Jual Milagros disini
Loading...

Buruh Belum Merdeka

Gambarr dari BlogDetik
Catatan Asep Haryono

Hari ini sebenarnya saya sudah merencanakan untuk membuat kelanjutan cerita kemarin (Jumat, 16 Agustus 2013) yang berisi dan berjudul "Pengalaman Terbang Bersama Srwijaya Air" sesuai dengan rencana sebelumnya, namun berhubung hari ini adalah hari ulang tahunnya Bangsa Indonesia tercinta yang ke 68 (Enam Puluh Delapan) Tahun, maka saya coba tuliskan apa yang ada dibenak saya aja tentang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini.

Memang sih terkesan latah karena sudah banyak sekali blogger dan atau penulis yang mengupas panjang lebar (Sudah panjang juga lebar-red) tentang kemerdekaan RI, sejarahnya, bahkan pada makna kemerdekaan yang mungkin bagi sebagian orang akan mengerenyitkan dahi untuk memahaminya.

Namun dalam tulisan saya hari ini tetaplah berfokus pada rasa syukur dan bahagianya saya kepada Bangsa Indonesia yang jatuh yang ke 68 tahun, hingga sejauh ini Bangsa Indonesia masih diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menyelesaikan berbagai macam masalah dalam dan luar negeri. Namun dari itu semua harapan kita semua, harapan saya, dan harapan semua masyarakat Indonesia adalah terciptanya suasana yang damai, aman, dan seluruh rakyat Indonesia menjadi sejahtera dan tercukupi kebutuhannya.

Saya mencoba menyampaikan apa yang ada dibenak saya tentang kesejahteraan Buruh (pekerja) di seluruh Indonesia karena amat berkaitan erat dengan apa yang dinamakan sebagai "merdeka".  Apakah kesejahteraan Buruh Indonesia sekarang ini sudah mencapai pada titik nadir dimana elit kekuasaan pemerintah, kepentingan Pengusaha dan para buruh tidak dapat bersinergi?.  Saya pikir tidak perlu membuka dalil dalil undang undang ketenagakerjaan jika apa yang tertuang dalam butir butir keputusan dalam UU tidak tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya.

Agak susah dan mungkin menjadi semacam dilema. Bagi Pengusaha menghasillkan keuntungan (profit) atau laba sebesar besarnya adalah hal yang wajar, sedangkan disisi lain, kaum buruh, tentu saja memiliki hak yang sama yakni memperoleh penghasilan yang layak yang bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka. Apalagi semua barang kebutuhan pokok sudah semakin merangkak naik.  Di sisi pemerintah, seharusnya bisa menjembatani kepentingan kedua belah pihak dari Pengusaha dan dari para buruh agar tidak ada salah satu pihak yang tersakiti. (Asep Haryono)

13 comments:

  1. Semakin lama nasib sebagai buruh semakin tidak berdaya dan tidak berharga. Dahulu sebagai buruh pernah ingin keluar di pengak personalia bahkan dengan di naikkan gajinya(masih ada harga tawar tenaga saya kayaknya), sekarang ga ada hal begitu kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Mus Djono : Benar sekali mas. Nasib buruh memang sungguh dilema dan ada banyak kepentingan di dalamnya, terlebih jika bersinggungan dengan si pemilik modal atau penguasa. Masih banyak hal yang harus kita lakukan untuk membantu kaum buruh kita di seluruh Indonesia. Terima kasih buat Mus Djono sudah berkunjung ke sini :()

      Delete
  2. OK Kang...
    OK ngapain ya, wong saya belum baca.
    nanti deh saya bacanya
    kalo udah pinter baca
    tapi saya pengin nulis aja deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @zachflaz : Hiehiheie oh ya selamat ya buat Arien yang luar biasa yang sudah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Pas sekali informasi ini saya terima dari situsnya Kang Lembu kalau nda salah. Momennya pas hari kemerdekaan RI ke 68 tahun hiheiheiheiee

      Delete
    2. alhamdulillaah Kang. dapet peringkat empat kemaren.

      Delete
  3. { Namun dari itu semua harapan kita semua, harapan saya, dan harapan semua masyarakat Indonesia adalah terciptanya suasana yang damai, aman, dan seluruh rakyat Indonesia menjadi sejahtera dan tercukupi kebutuhannya.}

    sama kang Asep harapan saya juga seperti itu,namun apadaya tangan taksampai hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Dede Thea : Iya kah bener bener. Apa daya tangan tak sampai. Apa daya jika nasib Buruh sudah sedemikian rupa dan masih memerlukan bantuan kita semua agar maju dan terus meningkat kesejahterannya

      Delete
  4. semoga nasib buruh seperti kami lebih diperhatikan sama pemerintah, lebih dihargai dan tidak dimanfaatkan namanya oleh perusahaan....
    walaupun perusahaan sudah segede gaban dan nomor wahid di indonesia, belum tentu perusahaan itu memperhatikan suara buruhnya. kadang kebijakan yang diambil justru menyudutkan kaum buruh, sedang pemerintah sendiri tak berkutik karena uang-uang panas dan pajak yang larinya entah kemana

    ReplyDelete
    Replies
    1. @khusna khairunnisa : Saya sepakat dengan mba Khusna. Pada era modern sekarang ini pun ternyata masih banyak perbudakan seperti yang baru baru ini terkuak. Heran saya juga era perbudakan kan sudah lama sekali, jaman perang dulu, rupanya sampai jaman Email sekarang ini yang namanya budak masih ada

      Delete
  5. Apapun namanya dan keadaannya kita syukuri saja Kang. Mudah, namun tidak banyak yang berani melakukannya untuk diterapkan dalam kehidupan.

    Salam wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Ejawantah Wisata : Bener sekali. Memang seharusnya kita mensyukuri apa yang sudah ada dari diri kita semuanya. Saya sepakat. Salam wisata juga

      Delete
  6. memerdekakan diri dengan menjadi wirausahawan saja..

    ReplyDelete
  7. seandainya saya jadi pengusaha dengan omzet yang lumayan, saya pasti bikin perjanjian dengan calon pekerja saya. Saya gaji segini mau apa tidak mengingat mampu saya menggaji cuma segini, mau apa tidak. Nah yang menjadikan merdeka apa tidak itu ya tergantung buruhnya. mau bersyukur atau tidak, lha wong kebutuhan itu tak terbatas. banyak buruh yang berpenghasilan layak tapi karena kredit sepeda motor, kredir kulkas, kredit laptop belum membiayai istri simpanan. terus kapan sejahteranya>kapan merdekanya?hehehehehehehe

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog