Jual Milagros disini
Loading...

DAY 01 : Menengok Makam Orang Tua

Catatan Asep Haryono

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT. Akhirnya saya sekeluarga bisa merealisasikan Mudik Lebaran tahun 2016 ini lebih awal dari perkiraan sebelumnya.  Salah satu alasan utama kami mudik lebih awal adalah untuk menghindari crowd (kepadatan) di Bandara dan di perjalanan.  Walaupun lebih awal mudiknya ternyata kami sekeluarga juga sudah mengalami macet dimana mana.  Menurut informasi yang beredar di social media, kepadatan atau arus puncak Mudik diperkirakan jatuh pada H+7 seperti pada tahun tahun sebelumnya.

Dengan menumpang pesawat Lion Air dengan kode penerbangan JT 719 jenis Boeing 737-800 Next Generation, berangkat dari Bandara Internasional Supadio di Pontianak pada pukul 09.00 WIB dan Alhamdulillah berhasil mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada pukul 10.30 WIB.  Cuaca selama diperjalanan cukup cerah walau beberapa kali pesawat sedikit mengalami turbulensi kecil karena memasuki awan dan atau cuaca yang kurang baik.

Pengambilann Bagasi
Bandara Internasional Soekarno Hatta yang memang megah tidak menyulitkan bagi siapa saja yang bahkan barangkali baru pertama kali datang dan berkunjung ke Bandara termegah di Indonesia ini. Jalur jalur kedatangan mulai dari pengambilan Bagasi (Bagage claim) hingga bagi yang akan melanjutkan ke penerbangan berikutnya sangat mudah Setiap sudut ada petunjuk yang jelas dan mudah terbaca dalam Bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia.  

Sahabat yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Internasional Soekarno Hatta ini bisa dengan mudah mengikuti alur alur ini.  Jika masih kesulitan bisa bertanya kepada petugas bandara atau security yang siap dan sigap membantu anda Jangan malu bertanya, karena mereka siap membantu para penumpang yang akan mengambil bagasi di sana. 

Sedikit catatan di sini adalah perhatikan benar benar jenis tas, atau koper milik anda karena nyaris banyak model , warna dan bentuk yang sama.  Nah untuk memastikannya berita tanda khusus pada travel bag atau tas anda agar mudah dibedakan dengan milik orang lain.  Namun untuk memastikannya pastikan kode seri pengambilan  tas anda tersebut.  


Jangan juga sampai hilang karena pernah ada pengalaman penumpang yang senpat di tahan petugas bagian claim bagasi Karen tidak bisa menunjukkan kode pengambilan bagasi untuk dicocokkan dengan kode yang menempel dalam koper atau tas travelnya.

Setelah semua beres, kami berempat pun keluar dari ruangan pengambilan bagasi dengan menggunakan troli atau kereta dorong.   Cukup banyak bawaan kami : 1 tas travel dari Korea, 1 tas travel punya tetangga (boleh minjam hehe), 1 tas berisi aneka oleh oleh, dua buah tas punggung dan satu tas kecil.  

Ada pengalaman unik saat masuk bagasi saat berangkat dari Bandara Supadio Pontianak.  Ada 2 (dua) raket kecil anak saya yang tadinya mau diselipkan dalam tas travel untuk dijadikan “satu” bagasi, namun ditolak oleh petugas bagian check in     Dua buah raket tadi tetap mendapat label bagasi masing masing dan tidak bisa di “tumpang” begitu saja.

Hindari menggunakan TAXI jika berada di Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju tujuan  sahabat. Jika memungkingkan bisa menggunakan Bis DAMRI yang shuttle siap mengantar anda ke tujuannya.  Jika tujuannya bisa discover atau trayeknya dilalui oleh bis DAMRI Bandara tentunya. 

Keterangan lengkap bisa ditanyakan kepada petugas di bandara yang siap membantu anda.  Kenapa DAMRI?  Karena relatif lebih murah dan terjangkau biayanya   Untuk ukuran saya sekeluarga penghematan moda kendaraan dengan menggunakan DAMRI memang diperhatikan  Untung saja hal itu tidak mendapatkan kendala karena sesampai kami keluar dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, 

kami sudah dijemput oleh keluarga di Tanggerang.    Mereka mengantar kami dari Bandara Internasional Soekarno Hatta  menuju Komplek Inkopol Kranji Bekasi untuk menengok makam oramg ta saua. Ya memang itu Tujuan utama kami mudik langsung dilaksanakan yakni menengok (nyekar) ke makam kedua orang tua saya di Komplek Inkopol Kranji Bekasi.  Makamnya memang berdekatan dengan komplek kepolisian Republik Indonesia  tersebut.

Sambil menunggu jemputan berikutnya ke Ciluengsi Bogor , saya sekeluarga “mengungsi” di Masjid Al Ikhlas dalam komplek tersebut hingga masuk waktu berbuka puasa.  Sedangkan family yang sudah mengantar saya dari SOETTA sudah pulang.  Alhamdulillah  kami yang “musafir” ini mendapat paket buka puasa dari pengurus Masjid Al Ikhlas Komplek Inkopol Kranji Jalan Rajawali, paket buka puasa yang sangat nikmat dan nyaman. 

Alhamdulillah rezeki dari Allah SWT bagi kami untuk berbuka puasa.  Alhamdulillah sekitar pukul 19.30 WIB,  jemputan berikutnya pun datang  Kami sekeluarga dijemput Sei Masjid tersebut menuju Perumahan Taman Griya Sentosa di Cileungsi Bogor.  Tujuan berikutnya adalah bersilaturahmi, safari ramadhan, dan mudik ke Kulon Progo ( 1 jam dari kota Jogjakarta)

Tidak Ada Toilet
Bis Malam Cepat yang kami tumpangi berangkat dari Narogong pada pukul 17.20 WIB pada tanggal 20 Juni 2016.  Harga tiap per penumpang dikenakan biaya sebsesar Rp.135.000,- (Seratus Tiga puluh Lima Ribu Rupiah). Kami booking tiketnya dari sebuah agen Bis Murni Jaya di lokasi  yang sama.  

“Bisnya warna Kuning mas, sudah dilengkapi dengan AC dan TOILET” kata mba penjual Agen Bis Murni Jaya itu.  Syukurlah gumam saya dalam hati karena untuk urusan (maaf) pipis ini gampang  gampang susah.  Kalau di jalan sudah kebelet mau (maaf) pipis, mau tidak mau bisa harus berhenti.

 Syukurlah ada toilet dalam bis tersebut    Namun saying sekali kenyataannya Toiletnya tidak ada.  Apakah ini termasuk wanprestasi?  Karena setelah saya baca syarat dan ketentuan dibagian belakang tiket bisnya memang tidak tercantum adanya fasilitas AC dan Toilet.  Ini juga membingungkan saya pada awalnya.  Hal pertama yang menjadi perhatian saya adalah jam keberangkatannya itu nyaris bertepatan dengan waktu Berbuka Puasa.  

Otomatis kami harus menyiapkan “bekal” untuk berbuka puasa di dalam bis karena jelas bis tidak akan berhenti untuk menurunkan penumpang untuk berbuka puasa dan Sholat Magrib   Mushola pun tidak disediakan di dalam bus, apalagi berhenti sejenak untuk menurunkan penumpang yang akan berbuka puasa dan Sholat Magrib, 

Seharusnya pihak manajemen bis tidak mematok jam 17.20 WIB sebagai awal keberangkatan bisnya karena waktunya sudah “mepet” waktu berbuka puasa dan Sholat Magrib,   Solusi lainnya mau tidak mau bis harus berhenti lagi walau baru beangkat dari peron karena sudah masuk waktu berbuka Puasa dan Sholat Magrib. Itu saja catatan yang penting untuk didengar dan diketahui oleh Manajemen Bis Murni Jaya dimana saja berada

Makan Minum Gratis
Bis Murni Jaya melaju dengan kecepatan yang standar tidak cepat seperti dalam slogannya “Bis Malam Cepat”.  Itu yang saya rasakan selama berada di dalam Bis megah berwarna dasar putih (bukan warna kuning seperti kata mbak Agen Bis tadi-red).  

Suasana di dalam bisnya juga cukup rapih, dan cukup bersih.  Jelas ada AC yang bisa diatur oleh master control yang berada di kendali kemudi sang sopir.  Beda dengan pengaturan AC dan lampu baca di dalam pesawat yang bisa di adjust (diatur) sendiri oleh penumpang pesawat,  lampu baca dan AC dalam Bis Murni Jaya ini tidak dapat diatur oleh penumpang. Semuanya diatur dan dikendalikan oleh Sopir.

Bis Murni Jaya ini mempunyai kapasitas penumpang sebanyak lebih kurang 40 (Empat Puluh) orang calon penumpang.  Tiap seat (bangku) sudah dilengkapi dengan nomor bangkunya masing masing. Harga atau biaya per penumpang dikenakan tiket sebesar  Rp.135.000,- (Seratus Tiga puluh Lima Ribu Rupiah).

Penumpang yang berusia di atas 5 tahun dikenakan tariff dewasa atau umum.  Kebetulan kedua anak saya berusaia 8 tahun (Abbie) dan 6 tahun (tazkia).  Keduanya dikenakan tariff umum. Oleh karena itu kami memiliki 4 (empat) tiket.  Masing masing dari kami sudah memiliki tiket sendiri 

Setelah jam memasuki pukul 21.30 WIB, Bis Murni Jaya ini berhenti di sebuah lokasi yang saya sendiri tidak tau sudah memasuki wilayah mana.  Para penunpang berhamburan ke luar dari bis, juga dari bis bis lainnya yang merapat di jam yang nyaris sama   . Jadilah rumah makan itu penuh sesak oleh para penumpang yang akan makan malam dan atau yang belum sempat berbuka puasa. 

Menu menu yang ada  tentu saja bervariasi sesuai dengan selera masing masing   Jangan Tanya harga kalau sudah kondisi begini Apa pun pasti akan dibayar oleh para penumpangnya    Sekedar perbandingan untuk 1 gelas air teh hangat ukuran gelas dewasa dibandrol dengan harga Rp.10.000,-

Ada ketentuan umum khusus untuk para Sopir, Co Sopir (semacam Co Pilot kalau pesawat udara-red) dan crew Bis bisa makan minum sepuasnya.  Bahkan mereka sudah disediakan kamar makan sendiri dan juga ruang istirahat sendiri. 

Para sopir dan crew nya diperlakukan istimewa di titik titik rumah makan manapun yang dilalui  trayeknya.    Para sopir Bis itu dianggap “berjasa” karena membawa bis nya yang sarat penumpang untuk makan di rumah makan mereka.  Jadi para Sopir dianggap “berjasa” membawa “devisa” bagi rumah makannya.  Oleh karena itu khusus untuk Sopir  dan awak Bisnya free alias gratis untuk makan dan minum sepuasnya.  Enak memang namun tanggung jawabnya berat

Nyaris Tertinggal Bis

Ada pengalaman konyol yang saya alami saat itu..  Saat semua penumpang turun dari Bis untik bersantap makan malam, saya pun ikut turun.   Namun tidak untuk makan berat (makan nasi lauk pauk-red), karena sejak dari dalam bis sudah ngemil duluan jadi perut terasa masih kenyang.  Mungkin untuk segelas teh hangat boleh juga lah, gumam saya dalam hati .

“Ingat waktu untuk makan sahur hanya dibatasi sampai pukul 22,30 WIB ya” kata istri saya mengingatkan  Rupanya istri saya sudah selesai makan malam dan kembali ke bis,  Saya pun turun dari bis dan langsung mencari segelas Teh hangat seperti yang sudah rencanakan,  Saya pun duduk di sebuah sudut ruangan dalam rumah makan itu.  

Saya pun menyeruput tehh hangat itu.   Tiba tiba saya terpikir juga untuk sekalian saja mendirikan Sholat Isya di Musholla yang sudah disediakan di rumah makan teresebut.  Ada banyak sholat di sana, 

Saya tinggalkan segeas tehh hangat tadi, dan bergegas menuju Mushola yang sudah disediakan.   Sebagai antisipasi jika tersesat, saya foto Bis yang saya tumpangi dari halaman depannya sehingga tampak nomor plat kendaraannya.  “Jaga jaga saja kalau saya sesat ke bis” gumam saya dalam hati   Wajar saja kuatir, karena bis bis banyak yang nyaris sama bentuk dan warnanya. 

Rata rata bis Murni Jaya sama semua warnanya.  Makanya saya foto dulu untuk penda jejak.  Namun foto pun tetap tidak menjamin kalau saya tidak tersesat.  Kenyataannya sepulang dari Sholat Isya di Mushola itu saya tersesat pulang ke bis yang saya tumpangi.   Yang mana ya,  Berbekal foto juga tidak pas karena bis bis nya sama semuanya.     


Termangu saya , berdiri mematung di antara ratusan penumpang yang asyik makan malam.  Dalam hati saya berkata “rasanya saya akan ditinggal bus ini”.  Saya masuki beberapa bis Murni Jaya yang memarkir memanjang di depan rumah makan tetap saja “isi” penumpangnya beda.  Jelas saya tertsesat dan berisiko tertinggal bis sendirian.

Sedangkan jarak masih sangat jauh  Untuk tiba di Jogjakarta masih beberapa jam lagi  Kebayang kalau tertinggal bis sendirian sedangkan tujuan anda masih sangat jauh darn sudah tengah malam begitu, kira kira apa yang dapat anda lakukan?  Selamat menerka sendiri jawabannya.
Saya pun mencoba menghubungi istri saya via telepon genggam yang selalu saya bawa kemana pun saya pergi.   Wah ternyata jaringan Kartu TRI ridak ada,  Not coverage area.  “kacow ini” gumam saya dalam hati.  Ditengah kebingungan saya itu mendadak ada suara di belakang saya berdiri memanggil nama saya. 

Suara yang jelas sangat saya kenal.  “ayah.. ayah kemana saja, sudah ditunggu orang satu bis” kata istri saya,  Malu saya.  Seperti kata pak ustadz Almarhum Zainuddin MZ, wajah saya ini “ditekuk empat” karena malu. Sudah besar gini tapi masih tersesat jalan pulang ke bis.    Saya pun ikut. Rupanya saya salah ambil “rute” pulang dari titik duduk ngeteh tadi ke Mushola. Saya justru melingkarinya.

Untuk itulah sebagai penutup DAY 01 laporan perjalanan mudik saya ke Jogjakarta 18 Juni – 14 Juli 2016 ini adalah waspada terhadap bis yang membawa anda.   Jangan jauh jauh dari bis anda sendiri agar tidak tersesat jalan “pulang” ke bis.  Aktifkan HP anda untuk berkomunikasi buat jaga jaga   Andai tidak ada jaringan (not coverage area) tentu HP tidak bisa digunakan, segeralah lapor kepada security, atau petugas menara informasi di rumah makan tersebut. 

Dalam rumah makan besar biasanya tersedia fasilitas pengeras suara untuk memberitakan kehilangan anggota keluarga,  Jangan sampai anda sendiri yang diberitakan hilang.  Tentu saja pengalaman ini sangat berharga buat saya dan berharap semoga tidak terulang lagi   Lucu sekaligus konyol. 

Alhamdulillah bis Murni Jaya yang kami tumpangi besama 40 penumpang lainnya tiba dengan selamat di terminal bis antar kota SENTOLO Kulon Progo pada pukul 07.00 WIB pagi. Bis Murni Jaya menempuh sekitar 12 jam untuk tiba di terminal Sentolo Kulon Progo.  Kami pun turun dan kemhali menumpang bis kecil semacam Oplet menuju Pundak IV Kembang Nanggulan To be continued  Bersambung. (Asep Haryono)


MEGAH :  Bis Murni Jaya inilah yang saya sekeluarga tumpangi.  Foto ini diambil beberapa saat sebelum saya dinyatakan nyaris "tersesat" dan nyaris tertinggal bis setelah sholat. Foto Asep Haryono
MEGAH :  Bis Murni Jaya inilah yang saya sekeluarga tumpangi.  Foto ini diambil beberapa saat sebelum saya dinyatakan nyaris "tersesat" dan nyaris tertinggal bis setelah sholat. Foto Asep Haryono

RUMAH MAKAN : Banyak orang makan di tempat persingahan Bis antar kota.  Ada Mushola dan Toilet.  Hafalkan rute anda dari dan ke bis agar tidak tersesat. Nyaris semua bis model dan bentuknya sama. Foto Asep Haryono
RUMAH MAKAN : Banyak orang makan di tempat persingahan Bis antar kota.  Ada Mushola dan Toilet.  Hafalkan rute anda dari dan ke bis agar tidak tersesat. Nyaris semua bis model dan bentuknya sama. Foto Asep Haryono

LION AIR :  Anak dan istri sedang menuju pesawat (kanan) .  Pesawat Lion Air jenis Boeing 737-800 Next Generation ini yang membawa saya sekeluarga menuju Bandara Soekarno Hatta (Jakarta). Foto Asep Haryono
LION AIR :  Anak dan istri sedang menuju pesawat (kanan) .  Pesawat Lion Air jenis Boeing 737-800 Next Generation ini yang membawa saya sekeluarga menuju Bandara Soekarno Hatta (Jakarta). Foto Asep Haryono

BAHASA INDONESIA :  Arah petunjuk pengambilan Bagasi mudah ditelusuri karena semua petunjuk juga disertai dalam bahasa Indonesia.  Ikuti alurnya dan anda tidak akan tersesat. Foto Asep Haryono
BAHASA INDONESIA :  Arah petunjuk pengambilan Bagasi mudah ditelusuri karena semua petunjuk juga disertai dalam bahasa Indonesia.  Ikuti alurnya dan anda tidak akan tersesat. Foto Asep Haryono

LAPANG :  Halaman atau hall pengambila bagasi di Bandara Internasional Soekarno Hatta Banten yang lapang dan luas.  Pastikan kode bagasi anda agar tidak tertukar dengan bagasi orang lain. Foto Asep Haryono
LAPANG :  Halaman atau hall pengambila bagasi di Bandara Internasional Soekarno Hatta Banten yang lapang dan luas.  Pastikan kode bagasi anda agar tidak tertukar dengan bagasi orang lain. Foto Asep Haryono

BAYAR : Jaman sekarang apa apa harus bayar. Jarang ada yang gratis,  Bahkan untuk sekedar buang air kecil pun harus membayar. Foto Asep Haryono
BAYAR : Jaman sekarang apa apa harus bayar. Jarang ada yang gratis,  Bahkan untuk sekedar buang air kecil pun harus membayar. Foto Asep Haryono


8 comments:

  1. Replies
    1. @Dian Nafi : Alhamdulilah apa ini. Hiehihiee. Jangan jangan Alhamdulillah nyaris ketemu dan tidak tertinggal Bis ya hieihee. Makasih sudah mampir ya Salam dari lokasi mudik Nanggulan, Pundak IV, Kulon Progo

      Delete
  2. berasa ikutan mudik.. ke jakarta trus lanjut ke kulon progo..

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Kornelius Ginting : Oh ya kah? Alhamdulillah. Ini gaya tulisan berututur yang mengalir seperti dalam percakaoan sehari hari saja . Bahasanya pun sederhana dan Insya Allah mudah dicerna. Terima kasih sudah mampir ya. HIhihihi

      Delete
  3. wah mudik ya mas, asyik. Kalau aku koper biar gak tertukar di bandara ,aku kasih tanad lain seperti pakai pita warna -warni yang mencolok

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Tira Soekardi : ALhamdulillah iya mba Kami sekeluarga sudah mudik hihihi. Keawalan ya Gak papa. Enak gini relatif terhindar dari kemacetan dan juga harga tiket relatif lebih terjangkau

      Delete
  4. Huuuu.. kang Asep habis biaya banyak itu yaaaa
    lebaran bagi duit dooong >.<
    ^,^

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Ocha Rhoshanda : Huaaaaaaaaaaaa ada Ocha. Gimana Ocha Masih puasa nda, Waa saya belum banyak Blogwalking ini. Insya Allah malam nanti mau BW aja hiheihiee Met Puasaaaa Ocha

      Delete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog