Jual Milagros disini
Loading...

Kuta Adalah Kita : Lomba Blog Pegipegi

Catatan Asep Haryono

Bali adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki daya tarik yang sangat kuat untuk mendatangkan Wisatawan baik yang datang dari dalam negeri (DN) dan atau pun yang berasal dari mancanegara atau luar negeri (LN).   Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Bali menyebutkan bahwa Pertumbuhan Ekonomi Bali Tahun 2014 tumbuh 6,72 Persen lebih cepat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.  

Hal yang menggembirakan ini ditambah lagi dengan perkembangan pariwisata Bali Tahun 2014 Angka kedatangan Wisatawan Mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan Desember 2014 mencapai 347.370 orang dengan Wisman yang datang melalui Bandara Sebanyak 341.111 orang dan yang melalui pelabuhan laut sebesar 6.259 orang.  Jelas ini menunjukkan bahwa Bali bisa sangat berkembang lagi di Tahun 2015 ini.   

Pantai Kuta sebagai salah satu daerah wisata andalan Bali harus terus berbenah jika ingin Bali lebih maju lagi.  Untuk mengembangkan dan menata kawasan Pantai Kuta Bali mutlak menerlukan perencanaan dan pengelolaan pantai Kuta yang lebih profesional dengan tetap mengedepankan pengelolaan Obyek Wisata berwawasan lingkungan (Ecotourism).

Dari sinilah dituntut peran serta dan partisipasi aktif dari masyarakat sekitar Pantai Kuta (Warga Lokal), Pemerintah setempat dan juga peran para wisatawan itu sendiri


Pantai Kuta Harus Bersih
Untuk mencapai Pantai Kuta Bali sangatlah mudah sekali.  Kemudahan untuk mencapai Pantai Kuta Bali dimulai sejak pemesanan Tiket Pesawat yang banyak tersedia di Tempat Penjualan Resmi Tiket Pesawat di mana saja di seluruh Indonesia.  Berbagai penawaran dan harga yang menarik juga banyak di tawarkan oleh berbagai website resmi hotel , maupun penjualan Tiket Pesawat, blog pribadi hingga Agen penjualan Tiket Pesawat yang ada di hotel yang terdekat dengan lokasi wisatawan itu sendiri.

Persoalan kebersihan Pantai Kuta selalu menjadi perhatian bagi Pemerintah Kabupaten Badung yang bertanggung jawab terhadap kebersihan Pantai Kuta yang memang masuk dalam wilayah kendalinya.   Pengamatan penulis sendiri saat pertama kali menginjakkan kaki di Pantai Kuta pada tahun 2005 memang masih asri, masih bersih.  Pantai Kuta yang memang indah sangat menarik wisatawan yang datang menikmati matahari terbenam di sore hari. 

Wisatawan dalam hal ini yang memang datang berwisata ke Pantai Kuta tidak saja menikmati alam dan keindahan Pantai Kuta namun perlu juga diberikan pencerahan tanpa harus menggurui.  Betapa pentingnya membuang sampah pada tempat tempat yang sudah disediakan di sekitar Pantai Kuta misalnya.   Dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Badung dapat memberikan contoh teladan kepada para wisatawan baik dalam maupun luar negeri : Membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan.

Salah catu cara yang relatif cukup mudah adalah membuang tempat Sampah di berbagai sudut di areal Pantai Kuta yang bisa dijangkau oleh para wisatawan.  Jika sudah penuh wadah sampah itu,  maka Petugas Kebersihan yang sudah ditugaskan untuk membersihkan areal Pantai Kuta dari Sampah dalam menjalankan action nya.  Mengangkut tong tong sampah yang sudah penuh tadi untuk kembali kosong ditempat semula.      

Pemberlakuan Sanksi denda dengan nilai tinggi memang bukan satu satunya opsi yang harus diambil Pemerintah Kabupaten Badung untuk meminimalisir Wisatawan mancara negara dan domestik untuk tidak mengurangi kebiasaannya membuang sampah sembarang tempat.  Namun setidaknya sosialiasi "Kuta adalah Kita" bisa mencapai sasarannya. Pantai Kuta adalah (bukan saja) milik Kabupaten Badung Bali saja, tetapi milik seluruh Bangsa Indonesia.  Kita wajib menjaga Pantai Kuta bersih dari tumpukan sampah.


Jangan sampai terulang lagi Pantai Kuta bukan terkenal karena keindahan pantai dan ke elokkan Matahari Terbenamnya melainkan terkenal karena tumpukan sampahnya.  Ini memang pernah terjadi pada tahun  2014 yang lalu Pantai Kuta Bali penuh dengan tumpukan sampah dan mengganggu pemandangan wisatawan saat itu.   Beritanya pun sudah tersebar di beberapa blog, website dan jurnal di dalam dan di luar negeri. 


Pedagang Harus Berbahasa Asing
Pernah mendengar seorang supir Taksi yang pandai berbahasa Inggris, Tarnedi?   Kemampuannya dalam menggunakan Bahasa Inggris dalam melayani penumpang taksinya menjadi pembicaraan para Netizen.   Berbagai ulasan dari blogger,  bahkan wawancara dan videonya banyak beredar di YouTube.   Kemampuan Tarnedi, seorang Supir Taksi yang  tidak lulus SD namun lancar berbahasa Inggris sempat menjadi buah bibir di sosial media.  

Saya sendiri pernah melihat langsung saat berkunjung ke Pantai Kuta tahun 2007 yang lalu dimana saya melihat seorang pedagang Sopenir tarik menarik dengan 2 (dua) orang Wisatawan mancanegara (wisman).   Saya sendiri tidak tahu bahasa Asing apa yang mereka gunakan kalau dari aksennya seperti menggunakan Bahasa Italia.  Pedagang sopenir ini ternyata mampu "meluluhlantakkan" hati sang wisatawan asing itu dan membli produk sopenirnya.   Bagi saya pemandangan tersebut sangat menarik


Sudah bukan rahasia lagi bahwa keberadaan para pedagang asongan,  penjual sopenir dadakan ,  dan para penyedia jasa kebugaran di areal Pantai Kuta menjadi salah satu pemandangan tersendiri.  Dari sinilah jelas bahwa keberadaan Obyek Wisata Pantai Kuta yang sudah mendunia ini bak magnet yang sangat kuat untuk mengeruk recehan Dollar atau pundi pundi rupiah.

Usaha kreatif yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Pantai Kuta perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk laris manis nya "jualan" mereka.   Nyaris keberadaan para PKL dan pedagang asongan ini sangat mewarnai Pantai Kuta.   Peran apakah yang dapat diambil oleh Pemerintah Kabupaten Badung untuk meningkatkan peran serta para PKL, dan penjual makanan dan sopenir ini untuk mendongkrak kunjungan wisatawan datang ke Pantai Kuta?



  1. Peran Pemerintah Kabupaten Badung yang bertanggung jawab terhadap keberadaan Obyek Wisata dunia,  Pantai Kuta, dapat memberikan pembekalan Bahasa Asing minimal penguasaan Bahasa Inggris kepada para Pedagang Kali Lima (PKL),  penjual Makanan , Pedagang Sopenir dadakan hingga penyedia jasa kebugaran yang tampak jelas berada di kawasan obyek wisata Pantai Kuta.
  2. Bagi Wisatawan Mancanegara (wisman) dan Wisatawan Domestik (wisdom) sendiri dapat memberikan dukungan morilnya kepada masyarakat yang mempunyai usaha kreatif dengan aneka "jualan" nya tadi untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan Bahasa Asing dengan menjadi teman berbicara dan berlatih.



Penjual kaca Mata
Penjual Kaca Mata ini sangat diminati oleh wisatawan dalam negeri terutama anak remaja (ABG) yang memang senang bergaya di Pantai.   Foto Asep Haryono
Pedagang Asongan
Pedagang Asongan (penjual minuman)  ini sering terlihat di sepanjang Pantai Kuta.  Cukup memikat mata yang melihatnya terutama dari kaum adam.  Potensi mereka dalam memberi warna pada Obyek Wisata Pantai Kuta patut diperhitungkan   Foto Asep Haryono
Jasa Kebugaran
Penjual jasa kebugaran yang diambil gambarnya dari jarak jauh ini tampak sedang menjajakan "jasa" nya kepada turis asing yang sedang bersantai di pantai Kuta. Perlu ada regulasi yang mengatur jasa yang satu ini demi ketertibannya   Foto Asep Haryono

Yang saya sebut di atas adalah beberapa contoh kecil dari Pengelolaan Pantai Wisata Kuta dari sudut padang pengelolaan Wisata yang berwawasan lingkungan (Ecotourism) terutama dalam aspek Wisata Sosial dan aspek Wisata Pemandangan.


Secara tegas disebutkan bahwa Wisata Pemandangan itu sendiri , Pantai Kuta , menjadi sangat menarik dan menggoda wisatawan mancanegara (Wisman) dan Wisatawan Domestik (wisdom) untuk datang dan datang lagi menikmati "surga dunia" nya Bangsa Indonesia yang begitu dihormati di seluruh dunia melalui eksotisme Pantai Kuta.  



Masyarakat sekitar Pantai Kuta dengan beragam Ekonomi Kreatif yang dimilikinya perlu dibekali ketrampilan penguasaan Bahasa Asing yang dipandang  sebagai salah satu pelaksanaan daripada pendekatan Pengelolaan Wisata pantai Kuta yang berwawasan Linkungan (Ecotourism) dari sudut pandang Wisata Pendidikan.   Pemerintah Kabupaten Badung wajib memberikan edukasi dan melatih para PKL, pedagang asongan dan pelaku ekonomi masyarakat lainnya dengan penguasaan Bahasa Inggris.

Pantai Kuta yang bersih,  bebas dari tumpukan sampah, ditunjang dengan kemampuan mengelola dan memberdayakan ekonomi kreatif yang dimiliki oleh warga lokal (dalam hal ini masyarakat Pantai Kuta) untuk bersama sama Pemerintah Kabupaten Badung  menjaga, mengawal dan mengembangkan Pantai Kuta sebagai aset yang sangat tinggi nilainya dan sangat potensial untuk menyumbang pendapatan yang besar bagi Pemerintah Kabupaten Badung pada khususnya dan Pemerintah Republik Indonesia pada umumnya.   Kuta adalah Kita juga


Ecotourism Sebagai Catatan
Pantai Kuta dengan pembangunan segala aspek yang diperlukan sebagaimana yang sudah saya sebut di atas adalah contoh sebagian kecil saja dari pendekatan pelaksanaan Pengelolaan Wisata Pantai Kuta dengan konsep pengelolaan Wisata yang berwawasan Lingkungan (Ecotourism).

Masih ada beberapa catatan lainnya yang walaupun sudah agak menyimpang dari Pokok Bahasan mengenai Pengelolaan dan Penataan Wisata Pantai Kuta,  namun masih erat kaitannya dengan aspek pelayanan Kepariwisaatan Bali pada umumnya yakni menyangkut Wisata Kuliner,  Wisata Sejarah dan wisata Kebudayaan.   Ketiga unsur yang disebut terakhir masih terkait pada aspek pengelolaan Ecoutourism.  Seperti apa itu?

Dalam Kunjungan Penulis di Bali beberapa tahun yang lalu, sempat mampir ke salah satu Wilayah Wisata Pelestarian Alam dalam hal ini Wisata Hutan Mangrove yang juga sangat terkenal di Bali.    Hutan Mangrove atau  biasa kita kenal dengan istilah lainnya yang sanagt terkenal yakni kawasan  hutan bakau.  Fungsi utama dari keberadaan Hutan Bakau ini adalah untuk menahan gelombang air laut yang akan masuk ke daratan.

Lokasi Wisata ini, Hutan Mangrove,  sangat diminati oleh Wisatawan Dalam Negeri dan juga Wisatawan Asing.   Anak anak muda , pelajar hingga kepada kelompok pecinta Lingkungan juga banyak melakukan penelitian , research dan juga wisata budaya di kawasan ini.  Jangan salah, lokasi Wisata Hutan Bakau di Bali Selatan ini sangat cocok sebagai lokasi prewedding atau pencinta fotografi.  Luar biasa bukan.

Sayang sekali saat saya berkunjung ke kawasan Hutan Bakau ini tidak banyak menjumpai Papan Informasi yang siap bagi para pengunjungnya.   Tempat penjualan tiketnya yang terkesan "seadanya" sedapat mungkin diubah penampilannya.   Pemerintah setempat dapat memodernisasi lagi entrance gate (Pintu Masuk) ke kawasan Hutan Mangrove ini dengan sistim yang lebih baik walaupun tidak harus terkesan canggih bak peralatan militer.



Tket masuk Hutan Bakau
Untuk masuk ke kawasan Hutan Mangrove ini anda diminta membayar Harga tiket masuk sekitar Rp 5.000  per orang. Foto Asep Haryono
Makan
Rumah makan di luar kawasan Pantai Kuta ini cukup unik.  Harga makanan tertera dalam kartu plastik mirip ATM namun lebih tebal.  Ini unik.   Foto Asep Haryono
Penjaga Sopenir
Tidak jelas di sini.   Ini djual atau sekedar dipamerkan.  Tidak ada orang yang menjaga Toko Sopenir ini.  Wisatawan dapat menegur pengelolanya agar menyiapkan orang atau petugas untuk menjaga counter ini   Foto Asep Haryono


Bagian Penutup

Walaupun sudah sering berkunjung ke Kuta dari periode tahun 2005 - 2010, saya merasakan selalu saja ingin sekali datang dan datang lagi ke Kawasan Kuta.  Tidak saja ingin merasakan ke Elokkan Matahari Terbenam (Sunset) di Pantai Kuta yang konoin sangat indah itu.   Mengapa saya sebut demkian?  Karena saya sendiri belum pernah mendapatkan kesempatan untuk menikmati Sunset (Matahari Terbenam) di Pantai Kuta.

Berbagai Hotel sudah pernah saya rasakan selama kurun waktu kunjungan saya di Kuta selama periode itu, namun lagi lagi saya merasa "ada yang kurang" jika tidak melihat Pantai Kuta lagi.    Pernah suatu ketika ketika saya berjalan jalan di sekitar Pantai Kuta di suatu sore , saya melihat sepasng turis bule sedang kepedasan menikmati Rujak yang mereka beli di sekitar kawasan Pantai Kuta. 
"Chili is good" kata sang Turis Bule yang laki laki.   Saya sendiri kaget juga ternyata bukan hanya orang Indonesia saja yang gemar masakan bercita rasa pedas (hot), namun sensasi pedas ini juga amat disukai oleh turis turis asing.    

Mungkin Pemerintah Kabupaten Badung bisa membuat riset kesukaan atau preferensi Turis dalam hal Kuliner di Bali.   Orang bilang berwisata tanpa cuisine (masakan) terasa hampa.  Memang benar juga ya.  Saya sendiri kalau berwisata ke Bali pasti tidak akan melewatkan bagian yang tidak kalah penting dari sebuah Konsep Wisata yakni Makanan. 


Falun Dafa di Pantai Sanur
Fallun Gong atau Fallun Dafa saat pentas di lapangan Pantai Sanur sangat menarik perhatian wisatawan.  Foto Asep Haryono


Parade Kuta Bali 2007
Parade Street Kuta yang menyedot mata para pejalan kaki di sepanjang Pantai Kuta. Foto Asep Haryoni


Rumah Makan Muslim
Bagi wisman dan wisdom yang muslim tidak perlu kuatir saat berkunjung ke Bali.  Ada banyak rumah makan, warung dan kedai makanan yang menyediakan hidangan yang sesuai dengan keyakinan mereka.  Foto Asep Haryono

   
Pernah suatu ketika, ketika saya dan rombongan berjalan jalan di sepanjang jalan raya Kuta saat berlangsungnya Bali Carnival Kuta sekitar tahun 2005,  saya dan rombongan saat itu didatangi oleh pemuda berpakain gaul.  Topi dipasang terbalik, kaos Putih bergambar Pantai Kuta dan sepatu Kets dan memakai kaca mata hitam.    Anak muda yang ditaksir berusia ABG ini meminta beberapa lembar uang rupiah kepada kami untuk sekedar mengganjal perutnya siang itu.  Keren juga.  

Penampilan pren (Pengemis keren) seperti ini agak susah dibedakan dengan turis domestik lainnya yang berkunjung ke Pantai Kuta.  Satu hal yang unik menurut pandangan saya.  Tidak seperti tipikal pengemis peminta uang di jalanan di kota lainnya , penampilan mereka jauh terkesan kumuh bahkan cenderung modis dan gaya.  (Asep Haryono).

9 comments:

  1. beeeeeeh ,,,, asiknya klo bisa kesampean pergi diditu .... hehehe

    ReplyDelete
  2. Semoga kesampean Mas jalan sama Amrazing ke Kuta :)) Good luck!

    ReplyDelete
  3. Manteeeeeppp... jadi ngiler pengen ke Kuta

    ReplyDelete
  4. Ah selalu pengin pergi ke Bali. Semoga.. Amin..

    Btw, ini kalau menang diajakin ke Bali nggak, Kang Asep?

    ReplyDelete
  5. wah di Bali sekarang mulai ada pengemis toh?

    ReplyDelete
  6. Permasalahan pantai di Bali sekarang adalah sampah, jika musim-musim angin, banyak sampah yang berserakan dipantai

    ReplyDelete
  7. keren banget mah ini kang asep, sip markusip emang dirimu..selalu menghidupkan yg hidup :)

    ReplyDelete
  8. a nice post. perfectly. I'm interested in your article. This is very useful for me. I'm waiting for the next article. Thank you
    SEWA MOBIL SURABAYA

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog