Jual Milagros disini
Loading...

Bapak Penjual Mainan Pesawat

Catatan Asep Haryono

Dalam perjalanan dari Bandara Ahmad Yani Semarang menuju Salatiga guna mengikuti Local Leadership Day II, dalam kendaraan mobil yang membawa saya tersebut saya melihat seorang penjual mainan anak anak.  Dari balik kaca mobil dari kejauhan memang sudah terlihat agak jelas bapak penjual ini sedang in action.  Menawarkan dagangannya lewat pintu kaca mobil satu ke mobil lainnya di saat sedang macet atau sedang berada di lampu merah.  Bukannya menaruh curiga atau berprasangka buruk, namun hati hati memang tidak ada buruknya. Jadi saya melihat bapak penjual mainan tersebut dari balik kaca mobil saja.

Saya sempat mengambil gambar Bapak penjual mainan anak anak tersebut dengan menggunakan Kamera saku Pocket Camera Nikon Coolpix 12 piksel jadul kesayangan saya.  Hanya ada 2 (dua) jepretan saja yang saya bagikan di sini.  

siapakahdia
PENJUAL :  Sekilas seperti penjual mainan anak anak. Di jepret dalam mobil saat menuju Salatiga dari Bandara Ahmad Yani Semarang (4 Maret 2014). Foto Asep Haryono
nah jelas
JELAS:  Jelas sudah vapak penjualnya. Mainan pesawat anak anak  Di jepret dalam mobil saat menuju Salatiga dari Bandara Ahmad Yani Semarang (4 Maret 2014). Foto Asep Haryono

Banyak anak anak yang suka dengan mainan pesawat terbang atau kapal kapalan.  Nah sebutan "kapal" dalam pengertian anak anak adalah pesawat terbang, pesawat yang ada sayapnya dan bisa terbang ke udara.  Beda tentu dengan pemahaman orang dewasa yang lebih paham maksud kapal adalah ship atau boat yakni moda yang berjalan mengambang di atas permukaan air mengangkut penumpang atau barang.  Misalnya Kapal Titanic, Kapal Tampomas, Kapal Kota Silat, Kapal Sirimau, Kapal Lawit.   Jadi jika anak menyebut "kapal" biasanya para orang tua paham maksud si anak yakni pesawat terbang.

Anak anak saya (kebetulan) suka dengan mainan pesawat terbang apa aja bentuknya baik yang dari plastik maupun berbentuk balon gas yang berbentuk yang sama. Untuk balon gas berbentuk yang lucu lucu misalnya DoraEmon, Sponge Bob, dan lain lain itu dibandrol dengan harga antara Rp.10.000,- (Sepuluh Ribu Rupiah) hingga Rp.15.000,- (lima belas ribu rupiah).  Namanya juga anak anak, biasanya permainan yang disukainya itu sifatnya "musiman" sesuai dengan tingkatan umurnya. Dulu waktu kecil senangnya main mobil mobilan lama lama bosan dan beralih ke mainan yang lain.    Senangnya masa anak anak ya. (Asep Haryono).

35 comments:

  1. Intinya apa nih Kang? senang mainannya ya...??? hehehehe....

    Pertamax dulu ah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. intinya kapalnya bakalan terbang ke salatiga

      Delete
    2. @SmuaInfo : Wajajaj Eh wahaha iya selamat selamat PERTAMAX sudah berhasil di GONDOl dengan gegap gempita ya

      @zachflazz : Hiheiheie ih jadi malu. *mlorotin celana*

      Delete
    3. ohh jadi bener ya Kang Salatiganya terbang? plorotin lag

      Delete
  2. harga yang cuma 10 ribu ya kang, kebayang nggak kita disuruh bikin mainan kayak gitu lalu dikasih upah 10 ribu. mau nggak ya kita kira-kira?

    ReplyDelete
    Replies
    1. nyoblos aja harganya 50 ribu ya mas

      Delete
    2. @zachflazz : Wahahah itu sih "Kerja Rodi" donk namanya, Cuma capek di badan aja. Hasilnya tidak seberapa. Harusnya ada sedikit keuntungan yang didapat jadinya tidak rugi waktu dan tenaga

      @Thanjawa Arif : Wahahaha, Nyoblos apa tuuu kena 50 ribu?

      Delete
    3. nyoblos duit gambar pak WR Supratman kan

      Delete
  3. Sebuah perjuangan seorang Ayah demi menghidupi anak
    Dan keluarganya ya Pak Asep, sungguh Fotret yang bisa
    Sebagai sosok Ayah yang mau berusaha, salam santun Pak Asep :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inti sebenarnya ini ya hehehehe, sepakat Mas Saud :)

      Delete
    2. @Saud Karrysta : Iya terima kasih. Itulah kehidupan yang harus kita jalani, Seorang Ayah yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dengan berjualan mainan anak anak. Semoga Allah SWT membuka pintu rezeki yang seluas luasnya untuk bapak tersebut, dan untuk kita semua juga Amin. Agar keluarga kita semuanya tercukupi sanda dan materinya. Allah Maha Kaya

      Delete
    3. @Yobert Parai : Apa ya. Saya biarkan saja deh para pemirsah (pengunjung) untuk mengintepretasikan dan menafsirkannya sendiri hihihhi. Tentu pandangan yang satu berbeda dengan yang lainnya

      Delete
    4. Perjuangan dan Pengorbanan seorang Ayah sangat Luhur dan takan
      Ternilai oleh apapun, bagaiman tidak sejak saya masih dalam kandungan
      Ayah sudah menghidupi dengan mencari Nafkah untuk keluarganya
      Setelah saya besar, patutkah kita tak Menghargai jasa/Perjuanganya
      Salam Hormatku pada Ayah namun saya sedih Ayah lebih dulu meninggalkan Saya, sebelum saya membayar semua hutang jasa dan pengorbananya Pak Asep. makasih sudah mengingatkan saya pada Ayah

      Delete
  4. Kalau kata orang Jawa, kapal terbang adalah "motor mabur". :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Muhammad Lutfi Hakim : Oh ya kah? Wah ahahaha Sip sip, Thanks Menambah kosa kata perbendaharaan Bahasa Jawa nih buat saya hieiehehiee. Soalnya saya taunya beberapa kosa kata Bahasa Jawa aja yang saya hafal luar kepala seperti "ngelih", "Pinten regone| hihihhii

      Delete
  5. Aku main congklak aja lahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. @poedjie : Heheh iya dulu juga saya suka maen conklak. Kalau nda salah pake kerang kerangan ya sebagai biji buat dimainkannya

      Delete
  6. jualan dengan model seperti itu ada tidak ya mas yang beli

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Thanjawa Arif : Wah itu relatif juga yah. Saya sendiri kadang sering membeli mainan di pinggir jalan. Berhenti dulu motornya , menepi dan membeli. Biasanya sih bentuknya Balon Iya balon gas kan banyak dijual dipinggir jalan. Seringnya sih beli Balon Gas :)))

      Delete
    2. iya sih mas takutnya ketika belum bayar padahal barang sudah dipegang eh ternyata lampu sudah hijau

      Delete
  7. jadi mulai sekarang jangan menyebut pesawat terbang dengan kapal terbang.
    saat kecil sukanya main mobil-mobilan, kalau udah besar sukanya main mobil beneran. kalau bisa sampai guling-guling di jalan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Haris Luqman Hakim : Hehiehiheie benerr benerrrrrrr

      Delete
  8. iya tuh saya juga sewaktu kecil sempat bingung yang mana kapal yang mana pesawat :p

    ReplyDelete
  9. jadi ingat kenangan masa kecil nih mas.masa2dimana cuman rasa ceria yg ada nggak ada beban

    ReplyDelete
  10. Kunjungan siang Pak Asep, kembali simak sebuah Figur sosok
    Seorang ayah yang sedang peras keringat banting tulang untuk
    Buah hati tercintanya agar hidup layak, dengan bermodal kemampuan
    Seadanya, atau berjualan Mainan Pesawat, sang Ayah tak merasakan
    Panas dan guyuran hujan, demi anak dan keluarganya. kita bisa ambil
    Renungan dari fotret yang Pak Asep posting ini, sebagai Renungan kita semua :)

    ReplyDelete
  11. lumayan mas kalau dibeli, melancarkan rejeki orang yang jualan pesawat...

    bapaknya jualan pesawat-pesawatan...
    ayo berdoa, semoga anak si bapat itu bisa jualan pesawat beneran... amin...

    ReplyDelete
  12. kang asep mau dong dibeliin kapal-kapalan hhi

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya nggak ahh, maunya klepon ajah

      Delete
  13. sungguh luar biasa sekali ya pak perjuangan bapak penjual tersebut, patut untuk di apresiasi yang tinggi ;)

    ReplyDelete
  14. Menjual tidak pada tempatnya itu berbahaya ya kang. Namun mau jualan dimana lagi lawong pemerintah tidak menyediakan tempat untuk berjualan hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. tul mas bisa-bisa dikejar trantib, kasihan kan

      Delete
    2. @Mas Nady : Ini juga sering menjadi isu juga. Disisi lain katanya pemerintah sudah merelokasi tempat jualan atau para pedagang, di sisi yang lain juga usulan relokasi ini dianggap menjauhkan dengan pelanggan Lokasi dagang baru (lokasi relokasi) jauh dari pelanggan

      @Thanjawa Arif : Iya TIBUM

      Delete
  15. Salut banget sama bapak itu, meski panas tapi beliau tetap semangat menjual dagangannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Elfrida Chania : Iya benar. Tetap semangadssssss ya HIhihihihi

      Delete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog