Jual Milagros disini
Loading...

Belajar dari Kasus Pemakaian Nama Orang Lain Di Twitter

Gambar dari internet
Catatan Asep Haryono

Membajak tidak hanya untuk sawah saja. Membajak atau dalam bahasa kerennya "pirate" ini memang sudah lazim di dunia maya.  Tadi malam kalau tidak salah di TV ONE ada acara diskusi yang sangat memikat bagi para praktisi sosmed (sosial media).  Di acara itu dibahas aspek aspek hukum dan kemungkinan memberikan sanksi Pidana dalam sosial media.

Ada banyak tokoh yang hadir itu. Dan yang mungkin menarik perhatian adalah hadirnya Pengacara kondang berwajah ganteng berkulit putih mas Farhat Abbas.  Saya suka dengan beliau karena kontroversi hati eh salah maksudnya kontroversi ucapan dan "nyanyian" nya di Twitter yang menghebohkan.

Dalam dunia blogging juga isu pembajakan ini sudah lama santer. Mungkin masih saudara sama Plagiator alias tukang copy paste hak milik intelektual orang lain dan dianggap sebagai hasil karya miliknya.  Isu copy paste hasil karya orang lain dalam blogging sudah lama ada.  Sejak jaman kuda gigit Dunkin Donat sampai gigit Ubi sekarang ini isu ini akan terus bergulir seperti bola yang ditendang oleh Kapten Timnas dalam menjaringkan Gol ke gawang lawan.

Seperti yang sudah saya tulis dalam tulisan saya kemarin yang berisi dan berjudul "Akun Twitter @pontianakpost itu BUKAN Milik harian Pontianak Post".  Ini adalah hal yang sedang terjadi. Seperti dalam paparan tulisan saya kemarin itu sejauh ini belum ada pernyataan atau sikap resmi dari kawan kawan di jajaran Redaksi atas isu ini.  Saya sendiri juga akan mendiskusikan langkah selanjutnya atas  dugaan "pembajakan" nama harian Pontianak Post yang dipakai oleh pemilik akun Twitter @pontianakpost ini.   Jadi untuk sementara biarlah si pemilik akun @pontianakpost itu menikmati ketenaran nama Harian Pontianak Post untuk memperbanyak followernya.  

Intropeksi Diri Sendiri
Ini sudah jelas sekali bagi saya pribadi.  WAR memang tidak perlu ada.  Berperang atau berseteru di Sosial Media adalah  sangat tidak santun.  Saling mengejek, menjelekkan nama orang lain, mendeskriditkan nama orang lain bukan tipe kami.  Juga bukan tipe saya. 

Adalah pantangan besar bagi saya untuk menjatuhkan orang lain di Sosial Media. Soal dugaan pelanggaran hak intelektual nama perusahaan Pontianak Post yang dijadikan nama akun twitter milik orang lain yang memakai nama yang sama dengan perusahaan Pontianak Postsejauh ini juga tidak bisa disebut demikian.  Saya melihatnya bukan sebagai "pembajakan" atau "pencatutan" akun Twitter.

Kalau diibaratkan adalah seperti ada dua anak kecil yang sedang bermain di sebuah taman. Salah satu anak menemukan cincin emas. Sedangkan satu anak lain tidak tau, bahkan dia sedang bermain main di tempat lain. Si anak yang menemukan cincin emas ini sudah pasti akan memiliki cincin emas itu. Dialah yang menemukannya. Jadi dia berhak untuk memakai cincin emas itu karena hasil temuannya sendiri.  Sedangkan si anak lainnya tidak bole meminta cinicn emas itu karena dia tidak menemukannya, 


Nama @pontianakpost ini sama persis dengan nama Harian Pontianak Post


Dari analogi inilah kasus nama akun Twitter yang sama persis dengan nama harian Pontianak Post mungkin tidak bisa dituntut. Karena si pemilik akun @pontianakpost itu sudah lebih dahulu mendaftarkannya.  Siapa yang lebih dahulu meregister atau mendaftarkan sebuah nama akun Twitter jadi dia berhak untuk menyandang atau memilikinya.  Namun persoalan akan muncul jika sudah memberikan dampak kebingungan atau bias bagi masyarakat. 

Masyarakat yang memfollow akun @pontianakpost tentu saja berasumsi inilah nama akun Twitter resmi Harian Pontianak Post. Namun begitu diklik akan nama URL dan postingan postingannya justru bukan dari Website resmi harian Pontianak Post.  Yang muncul justru keluarnya adalah nama website orang lain. Hal ini sudah saya tuliskan dalam tulisan saya kemarin, lengkap dengan skrishotnya sebagai bukti.  Saya selalu menyertakan BUKTI untuk memperkuat tulisan saya. 

Saya sekali lagi tidak menyebut nama ya, Mohon dicatat itu.   Biarlah masyarakat yang menilai.  Apakah ini layak disebut dengan "pembajakan" nama Akun Twitter atau "pencatutan" nama Pontianak Post untuk mendongkrak popularitas mereka.  Biarlah masyarakat yang menilainya. Saya kembalikan hal ini kepada masyarakat untuk memberikan penilaian (Asep Haryono)

42 comments:

  1. idihhh, gemes saya kalau sama orang kayak gitu, si pemilik akun @pontianakpost yang seenaknya sendiri memakai nama orang lain untuk tenar--------huh, sekarang parameternya kayaknya ketenaran ya Pak...nggak peduli cara yang ditempuh bagaimana yang penting tenar, titik. huh, maunya dicubitin rame-rame tuh orang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun merasakan hal yang sama. Namun apa boleh buat karena nama @pontianakpost sudah lebih dahulu diregister atau didaftarkan oleh mereka. Persoalan akan muncul jika nama akun ini membingungkan masyarakat.

      asyarakat yang memfollow akun @pontianakpost tentu saja berasumsi inilah nama akun Twitter resmi Harian Pontianak Post. Namun begitu diklik akan nama URL dan postingan postingannya justru bukan dari Website resmi harian Pontianak Post. Yang muncul justru keluarnya adalah nama website orang lain.

      Delete
    2. sungguh, kang.. itu bukan akun twitter saya. sungguh... (memelas)

      Delete
    3. Hiehiehie iya cak heiheiiee. Ini juga bukan akun Twitternya Ubi atau KLEPON hiehiehiehiehe. Uhuiiiiiiiiiiiiiii

      Delete
  2. kloning mengkloning tidak hanya terjadi pada klub sepak bola, sudah menjalar pada portal berita. Menurut saya sangat tidak etis sekali kang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya sih. Idealnya kan menjaga hubungan baik dan sebagai sesama insan pers sebaiknya tidak melakukan hal atau tindakan yang menyakiti perasaan sesama insan pers. Mengapa tidak memakai nama akun Twitternya sendiri? Mengapa nama Akun Twitternya sama persis dengan nama perusahaan kami?

      Delete
  3. saya koq pengin makan klepon ya pagi ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan silahkan. KLEPON ada. Ubi juga ada. Hiehiheiheie. Mari mariiiiiiiiiiiii

      Delete
    2. waaaaaaaah mbak nisa sukanya cilok

      Delete
    3. Mas zac: Ko di blog mas ndak bisa berkomentar ya ?

      Delete
    4. @Aprialdi SG : Iya nih saya juga nda bisa kasih komen diblognya Bang Zachflazz. Dulu katanya sih ingin konsentrasi ibadah selama bulan Suci Ramadhan kemarin. Tapi ini Ramadhan sudah lewat, tapi beliau masih belum kasih izin blognya diberikan komentar. Hmmmmmmmm ada apa gerangan?

      Delete
  4. waduh !! bagaimana klo nama saya juga dikloning orang lain? gimana ini?

    #sok panik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang aja cak Budy. DIjamin tidak akan ada yang berani kalau dikloning. Nanti kawan kawan KPK yang akan melabraknya hahahahaha.

      Delete
    2. KPK , komuntas penggemar kloning :)
      Haha, ga usah khawatir mas Budy, kalo dikon nama itu biasa, yng belum itu kloning manusia:) haha
      #bagaimana ya?

      Delete
    3. @Aprialdi SG : Iya nih saya baru tau kalau apa yang menimpa kami ini disebut dengan Klonning. Atau namanya di Kloning. Sungguh ini hal yang baru buat saya. Tadinya sih saya pikir apa yang saya alami adalah pembajakan nama atau pencatutan. Rupanya Klonning. Hmmm musti cari informasi lagi nih hiheiheiheihiee

      Delete
  5. kang ini WS bawa ubi cilembu ni...ada yang mauuuu ??
    iya ni kadang heran juga ya sama yg model2 beginian, pengen tenar kan harus ngerasain dulu dari bawahnya gimana...kok cuma pengen enaknya saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mauuuuuuuuuu
      kalau boleh order Ubi Cilembunya ada yang rasa Coklat nda. Kalau ada boleh. Sekalian yang warnanya PINK ya

      Delete
  6. Kalau sampai membawa nama orang lain, kenapa tidak sekalian merubah nama saja. Kan, jadi sekalian buat bubur merah putihnya Kang.

    Salam wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga tidak mengerti mengapa nama akun twitternya sama persis dengan nama perusahaan kami. Ini juga saya belum paham pertimbangannya. Saya sebenrnya sudah dapat "restu" dari kawan kawan untuk membantai akun twitter yang sudah jelas jelas mulai mengganggu ini.

      Delete
  7. kok ga ada yg membajak nama akun twitterku yach.. pdhl boleh loh.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti saya bajak sekaligus dengan akunnya mbak, pakai bajak singkal atau rotary atau yang lebih tradisional bajak pakai kerbau :) haha

      Delete
    2. Iya benul atau betul. Nanti saya carikan Traktornya ya. Yang mau traktor pake rantai kapal atau yang giginya pake kapal selam

      Delete
  8. berarti siapa cepat dia dapat ya mas hehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul itu , username itu , ya siapa cepat dia yang dapat .

      Delete
  9. ko bisa begitu y mas gimanah hasilnya bos hehehhe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh ini tanggapannya dari kawan kawan masih biasa saja. Mungkin kitanya yang nda mau bikin masalah, walaupun orang lain sudah mulai mengganggu kita. Ini bisa jadi karena persaingan bisnis yang mulai tidak sehat sehingga menggunakan segala cara. Cara halus maupun cara barbar seperti memakai nama orang lain sebagai nama akun twitter

      Delete
  10. Yang beginian emang banyak mas, tujuanya hanya 1 yaitu kepopuleran. Begitu juga dengan blogger, kalau di blogger teman saya, dia adalah seorang cewek yang seksi dan nama yang manis. Aslinya, dia adalah seorang pria sejati :p
    #bongkar

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Aprialdi SG: Iiheiehiee iya bener juga. Di facebook juga banyak yang fake alias palsu. Jadi jika diajak kenalan sama cowok cakep atau cewek seksi bisa jadi itu "fake" alias palsu.

      Orangnya aselinya cowok tetapi memakai jati diri dan foto cewek dan lain sebagainya. Tipu menipu dalam internet konon adalah hal yang biasa

      Delete
  11. Kasus penjiplakan nama/label perusahaan atau produk kalau di luar negeri itu ada sanksinya pak. Baik itu di belantika dunia maya atau dunia nyata. Kalau di Indonesia nampaknya belum dech :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mba Ririn, Kawan kawan di sini banyak menyebut dengan istilah "kloning". Ini hal yang benar benar baru buat saya. Kalau soal pelanggaran hak cipta di dunia nyata memang sudah ada UU.

      Begitupula dengan melakukan tindakan yang tidak menyenangkan, menghina dan mencemarkan nama baik di media maya sudah ada undang undang Intenet dan Transaksi Elekronik. Munkin untuk kasus yang saya alami ini belum ada UU yang menjadi payung hukumnya

      Delete
  12. numpang tenar dan mengambil manfaat dg cara tidk beretika, jamak sekali ditemui sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mas Seharusnya hal ini sudah bisa dimengerti untuk selalu bisa menghargai hak cipta orang lain

      Delete
  13. itu fenomena keren dari teman teman kita, pak
    kalo ada perusahaan baru biasanya domain atau nama tertentu segera diburu dengan harapan dinego agar dibeli. jangankan perusahaan besar, rawins.com saja pernah diparking orang gara-gara aku telat memperpanjang. mana minta harga 150$ lagi. yaogah tunggu sampe lepas dulu baru sikat buru-buru...

    kalo akun gratisan macam twitter semestinya bisa diurus tuh pak. pontianak post kan berbadan hukum. ajuin saja ke twitter disertai bukti bahwa nama itu semestinya pak asep yang pake. malah mantap kan, statusnya jadi verified account..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini komen untuk poin kedua di jurnal sebelah pak
      maap kesana-kemari...

      Delete
    2. Usulan terakhir adalah upaya terakhir melalui format resmi dengan melayangkan gugatan kepada developer ke Kominfo untuk membantu back up komplain ke Twitter. Ini masih dipertimbangkan dan masih harus didiskusikan dahulu dengan awak redaksi

      Delete
    3. jurnal sebelah melulu

      Delete
  14. Waduhh parah banget, zaman skrng memang sedang maraknya pembajakan akun social media dan saya juga sering melihat hali ini terjadi diakun socmed perusahaan lain, semua dilakukan demi mendongkrak popularitas atau mencari kesempatan dlm kesempitan namun tidaklah halal. Saya juga merasa Pihak tersebut memang cuma seenaknya numpang tenar doang terbukti oleh kicauannya diakun twitter kloningan tersebut (@pontianakpost) yg setiap twitt beritanya menyimpang ke website yg lain (tidak sesuai dgn nama akun twitternya), seharusnya kalo mau sukses & maju secara halal semuanya dimulai dgn enol sendiri2. Atau mungkinkah memiliki maksud lain seperti ingin mengambing hitamkan kedua pihak yg tidak tahu menahu. Saya sebagai warga pontianak ikut prihatin dgn kejadian ini, sebaiknya hal ini diselidiki dgn sebaik2nya terlebih dahulu sebelum dibawa ke jalur hukum, karna kalo sudah menyongsong kejalur hukum pasti akan sngt menguras waktu, tenaga & biaya yg tidak sedikit serta juga akan mengubah citra perusahaan jika langkah yg diambil salah. Namun kalo sudah benar2 menemui jalan buntu apa boleh buat jalur hukum satu2nya media yg tegas dan adil untk menyelesaikan masalah ini. Dan saran saya akun twitter asli/resmi pontianak post (@PontianakPostOL) diupdate kembali setiap hari berita2nya karna saya melihat sejak tgl 9 september udh gx diupdate lagi TL-nya, dan sebaiknya disetiap koran pontianak post yg terbit dicamtumkan akun twitter/fanpage fb resminya (dibawah halamannya) agar para pembaca setia pontianak post tidak terjebak lagi oleh akun twitter kloningan serta jumlah followers / likers pun bertambah. Saya hanya bisa berharap dan berdoa agar orang/pengelola akun twitter kloningan tersebut cepat sadar akan perbuatannya seblm terlambat, dan meminta maaf kpd pihak pontianak post serta secepatnya mengganti nama akun twitternya tersebut dgn yg benar2 real miliknya.

    ReplyDelete
  15. Kayaknya dari dulu si tetangga buat masalah, jadi ingat beberapa permasalahan yang menjadi persaingan antar media massa di pontianak -_-

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog