Jual Milagros disini
Loading...

Tiap Generasi Memang Berbeda

jam
Gambar dari www.jendelasastra.com
Catatan Asep Haryono

Seakan sudah menjadi sunatullah bahwa setiap makhluk yang namanya Manusia akan menjadi tua, dan setiap dari diri kita tentu akan merasakan masa masa itu.  Sekadar menoleh ke belakang dari pertama kali kita dilahirkan ke dunia ini oleh ibunda kita, tentu kita akan menangis karenanya, dan orang orang yang menyaksikan kita lahir ke dunia tentu akan tertawa dan tersenyum karena tangis nakal kita.

Tentu hal ini akan berbeda jauh saat kita kelak kembali kepada sang pencipta, Allah SWT, semua orang yang menyaksikan kita diturunkan ke dalam tempat peristirahatan terakhir akan menangis, dan berlinangan air mata. 

Tulisan pendek ini ditujukan untuk diri saya sendiri sebagai cerminan diri untuk lebih bijak dalam menata hidup, mengisi waktu dan juga beramal kebajikan. Namun apakah arti semua ini, dan apa hikmah dari masa tua yang cepat atau lambat akan segera kita masuki masa masa (tua) itu

Saya sendiri merasakan, dan begitu banyak catatan kesalahan , kekhilafan, kekurangan, serta kekeliruan yang saya lakukan sejak usia kanak kanak dan mungkin sudah pada sampai saat pada sekarang ini.  Banyak sudah catatan dan lembaran hitam yang saya torehkan dan menjadi catatan yang amat berharga, dan tidak mungkin saya lupakan sampai akhir hayat.  Dengan menikah, sunnah Rasul , yang saya lakukan pada tanggal 11 Desember 2008 dan sudah menghadirkan sepasang buah hati yang lucu dan manis mengoyak hati saya terdalam ternyata bahwa masih ada "PR" yang belum saya tuntaskan.

Separuh dalam dalam diri ini menjadi tanda tanya besar akan diapakan hingga di usia senja saya nanti, karena begitu banyak "pekerjaan rumah" , kebajikan, kebaikan, dan amanah yang belum sempat saya tunaikan sejak masa SD, SMP, SMA , Kuliah , Menikah dan hingga sekarang ini. 

Kita semua tahu bahwa yang namanya rezeki, dan maut memang hak preogratif Allah SWT, dan kita tidak pernah tau kapan dan dimana manusia itu "ditarik" dari peredarannya di dunia ini.  Kita mungkin boleh terkekeh kekeh akan keberhasilan karir, dan mapannya rezeki yang berlimpah yang Allah SWT percayakan kepada kita, namun tidakkah kita sadari bahwa dari Harta itulah sebenarnya ada bagian orang lain.  Ada hak orang lain. 

Sedekah misalnya.  Akankah harta mampu menolong kita nanti di akhirat?.  Saya bukan ahli agama, dan pengetahuan saya tentang agama Islam sangat dangkal.  Saya rasa harta juga bisa dijadikan "jembatan" yang bisa membantu kita "menyeberangi" dunia ke Syurga dengan memanfaatkan harta untuk kebaikan, membangun Masjid, Membantu fakir miskin, dan lain sebagainya. Banyak cara untuk bisa bersedekah, bahkan tanpa harta sekalipun. Menyingkirkan onak dan duri dari jalanan juga merupakan amalan dan sodakoh yang luar biasa.

Setiap generasi memandang berbeda tentang usia tua ini, tidak jarang dari para "senior" (Baca : orang dewasa) kita memandang hari tua adalah hari saatnya lebih "bandel" baik dalam hal urusan keduniaan maupun urusan kepentingan pribadi lainnya, dan tidak sadar diri kalaw usianya sudah tidak muda lagi. 

Lupa diri, dan lupa memikirkan masa depan biasanya menjadi ciri dari para orang tua sekarang ini, dan sepatutnya model orang tua seperti itu tidak layak menjadi panutan kita yang saat ini calon menjadi orang tua.  Kita boleh saja menganggap selalu muda dalam artian semangat, visi membangun dan visi berkarya , namun tetaplah akan menjadi usia lanjut dari segi fisik, karena setiap tahun usia manusia akan berkurang 1 tahun.


Sebagai penutup tulisan amburadul ini, saya mencoba mengingatkan kepada diri saya sendiri untuk segera sadar diri, jangan lupa diri, dan bersiap untuk memanfaatkan sebaik mungkin masa waktu yang tersisa.   Beberapa catatan cita cita, harapan dan impian yang membuncah dalam dada semoga akan tetap menjadi bara dalam dada untuk terus bekerja keras mewujudkannya kelak di masa yang akan datang.  It's just matter of time, hanya persoalan waktu saja. (Asep Haryono)

5 comments:

  1. bener banget, generasi saya dengan generasi anak abg sekarang memang beda, dulu saya waktu SD, belum pernah pegang hape dan laptop, tapi anak sekarang sudah lihai semua :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Zaman mbak Ririn dulu lihai bikin surat..., zaman abg sekarang lihai bikin sms...hehehe.

      Delete
  2. Satu lagi mas Asep, tugas kita masih belum selesai untuk membangun dan mengantarkan anak-anak kita untuk menggapai masa depannya yang lebih cerah daripada kita.

    Artikel ini juga telah mengingatkan saya agar lebih arif dan bijaksana dalam menjalani (sisa) hidup ini. Terima kasih mas. Sangat Inspiratif...

    ReplyDelete
  3. terimakasih mas asep, catatan yang membuat kita membuka mata ditengah hiruk pikuk era jadul hihihi

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog