakat luas  

Cukup dengan mencarinya di Google dengan keyword (kata kunci) “sejarah candi prambanan” Insya Allah akan muncul puluhan link link yang berisi tentang Sejarah Candi Prambanan.   Namun tidak ada salahnya saya tuliskan kembali intisari sejarah Candi Prambanan yang saya kutip dari Brosur Candi Prambanan yang saya dapatkan di lokasi wisata.

Candi Prambanan ini merupakan candi terbesar umat Hindu yang ada di Jawa Tengah, Dibangun sejak abad ke 9 pertengahan oleh Dinasti Sanjaya.    Beda dengan Candi Borobudur yang dibangun pada masa kejayaan Dinasti Syailendra di abad ke 8 masehi. 

Candi Prambanan yang megah ini pada dasarnya memiliki 3 halaman utama yang tersusun rapih dengan arah memusat kepada halaman candi utama  yang berada di bagian tengah atau pusat.   Jumlah Candi di halaman 1 ada 16 buah , Halaman II ada 224 buah, dan di halaman III nya tidak ada sama sekali (Candi).  Jadi total keseluruhan pada mulanya sebanyak 240 buah candi.

“Candi ini sebenarnya masih misteri, mengenai siapa yang sebenarnya membangun candi Prambanan ini” terang Lik Sap, guide saya selama di kawasan Candi Prambanan, 

“Candi Prambanan ini terbuat dari batu yang berat, nah coba liat ukiran ukiran patung patung yang ada di dalam Candi candi ini semuanya rapih seperti dipahat oleh seorang ahli pahat modern, sedangkan ini dibangun pada masa Majapahit” kata Lek Sap menambahkan.

Saya pun memperhatikan beberapa detil relief relief yang ada di beberapa candi tertentu di kawasan Candi Prambanan memang indah, dan tiap lekukan atau pahatan batu yang membetuk relief orang atau semacammya sangat detil. 

Saya membayangkan alat yang digunakan pada masa itu untuk membangun Candi seperti apa.    Namun yang mengusik saya adalah siapa sesungguhnya yang membangun Candi candi nan Indah dan sangat mendetil ini sedangkan semuanya terbut dari batu batu yang sangat luar biasa beratnya?   Benrkah dibangun oleh para Jin seperti yang dikisahkan dalam brosur tersebut? 

Kisah legenda Bandung Bondowoso yang gagal membangun 1000 candi dalam semalam itu dikisahkan dalam legenda dengan bantuan para Jin namun gagal.  Diceritakan betapa murkanya Bandung Bondowoso karena gagal memenuhi syarat 1000 Candi yang diajukan oleh Roro Jonggrang.  Dikisahkan sang Roro Jonggrang dikutuk oleh Bandung Bondowoso menjadi sebuah arca yang dijadikan sebagai pelengkap untuk menggenapi 1000 candi tersebut.  

Dari berbagai sumber disebutkan sebenarnya arca tersebut bukan arca Roro melainkan Arca Durga Mahisa Suramardhini, istri  Dewa Siswa yang berada di bilik bagian utama Candi Siwa. 

Nah dari kisah inilah akhirnya ada sebutan Candi Prambanan adalah juga Candi Roro Jonggrang.  Demikian kira kira inti dari cerita atau legenda Roro Jonggrang dan Candi Prambanan yang saya kutip dari Brosur Prambanan yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Kawasan Candi Prambanan.   Cukup membantu

Tidak Masuk Ke dalam Candi
Saya mulai memasuki gerbang utama masuk kawasan Candi Prambanan tepatnya memasuki  Gernang Pameran Kampung Kepurbakalaan yang dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta Jl Jogja-Solo Km 15 Boom sleman DIY.   Yang unik dari gerbang ini adalah  ada 3 orang “prajurit” Kraton lengkap dengan atributnya “menjaga” pintu gerbangnya dengan maksud menawarkan diri siapa yang mau foto SELFIE dengan mereka.  

“ini pada foto foto sama mereka mbayar nda?” Tanya saya kepada Lek Sap, guide.   “Oh sama sekali tidak silahkan silahkan” jawab Lek Sap.    Saya melihat banyak orang orang yang antre berfoto dengan mereka, dan semuanya dilayani dengan ramah dan senyum oleh “pasukan” Kraton itu 

Saya pun tidak melewatkan kesempatan yang berharga ini . “ wah ini bagus nih tidak ada bayaran sama sekali, dan saya akan meunggunggu giliran untuk biasa foto dengan mereka” kata saya seolah sedang berbisik kepada orang lain,  padahal ngomomg sendiri. Ihiehiheiheiheie.

Saya pun mendekati 3 orang “prajurit”keratin itu untuk foto bersama.  Dari 3 foto yang dijepret, hanya 2 yang terbukti yang berhasil terekam, sedangkan yang lainnya belum sempat  Masuk ke dalam lagi akhirnya saya menemukan sebuah gallery atau diorama candi candi yang dipamerkan.  Kawasan pamerannya cukup luas.  Saya sempat mengisi buku tamu yang sudah disediakan oleh petugas d meja informasi.  

Setelah mengisi buku daftar pengunjung, pandangan mata saya tertumbuk pada pohon pohon yang daunnya berupa kertas kertas yang bertuliskan semacam ungkapan atau kata taka.    Di area ini juga ada gedung yang menyajikan informasi tentang Prambanan dalam bentuk pandang dengar atau Audio Visual.  Film khusus yang memutar film tentang Cand Prambanan, letaknya 300 meter namun saya tidak ke sana.

“Oh yang itu namanya Pohon harapan mas, silahkan menulis pesan dan harapan atau keinginan seperti apa agar masyarakat bisa tergerak hatinya bisa ditulis dalam kertas yang sudah disediakan lalu digantung di pohon ini bersama dengan kartu kartu dari pengunjung lainnya”  jelas mba yang bertugas, Sayang  sekali saya belum sempat melihat nama petugasnya  Salah satu petugas yang hadir di meja informasi seperti mengenakan seragam kampus atau baju sekolah.  Ada yang magang kah di sana?

Saya pun berkeliling di dalam ruangan itu dan memfoto beberapa diorama candi candi yang ada lengkap dengan penjelasannya .   Ketika saya meminta brosur tentang Candi Prambanan tidak menyediakan. “Oh kalau brosur wisata Candi Prambanan bisa diperoleh di pintu luar mas, dekat pintu loket pembayaran ada di sebelah kirinya, di situ ada tourist information center atau TIC bisa diambil gratis di sana” kata mba itu menjelaskan. 

Cuaca siang itu yang panas menyengat tidak menyurutkan langkah saya, dan Lek Sap untuk berkeliling ke beberapa sudut yang ada di komplek percandian itu.    Salah satu kendala saya dalam mengabadikan momen dalam bentuk foto adalah kamera HP yang saya gunakan nyaris tidak keliatan layar (screen) untuk previwnya karena terkena sinar matahari langsung. 

Jadi saya agak kesulitan untuk membuat pemetaan bingkai (Frame) yang akan saya buat seperti membidik dengan kamera digital, bukan kamera yang ada HP nya atau HP berkamera seperti yang saya gunakan saat itu. 

Samsung Galaxy Grand Prime yang saya bawa tidak banyak membantu dalam memberikan preview Frame yang mau dijepret. Walhasil setiap kali “menembak” objek foto hanya perkiraan saja,   Mudah mudahan objeknya focus dan tidak terlalu miring ke kiri atau ke kanan.   

Android ini sangat mumpuni jika ruanhannya teduh baik dibawah pohon rindang atau sudut candi yang agak gelap jadi saya bisa screen (layar) jendela bidik yang ada di android itu.   Beberapa foto yang diambi bahkan gagal alias tidak terjepret sama sekali. 

Padahal volume Android sudah dimaksimalkan agar terdengar suara “cetret” tanda foto berhasil di “tembak”.  Walau sudah volume maksimal, tetap tidak mampu “menandingi” bisingnya suara orang lalu lalang di kawasan Candi.   Mungkin suatu saat nanti saya akan bawa Kamera sungguhan yang berfumgsi benar bemar sebuah digital camera bukan HP berkamera. (Asep Haryono)


To be Continued  Bersambung. 
 
AUDIO VISUAL :  Yang mau nonton film dokumenter tentang Candi Prambanan bisa datang ke sini.  Foto Asep Haryono
AUDIO VISUAL :  Yang mau nonton film dokumenter tentang Candi Prambanan bisa datang ke sini.  Foto Asep Haryono

FOTO :  Mau berfoto dengan 3 prajurit keraton ini? Memang bukan yang aseli namun cukup memberi warna tersendiri di kawasan candi. Foto Asep Haryono
FOTO :  Mau berfoto dengan 3 prajurit keraton ini? Memang bukan yang aseli namun cukup memberi warna tersendiri di kawasan candi. Foto Asep Haryono

DIORAMA : Saya sempat ke sini untuk mengambil brosur tentang Candi Prambanan namun tersedia   Ada banyak miniatur candi di sini. Foto Asep Haryono
DIORAMA : Saya sempat ke sini untuk mengambil brosur tentang Candi Prambanan namun tersedia   Ada banyak miniatur candi di sini. Foto Asep Haryono

POHON KEHIDUPAN : Silahkan menuliskan pesan dan harapannya bagi kemajuan bangsa Indonesia bisa dipasang di pohon ini Foto Asep Haryono
POHON KEHIDUPAN : Silahkan menuliskan pesan dan harapannya bagi kemajuan bangsa Indonesia bisa dipasang di pohon ini Foto Asep Haryono

GAYA :  Saya tidak harus ada dalam tulisan ini. Namanya juga menceritakan  Namun sebagai bukti aja kalau saya benar benar  ada di kawasan Candi Prambanan ini,  No hoax kan? Foto Asep Haryono
GAYA :  Saya tidak harus ada dalam tulisan ini. Namanya juga menceritakan  Namun sebagai bukti aja kalau saya benar benar  ada di kawasan Candi Prambanan ini,  No hoax kan? Foto Asep Haryono

CANDI SEWU :  Ini adalah Miniatur Candi Perwara Candi Sewu.  Dipajang di gedung pameran dan diorama di kawasan candi  Foto Asep Haryono
CANDI PERWARA Ini adalah Miniatur Candi Perwara Candi Sewu.  Dipajang di gedung pameran dan diorama di kawasan candi  Foto Asep Haryono

TANPA KACA :  Bentuk indah daripada Miniatur Candi Sewu ini dikemas dalam wadah tanpa kaca.  Apakah tidak takut kena debu? . Foto Asep Haryono
TANPA KACA :  Bentuk indah daripada Miniatur Candi Sewu ini dikemas dalam wadah tanpa kaca.  Apakah tidak takut kena debu? . Foto Asep Haryono

INDAH :   Salah satu sudut kawasan Candi Prambanan yang saya foto dari luar, dan akan segera masuk ke bagian dalam. Cuaca terik menyengat. Foto Asep Haryono
INDAH :   Salah satu sudut kawasan Candi Prambanan yang saya foto dari luar, dan akan segera masuk ke bagian dalam. Cuaca terik menyengat. Foto Asep Haryono

SEMPIT : Karena bukan kamera sungguhan , sisi lain dari kawasan Candi Prambananyang saya jepret tidak maksimal bentuk framena, Foto Asep Haryono
SEMPIT : Karena bukan kamera sungguhan , sisi lain dari kawasan Candi Prambananyang saya jepret tidak maksimal bentuk framena, Foto Asep Haryono

1 comment:

  1. unik ya kang candi prambanan itu tidak pakai semen tapi kokoh seperti hal nya dengan candi borobudur yang dulu saya kunjungi :)

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog