Jual Milagros disini
Loading...

DAY 04 : Mengikuti Tradisi Puasa di Dusun Pundak IV

Foto Asep
Catatan Asep Haryono

Setelah puas berkeliling kota Yogyakarta dengan menggunakan gaya mboncing (maksudnya membonceng-red) pada kegiatan hari ke 3 (DAY 03) kemarin, maka agenda saya di kota Yogyakarta, maka agenda saya hari ke 4 (DAY 04) ini agak sedikit menemui kendala teknis.

Posisi saya sekarang di Dusun Kembang, Pundak IV, Kulon Progo memang berjarak cukup "aduhai" dari pusat kota Jogjakarta.  Mungkin sekitaran 1 jam jika ride dengan sepeda motor.  Jalur moda transportasi umum dari West Prog (baca : Kulon Progo) memang nyaris tidak ada.

Sedangkan agenda memang sudah sehari sebelumnya digadang gadang akan dilaksanakan pada DAY 04 ini.  Salah satu agenda yang sudah disiapkan adalah kopdar dengan Mas Harry Van Yogya.   Seperti yang sudah saya tulis di laporan perjalanan DAY 03 bahwa Mas Harry Van Yogya  bukanlah penarik becak biasa.

Beliau paham dunia maya, dan bahkan akun twitternya yang beralamat di @becakcitytour ternyata difollow balik oleh Presiden SBY.   Bagi yang penasaran sama proil beliau bisa langsung lihat artikel yang memuat profil mas Harry di sini.   Beliau biasa mangkal di depan Hotel Airlangga yang terletak di jalan Prawirotaman,   Saya dan mas Harry sudah SMS an dan Twitteran, mau kopdar.  Semoga bisa terwujud, soalnya mas Harry ini sibuk ngayuh becak dan kerja bakti katanya dalam SMS terbaru kepada saya.

Jadi daripada "nganggur" akhirnya saya memakai rencana back up alias cadangan yakni mengikuti tradisi Puasa Ramadhan di Dusun Kembang, Kecamatan Nanggulan Pundak IV, Kulon Progo, tempat saya tinggal selama berada di Jogjakarta ini.  Saya coba bidik sejak dari lepas Sholat Subuh hingga terbenam sang matahari yakni memasuki waktu berbuka Puasa (Waktu Sholat Magrib) hingga selesai Sholat Tarawuh,  Berikut laporannya.  Cieeeeeeeeeeeeeee

Full Bahasa Jawa
Dusun atau kampung tempat kediaman saya selama di Jogjakarta adalah Pundak IV, Kulon Progo yang berjarak sekitar 1 (satu) jam dari pusat kota Jogjakarta ini memiliki satu buah Masjid yang terletak di bagian tengah paling belakang mentok dari gang Pundak IV ini.  Namanya Masjid AT TAQWA,  Ahaaaaa nama masjidnya kok kebetulan sama persis sih dengan masjid Komplek INKOPOL Bekasi, tempat kediaman kedua orang tua saya. Hmmm. 

Mungkin aktifitas Remaja Masjid AT TAQWA ini tidak jauh berbeda dengan masjid lainnya di seluruh Indonesia misalnya saja ada Remas (Remaja Masjid) , Panitia Idul Qurban, Kelompok Pengajian , TPA dan lain sebagainya.  Namun yang unik menurut pendapat dan pandangan saya adalah suasana kemeriahan ibadah Ramadhan di dusun ini sangat gegap gempita.  Meriah, bahkan jamaah Sholat Tarawih masih ramai seperti awal Ramadhan.

"Namanya juga di kampung mas, ramadhan di desa memang begini dari dulu, meriah e" kata Pak Usman dalam bahasa Indonesia yang terbata bata.  Hal ini saya maklumi karena nyaris semua aktiitas di Masjid AT TAQWA Pundak IV ini menggunakan Bahasa Jawa.  Puyeng kuadrat sayah karena ketidak mampuan saya dalam memahami Bahasa Jawa (Baca : Nda bisa bahasa Jawa-red).  Termasuk khatib Sholat Jumat, Khatib Kuliah Tujuh Menit Tarawih semuanya full bahasa Jawa.  Keder sayah.

Seperti biasa Foto foto jauh lebih "bercerita" dari 1000 kata kata (ini kata orang), nah berikut saya sajikan beberapa cuplikan foto beberapa aktifitas di Masjid AT TAQWA Dusun Pundak IV Kulon Progo yang berhasil saya abadikan.  Selamat menyimak.

Masjid At Taqwa Pundak IV yang diambil gambarnya menjelang masuk sholat Isya dan Shalat Tarawih.  Foto Asep Haryono

BAGI : Pembagian Menu Takjil untuk anak anak TPA Masjid At Taqwa.  Ada banyak donatur dalam satu harinya yang dkelola oleh Remaja Masjid. Foto Asep Haryono

TPA : Yang buka puasa di Masjid At Taqwa ini dikhususkan untuk anak anak.  Orang umum dan dewasa juga boleh juga.  Foto Asep Haryono

PIMPIN : Begitu adzan berkumandang, buka puasa bersama pun dimulai dipimpin oleh Ustad dan Ustazah (guru guru). Foto Asep Haryono

BEBAS :  Bagi yang senang 11 Rakaat Tarawih boleh mundur dari barisan dan kembali lagi lagi di gelombang ke dua.  Foto Asep Haryono

MAKMUR:   Padahal sudah dekat Lebaran, jamaah Masjid tetap ramai.  Setidaknya itu dalam pengamatan saya.  Foto Asep Haryono


Bebas Memilih
Di Masjid At Taqwa ini ada 2 (dua) gelombang pelaksanaan Shalat Tarawih.  Gelombang pertama berjumlah 23 (Dua puluh tiga) Rakaat dan Gelombang ke dua berjumlah 11 (Sebelas) Rakaat.  Jangan membahas atau mempolemik perbedaan Jumlah Rakaat di sini karena saya hanya bercerita saja, dan tidak bermaksud membuat diskusi soal jumlah rakaat Tarawih.  Jelas ya.

Saya melihat beberapa jamaah mundur ke belakang dan akhirnya pulang dari Masjid begitui jumlah rakaat yang diikutinya sudah mencapai angka 8 (delapan).  Saya coba konfirmasikan ke salah satu jamaah mengenai hal ini. "Memang ada dua gelombang mas, pertama ya 23, dan kemudian sekitar jam 21.00 WIB akan ada lagi sholat yang suka dengan 11" kata Pak Usman.  Hal ini juga diiyakan oleh Om Sab, guide saya yang mengantar saya keliling kota Jogjakarta di hari ke 3 (DAY 03) kemarin.  hmmmm

Tradisi unik lainnya adalah NIK alias "Nasi Untuk Kita".  Ini adalah ungkapan candaan dari salah seorang jamaah Masjid At Taqwa yang beliau maksudkan adalah tradisi makan bersama bagi Jamaah setiap malam Likur (Bahasa Jawa yang artinya malam malam Ganjil).     Mungkin sebagai salah satu upaya sodaqoh dan amaliah dalam berburu Malam 1000 bulan (Lailatul Qadr) yang diisi oleh amaliah

IKUR:   Padahal 23 Rakaat cukup melelahkan tapi tidak bagi beberapa anak di dusun ini. Merea sanggup bertahan hingga usai.  Yuk makan dulu ya hihihihi.   Foto Asep Haryono

DOA   Acara Malam Ganjil dipimpin oleh Bapak Ponijo yang secara kebetulan adalah ayahanda Istri saya.  Beliau termasuk pemuka di dusun Pundak IV ini  Foto Asep Haryono

DUDUK :   Melingkar duduknya  Jamaah perempuan boleh membawa pulang makanannya, Untuk Bapak bapak lanjuuut aja.  Sambil ngopi ya pak   Foto Asep Haryono


Menu yang disajikan mirip bentuknya khas Nasi Kucing dengan lauk pauk yang cukup enak menurut ukuran saya misalnya saja telur kecap, mie rebus, potongan tempe atau ikan goreng minus sambal.  Mungkin ada jamaah Masjid yang tahan rasa pedas so eh jadi dibuatlah general dengan menghilangkan unsur cabe atas pedas.  Tidak ada piring pecah belah di sini.  Semuanya dalam bungkus daun pisang. Saya menyebutnya sebagai "Piring Canggih" alias sekali pakai langsung dibuang

Hal yang agak berbeda dengaen sajian buka puasa (Takjil) buat anak anak yang dikemas jauh lebih exclusive dengan menu jauh lebih "mewah"  mungkin ini dimaksudkan untuk membuat anak anak senang dan semakin rajin untuk berbuka puasa di Masjid berjamaah.  (Asep Haryono)

3 comments:

  1. rame ya, pak asep. klo di deket rumahku, mushalanya kecil, jadi kalo ada buka bersama pinjem rumah penduduk yang rada besaran gitu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Ila Rizky Nidiana : Alhamdulillah terima kasih atas kunjungannya ya. Iya nih Masjid At Taqwa juga dekat sama rumah mertua saya hihihihii.

      Delete
  2. sungguh...suasana kampung seperti ini yang saya rindukan. Melihat anak-anak ikut takjilan, buka puasa dengan lahap---bahkan kadang ada yang iseng balapan---menjadi kenikmatan tersendiri bagi saya.

    Unik ya Pak, shalat tarawih kok bergelombang, kaya seminar saja Pak, sesi pertama sesi kedua...hehehe, di kampung saya kok ndak ada ya...

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog