Jual Milagros disini
Loading...

Wall Of Shame

Tag : Opini - Asep Haryono | Wall Of Shame - Powered by Blogger
Catatan Asep Haryono

Judulnya sengaja berbau bule, tapi artikelnya ditulis dalam Bahasa Indonesia. Gaya. Wall Of Shame ini merupakan plesetan dari Wall Of Fame yang konon sudah lazim di negara Paman Sam.  Wall of Fame yang penulis tahu adalah tanda lantai berlogo bintang untuk memonumenkan selebritis atas artis ternama atau terkenal dunia.   Namun Wall Of Shame ini kebalikannya yakni sebagai "etalase" atau "Monumen" dari orang orang yang berbuat kesalahan atau kekhilafan dalam dunia maya dipajang secara online dan disaksikan oleh ribuan bahkan jutaan pengunjung seantero jagat..

Mungkin maksud dan tujuannya baik. Yakni sebagai reminder atau pengingat bagi kita semuanya agar mereka mereka yang sudah melakukan kekeliruan, kesalahan atau kekhilafan yang di "pajang" secara online ini tidak terulang.   Orang orang yang bahkan tidak tau menahu duduk persoalannya, begitu melihat nama nama yang masuk dalam "Wall of Shame" ini mungkin akan terbawa emosi. Turut membencinya.   Mungkin agak susah untuk memahaminya.  Biarlah penulis coba gambarkan analoginya.

Dulu pernah ada penayangan para Koruptor di Televisi bukan?  Penulis sudah tidak ingat lagi pada tahun berapa program Penayangan wajah Koruptor di Televisi, namun penulis masih ingat tentunya.  Mereka mereka yang sudah divonis bersalah oleh Pengadilan, dan sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap di "pamerkan" atau "dipajang" di televisi   Mungkin dimaksudkan agar membuat efek jera, punishment dan dipermalukan. secara sanksi sosial  Sehingga orang orang akan berpikir dua kali jika ingin melakukan korupsi jika tidak ingin wajahya muncul di Televisi.  Nah begitulah analoginya.

Ini memang ironis  Di satu sisi Wall of Shame sebagai pelajaran berharga agar orang orang yang berbuat kesalahan, kekhilafan, dan kekeliruan yang di "pamerkan" secara online itu akan menjadi warning agar orang lain tidak menirukannya.    Namun di sisi yang lain Kesalahan, kekeliruan, dan kekhilafan adalah hal yang manusiawi sifatnya.  Siapakah di dunia ini yang tidak pernah sama sekali berbuat kesalahan, kekhilafan dan kekeliruan?. 

Penulis rasa tidak ada.   Setiap dari diri kita tentu pernah berbuat kesalahan, kekeliruan dan juga kekhilafan.   Konon kata orang kesalahan yang dilakukan seseorang memang bisa dimaafkan, namun tidak bisa dilupakan.   Kesalahan memang bisa dimaafkan namun tidak bisa dilupakan.   Lantas jika memang " tidak bisa dilupakan", tentu bukan sebuah justifikasi atau pembenaran untuk "memamerkan" atau "memajang" kesalahan atau aib orang lain.  

monyet malu
Gambar dari  setitikmendunia.wordpress.com

Orang berbuat kesalahan dan sudah disesalinya.  Sudah meminta maaf atas kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama, ya sudahlah.  Berilah maaf yang tulus.  Jangan lagi diungkit ungkit kesalahannya dengan meng capture (memajang) bukti bukti kesalahan yang dia lakukan dan memajangnya secara onlne untuk diketahui orang sejagat raya.   Jangan mempermalukan orang seperti itu.   Kasihan,  Orang orang yang tidak tau masalahnya begitu membaca "etalase" orang orang dengan catatan keburukannya jadi ikut membenci orang itu.   Ini berpotensi melanggar Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Pasal 27 ayat 1.
"Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)"

Jangan menebar kebencian seperti itu.   Seperti yang sudah penulis singgung di bagian awal tulisan ini bahwa orang berbuat salah, atau khilaf adalah hal yang manusiawi.  Kesalahan dan kekeliruan yang sudah disesalinya, dan sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa datang sudah lebih dari cukup     Memang (kesalahan) bisa dimaafkan namun tidak bisa dilupakan.   Dalam pemahaman penulis "tidak bisa dilupakan" ini bukan justifikasi (pembenaran) orang untuk terus menerus "memajang" orang lain beriku catatan keburukannya sebagai bahan tontonan.   Jangan menebar kebencian. (Asep Haryono).

24 comments:

  1. setuju kang....tapi kalau niatnya untuk diambil pelajarannya bagaimana kang terutama di dunia maya ?? misal, seperti mengcapt perkataan2 yg nyeleneh seperti status pathnya Dinda ttg ibu hamil dulu, atau Florence yg agak lebih baru skrg yg ndak mau antri SPBU, dan menyebarluaskannya di dunia maya supaya yg lain bisa mengambil pelajaran darinya. Toh sudah disebarluaskan pun masih banyak yg ndak perduli dan tidak mau belajar dari kesalahan orang lain (seperti florance yg ndak belajar dari kesalahan dinda dulu dgn status pathnya) apalagi kalau tidak ada yg menyebarkan untuk dijadikan contoh...karena rasanya berekspresi di dunia maya ini skrg sepertinya sudah sangat diluar kendali apalagi mungkin klau ndak diberi warning seperti itu *menanyakan yg sudah diterangkan di artikel biar makin dilema hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. untungnya saya bikin status cuman di efbi doangan, yang lain ngga punya...wall nya ge' isi artikel blog mulu...sampe ngga ada yang komentarin status saya....keren ngga sih?

      Delete
  2. Wall of shame, awalnya saya kira apa bangungan yg berdekatan dengan wall street kah?

    Trnyta monumen kesalahan.

    Sip Kang, Kesalahan memang bisa dimaafkan namun tidak bisa dilupakan tapi BUKAN pembenaran utk mendendam, juga sangat tidak patut untuk dijadikan amunisi serangan balik

    ReplyDelete
  3. Manusia tidak pernah luput dari khilaf dan salah, akan tetapi setidaknya ketika kita sadar akan kesalahan yang kita perbuat berusahalah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dimasa mendatang, kira-kira begitu kali ya kang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Marnes Kliker : Ya benar sekali. Kesalahan memang hal yang manusiawi,. Dinikmati saja dahulu kesalahan orang itu, Bukan malah mempertontonkannya di publik agar dapat hujatan rame rame. Itu sama saja menjelekkan orang didepan umum. Kita tentunya tidak mau dituduh menyebarkan kebencian bukan

      Delete
  4. Kayaknya belum cukup efek jeranya

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Vony Kuin : Iya ya bisa jadi kurang cukup keras buat efek jeranya. Tapi ya jangan dipajang terus kesalahan atau aib orang. Kasihan

      Delete
  5. Setujuuuu.... memaafkan lebih mudah ya pak, tapi melupakan kejadian atau peristiwa tsb yg sangat sulit sekali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya memang bukan hal yang mudah melupakan orang yang sudah melukai dan menyakiti hati kita, perasaan kita apalagi kalau sudah menyangkut Harga Diri. Namun kembali kepada diri sendiri,. Memaafkan lebih mulia,. Apalagi kalau oranh itu sudah memintaa maaf atas kesalahannya dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi ya sudah lah. Anggap saja persoalan sudah selsai

      Delete
  6. halo kang,,,kemana aja,,,bikin kangen nih nggak denger suaranya blasssss,,,sesibuk itu yaaaa,,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Dwiex'z Someo : Hahahah iya kah. Nanti saya rekaman suara di sini ya. Halooo hiehiehiheihee Kabar baik aja nih ALhamdulillah. Ya sibuk sibuk dikit lah mba

      Delete
    2. lebih sakit jika akang nggak menulis dan menghilang tanpa jejak,,,sakitnya tuh disini #nunjukhati :)

      Delete
  7. jika seluruh manusia dijagat ini kaya kakak tertua Yudistira seperti halnya kang asep ini, dunia akan menjadi sangat indah....kalau udah gituh, saya akan mengkorupsi duit rakyat ini sampe rakyatnya kelaparan...lalu saya akan menyerahkan diri ke KPK, lalu masuk penjara(yang bagaikan kamar hotel)...udah gituh...say minta maaf sambil nangis-nangis didepan kamera....beres kan pak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukankah banyak ditayangkan para koruptor yang telah divonis dan mempunyai kekuatan hukum yang tetap di tv...bukannya berkurang orang korupsi...malah jadi contoh dan ikutan melakukan....buinya kaya kamar hotel, kalo tengah malam pengen pergi ke Singapura dan atau nonton pertandingan tennis dunia...tinggal make kumis palsu....keluar penjara duit sisa hasil korupsinya masih bisa hidup kaya raya....saya juga kalau ada kesempatan...YAKIN saya akan memilih berprofesi sebagai KORUPSI....serius

      Delete
    2. @Cilembu thea : hahahah kayaknya gitu kali ya Mang Lembu. Itu yang jadi perhatian kita semuanya. Sudah dipajang wajahnya karena korupsi, bukannya pada jera, malah pelaku koruptor semakin bertambah baik kualitas dan kuantitasnya. EDI TANSIL aja sudah raib entah kemana mana

      Delete
  8. biarpun wajahnya terpampang di mana-mana kalau mukanya sudah setebal tembok juga tidak akan malu atau jera, khususnya buat para koruptor nih, mereka kan orang berpendidikan semua, pasti sudah memperhitungkan dengan matang segala yang diperbuatnya, jadi mau diapa-apain juga menurut saya nggak ngaruh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Kang Ucup: Nah itu dia nih. Kalau sudah ruusan mental payah juga ya Kalau mentalnya sudah senang sama korupsi, rasanya apa yang dimiliki juga tidak akan merasa cukup. Hiehiehe. Thanks udah mampir Kang Ucup. Mohon mangap eh maaf saya baru bisa hadir di sini

      Delete
  9. Gambarnya itu loh pak hehehe
    semoga tidak masuk daftarnya deh
    budaya malu perlu terus di lestarikan

    ReplyDelete
  10. Setuju sekali bg asep, kadangbanyak orang yang sudah bertobatpun masih mendapat hinaan, sehingga melemahkan orang tersebut.

    ReplyDelete
  11. betul pak
    tidak boleh itu yang namanya sara
    kalo saru sih ok ok saja...

    ReplyDelete
  12. Silsilah senang melihat keburukan dan kesalahan orang ..kadang sering lupa buat intropeksi ya pak :)

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog