Jual Milagros disini
Loading...

Pengalaman Terpeleset Saat Naik Motor


Oleh Asep Haryono

Dikehidupan kita sehari hari sering sekali dihadapkan pada dinamika kehidupan yang tidak menentu entah itu berupa perjuangan hidup , hubungan pertemanan, urusan jodoh , rumah tangga, hingga kepada urusan kepemerintahan dan kenegaraan. Semuanya itu menimbulkan dinamika yang bergerak amat cepat sehingga membutuhkan kesabaran dan juga ketabahan dalam menghadapinya.

Berbagai cara dilakukan agar semua permasalahan itu bisa diatasi dengan tanpa harus menimbulkan masalah yang baru. Demikian juga cara masing masing individu dalam menyelesaikan permasalahan hidup juga beraneka ragam dan tidak sedikit dari mereka mendapatkan bantuan dan pertolongan dari orang atau pihak lain. Hidup memang penuh dinamika, dan kewajiban dari kita semua adalah bagaimana memaknai hidup yang hanya satu kali periode saja di dunia ini bisa bermanfaat baik untuk dirinya sendiri, lingkungannya, maupun bagi agama, bangsa dan negaranya.

Tulisan saya kali ini mencoba menceritakan dari pengalaman empiris sehari hari yang bisa menjadi pelajaran berharga buat diri saya sendiri, dan mungkin juga bisa menjadi inspirasi bagi pihak lain yakni menghargai hal hal yang remeh dan kecil.

Abstraksi dari postingan kali ini adalah sebaiknya kita tidak lagi meremehkan hal yang kecil karena bisa membuat kesulitan dalam hidup atau menjatuhkan wibawa dan citra. Apakah hal hal yang remeh tersebut tentu berbeda antara satu orang dengan orang yang lain, dan pengalaman menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami seseorang bisa jadi sama atau berbeda dengan orang lain

Tersandung Batu Kecil
Ini bukan kiasan, tetapi memang kenyataan yang kadang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kenyataan yang sebenarnya.  Banyak pepatah atau kiasan lama yang menyebutkan "orang terpeleset bukan karena batu yang besar melainkan kerikil yang kecil", nah kiasan seperti ini sepertinya dalam kasus saya adalah kebalikannya. Jangan meremehkan batu yang besar karena begitu besarnya sampai anda tidak melihatnya, dan karena ini pula saya babak belur dibuatnya. Kenapa bisa?  Karena kejadiannya minggu kemarin pada tanggal  Rabu 6 Juni lalu tangan dan kaki saya lecet dibuatnya.

Tangan saya seperti diparut. Foto Asep Haryono
Saat itu  ketika saya mengantar anak saya, Abbie Muhammad Furqan Haryono (Hampir 5 thn usianya-red) ke sekolahnya di bilangan Jalan Ahmad Yani Pontianak,  saya dan abbie yang  satu motor Honda Supra Fit KB 3815 HY keluaran tahun jadoel 2005 lalu memasuki gerbang sekolah tersebut.

Kami pun langsung menuju halaman parkir yang terletak di sebelah kanan yang sering dipakai anak anak untuk bermain bola dan acara bazaar.  Walaupun kendaraan yang kami pacu berkecepatan sangat rendah sekitar 20 Km perjam, namun karena saya tidak konsentrasi dalam mengendarai motor tersebut, saya tidak melihat ada sebongkah batu lebih besar dari ukuran bola kasti terlindas oleh ban depan motor sata, akibatnya saya terjatuh, dan juga Abbie.

Alhamdulillah Abbie baik baik saja karena tubuhnya terlindungi oleh kedua kaki, dan tangan saya yang melindungi kepala Abbie dari benturan batu di bawahnya karena motor kami tersebut menyenggol atau mungkin tepatnya menabrak sang batu dan motor tumbang ke arah kanan dan dua batu yang ukuranya lebih besar sudah siap "menyambut" dua tubuh yang akan menimpanya.  

Alhasil siku atau tepatnya dibawah lengan saya (lihat gambar-red) terparut batu dan tergores, juga dengan kaki.    Dalam foto sudah tampak warna keemasan, karena saya tidak ke dokter tetapi menggunakan obat praktis BETADINE (wah nyebut sponsor neh, bayar donk DIN, maksudnya BETADINE hehee-red).

"Kok ayah nabrak ya, ayah nda hati hati sih" kata Abbie sambil mengusap baju siku baju olah raganya (Hari Rabu saat accident itu memang memakai jadualnya baju olah raga-red). Ucapan lugu dari anak saya itu seperti menggetok kepala saya dengan palu godam.

Lebih sakit rasanya di dada daripada nyeri dan perih yang saya alami karena bawah tangan saya luka tergores gores kena Batu dan berdarah.   Suatu masukan tepatnya koreksi dan kritikan seperti pisau yang menghujam di ulu hati saya mendengarnya. Jujur diakui saat itu saya tidak konsentrasi karena memperhatikan motor lain yang diparkir orang seperti menghalangi motor kami memasuki halaman parkir.


MELENGKUNG.  Coba lihat lingkarang warna merah, nah itulah akibat dari benturan yang  saya alami, dan pedal rem belakang melengkung ke belakang.  Foto hak Cipta Asep Haryono


Saat itu (yang saya ingat) kedua mata saya full melihat orang yang sedang mengeluarkan motor dari parkir untuk keluar dan mau memotong jalur masuk motor saya ke parkir itu, dan ternyata saya tidak segera melihat ke depan sehingga menabrak batu ukuran besar itu tadi. "Iya nih ayah tidak hati hati" kata ku sekedarnya menjawab pertanyaan abbie tadi.

Saya pun bangkit menaikkan motor yang tumbang, dan menyandarkannya, dan tidak lupa membersihkan kaos Olah Raga Abbie dari debu tanah. dan saya pun reflek memeriksa tangan, siku dan wajah Abbie yang tidak tergores sedikitpun. Setelah yakin juga saya mengalami sedikit goresan di tangan dan nyeri di balik kaus kaki (tepatnya mata kaki yang juga tergores-red), saya melihat pedal rem belakang motor saya yang "babak belur" yang saya sudah posting gambarnya. "Wah ini sih serius nih bisa bisa pulang ke rumah tanpa pake rem belakang nih waduuh" gerutu saya dalam hati saat itu.


Masuk Bengkel
Saya pun bangkit menaikkan motor yang tumbang, dan menyandarkannya, dan tidak lupa membersihkan kaos Olah Raga Abbie dari debu tanah. dan saya pun reflek memeriksa tangan, siku dan wajah Abbie yang tidak tergores sedikitpun. Lega rasanya setelah yakin Abbie is just fine and safe. 

Saya tidak menyadari kalaw tiba tiba datang nyeri dan saya liat darah mulai menetes dari tangan saya. Tangan saya seperti kena parutan kepala eh kelapa.  Akibat lain dari impact ini adalah pedal rem belakang saya yang melengkung ke Belakang sehingga hari itu praktis saya pulang dan antar jemput dari Sekolah- Gajah Mada-Rumah di Duta Bandara, tidak menggunakan rem belakang, dan hanya mengandalkan rem depan dan mengurangi kecepatan.

Saya pun menjemput ABbie kembali setelah jam sekolahnya usai hari itu dan terus terang saja sungguh tidak nyaman mengendari kendaraan dengan fungsi keamanan seperti REM yang sangat vital menjaga kita selama berkendaraan NOL fungsinya, tidak aktif.  Was was dan kuatir menyertai saat itu saat mengantar Abbie ke rumah pulang, di kawasan Ahmad Yani dan A Yani II Supadio yang cukup ramai, dan padat dengan kendaraan roda dua dan roda tidak dua itu. Saya pun bergegas menuju Bengkel Motor yang ada di pinggiran jalan.  Motor saya diterima abang Bengkelnya. Sebut saja abang Bengkelnya bernama Bang Aban.

"BangAban, tolong donk benerin pedal rem depan saya tadi terjatuh" kata saya sambil memarkir motor dan menyandarkannya di bengkel itu.


Dan tidak menunggu lama setelah Abang Bengkel mendengar "curhat" saya, langsunglah lelaki berperawakan agak kurus dan berkulit bersih ini dengan sigap dan cetakan eh cekatan memeriksa fisik kendaraan motor saya dan mendapati pedal rem belakang saya memang melengkung ke Belakang "wah ini juga rusak nih putaran dengan rodanya, mau diganti gak? Kalaw mau 30 ribu" kata Bang Aban.  Saya pun mengiyakan saja daripada motor nda bisa jalan karena bagi saya motor seperti "nyawa kedua" yang berfungsi penting buat ke kantor dan antar anak ke sekolah 



CEKATAN.
Lain emang kalaw sudah ahli betulin motor, ya namanya juga bengkel ya harus donk. Bang Aban memeriksa dan membetulkan pedal rem belakang motor saya dan dalam hitungan kurang dari 5 menit beres sudah urusannya.  Photo Hak Cipta Asep Haryono


AFTERMATH
: Nah lihat hasilnya daddaaa........:)).  Beres  sudah dan pedal rem belakang saya sudah berhasil difungsikan kembali. Nyaman berkendaraan dengan fungsi rem aktif.  Photo Hak Cipta Asep Haryono



Akhirnya singkat cerita selesai sudah diperbaiki, dan pedal rem belakang motor saya sudah full dan aktif kembali seperti sedia kala walaupun kondisinya tidak utuh lagi dan kurang nyaman juga, tapi tidak apa saya rasakan juga hari itu sudah cukup memadai.  Bang Aban menawarkan untuk menggantinya dengan yang baru namun saya bilang nanti aja padahal saat itu uangdisaku memang tidak cukup. Kalaw bilang nda punya uang kan tengsin juga, ya Jaim Jaim dikit lah kalaw kita nda punya cukup uang saat itu hehehehe

Dari pengalaman berharga inilah saya mencoba menarik suatu hikmah buat diri saya sendiri bahwa hal hal sepele seperti yang saya alami ini seharusnya tidak boleh saya ignore, underestimate atau menganggap sepi karena bisa jadi akan berakibat fatal dan mengganggu kelancaran aktifitas keseharian saya di rumah. 

Hal hal  yang besar lainnya juga sebaiknya harus saya perhatikan seperti mengganti OLIE, dan dan merawat atau servis rutin kendaraan saya di bengkel AHASS terdekat atau juga bengkel lainnya.   Dalam tulisan lain saya akan coba tuliskan pengalaman saya lainnya seputar keselamatan dalam berkendaraan dari pengalaman saya sehari hari. Semoga bermanfaat dan mencerahkan buat rekan rekan semuanya. Thanks for reading this.  (Asep Haryono)

41 comments:

  1. setor muka doang
    lanjut besok mau tidur dulu
    yuk ah mariii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiheiheiee . Hiehie Ya ya selamat berjuang dalam tidur nya heihehiehiee

      Delete
    2. udah bangun ini
      tapi komennya besok aja ya
      mau tidur lagi...

      *sambit pedal

      Delete
    3. sambit pedal bonus kangkung

      Delete
  2. Waduh, hati2 yahhh bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya terima kasih. Insya Allah

      Delete
  3. iya Pak, kadang hal sepele bisa berakibat fatal dalam berkendara. selain itu, faktor kebiasaan juga bisa memicu kelalaian.

    btw, bapak-bapak harus naik motor dulu biar tangannya kayak diparut ya, sedang ibu-ibu, tiap masak sayur kuah santan, jarinya sering betul-betul terparut...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya hieiehiee. Alhamdulillah. Ya tentu saya akan terus hati hati. Untuk memarut kelapa juga saya sering kena parut jua

      Delete
    2. tuh pak dengerin...
      kalo cuma pengen diparut gausah jauh jauh naik motor. ke dapur aja naik parut juga bisa...

      Delete
  4. semoga cepet sembuh ya lukanya mas.

    ReplyDelete
  5. Semoga tidak terjadi lagi ya. Dengerin tuh nasehatnya Abbie. Semoga cepat pulih lukanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima Kasih mba Niken
      Alhamdulillah sudah sehat :)

      Delete
  6. jangan dilihat ukuran kerikilnya, kalau memang mau jatuh mesti jatuh kog, krn semua sdh dituliskan oleh sang pencipta pak, yg penting tdk apa2x, semoga lecetnya lekas sembuh..aamin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mga Iis. Terima Kasih

      Delete
    2. makanya gausah makan pak
      kalo belum masanya mati, ga bakal mati kok...

      Delete
  7. Musibah atau takdir memang tidak ada yang tahu ya, usahakan selalu berdzikir ayah dalam aktivitas kita sehari - hari untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masukan yang menyejukkan. Alhamdulillah
      Terima kasih

      Delete
    2. mau dzikir mau doa kalo mau jatuh mah jatuh aja kali pak...

      Delete
  8. Waduh sampai segitunya kang, hati-hati dong kang, salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya terima kasih. Insya Allah

      Delete
  9. alhamdulillah semua selamat kang, kata orang jawa blahi slamet.
    hal kecil kebiasaan kecil dalam berkendara memang menjadi pemicu, tapi namanya juga celaka kita juga tidak mau, datangnya aja tiba tiba

    ReplyDelete
    Replies
    1. bagaikan hujan di tengah malam

      Delete
  10. Pengalaman yang sangat menarik dan bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua agar dalam mengendarai sepeda motor harus berhati-hati. Tidak perlu kebut-kebutan. Karena kita pasti sampai pada tempat tujuan. Paling bedanya adalah selisih waktu saja. Thanks pak atas sharing nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tuh kan, kalo nggak ada parutan, pake sharingan

      Delete
    2. @Wahyu Eka Prasetiyarini : Iya terima kasih. Insya Allah saya akan berhati hati lagi. HIehiheiheiheiheiehiehiee.

      @zachflazz : Wah mau bikin KLEPON nih

      Delete
  11. saya juga pernah waktu baru belajar naik motor

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya kah. Hieiheie.
      Sama donk ya
      Tosssssssssss

      Delete
  12. alhamdulillaah hanya segitu ya Kang

    tapi nggak papa Kang, kan cowoq, harus macho dong. ehh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haihaiha. Jadi harus babak belur dulu baru dibilang jantan ya hiehihiehiheiiee

      Delete
    2. kalo babak belur sampe ga bisa bangun, masih jantan juga gak..?

      Delete
  13. Semoga cepat sehat dan sembuh Pak lukanya semoga ini jadi pelajaran bagi kita agar selalu fokus dan konsentrasi terhadap apa yang hendak kita lakukan dan kerjakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah berkat doa Abang Abed Saragih, sudah sehat seperti sediakala. Terima kasih

      Delete
  14. Saya juga pernah mengalami hal serupa pak, sampai kaki dijahit. Waspada dan konsentrasi kata bang napi. Yang penting anak selamat dan sehat. Urusan motor serahkan sama pegadaian,eits tukang bengkel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sampai dijahit? Wah merinding juga membayangkannya dijahit seperti menjahit pakaian ya. Wahieiehehe. Pegadaian disebut, wah iklan hieiehiehiheiehiehiehe

      Delete
  15. Untungnya hanya terparut sedikit. Semoga lain waktu bisa lebih hati-hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima Kasih. Saya akan lebih berhati hati lagi. Insya Allah :))

      Delete
  16. untunglah tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada diri Abi dan kang Asep sendiri, semoga cepet sembuh ya kang

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog