Jual Milagros disini
Loading...

Koran Sekolah : Masihkah Diperlukan ?

Foto Asep Haryono
Catatan Asep Haryono

Dengan hadirnya era informasi digital, penggunaan jejaring sosial sudah menjadi salah satu kebutuhan yang tidak dapat dibendung lagi. Sebagian orang bahkan mengamini bahwa sosialisasi media seperti facebook dan twitter misalnya, banyak digunakan untuk berbagai keperluan positif (disamping mewaspadai dampak negatifnya yang kini banyak diperbincangkan orang-red).

Mengapa jejaring sosial semacam facebook dijadikan "kambing hitam" atas berbagai tindak kejahatan belakangan ini? Sepertinya para pesbuker dianggap biang keledai dari semuanya. Padahal jika kita mau jujur, tidak harus melalui jejaring sosial untuk menyampaikan niat jahatnya. Apa saja bisa dijadikan media untuk menyalurkan kebiasaan seperti itu jika memang niatnya sudah tidak baik

Namun kali ini saya tidak akan menyampaikan sisi baik dan buruk pemanfaatan media sosial seperti itu namun lebih disempitkan lagi pada pemanfaatan koran sekolah sebagai sarana untuk memperkenalkan sekolah beserta aktifitas di dalamnya kepada masyarakat. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah seberapa efektif dan efisienkah pemanfaatan koran sekolah bagi tercapainya pesan kepada masyarakat? Apa manfaatnya bagi media yang menawarkan dirinya bekerja sama dengan pihak sekolah?

Saling Memberi Manfaat
Pada prinsipnya sistim pendidikan berbasis teknologi informasi di Indonesia sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan dan ini ditandai dengan semakin maraknya penerapan informasi dan teknologi berbasis komputer di sekolah sekolah yang teragabung dalam komunitas internet sekolah.

Selain itu juga rata rata Sekolah Menengah Atas (SMA) di hampir di seluruh pelosok Indonesia kini sudah integrated dalam sistim informasi satu atap berbasis ICT sehingga setiap sekolah bisa saling terhubung (connected) dengan pemanfaatan teknologi informasi. Secara kongkrit banyak sekolah sudah membangun sendiri portal websitenya masing masing. Hal ini akan semakin memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi sekolah yang bersangkutan di jaman era digital seperti sekarang ini.

ARAHAN : Pak Muslim Minhard atau akarab disapa "Toing" ini sedang memberikan arahan kepada Guru dan Siswa SMU yang mengisi halaman koran sekolah. Foto Asep Haryono

KARTUN :  Siswa siswi dan Guru pembimbingnya juga dibantu dalam pengeditan karikatur mereka sebelum siap "tayang" dalam koran sekolah.  Tampak Kessusanto Liusvia (Kartunis/Illustrator) sedang membantu mengedit kartun olahan para siswa disaksikan gurunya. Foto Asep Haryono
  1. Tidak Semua Wilayah Terjangkau Internet
    Salah satu alasan mengapa Sekolah Menengah Umum (SMU sederajat) masih tetap memerlukan Media Cetak (Surat Kabar) adalah tidak semua wilayah di Indonesia terjangkau oleh Internet. Selain itu juga tidak semua sekolah SMU sederajat sudah membangun website atau blognya masing masing. Bukan rahasia umum lagi bahwa anggaran yang disediakan untuk go online juga tidak sedikit.

    Selain biaya sewa hosting dan domain yang tidak murah itu, masih banyak lagi komponen komponen biaaya lainnya yang harus disediakan jika mulai menjamah ke dunia maya seperti internet.  Pengelolaan situs web juga tidak bisa disebut mudah karena sang pengelola minimal mengerti dasar dasar intetnet, namun juga lebih disukai jika memiliki kemampuan lebih.

  2. Membuka Peluang Kerja sama
    Buat apa sih sampai menerbitkan koran sekolah secara khusus (halaman khusus sekolah) bukankah bisa menggunakan media omline milik mereka sendiri? Ya tentu saja boleh. Ini sebenarnya sebuah pilihan dari pihak sekolah yang bersangkutan. Apakah mereka akan bekerja sama dengan media cetak (Surat kabar) atau mereka menggunakan media online yang berhasil mereka bangun sendiri juga boleh boleh saja.

     Namun perlu dicatat di sini bahwa media cetak (Suratkabar) dibaca ratusan bahkan ribuan orang sehingga lebih terbuka peluang terciptanya kontak bisnis dari para pembacanya. Sehingga pihak pengiklan atau sponsor bisa saja menanamkan modal atau menawarkan kerja sama dengan pihak sekolah yang tampil di halaman koran sekolah sebuah suratkabar.

     Dengan sampainya informasi sekolah melalui koran sekolah sampai dibaca oleh masyarakat, kini masyarakat akan semakin cerdas wawasannya. Sehingga masyarakat bisa menentukan pilihannya sendiri apakah sekolah tersebut bisa menjadi calon sekolah anak anaknya kelak. Bukankah ini menjanjikan keuntungan?  Dengan semakin terkenalnya sekolah yang bersangkutan setelah tampil dalam Koran Sekolah, tentu akan ada banyak calon siswa yang membacanya.

Tidak Sekedar Narsis
Narsis? Mengapa tidak.  Begitu seseorang mempublikasikan hasil karya nya ke ranah jejarinh sosial semacam facebook sudah bisa dipastikan akan bisa diakses oleh orang dari berbagai penjuru dunia. Itulah hebatnya sosial media dan peran Netizen Journalism juga berperan penting di sini.  Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini ranah internet adalah ladang benefit yang luar biasa manfaatnya. Jika pandai memanfaatkan sosial media ini diyakini akan bisa mempromosikan dengan baik.

Walau sudah menjadi public domain dalam artinya informasi apa pun yang berhasil diunggah melalui sosial media akan menjadi milik bersama. Oleh karena itulah dampak negatif dari sosial media mulai terlihat jelas di sini dan selalu ada peluang terciptanya abuse (penyalah gunaan informasi dari pihak lain) dalam hal ini yang berpotensi menimbulkan kerugian materi maupun bukan berbentuk materi


KORAN SEKOLAH : Halaman koran sekolah disajikan secara khusus berbentuk 1 halaman penuh ini

Beda sekali dengan kepemilikan website atau blog pribadi yang pemiliknya bebas memosting atau mempublikasikan konten yang menurutnya menarik, maka konten dari koran sekolah yang akan dipublikasikan sebaiknya informasi yang benar, dan valid.  Walau tidak dilarang untuk "lebay" namun konsep penyajian materi  dari pihak sekolah yang ingin sekolahnya tampil profilnya di koran sekolah harus juga memperhatikan aspek para pembaca utama media cetak yang bersangkutan.

Media cetak sendiri juga berhak untuk melakukan verifikasi atas kebenaran dan keakuratan informasi sekolah sebelum "dilempar" kepada masyarakat. Peran redaktur Koran Sekolah juga punya kewajiban moral dalam memajukan dunia pendidikan walaupun logika bisnis tetap juga dijalankan sebagaimana mestinya.  Bukankah media cetak (koran) juga memerlukan banyak biaya produksi sehingga output yang dihasilkannya berupa koran menjadi sajian utama yang dibaca banyak orang.(Asep Haryono)

123 comments:

  1. sepertinya masih sangat diperlukan ya kang, mengingat keberadaan IT belum menyeluruh dinikmati seluruh lapisan rakyat disamping keterbatasan jaringan dan biaya yang masih relatif mahal.
    nice share

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Thanjawa Arif : Terima Kasih atas kehadirannya di sini mas Thanjawa Arif. Apa kabarnya? Apakah ditempat mas juga sedang musim hujan? Atau malah kebanjiran nih?. Mudah mudahan nda ya. Alhamdulillah kota Pontianak juga tidak ada banjir untuk saat ini dan mudah mudahan juga hari hari seterusnya.

      Delete
    2. saya sependapat dengan pak Arif, Koran sekolah masih dan tetap diperlukan meski IT sdh semakin canggh pun. karena view pont membaca dr digital dan hard copy msg memliki kelebihannya.

      belum lg dikaitkan dengan keasyikan, bak produk dgital news maupun paper news..tentu saling berbeda kan?

      Delete
    3. @Ririe Khayan : hiehiheiheie iya benar sekali. Walaupun pihak sekolah sudah punya IT sendiri, maksudnya sudah bisa promosi dan sosialisasi di media online mereka sendiri, sosialisasi melalui media cetak juga masih diperlukan.

      Karena tidak semua orang punya komputer dan atau intermet, sedangkan koran bisa mencapai pelosok pelosok dan muda diakses oleh masyarakat

      Delete
    4. sippp....lanjuutkan!

      Delete
    5. @Ririe Khayan : Hiheiheie iya mari lanjutkan kebiasaan baik dan teruskan kebiasaan yang bermanfaat buat sesama. Bekerja keras dan bersodakoh dan beramal. Hiheiheie. Plak ngomong aoa sayah e

      Delete
    6. harus itu pak...
      banyakin amal ibadah
      amal jariah dan amal gairah juga...

      Delete
  2. aku baru tau ada koran sekolah begini, keren banget. Jaman saya sekolah masih format mading alias majalah dinding wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. edyan nih, ada dinding yang terbuat dari majalah.

      Delete
    2. @zachflazz : hiehiheiheiheie itu namanya dinding jenis baru. Kalau dinding jenis lama bahannya terbuat dari keju, jadi bisa dicocol sama bubur ayam jelas tidak cocok hiehiehihee.

      @Mila Said : Majalah dinding ya? Wah kok sama ya. Jaman saya di SMA dulu (era taon 1988) juga hanya tersedia majalah dinding. Semua siswa boleh kirim artikel , puisi atau kreasi uniknya untuk dicantumkan di majalah dinding

      Delete
    3. dijaman ku sekolah juga ada mading.

      Delete
    4. taun 88 pak asep dah sma..?
      aku belom lair pak...

      Delete
  3. koran sekolah sih bisa di gunakan untuk media yang positif pak, tapi bagaimana dengan efisiaensi biaya? apalagi hard copy, semtara anak-anak sekarang lebih tertarik dengan digital. saya kira juga di sesuaikan dengan membuat trobosan koran sekolah online diaman di sana ada jaringan hanya 1 sekolah saja yang bisa mengakses

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini juga serius.
      pas bener nih...

      Delete
    2. @deby putra bahrodin : Kalau harian Pontianak Post sudah menyediakan 1 halaman free alias gratis yang bisa dipakai untuk halaman koran. Kita undang beberapa sekolah dalam satu periode, misalnya untuk Pontianak Selatan minggu ini.

      Nah tentu banyak SMU yang berada dicakupan wilayah Pontianak Selatan kan? begitu seterusnya bergiliran hingga semuanya diundang untuk mengisi halaman koran sekolah.

      Delete
    3. ga semua kok
      wajar orang seneng digital karena itu hal baru. masih tergagap-gagap soalnya...
      buktinya aku sekarang lebih suka baca buku sebagai pengantar tidur atau saat nunggu jemputan. banyak sisi praktis buku yang tidak bisa digantikan oleh gadget. khususnya soal kebutuhan baterai yang ribet. buku juga lebih aman dari jambret..

      Delete
  4. kalo buat saya, tetep penting Kang. secara misi koran ini tidak hanya soal isi atau kemasan. yang lebih penting adalah belajar. para siswa dapat menjadi redaksi yang termasuk harus menata lay out, mengkliping, dan mengelola tetek bengek secara manual yang jelas akan memancing kreativitas, inisiasi, dan kemampuan berorganisasi yang lebih asyik daripada sekedar media online.

    #serius amat

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya ngikut bang Zach aja.

      *sama-sama serius

      Delete
    2. sebenarnya saya mau komen tp ternyata sudah ada di komen kang zach jadinya ya idem sajalah dengan kang zach

      Delete
    3. ehm..ehm..sebelumnya sy mau ngucapin trm kasih kpd pak zach....beliau tau banget sy mau koment apa....*terwakili :D

      Delete
    4. kali ini setuju ah sama pak zach

      Delete
    5. Hiiheihiehihee wah bisa kebetulan pada sama gitu ya ide yang mau disampaikan di sini hiheiheiheie. Semuanya pada kompak punya pendapat dan visi yang sama dengan Bang Zachflazz. Hiheiheiheiheiheie.

      Mungkin ada kesamaan dengan penataan redaksian ala Majalah Dinding, namun justru dengan koran sekolah inilah anak anak dilatih untuk menjadi redaktur sungguhan yakni koran yang akan diterbitkan kepada masyarakat. Jadi bisa menambah pengalaman mereka menjadi "redaktur" sebuah halaman koran

      Delete
    6. yoi kang.. lagipula, kalo yg punya blog, bisa mindahin tulisannya di koran sekolah itu ke blog masing2 :)

      Delete
    7. tapi bukan blog tentang software kan.
      yang seperti blog saya satunya..hehehe

      Delete
    8. dan jangan lupa dikasih label usia pak...

      Delete
  5. Penting gak penting sih. Buat siswa yang minat bacanya tinggi bisa jadi penting. Tapi buat kubu lainnya, tidak seperti itu kan. Halah saya malah OOT :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. penting juga buat yang ga hobi baca, bisa buat kipas²,

      Delete
    2. bisa dikiloin jg edisi lama'nya...*lumyan bwt nambah uang kas :D

      Delete
    3. Orang Orang Trampil *ngarang*.

      Delete
    4. saya setuju semuanya. semakin nggak jelas, semakin rusak kolom ini.

      Delete
    5. sudah di perbaiki sama kang Asep..

      Delete
    6. Hiheihiee justru saya datang mau lebih menghancurkan kolom ini separah parahnya. Kalau saya yang memperbaikinya sendiri bukan tambah bener malah semakin tidak karu karuan.

      Delete
    7. *nyapu2 kolom komen ini*

      Delete
    8. @diniehz : Hhiheiehiee ya silahkan disapu heihiehiee mumpung nyapu silahkan silahkan disapu sesuka hati dan menyapu adalah aktifitas yang menyenangkan. Sapu kan masyarakat, dan memasyarakatkan sapu

      Delete
    9. tumben mbak Dini rajin...!!

      pasti ada apanya..

      Delete
    10. harusss, biar digratisin bubur hahaha

      Delete
    11. nggak ada bubur, adanya klepon separo. klepon bakar

      Delete
    12. besok usul pak
      korannya dikasih kolom komen
      biar bisa rame kaya pasukan panci rese

      paspanres siap bantu...

      Delete
  6. perlu! cukup sekian dan terima kasih. #kalem

    ReplyDelete
    Replies
    1. #ngelus jenggot
      *padahal gak punya jenggot* .

      Delete
    2. hayo jenggot siapa yang dielus?

      Delete
    3. jenggot apa jenggot...!!

      Delete
    4. Hiheiehehie wah jenggot? kayaknya saya belum punya. Apa mau kasih saya jenggot biar tambah jenggotan? Kata orang kalau pria banyak bulu berarti machowwww. Bukan mantan copet ya hiehiehiehie.

      Kira kira apa yang diperlukan untuk membuat semakin ganteng, maco dan disegani? Perlukah makan bubur setiap hari dan cemilan klepon di malam hari. Bukankah komentar saya di sini semakin galau?

      Delete
    5. galau segalau-galaunya
      maksimal pokoknya

      Delete
  7. Menurutku perlu. Karena bagaimanapun media sosial internet tetap tidak bisa menggantikan fungsi dari Koran Sekolah. Aku sepakat dengan Mas Zach, dengan adanya koran ini, para siswa dapat belajar mengenai ilmu Jurnalistik seutuhnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita saling setuju.

      Delete
    2. ikut setuju..

      *kita kompak ya.. tos dulu 'plaak'

      Delete
    3. iheihiehiehiehe. Saya pun setuju dengan Bang Zachflazz yang oke bangeds. Saya kira pihak sekolah juga bisa dapat promo gratis dan ikut terkenal bersama dengan korannya hheiheiheiehiehiee. Saya mau toos juga, mari silahkan dicicip kleponnya hiheiheiheiheiee.

      Delete
    4. buatin satu panci lagi kang kleponya.
      dah habis nih.. sisah ampasnya aja...

      Delete
    5. klepon itu digoreng apa dibakar sih?

      Delete
  8. Menurutku juga masi penting, selain ada beberapa wilayah yang blm kejagkau internet. Koran itu melatih minat baca siswa juga, selain itu koran kan ada penanggungjawabnya juga ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @EYSurbakti : Benar sekali. Koran dan sekolah bisa sama sama sinergi sehingga dicapai kesepakatan bersama. Pada umumnya setiap halaman koran memiliki redakturnya masing masing.

      Misalnya saja halaman komunikasi bisnis (kombis) ada redakturnya juga halaman halaman lainnya

      Delete
    2. Ya pak, dan kalo sinergi itu bisa terjaga kelangsungannya terus menerus, tentunya sangat bermanfaat sekali bagi pengembangan SDM kita kearah yang lebih baik lagi.

      Delete
  9. KY kalau membaca lebih suka guna yg origanal...seronok apa, dr membaca cara online.

    ReplyDelete
    Replies
    1. seronok..seronok..seronok

      *kayak upin ipin

      Delete
    2. @KY : ya benar sekali KY. That is absolutely correct. Di era digital ini sepertinya memang lebih praktis untuk menggunakan media online dan atau melalui jejaring media sosial.

      Namun tidak semua orang punya komputer dengan sambungan internet, bahkan masih banyak orang yang bahkan tidak pernah megang komputer sama sekali. Namun koran sudah bisa merambahh sampa ke pelosok pedesaan

      Delete
    3. kalo si unyil: asyik srook

      Delete
  10. saya angkat topi dan jempol pada guru/dewan guru dan pengelola koran sekolah tersebut, bagaimanapun tanpa kreatifitas dan kemauan keras semua jadi sia-sia, nyatanya masih banyak SMA dikota besar yang belum memiliki, (contohnya: koran sekolah) dan memanfaatkan jaringan internet dengan maksimal karena kurang kreatifnya pihak guru sebagai pembimbing siswa.(murid mah diginiin..digituin nurut azh..ya kan kang?)
    yang terpenting menurut pribadiku, selain sdm, kreatifitas, kemauan keras dan dukungan kepala sekolah(inti penting) karena ada juga kepsek yang mblegadus pd keinginan dan ide anak buahnya.
    salut lah..moga koran sekolahnya berjaya terus dan makin berkembang.
    salam sehat selalu u/kepsek, temen2 guru juga para siswa kratif dari Desa Cilembu kang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya suka dan setuju dengan komentar pak kepala desa

      Delete
    2. oalah ini kades thaa..

      #hormat_grak .

      Delete
    3. di samping Kades. kang Cilembu juga anggota KPK tersukses di desanya.
      betul gak kang?

      *biar dikasih ubi

      Delete
    4. hiheiheiiee iya jadi laper neh. Ubi Cilembu juga banyak dijual di Pontianak, dan sudah beberapa kali saya icip icip uenak tenan. Rasanya manis hieheheiheihieiee. Cemilan ubi sambil nyeruput teh hangat di sore hari tentu asyik sekali hiehehiehiehieiee. Halah malah komen kuliner, Ngomong apa saya hiehiheiheiee.


      @Desa Cilembu [Ubi Cilembu]: Benar sekali. Mengelola Halaman Koran Sekolah mungkin lebih sedikit rumit dari mengelola majalah dinding. Untuk majalah dinding pembacanya sudah pasti dalam lingkup sekolah itu saja.

      Sedangkan koran sekolah, sudah pasti dibaca oleh ribuan orang, dan ribuan kepala. Jadi pengelolaan halaman koran akan sedikit perlu ekstra dalam menatanya, namun demikian yang utama di sini adalah para siswa sekolah akan belajar mengenai hal hal keredaksian.

      Karena di dalam koran ada banyak staff berpengalaman, tim kreatif yang mumupuni. Para siswa dan guru akan dibimbing sehingga mereka akan bertambah wawasan dan pengetahuannya dalam dunia jurnalistik

      Delete
    5. beri hoormaaatt..
      cium tangan, sungkeman

      Delete
    6. @zachflazz : hiuhiehiehiheiehiehe ya ya hormat juga. Jangan lupa untuk sarapan pagi biar sehat, makan siang biar kuat, makan malam biar tidak berkarat. Kalau kebanyakan makan itu nekat. Hiheheihieieee

      Delete
    7. bukaannn...saya ngga pernah ngaku2 kades lo yah..kalau ada yang mengira gituh, ngga pernah di IYA kan juga ngga pernah DI TIDAK kan...kool azh saya mah, sengaja supaya penasaran dan ng'klik "ABOUT" di blog sayah...gituh, lumayan satu kali klik 1 dolar...:o)

      balik lagi ke....tuhkan jadi lupa
      jadi....segini banyaknya komentar, komentar saia doang yang paling nehnik? sungguh me...nga...gum...kannnn.

      Delete
    8. kagum sekagumnya...
      satu kali klik 1 dolar? tar saya klik 100 kali... jangan lupa royaltinya kang..hehehe

      Delete
    9. saya nggak perlu royalti. cukup makan-makan aja

      Delete
    10. ya udah klo tidak mau dipanggil pak kades, bagaimana klo kita paggil aja pak direktur? setuju bapak2 dan ibu2 sekalian?

      Delete
  11. perlu . kalo gak di perlukan bs di sumbangin ke.................................. orang orang yang trampil, mungkin bisa di olaahh.



    kalo ada siiswa yg masuk ke dalam koran karena berita tentang penghargaan/ prestasinya pasti bisa bikin bangga siswa tuh .

    ReplyDelete
    Replies
    1. masuk dalam koran? kayak kacang rebus di bungkus...

      *kaburrr

      Delete
    2. Hahiahiahiaa bisa aja Bli Kstiawan nih, Sampai urusan kacang rebus ya. Hiheiheie sayang sekali saya sudah jarang icip icip tukang rebus di Pontianak. Padahal juaran kacang rebus sering terliha di depan gangh waku saya masih kecil dulu di Jakarta.

      @Mizz Tia : Hieihieh ya di halaman koran ada space khusus untuk guru guru yang berprestasi di bidangnya lengkap dengan profilnya. Begitu juga dengan siswa yang berprestasi membanggakan juga ada halaman tersendiri di sana. So pasti membanggakan hiheiheiheie

      Delete
    3. bisa jadi kenangan terindah bagi guru dan siswa berprestasi diabadikan dikoran, digunting lalu dilaminating...,dan seharusnya laminatingan itu bisa dijadikan tambahan berkas suatu saat nanti bila siswa melamar pekerjaan, atau guru tersebut ikut sertifikasi tentu disamping surat atau piagam resmi.

      #gaya jokowi: nabrak2 sedikit demi rakyat sejahtera kan bagus

      Delete
    4. ampuuun ampuun. mbak tia itu udah serius komennya loh. untung ada kang cilembu yang membela mbak tia. ada apa ya koq membela?

      Delete
  12. kang, komentar saya udah diwakili ya sama pak zach ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. jarang begini kami

      Delete
    2. uangnya juga di wakili pak Zach?

      Delete
    3. Tenang tenang ini bubur ayam masih panas. Jadi untuk icip icipnya harus meunggu agak dingins edikit, asal jangan terlalu dingin. Soal bubur ayam kan ya?. Jadi untuk menyantap semangkuk bubur ayam ini biar saya aja yang wakili

      Delete
    4. bayar ke saya buburnya

      Delete
    5. Hiheihieieei dulu waktu pasar Flamboyan masih di depan kantor saya, pualing enak ngebubur ayam di salah satu sudut di pasar itu. Enak bangeds, ada cakwe dan kerupuk atau empingnya.

      Kini sejak pasar flamboyan berpindah tempat di jalan veteran kini si mamang bubur juga ikut "hijrah" ke lokasi baru. Jadi merana deh hiheiheiheiheiehe. Kalau sore ada juga bubur, tapi BKI alias Bubur Kacang Ijo

      Delete
    6. iyaya, pasar flamboyan sekarang dah mau dibagusin.. alhamdulillaah..

      Delete
    7. kamboja ada nggak?

      Delete
  13. Tergantung sekolahnya kali ya? Menurut saya ini ide, kalau sekolah mau menginventarisasi layar LCD untuk menampilkan koran digital, kenapa harus pake cetak. Toh, hakikatnya sama. Bedanya digital emang lebih menarik cetarrr membahana badaiiii halilintar!

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi merinding ada badai halilintar....

      Delete
    2. @Cerita Horor : Benar sekali. Meman lebih praktis dengan media digital atau secara Online. Namun internet bisa jadi jarang di desa, namun koran masih bisa samnpai ke pelosok desa desa. Selain itu juga halaman korannya sudah disediakan free alias grais untuk dimanfaatkan untuk sekolah.

      Jangan tanya berapa nilai 1 halaman koran jika dijual kepada pemasang iklan, advertiser dan sponsor. Karena NOL nya banyak sekali hiheiheiheiheiee.

      Delete
    3. saya nggak merinding karena horor, tapi nahan vivis

      Delete
    4. Wah wah vivis jangan di sini soalnya sudah tidak ada tempat lagi hieiehiee. Kalau vivis di sini bisa kena global warming hiheiheiheie

      Delete
  14. Mungkin skrg lebih efektif majalah sob. .di sekolah saya juga pake. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Yuyud : Hiehieheie ya benar sekali. Memanfaatkannya dalam format majalah juga baik dan menarik. Terima Kasih ya sudah mampir. Salam dari Pontianak

      Delete
  15. masih perlu.. rasanya tetep beda kl buat sy, baca koran sm baca di internet :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @myra anastasia : Saya pun merasakan hal yang sama. Memang ada beda dengan membaca secara online. Untuk membaca cara manual dengan koran juga tidak kalah manfaatnya. Karena koran lebih sampai merambah ke pelosok pelosok

      Delete
  16. saya rasa perlu apalagi koran nya ada dimuat karya2 yang indah... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya benar sekali mba. Seperti halnya di majalah dinding, nah di halaman koran juga ada space buat aspirasi siswa dalam olah seni, karya sastra, dan puisi waah sudah pati banyak yang suka

      Delete
    2. kolom puisi tentu ada...iya kan kang.

      Delete
    3. puisi dan cerita komik....

      Delete
    4. kolom banting panci, perlu ntar kalo KPK punya koran

      Delete
    5. @zachflazz : Hiheiheie KPK sepertinya sudah punya panci di rumahnya masing masing. Yang sudah punya panci siapa saja ya, wah perlu didata nih. Yang belum punya panci mau dicatet dulu, nah nanti saya serahkan ke bang Zachflazz.

      Delete
  17. jaman sekarang
    media berbasis lokalitas malah dapat menarik hati member

    saya sebut
    media mainstream
    belakangan bermain di ranah globalnya wacana dan informasi
    kebanyakan tergoncang dengan blog media berbasis komunitas
    #sebuah komunitas blog yang berusaha menampilkan informasi valid#

    tapi peluang media mainstream
    dan surat kabar masih berpengaruh luas di daerah
    dan untuk kegiatan yang bersifat privat


    masyarakat tetap saja memerlukannya kan
    tamasuk juga saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Kopi Susu : Benar sekali. Salah satu musuk media cetak adalah blog dan media sosial lainnya, namun sejauh ini tidak ada atau belum dilakukan riset tentang itu kaitannya dengab oplah penjualan koran. Ini artinya media online juga tidak menjamin koran tidak laku. Masyarakat tetap perlu koran karena segmentasinya jauh lebih luas dalam artian penggunanya.

      Orang mungkin berpikir prakmatis, ah buat apa beli koran, tinggal baca aja di internet. Saya rasa pendapat itu juga ada benarnya. Sejauh masih bisa gratis mengapa pula harus membayar (baca : beli koran).

      Delete
  18. Saya kira masih sangat di perlukan kang ,meskipun untuk di tempat saya sendiri koran khusus sekolah masih belum ada ,atau kalau boleh saya usul gimana kalau koran Sekolah di tangani langsung oleh pemerintah daerah dan hanya di khusus kan untuk informasi tentang pendidikan dan prestasi siswa sehingga kita bisa mengetahui sekolah sekolah yang lain dengan prestasi yang dapat di tiru ....(Wassalam)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah usulan yang sangat brilian sekali. Saya akan teruskan usulan tepatnya ide ini kepada instansi yang terkait. Tapi mekanismenya mungkin saya ajukan kepada pimred saya dahulu untuk dikaji lebih dalam lagi. Soalnya sejauh ini pemkot Pontianak pada khususnya, dan pemerintah propinsi Kalimantan Barat pada umumnya sudah memiliki halaman sendiri di koran kita.

      Delete
  19. kang asep jadi tukang foto lagi, hihihihi :P
    abis setiap ada foto wajah kasng asep gak ada
    apa emang kang asep low profil yah orangnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang tukang melet juga.

      Delete
    2. tukang melet itu yg ngitung uang di bank ya pak

      Delete
    3. nah itu tukang pelet

      Delete
    4. Pelet itu yang biasa dipake buat mancing ikan ya. Bahan bahannya dari udang, kadang harus dipoles sedikit dengan ikan sarden agar terasa amis dan disukai sama ikan ikan hihieiehiheiheiee

      Delete
  20. asyik ini kayaknya ya kalau ada di sekolah daerah sini

    ReplyDelete
  21. jadi ingat kompas muda..
    dulu sempat saya juga menggarap koran untuk sekolah emank asik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada koran daun juga
      juniornya daun muda

      Delete
    2. @blogspotdesign.com : Oh ya kah? wah sudah ada pengalaman Jurnalistik tentunya ya. Wah itu sebuah anugrah dan ketrampilan tersendiri. Itu sunggguh sebuah pengalaman yang menarik tentunya

      Delete
  22. Sepertinya MEdia Koran masih di perlukan ya di beberapa wilayah yang belom terjangkau internet..

    ReplyDelete
    Replies
    1. @jasa review : Nah benar sekali mas. Tidak semua pelosok sudah tersedia akses internet, belum lagi kesiapan sumber daya manusianya. Komputer juga belum semua orang di pelosok bisa menggunakan atau memiliki perangkat itu. Namun surat kabar dan radio adalah contoh yang bisa dengan mudah diakses oleh masyarakat luas hingga di pelosok

      Delete
  23. kalo menurut aku ini terbilang penting buat mendukung kreatifitas juga sebagai media buat belajar selama masih positif...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @BeeBekkkk : Yah benar sekali Bekkkk. Saya sendiri sangat mendukung dengan adanya halaman khusus koran sekolah walaupun sekolah tersebut sudah memiliki media sendiri baik cetak ataupun online. Karena jangkauan koran lebih menjangkau pelosok pelosok

      Delete
  24. di sekolahku... majalah udah nggak jalan lagi Om. para petingginya udah cabut duluan dari sekolah tanpa memberi bekas-bekas tentang bagaimana mengurus majalah. ya sudah, sekolah kosong tanpa majalah...

    majalah saja nggak dilirik, apalagi koran om... namanya saja anak muda jaman sekaran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Ocha Rhoshandha : Hiehiheie emang kenapa dengan anak muda jaman sekarang Ocha? Ieiheie. Malah yang saya liat anak muda sekarang lebih kreatif dari veteran anak remaja seperti angkatan saya ini hiheiheiee. Sekarang era teknologi informasi seharusnya menjadi pemicu semangat berkreatifitas tentunya. Saya harapsih

      Delete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog