Jual Milagros disini
Loading...

Haruskah Angkutan Berbasis Online Dibubarkan?

Catatan Asep Haryono


Agak kuatir juga saya melihat tayangan beberapa Televisi Swsta yang merekam secara live demo besar besaran para Sopir Taxi yang pada intinya adalah menolak atau penolakan Taksi berbasis aplikasi online. 

Beberapa tayangan tersebut jelas mempertontonkan aksi anarkis yang berbuntut pada penyerangan satu sama lainnya. Kekuatiran saya adalah demontrasi ini menjadi tidak terkontrol, brutal dan menimbulkan korban jiwa.  Syukurlah sampai artikel opini ini saya naikkan di blog kesayangan saya, belum ada laporan jatuhnya korban jiwa.  Untuk sementara perasaan saya  tenang.


Saya memang bukan pakar transportasi apalagi pakar hukum yang tau pasal pasal. Saya hanya seorang warga biasa yang sering juga menggunakan angkutan umum baik Taksi resmi, maupun taksi berplat hitam bahan naik car rental pun sudah sering.  Apa yang saya sampaikan dalam artikel ini hanyalah pandangan atau OPINI saya saja.

Teknologi Tidak Bisa Dilarang

Sebagai ilustrasi, dulu saat saya masih menggunakan TELEGRAM di kantor Pos dan Giro Besar 1 Pontianak di era taun 1990 an yang lalu (Era jaman saya kuliah di semester I-red), Saya rasakan manfaatnya.  


Saya mengirim ucapan Hari Ulang Tahun, Hari Raya Idul Fitrie kepada kerabat dan handai taulan di Bekasi dan Jakarta selalu memakai telegram.   Kadang isinya "S.O.S" minta dikirimin duit melalui Wesel Pos.  Masih ingat kann Wesel Pos dan Telegram, produk Pos dan Giro?  Saya yakin sahabat masih ingat.

Nah kini saya nyaris sudah tidak pernah menggunakan Wesel Pos dan Wesel lagi sejak beberapa tahun yang lalu.  Dengan hadirnya Telepon Genggam hingga telepon pintar dengan fitur SMS (Short Message Service) nya sangat praktis dan lebih personal.  

Pager StarpOn yang perna booming di era taun 1993 an lalu kini juga sudah tidak terdengar lagi.  Semuanya sudah digantikan dengan hadirnya fitur SMS dalam perangkat mobile.  Itulah Teknologi yang disambut dengan suka cita oleh banyak masyarakat termasuk saya.   Ini hanya analogi saja.

Jadi jika merujuk soal persaingan usaha atau bisnis, seharusnya pihak POS dan GIRO melakukan gugatan atas hadirnya perangkat Handphone dengan fitur SMS nya itu.  

Sebab hadirnya fitur SMS pada perangkat mobile, kini nyaris saya tidak mendengar lagi orang pakai Telegram atau berkirim kabar darurat maupun tidak darurat.  Tapi ternyata tidak ada masalah bukan Justru POS dan GIRO kini menyesuaikan dirinya dengan meningkatkan kemampuan pelayanannya (service) kepada masyarakat di era Teknologi Informasi ini.

Contoh ekstrem lainnya adalah (maaf) dunia esek esek alias prositusi  Salah satu kasus yang fenomenal adalah tewasanya Deudeuh Tata Chubby yang dibunuh oleh pria yang mengencaninya  

Kasus ini sangat populer karena ada unsur Teknologi yang digunakan oleh si korban yang diduga kuat menggunakan Sosial Media untuk memasarkan dirinya kepada pelanggannya (maaf).  Jika dilihat dari persaingan "usaha", seharusnya (maaf) para penjaja kenikmatan yang menggunakan sosial media ini didemo sama penjaja seks konvensional.  Tapi nyatanya tidak atau jarang  terdengar bukan.   Apapun alasannya Teknologi tidak bisa dilarang, diatau dihentikan

Harus Dievalasi Secara Adil
Secara pribadi saya memang tidak pernah menggunakan jasa Taxi berbasis aplikasi online yang kini sedang menjadi target para demonstran besar besaran yang baru saja terjadi ini.  Saya belum pernah pakai Go-Jek online juga.

Namun secara prinsip saya sering menggunakan jasa angkutan umum baik yang Taksi Resmi, Taksi berplat hitam hingga mobil sewaan (rental)Secara geografis di kota Pontianak memang belum masuk Taxi berbasis aplikasi online ini.


Jaman sekarang apa pun bisa di online kan.  Bahkan peritel besar seperti Gramedia (toko Buku Gramedia) pun membangun website juga. Begitu juga dengan makanan siap saji seperti KFC yang juga ada versi digitalnya. 

Orang jualan tempe pun bisa dengan mudah menggunakan aplikasi online, dan memasarkan produknya dengan perangkat mobile berbasis internet seperti BBM, Instagram (IG), dan banyak lagi.   Teknologi memudkahkan kita semua.

Jadi jika alasan para demonstran menolak keberadaan Taxi berbasis aplikasi online dengan tuduhan menyabot "rezeki" atau "lahan" pelanggan (customer) adalah alasan yang patut ditertawakan.  Mengada ngada dan sangat kekanak kanakan. Di sinilah keunggulan Teknologi yang sangat mematikan mereka yang bersaing usaha masih bersifat tradisional.   Teknologi tidak bisa dijadikan kambing hitam atau alasan penolakan tersebut.

Saya sepakat dengan arahan Baoak Presiden Republik Indonesia, Ir H. Joko Widodo yang baru saja berkunjung ke Sanggau (Kalimantan Barat) kemarin dalam rangka peresmian Jembatan Tayan, agar Teknologi Taxi berbasis aplikasi Online ini agar dievaluasi secara adil.   

Saya sepakat dengan beliau.  Alasan saya juga sederhana, Pertama, teknologi tidak bisa dicegah atau dibendung. Kedua, bahwa permasalahannya harus duduk bersama baik dari pihak operator Taxi umum, Taxi Aplikasi Online, Menteri Perhubungan, MenKominfo, Gubernur  dan pihak yang terkait lain di dalamnya.  

Mari kita pecahkan perselisihan usaha antara Taxi apikasi online dengan Taksi atau angkutan umum konvensional.  Harus ada penyelesaian dan atau pengaturan yang adil tanpa ada satu pihak yang tersakiti. (Asep Haryono)


CEPAT : Begitu di order via Call Center Blue Bird nya, sang Taxi pun sudah nangkring di depan rumah.  Foto Asep Haryono
CEPAT : Begitu di order via Call Center Blue Bird nya, sang Taxi pun sudah

5 comments:

  1. tapi memang benar perkembangan teknologi tidak bisa di hentikan .. menurut saya transportasi online jika di hentikan berdampak kepada msyarakat yang biasa pakai transportasi online yang menurutnya lebih mudah cepat dan aman. lagian menurut saya yang online yang lebih aman terutama bagi pendatang yang belum terlalu tahu tentang jalan2 di ibu kota

    ReplyDelete
  2. nostalgia sekali, zaman dulu pake wesel pos untu kirim kartu lebaran :)

    ReplyDelete
  3. Kalau transportasi online menurut saya jangan dibubarkan karena digital menjadi pemasaran yang luas. Sehingga memungkinkan lebih banyak keuntungan. Cuma yang perlu ditingkatkan, gaji karyawannya, layanannya, sistemnya, dan lainnya. Semakin besar keuntungan pasti semakin besar tantangan yang akan didapatkan.

    Semoga aja masih ada ya pak, makasih.

    ReplyDelete
  4. contoh lainnya adalah matahari, ritel yang menjual berbagai produk fashion. kalau saja cara pikir mereka seperti para pendemo kemarin, mungkin mereka sudah mendemo Zalora, Lazada, dan sejenisnya. tapi yg terjadi justru Matahari Mall juga go online sekarang. andai saja para supir taxi itu paham, toh rejeki juga sudah ada yang memgatur.

    ReplyDelete
  5. Salam blogger, postingan yg bermanfaat. blogwalking sekalian silaturahmi :)

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog