Jual Milagros disini
Loading...

Hargai Privacy Orang Lain - Netiquette

Gambar dari ductlat.blogspot.com -
Catatan Asep Haryono

Netiquette yang disederhanakan oleh Pakar Internet kenamaan Indonesia Mas Onno Purwo sebagai Internet Sehat memang sering dilupakan orang.  Sudah banyak ditulis diberbagai media sosial, tulisan dalam blog maupun di media cetak dan online yang membahas definisi, batasan dan cakupan daripada Netiquette ini.

Kalau dulu saya sering membaca tulisan tulisan blogger tentang Netiquette beserta dampak buruk dan negatifnya, kini saya sendiri yang harus mengalami dan menjadi korban daripada Netiquette ini. Ironi memang. 

Sering memberi informasi betapa pentingnya menerapkan "internet sehat" atau Netiquette ini kepada orang lain, justru diri sendiri menjadi korban dari Netiquette ini.  Mengharukan memang. Walau terkesan pengulangan dari tulisan tulisan orang yang sudah ada, namun apa yang saya tulis di bawah ini adalah real berdasarkan pengalaman sebenarnya yang saya alami
  1. Pernah Dituduh Plagiator
    Ini berdasarkan kisah nyata yang saya alami sendiri beberapa tahun yang lalu. Mungkin sekitar tahhun 2008 sampai dengan tahun 2010 kira kira.  Persis waktunya saya sudah tidak ingat lagi.  Pernah suatu ketika dalam website pribadi saya saya menceritakan tentang ERLANGGA II, salah satu pusat perbelanjaan dan spot souvenir terkenal di Denpasar, Bali. 

    Saya waktu itu terburu buru untuk menyelesaikan artikelnya, dan ternyata saya kekurangan bahan. Lalu saya browse di Internet dan mendapati salah satu situs web pribadi yang juga membahas hal yang sama yakni ERLANGGA II.  Saya pun mengcopy paste satu paragraf yang berisi profil singkat ERLANGGA yang dia tulis sebagai bahan pelengkap artikel saya.

    Begitu artikel itu publish, tiba tiba datang sebuah email yang berisi kata yang tidak sedap didengar atau dibaca dari si pemlik aseli artikel yang saya copy paste.  Dia marah besar karena artikel yang dia tulis sama persis dengan yang ada dalam tulisan saya.  Ini namanya saya "tertangkap basah" oleh pemiliknya.  Saya pun habis dibantai di sosial media termasuk diantaranya di Twitter.   Dia tulis aktifitas plagiat saya di sosial media lengkap dengan skrinsotnya. 

    Saya pun segera mengontak pemilik aseli artikel yang saya copy paste tersebut dan menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf.  Artikel yang bermasalah itupun saya turunkan, dan diganti dengan tulisan saya sendiri.   Nah dari sini saya mendapatkan banyak pelajaran berharga bahwa menulis dengan hasil keringat sendiri itu tidak gampang.  Pengalaman adalah guru yang baik.  Saya akui pernah melakukan kesalahan, dan saya tau kesalahan saya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
  2. Nama Perusahaan dipake orang di Twitter
    Sudah lengkap saya bahas dalam 2 (dua) tulisan saya sebelumnya yakni "Akun Twitter @pontianakpost bukan MILIK harian Pontianak Post"  dan "Belajar Dari Kasus Pemakaian Nama Orang Lain Di Twitter".   Jadi kawan kawan jika ada waktu silahkan membaca 2 (dua) tulisan saya tersebut.

    Namun pada intinya adalah nama perusahaan saya Koran Pontianak Post ternyata sama persis dengan pemlik akun @pontianakpost di Twitter.   Masyarakat luas yang memfollow akun Twitter @pontianapost tentu berasumsi bahwa inilah akun Twitter resmi Koran Pontianak Post. Padahal akun resmi Pontianak Post adalah @PontianakPostOL  dan bukan @pontianakpost seperti yang sedang berlangsung saat ini.
    Gambar Illustrasi diambil dari cybercenter.blogdetik.com


    Saya sudah menghubungi pemilik akun Twitter @pontianakpost untuk segera menggantinya dengan nama website miliknya sendiri. Namun tidak ada tanggapan.  Begitupula dengan postingan postingan yang di publish oleh pemilik akun @pontianakpost bukan mengarah kepada situs website resmi koran Pontianak Post melainkan ke website lain.  Bukankah ini namanya membingungkan masyarakat?  Informasi menjadi bias. 

    Kalau saya pernah berbuat salah dengan melakukan aktifitas Illegal dengan meng copy paste milik orang lain, dan saya segera sadar dengan kesalahan itu. Saya langsung minta maaf dan menurunkan artikel yang bermasalah dan berjanji tidak akan mengulanginya.   Sedangkan untuk kasus pemakaian nama perusahaan saya yang dipake oleh orang lain di Twitter adalah perbuatan yang salah.  Sampai sekarang akun Twitter @pontianakpost itu masih berkibar seolah olah mengejek  kami dan menganggap remeh kami.   

    Mengutip kata dari St Agustin yang mengatakan "Keliru itu manusiawi, tetapi bersikeras mempertahankan pendapat yang salah ialah seperti SETAN"

67 comments:

  1. setor muka dulu sebelum menghilang jurnalnya :D

    ReplyDelete
  2. tanggapin santai saja lah. kita kadang lupa bahwa di dunia sudah sangat sulit untuk membuat sesuatu yang original. semua sudah dibuat orang. yang bisa kita lakukan hanyalah mengolah data yang ada, dicampur-campur atau ditambah opini pribadi.

    copas tulisan orang atau sekedar mengambil idenya untuk kita ketik pakai bahasa sendiri, secara prinsip sama saja. jadilah netter dewasa yang tak suka meributkan hal hal kaya gitu.

    energinya mending dipake buat nulis yang baru ketimbang dipake gontok gontokan. etika ini itu lupakan sajalah. manusia selalu ada yang baik dan buruk tak akan hilang sampai akhir jaman.

    kecuali aku riset sendiri bikin ubi berdaun sirih terus pak asep yang mematenkan, baru itu namanya ngajak pelorot pelorotan celana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. menghapus komen juga tindakan yang kejam, pak
      haha...

      Delete
    2. Menurut saya, etika nomor satu yang dinomor duakan mas. Etika gak boleh dilupakan, karena adanya ketilah maka kita saling menghargai. Namun ya gak bisa dipungkiri juga toh, ini dunia maya, apa pun bisa terjadi. Memang benar, tak perlu diributkan, tapi kalo menyangkut nama branding /merek/label/-perusahaan- ya tegas saja :)

      Delete
    3. Saya sependapat dengan Mas Rawins. Saya rasa tidak ada yang gontok gontokan di sini. Saya sepakat kita semua adalah pengguna internet dewasa yang sudah tau mana yang baik dan mana yang kurang baik.

      Memakai nama perusahaan orang lain untuk mendongkrak popularitasya adalah perbuatan tidak baik. Semua orang pada umumnya tidak akan suka jika nama perusahaan dipake oleh perusahaan lain tanpa izin. Apakah ini disebut dengan pelanggaran hak cipta (branding)? Apakah ini disebut dengan pencatutan nama perusahaan? Biarlah masyarakat yang menilainya.

      Delete
    4. haha pak
      aku komenin poin pertama doang. keasyikan sampe poin kedua kelewat. tapi udah aku jawab di jurnal sebelah kok.

      soal etika emang bener kalo itu kita terapkan ke diri sendiri. yang aku maksud lupakan saja itu kalo punya kita dicomot orang.

      ga bakalan komenin komen ilang lagi ah. tar ilang juga. hahaha

      Delete
    5. Hiheiheihee
      Iya saya pun pernah mengalami hal yang sama. Nama website pribadi saya di www.asepharyono.com juga permah dibajak orang lain. Malah dipake jadi nama komputer di amerika. Saya tungguin sampai expire tuh dari WHOISnya, dan langsung saya rebut kembali. Hiheiheiheihiehiee

      Delete
    6. ya, pada bener semua

      Delete
    7. nah kalau komen nya begini kan bacanya juga ademmm

      Delete
    8. brrrrrrr.. saking ademnya sampai saya kedinginan nih, pak

      Delete
    9. sudah disimpulkan belum, sambli ngulu sukun rebus

      Delete
    10. pinter semuanya....
      aku bangga punya temen2 yang pinter2 dan ganteng2.

      top

      Delete
    11. kalo ngganteng kan anggota KPK aja bukan

      Delete
    12. saya ikuta hadir.. kayaknya seru nih kolom.

      tinggal dikit nih kolom ancur..wkwkwk

      Delete
    13. Hhahahshahaha bisa aja Bli.
      Wahahahhahaa

      Delete
  3. Artinya, memang banyak cara yang dilakukan manusia untuk mendapat kepopuleran, ini hanya pendapat saya, ketika akunya sudah mendapat banyak follower, secara perlahan akan diubah menjadi twitter resmi (aslinya), perusahaan siapa, owner siapa dll.
    Atauu.. bisa-bisa saja hanya sekedar bermain-main saja dengan sosmed. Ini hanya dugaan saya ya kang.

    Yang jelas, siapa yang menanam dia yang akan menuai. Jika memang yang pelaku tadi profesional, maka akan menyelesaikan dengan kepala dingin, dengan prinsip win-win solution. Perushaan senang dan si pemilik akun twitter juga senang.

    Kalo win-lose solutionya, cukup buat liris laporan saja ke bagian komunikasi dan infformasi Indonesia, dengan bantuan mereka, maka developer Twitter akan menghapus akun yang palsu tadi kang .
    Hanya itu menurut isi kepala saya kang :) hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya rasa ini usul yang baik sekali. Saya sudah mempertimbangkan untuk mengambil langkah taktis dengan menghubungi developer dan pemilik Twitter secara langsung melalui surat resmi di negara asalnya.

      Namun demikian langkah ini sebagai upaya terakhir jika solusi damai dan win win solution blum bisa tecapai. Saya masih harus berdiskusi dahulu dengan kawan kawan lainnya agar langkah selanjutnya bisa dipersiapkan dengan baik dan dengan resiko terukur

      Delete
    2. sabar aja pak, saya juga pernah merasakan hal yang sama , kalo di tanggapi sedemikian serius malahan bikin kita pusing pak,saya juga pernah ada orang yang copas seluruh isi dari blog saya , pas saya omongin orang nya , lah malah marah2 balik , semenjak itu saya tanggapi dengan diam saja

      Delete
    3. Wah saya juga setuju sama usulannya Mas Apri Aldi. Langkah awal memang kita harus diskusikan permasalahan ini baik-baik dengan pihak yang bersangkutan. Kalau memang tidak ada respon atau malah kita dicuekin, kita ambil langkah terakhir, yakni meminta pihak Twitter untuk menghapus akun tersebut :)

      Semoga cepat kelar pak masalahnya :)

      Delete
    4. Saya emang sepakat dengan usulan kawan kawan. Ini masih menunggu tanggapan resmi dari pemilik akun yang mengatas namakan nama perusahaan kami "pontianak post" yang dipake mereka dengan nama Twitter @pontianakpost

      Jika tidak mendapat tanggapan dari pemilik akun tersebut pun, saya masih harus mendiskusikan lagi upaya atau langkah berikutnya teradap pemilik akun tersebut. Apa pun sikap atau langkah yang kami lakukan harus berdasarkan musyararah bersama

      Delete
  4. Kenapa dulu pontianak post bikin akun twitternya ada tambahan OL. itulah dunia maya,tak ada batas waktunya. Tapi semua waktu yang mengujinya. Siapa yang benar akan kuat bertahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin ditambahin OL karena username yang asli tidak bisa digunakan karena suda ada yang makek duluan pak :)

      Delete
    2. Saya rasa nama akun Twitter @pontianakpost sudah lebih dahulu direbut oknum tersebut. Kami sudah menghubungi pemilik akun tersebut untuk segera mengganti atau membuat nama yang JANGAN SAMA atau jangan PERSIS SAMA dengan nama perusahaan kami "pontianak post".

      Mengenai sikap kami selanjutnya terhadap pemilik akun yang mengatas namakan perusahaan kami ini masih dalam tahap pembahasan. Ada beberapa opsi yang mungkin akan diambil.

      Salah satunya adalah kemunggkinan akan menyurati atau mengontak Twitter dan KOMINFO atas dugaan pencatutan atau pemakain nama branding. Semoga keberatan kami ini dikabulkan dan nama akun @pontianakpost ini bisa dibekukan, dan dikembalikan kepada kami

      Delete
    3. saya setuju dengan pak Asep... lanjutkan ya pak, semoga yang meresahkan twitter @pontianakpost bisa di masukan kotak..

      Delete
    4. Kami sedang mendiskusikan langkah dan upaya selanjutnya mengenai pencatutan nama branding perusahaan kami ini. Insya Allah akan segera terealisir dalam waktu dekat

      Delete
  5. ngeri ada kata Setan di akhir tulisan. setan kan hantu ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha hiehiehiehie

      Delete
    2. bukan mas tapi Dibeset dalemnya ketan hihihih

      Delete
    3. itu lemper apa hamburger?

      Delete
  6. wah kalo begini namanya lempar batu sembunyi tangan ya kang, tidak gentleman, kalo mau bikin akun ya pake nama sendiri saya gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar sekali. Keliatan dari profil akun twitter @pontianakpost yang tidak mau mencantumkan URL Aseli websitenya malah menggunakan SHORTCUT.

      Postingannya pun bukan mengarah kepada website resmi Pontianak Post tetapi malah dilarikan ke website yang lain. Bukankah ini membingungkan masyarakat jadinya?

      Masyarakat luas yang memfollow akun Twitter @pontianapost tentu berasumsi bahwa inilah akun Twitter resmi Koran Pontianak Post. Padahal akun resmi Pontianak Post adalah @PontianakPostOL dan bukan @pontianakpost

      Delete
  7. berhubung saya tidak bisa komen karena mau komen sudah ada yang persis yang saya pikirkan ... menurut sayah mah siapa yang menanam ubi itu yang pasti memanennya, dan siapa yang menanam nanas itu juga yang bakal memanennya ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @mangyono : HIheiehiehiehiee. Iya benar sekali. Sekali nanas tetap nanas. Ngomong ngomong soal NANAS, salah satu grup perusahaan juga sudah ada loh pabrik nanas konsentrat di daerah Rasau.

      Delete
  8. Izin membaca saja ya pak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Tati. Selamat menyimak dan membaca artikel yang saya tulis ini. Semoga bisa menambah pengetahuan, dan berbagipengalaman dan pencerahan

      Delete
  9. pelajaran yg sangat berharga ya pak..bisa lbh hati2 lg ke depannya.. tetep semangat :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Enny. Ini adalah situasi yang sedang terjadi sekarang ini. Masih dicari upaya damai atau mungkin WIN WIN SOlutionnya

      Delete
  10. mesti komenku gak nyambung....
    ah sebodo teuing,yg penting gak mlorotin clana disini...
    takut nyaingi adminnya...hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Reo Adam : Ini bisa jadi trademark atau ciri kawan kawan KPK. mas Rawins sama Tower dan artikel cewek cewek seksi dan bohay dalam setiap artikelnya, Mba Una dengan kecup Basahnya, Kang Lembu dengan Ubinya, Bang Zachflazz dengan KLEPON nya. Saya dengan mlorotin celananya

      Delete
  11. untuk masalah nettiket point pertama, saya setuju jika ada blog yang menuliskan kembali ke versi masing-masing atau bahasa masing-masing. Toh sumber info itu kan satu, sedangkan kepala orang kan beda-beda, ada yang pinter nulis, bahasanya bagus, baku ada yang bahasanya morat marit kayak saya. itu wajar. tapi kalau full kopas, ya itu yang tidak gentle.

    point kedua, saya tidak bisa urun rembug kang, saya belum berpengalaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Agus Setya : Sebenarnya kejadian aselinya saya sudah edit dnegan bahasa saya sendiri, dengan merubah di sana sini namun tetap aja "ketauan" sama si pemilik aselinya. Kasusnya sudah lama. Sudah tidak ada masalah lagi. Namun saat kejadian itu rame di pembicaraan di Twitter tentang ini.

      Kalau urusan yang lain tentu berpengalaman donk bang Agus hhieiehiheiehe. Kalau bole tau pengalaman apa tuuu. Hayuuuuuuuu

      Delete
    2. pengalaman menangkap yuyu kangkang di kali, hehehehehe

      Delete
  12. ijin Kang, blognya saya foto ya, buat ilustrasi di postingan saya.

    ReplyDelete
  13. syukurlah, selama ini saya belum pernah bermasalah dengan masalah copas atau sebagainya, karena dalam penulisan artikel masih menggunakan ide pribadi meskipun terbatas pada pola pikir dan pengetahuan saya yang masih dangkal :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mas Imam bersahaja, dan berkualitas artikelnya. Merendah nih. Justru saya yang nulisnya nda beres dan sampai sekarang masih banyak kekurangan di sana sini hiheihiehiheheiee

      Delete
  14. memang pengalaman itu besar harganya, ini akan selalu menjadi pelajaran bagi kita semua dari Pak Asep :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Terima Kasih. Mari kita semua belajar dan berbagi bersama sama

      Delete
  15. Saya mah..percaya kalo kang Asep selalu bisa tegar... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Terima Kasih mas Budi os 19

      Delete
  16. itu nama Pontianak Post punya hak paten kan Kang?

    semoga masalahnya cepet terselesaikan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Bli. Perusahaan kami sah dan berbadan hukum. Keputusan sudah dibuat.Kami sedang menyurati KOMINFO di Jakarta guna meminta penyelesaian masalah pencatutan branding ini. Langkah selanjutnya adalah melaporkan kepada Twitter agar nama akun @pontianakpost ini dibekukan dan dikembalikan kepada kami

      Delete
  17. wah semoga nggak terulang lagi ya pak, dan mengenai internet sehat rasanya semakin sulit saja melindungi anak di bawah umur yang sudah aktif mengakses internet dari bahaya cyber bullying.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi hi. Terima kasih sudah memberikan masukan yang baik sekali, dan patut dilaksanakan oleh para orang tua untuk mengawasi aktifitas internet anak anaknya. Saya sangat berterima kasih atas masukannya. Salam

      Delete
  18. pengalaman yg pertama sangat berharga mas,,, dituduh plagiator. Dengan begitu kita menjadi pintar. Sejelek apapun tulisan kita akan lebih berharga krn akan membuat kita menjadi diri sendiri.

    Nb: skrg saya klu cari informasi tambahan pasti saya tulis pakai gaya bahasa sendiri, hehehe :)
    krn saya juga pernah kena damprat sprti pengalaman mas Asep Haryono yg nmr 1 diatas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar sekali mba Indri. Sekali saja kena Damprat si pemilik aselinya rasanya kapok dah. Malunya itu tu. Kejelekan kita diumbar dan disebar kemana mana sama si empunya di sosial media. Pelajaran yang sangat berharga, dan semoga tdak terulang lagi besok dan seterusnya

      Delete
  19. apasih susahnya ganti nama,gitu aja kok repet
    daripada-daripad ya kang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas. Saya juga nda mengerti. Pemilik akun itu sudah dihubungi namun tidak memberi tanggapan. Kami sudah merundingkan dengan kawan kawan redaksi untuk membawa kasus dugaan pencatutan nama perusahaan kami ini kepada KOMINFO di Jakarta. Selanjutnya akan dibawake TWITTER

      Delete
  20. moga cepat selesai peemasalahannya kang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kami sudah merundingkan dengan kawan kawan redaksi untuk membawa kasus dugaan pencatutan nama perusahaan kami ini kepada KOMINFO di Jakarta. Selanjutnya akan dibawake TWITTER. Semoga kasus ini segera selesai dengan baik tanpa ada satu pihak yang tersakiti

      Delete
  21. Pengalaman yg berharga ya, terima kasih sudah sharing. Semoga kasus yg kedua, bisa cepat selesai, dan org yg menggunakan akun tsb menyadari kesalahannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar sekali mba Santi Dewi. Saat ini masih sedang dibahas lagi mengenai sikap dan langkah selanjutnya dengan pemilik akun tersebut. Sekedar meluruskan informasi saja karena layak dan perlu diketahui masyarakat akan tidak tersesat

      Delete
  22. Jadi ingat loh kang, masalah saya dulu, artikel saya di copas full sama orang dan tanpa cantumin sumbernya -_- kesel juga tuh. Sekarang kecolongan lagi soal video, tapi ya setidaknya ada pelajaran untuk tidak kecolongan lagi dalam hal-hal lainnya :)

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog