Jual Milagros disini
Loading...

Betapa Sulitnya Memberantas Korupsi

Catatan Asep Haryono

Sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu musuh nomor satu di Indonesia adalah Korupsi.  Sudah berbagai macam usaha sudah dilakukan oleh pemerintah untuk memberantas Korupsi yang sudah membudaya di republik tercinta ini.  Hukuman yang setimpal pun sudah banyak memakan "korban" baik dari kalangan parta politik tertentu, pemuka masyarakat, pejabat negara, kepala daerah setingkat pamong, Bupati, hingga kepada kelompok terkecil di masyarakat kita.  Korupsi sepertinya tidak mudah diberantas untuk saat ini namun juga tidak ada yang tidak mungkin untuk diberangus hingga ke akar akarnya.


Tumpukan Uang
ILUSTRASI : Ini hanyalah ilustrasi saja,.  Gambar dari Internet
Apa sebenarnya yang melatar belakangi seseorang melakukan tindakan korupsi? Apa motif seseorang melakukan tindakan korupsi?  Apakah ingin cepat kaya , atau menumpuk kekayaan sebanyak banyaknya dengan cara yang sesingkat singkatnya?.  Bagaimana cara mencegah atau menutup celah terjadinya korupsi di Indonesia?  Dari sederet pertanyaan pertanyaan tersebut di atas, siapakah yang dapat menajwabnya?.  Langkah apa yang seharusnya kita lakukan agar korupsi tidak terus terjadi di Indonesia?  Perlukah sanksi yang lebih berat lagi diberlakukan kepada pelaku korupsi ini?

Suatu ketika salah seorang kenalan penulis bilang kalau korupsi boleh bolej saja asal jangan banyak banyak.  Sontak kalimat rekan penulis itu mengundang tawa.  Sekilas memang remeh remeh saja ucapan rekan penulis tersebut.   Namun jika dicermati secara logika tentu saja tidak masuk akal.  Korupsi sekecil apa pun suatu saat pasti akan diketahui karena ada sistim audit rutin yang dilakukan oleh suatu lembaga, perusahaan atau bahkan oleh Negara sekalipun.   Jangan karena urusan yang dianggap remeh remeh saja seperti urusan tinta pemilu, cepat atau lambat pasti akan ketauan juga. 


Bayangkan urusan tinta memang hal yang remeh.  Tapi kalau Tintanya untuk kegiatan pencoblosan Pilpres kemarin dikalikan dengan beribu ribu bahkan jutaan TPS (Tempat Pemungutan Suara) tentu jumlahnya banyak sekali.  

Lantas dari deretan pertanyaan yang penulis singgung di atas, salahs atu pertanyaan yang menggoda adalah "Tidak cukupkah dengan apa yang sudah dimiliki sekarang ini hingga masih mau melakukan Korupsi"?.   Tidak habis pikir juga.  Sudah memiliki Posisi dan jabatan yang penting,  mendapat gaji yang sangat layak,  fasilitas yang lengkap, keluarga yang harmonis, namun masih dirasa kurang juga.    Mental mental seperti ini yang selalu merongrong kita semuanya.  

Gaji yang tinggi tidak serta merta menutup hasrat duniawi manusia yang tidak akan pernah merasa puas dengan harta yang dimilikinya.  Manusiawi memang sifatnya.  Hal yang wajar saja sebenarnya orang ingin memperoleh melebihi apa yang dimilikinya saat ini.   Yang jadi persoalan adalah caranya itu.   Jika untuk memperkaya diri dilakukan dengan cara cara melanggar hukum seperti korupsi bukan saja diancam hukuman pidana dan perdata sesuai dengan Undang Undang Tindak Pidana Korupsi  melainkan juga dampak bagi keluarga , sahabat dan kerabatnya.

Bagaimana dengan perasaan anak anaknya yang mungkin saat ini sedang sekolah di SD, SMP atau bahkan sedang kuliah.  Rasa malu yang tidak terhingga sudah pasti juga akan mereka rasakan.  Sudah pasti anak anak mereka akan turut menanggung malu karena sang Ayah mendekam di Penjara karena tindakan korupsi yang dilakukannya.  Anak anak mereka tentu akan mendapat sorotan dari masyarakat.  Mereka akan tertekan dan pada akhirnya pindah sekolah ke tempat lain.    Jadi keluarga juga turut menanggung malu.  

Bahkan dalam bidang yang paling sakral sekalipun seperti Departemen Agama yang urusannya sama TUHAN YANG MAHA ESA juga tidak luput oleh "bancakan" korupsi.   Habis sudah akal kita untuk memberantas korupsi di Indonesia.  Pemerintah sendiri seperti kebingungan bagaimana menghabisi dan mencegah tindak korupsi di Indonesia.  Kita bersyukur bahwa benteng terakhir memberangus Korupsi masih tegar yakni Komisi Pemberantaan Korupsi (KPK).  Mari kita support dan beri dukungan sepenuhnya kepada pejuang Komisi Pemberantaan Korupsi (KPK) agar tetap fight mencegah agar Korupsi tidak berulang terjadi  (Asep Haryono).

15 comments:

  1. itulah kenapa korupsi lebih kejam dari pembunuhan, karena ia bisa membunuh karakter banyak orang, bukan hanya keluarganya juga banyak orang lain yang terdholimi karenanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Kang Pakies : Iya bener bangeds Kang Pakies. Geram juga saya. Negara ini bisa ambruk ekonominya kalau uang rakyat dijadikan "bancakan" sama Koruptor. Harusnya dihukum berat tuh koruptor. Apa perlu wacana Hukuman mati Koruptor kembali dicanangkan lagi?

      Delete
  2. Pelan tapi pasti om

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya sudah kaya lagu KOTAK aja ya. Judulnya Pelan Pelan Saja
      Hiehiheiheiheee

      Delete
  3. artiekl yang bermanfaat.semoga korupsi bisa di berantas agar tidak ada lagi orang yang terdholimi akibat para koruptor

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang sudah ketahuan dan di sidang,. ya hukum seberatnya. Tinggal yang belum terjadi, harus DICEGAH agar jangan terjadi korupsi

      Delete
  4. Andai setiap kita memulai mengikis habis kebiasaan-kebiasaan berkorupsi, semisal korupsi jam kerja, mungkin kelak kita menjadi asing dgn kata 'korupsi', ya, Mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Irham Sya'roni : Nah nah ini dia nih. Saya aja sering banged "korupsi" waktu whahahahaa. Memang kebiasaan seperti ini harus mulai dari hal yang kecil dulu, dari diri sendiri

      Delete
  5. "korupsi boleh boleh saja asal jangan banyak-banyak"... bagaimana bisa tuh, manusia kan punya sifat yang tidak ada puasnya, kalau korupsi kecil-kecilan berjalan mulus, pasti akan dilanjutkan pada level yang lebih tinggi dan begitu seterusnya dan baru berhenti apabila sudah ketahuan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barangkali hukuman untuk para koruptor belum setimpal kali, ya mas?

      Delete
  6. Korupsi mau besar atau kecil tetap aja salah, ya. Jadi lebih baik JANGAN! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheh benar bangeds mba. Sepakat

      Delete
  7. kalau ngomong tentang korupsi, saya sering emosi, kang........ rasanya sampai pengen makan piring.. HUH !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar,, Sabarr. Piring jangan dimakan
      Disop aja. Enak biar segerrr

      Delete
  8. aku lelah,,,,soalnya kanan kiriku spt begituan,,,mau curcol takutnya ntar dikira fitnah,,,

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog