Jual Milagros disini
Loading...

Perlukah Menulis Buku Harian?

Catatan Asep Haryono

Bagi yang sudah terbiasa menulis mungkin perangkat yang satu ini bukan masalah.  Buku harian atau yang lebih dkenal dengan sebutan “diary”.    Seberapa pentingkah sebuah buku harian itu bisa mempengaruhi sikap hidup seseorang?  Seberapa besar pengaruh Buku Harian (diary) itu mempengaruhi karir seseorang.  

Saya bukanlah seorang yang paham psykologi, ataupun ahli jiwa apa pun.  Saya hanyalah menyampaikan pandangan saja karena secara empiris (pengalaman) saya juga pernah memiliki sebuah buku harian waktu masih kuliah di semester awal beberapa tahun yang lalu.

Konon anak sekolah setingkat SMA sederajat jaman sekarang sudah mulai meninggalkan corat coret di sebuah Buku Harian atau diary.  Terutama kaum pria nya.  Sangat jarang kita dengar seorang pemuda menuliskan pengalaman hidupnya dalam sebuah catatan di buku hariannya. Sekilas terdengar mellow, atau sentimental.  Namun benarkah seburuk itu citra seseorang pria yang memiliki sebuah catatan buku harian?  Belum tentu.  


DIARY : Siapa pun boleh memiliki catatan Buku Harian.  Waspada jangan sampai bocor kepada orang lain.  Foto Asep Haryono
DIARY : Siapa pun boleh memiliki catatan Buku Harian.  Waspada jangan sampai bocor kepada orang lain.  Foto Asep Haryono

Bersifat Pribadi
Sebagian orang menganggap justru dengan memiliki catatan sebuah buku harian menandakan orang itu cerdas dalam mengelola emosi dan perasaanya walau hanya dia  sendiri (dan tentu TUHAN) yang tau apa isi hati dan perasaannya. 

Buku harian adalah hal yang intim.  Yang dimaksud di sini adalah hal yang bersifat personal atau pribadi.  Belum pernah saya dengar ada orang yang “mengumbar” catatan pribadinya ke media social.  Yang sering malah saling membuka aib, bertengkar hingga ajang menjatuhkan citra, bergosip ketimbang menggunakan sosial media itu tujuan yang baik dan positif.  

Menulis pada prinsipnya tidak sesulit yang dibayangkan orang.  Untuk bisa menulis sebuah catatan harian bisa dimulai dengan kejadian yang sehari hari kita alami. Tidak perlu harus menjadi pakar  untuk bisa menulis. 

Kini tergantung dari sisi apa kita memandang sebuah catatan buku harian itu sebenarnya.  Jika dipandang sebagai sesuatu yang intim sifatnya dan  terlalu personal tentu catatan Buku Harian itu tidak boleh sampai jatuh atau “bocor” ke ranah umum.  Banyak kerugian moril jika sampai catatan pribadi itu sampai dketahu banyak orang.  Diary sama dengan aib pribadi. Setidaknya itu dalam pandangan saya pribadi

Baik secara tidak sengaja maupun direncanakan.  Orang pun tidak akan tau apakah anda memiliki catatan buku harian atau tidak.   Memang ada pantangan untuk tidak sampai keluar catatan tersebut ke ranah umum melalui social media semacam facebook atau media social lainnya

Mulai dari Hal Yang Sederhana
Beberapa buku yang pernah say abaca dan beredar luas di pasaran adalah coretan pribadi namun konten (isi) nya memang layak untuk diketahui banyak orang.  Misalnya saja buku karangan Mas Aqua Dwipayana (“Berhenti Bekerja Semakin Kaya”),  Dahlan Iskan (Ganti Hati), Goris Mustaqim (Pemuda Membangun Bangsa Dari Desa),  Reza M Syarif (Life Excellent) dan masih beberapa lagi lainnya  

Semuanya tulisan tersebut berdasarkan catatan pribadi pengalaaman yang penulis sesuai dengan bidang keahliannya, dan catatan pribadi tersebut sangat layak diketahui oleh umum karena mengandung kebenaran, keteladanan, dan attitude yang positif dalam memandang persoalan hidup sehari hari.

Bagaimana cara memulai menulis sebuah Buku Harian ku hari ini?.  Nah jika anda termasuk orang yang suka menulis atau pun tidak punya pengalaman apa pun dalam menulis juga tidak perlu kuatir.  Apa pun yang anda rasakan layak untuk anda tuangkan dalam catatan harian boleh boleh saja dituangkan dalam sebuah catatan harian atau Diary. 

Mungkin punya kesamaan dengan seorang Blogger yang senang berbagi ide, gagasan, pengetahuan, pengalaman maupun tips tips praktis yang dimilikinya berdasarkan pengalaman pribadinya dan dia berbagi kepada orang lain melalui share ke sosial media.   Nah batasan inilah yang perlu kita sepakati bersama.  Sampai di mana yang harus di share kepada umum dan pada bagian yang mana yang hanya bisa disimpan untuk diri sendiri atau pribadi sifatnya (Asep Haryono)

3 comments:

  1. aku justru mulai dari buku harian sebelum mulai ngeblog beberapa tahun yang lalu. Soalnya kalau dipikir aku ngga pernah curhat hal yang personal banget di buku.

    ReplyDelete
  2. Aku nulis buku harian, terus setelah lama pas baca kembali catatan harian lama saya rasanya sesuatu banget. Sudah banyak yang di lalui, banyak kisah, terus flas back. Seru.. sebelum ngeblog ya tulis diary heheb..

    ReplyDelete
  3. Saya juga punya buku catatan harian atau bisa juga di sebut diary waktu itu nulisnya pas jaman smp. dan baru kemaren ktmu pas beres-beres lemari saya baca lagi. dan subhanalahh.. saya sadar bahwa alay banget saya waktu ituu :D

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog