Jual Milagros disini
Loading...

Berhati Hatilah Di Jalan Raya

Foto Asep
Catatan Asep Haryono

Apakah kawan kawan penggemar boyband yang menamakan dirinya SM*ASH? Nah baru baru ini salah satu pentolan grup band anak muda yang kreatif itu, Morgan , mengalami musibah kecelakan tunggal dimana mobilnya menyerempet (menabrak) rambu arah jalan. Dari tayangan foto yang ditampilkan tampak jelas kerusakan yang diakibatkan adanya tabrakan tersebut dan yang bersangkutan hanya luka ringan saja.

Saya bukan fans atau penggemar grup band yang digandrungi remaja Indonesia itu, namun hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa beliau adalah tertib dan disiplin kita dalam berkendaraan di jalan raya. Sampai sejauh manakan kedisiplinan kita dalam berkendaraan di Jalan Raya? Apakah sudah memenuhi ketentuan keselamatan berkendaraan atau standar keselamatan berkendaraan?. Sekilas nampak sama , namun ada perbedaan antara keselamatan kendaraan dengan keselamatan berkendaraan.

Biasakan Disiplin
Hal yang pertama yang mau saya diskusikan dalam kesempatan yang berbahagia ini adalah pelindung kepala yang bernama helm (helmet) yang selalu dipakai oleh pengendara kendaraan roda dua (baca: motor) maupun kepada yangdibawanya di belakang atau penumpang. Sudahkah menggunakan helm yang sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI)?.  Memiliki helm yang baik kualitasnya dan melindungi batok kepala belakang mempunyai tingkat keamanan yang lebih baik daripada helm separuh kepala saja yang biasa disebut di Pontianak sebagai helm "kerupuk".
  1. Penggunaan Helm
    Namun yang menjadi pertanyaan di sini adalah apa ukuran standar sebuah helm tersebut?.  Helm yang sekarang umum digunakan oleh pemakai kendaraan roda dua di Kalimantan Barat dikenal dengan sebutan "Helm Ciduk" atau Helm Proyek. Sebutan bagi helm yang hanya menutup sebagian dari batok kepala manusia. Mereka berasumsi helm proyek ini praktis , mudah dipakai, ringan, dan terjangkau harganya. Namun jangan senang dulu dulu.

    Banyak sudah catatan kepolisian yang berisi daftar pengendara kendaraan roda dua yang meninggal karena bentuan keras di kepala yang tidak terlindungi oleh helm akibat  kecelakaan di jalan raya.   Kewajiban untuk menggunakan helm standar tidak secara jelas disebutkan dalam UU Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (UULLAJ) namun saya tidak akan mendiskusikan soal helm ini.
  2. Ber "Halo Halo" di Jalan
    Saya punya teman seorang wartawati salah satu surat kabar di Pontianak yang pernah bercerita kepada saya kalau dirinya habis dirampok oleh 2 (dua) orang yang tidak dikenal saat dia memarkir kendaraanya di tepi jalan karena ada panggilan di Handphonenya.  Sekarang rekan saya itu sudah BEBE-EM an hiheiheiheiee.   Begitu handphone nya berbunyi saat dia berkendaraan roda dua, dia pun menepi dan menerima panggilan telepon itu, mendadak dia didatangi oleh dua orang pemuda tak dikenal tadi dan langsung merampas handphonenya.

    Foto dari Internet

    Belum lagi kebiasaan orang yang masih ber SMS ria saat mengemudikan kendaraan roda dua nya, atau menerima telepon (HP) sambil berkendaraan sering membuat saya agak kikuk dan ragu ragu karena posisi saya dibelakang dia. 

    Betapapun pentingnya panggilan telepon saat kita berkendaraan di jalan sebaiknya jangan  diterima dahulu karena sangat berisiko terjatuh atau menyebabkan pengendaraa lain menjadi terganggu konsentrasinya.  Kalau sudah ringsek kendaraannya bisa masuk bengkel kan.

    Begitu sudah sampai ditujuan masing masing, nah barulah sampaikan permohonan maaf dengan membalas SMS nya atau menelpon Miscall tadi dengan mengatakan "maaf tadi di jalan bla bla bla..". Sehingga lawan bicara kita menjadi "terhibur" dengan penjelasan kita tadi. Jadi dalam hal ini saya menghimbau kawan kawan untuk tidak ber "halo halo" saat mengendarai kendaraan roda dua atau kendaraan bukan roda dua demi keselamatan bersama
  3. Sabar Di Lampu Lalu Lintas
    Di Pontianak sendiri sudah sering terjadi kecelakaan disimpang lampu merah yang disebabkan oleh bertubrukannya kendaran dari dua arah yang berlawanan pada saat lampu masih menunjukkan warna merah yang berarti berhenti.  Tidak ada nya kesabaran atau rasa sabar para pengendara untuk sampai pada gilirannya jalan yang ditandai oleh lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau.  Sering saya lihat lampu masih menyala merah, namun sudah tidak sabar untuk jalan. 

    MELEWATI MARKA :  Pelajar ini melewati batas Marka di lampu merah.  Nomor kendaraan saya samarkan dengan menghargai privacy mereka dan tidak menjadi malu karenanya.  Jangan contoh prilaku tak disiplin ini ya.  Photo Hak Cipta Asep Haryono

    Belum lagi marka jalan yang sering dilanggar begitu saja, padahal ketentuan sudah jelas semua kendaraan agar berhenti dibelakang garis marka.  Dalam penjelasan UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan, pasal 287 (2) juncto Pasal 106 (4) huruf a, b tentang rambu-rambu lalu lintas dan berhenti di belakang garis stop. Pidananya adalah kurungan dua bulan penjara atau denda Rp 500.000. Nah loh ancaman hukumannya tidak main main bukan.  Nah untuk itulah saya menganjurkan untuk bersabar dan berhentilah di belakang Garis Marka yang sudah ditentukan.
Dari semua parameter disiplin yang saya contohkan di atas memang masih bisa didiskusikan lagi karena bisa saja setiap pengendara memiliki pandangan dan persepsi yang berbeda dalam menerapkan disiplin lalu lintas berkendaraan dan disipilin keselamatan dalam berkendaraan.  Namun kadang untung tidak dapat diraih, malang pun tidak dapat ditolak.  Kadang kita sudah berhati hati namun tetap terkena musibah. Kok bisa tidak ngapa ngapain kok bisa celaka di jalan raya? Tentu saja, mengapa tidak.

Saya dan istri saat mengendarai IRON MAN (baca : MIO) di perempatan lampu merah di simpang Mapolda Kalimantan Barat juga ditabrak orang dari belakang.  Walau kami ditabrak dengan kecepatan yang sangat lambat, namun benturan yang kami rasakan juga mengagetkan.  Bagaimana tidak kaget karena saya sudah berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah.  Tiba tiba disenggol dari belakang oleh seorang pengendara yang membawa kaleng kerupuk.  Kami heran juga justru yang menabrak yang terjatuh, dan kaleng kerupuknya gelondangan berserakan di jalan.

Kalau sedang terburu buru gimana coba? Segitu penting kah urusannya hingga harus melaju cepat di jalan raya hingga melampaui batas kecepatan yang dianjurkan oleh marka jalan?. Jalan jalan di kota Pontianak yang tidak cukup lebar menurut pengamatan saya memang wajar di "patok" maksimal kecepatan 40 KM/perjam saja namun saya liat banyak yang melaju lebih dari kecepatan itu.  Seperti dalam baliho yang saya baca kemarin "Biarlah terlambat 1 menit dalam hidup daripada kehilangan hidup dalam 1 menit". Masuk akal juga ya.  Nah berhati hatilah di jalan raya. Keluarga anda menanti di rumah.  (Asep Haryono)

52 comments:

  1. kalo lampu merah terkadang di Malang saya masih melanggar pak asep. soalnya lampu merahnya banyak yang mati gak jelas gitu .. hehehe ... terus kalo tulisan ajakan telat satu menit kalo pendapat saya sih mending tulisannya gini "Mending berangkat lebih awal dan pelan-pelan, dari pada berangka telat tapi cepat-cepat" lebih baik kalo menurut saya sih.. hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih bagus lagi, "lebih baik berangkat awal tapi cepat-cepat"

      jadi pas sampai tujuan, bisa makan bubur dulu....

      Delete
    2. banyak kok yang lampu nya gak jelas mungkin karena sinar matahari jadi cerah warnanya membingungkan *mungkin.

      Delete
    3. musim hujan pak...
      kayaknya lebih baik ga berangkat
      enakan kelonan di rumah...

      Delete
    4. nah...tuh bener hehe :)

      Delete
    5. itu kan mimpi mas rawin.
      mimpi masih gratis kan?

      Delete
    6. mimpi apa klangenan?

      Delete
    7. ko' jadi ke mimpi nih...

      Delete
  2. betul kang,kadang kita berkendara tidak sadar keselamatan.apalagi anak2 muda sekarang wuihhh,akang tau sendirilah bagaimana,yang terpenting biar lambat asal selamat ya kang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. biar selamat asal lambat

      Delete
    2. orang jawa bilang
      alon alon waton kelon...

      Delete
    3. kelon tangan. kelontangan. suara panci

      Delete
  3. tambah lagi kang.. bermesara di jalanan

    ReplyDelete
    Replies
    1. siapa tau pengen merasakan ciuman maut, pak...
      ciuman di jalan tol...

      Delete
    2. mencium ada keganjilan

      Delete
  4. kadang aku tahu, aku ngerti kang ....
    kalau smsan di jalan itu berbahaya banget,,,
    tapi kalau aku, paling susah yang namanya mengabaikan pesan dari orang ...
    apalagi kalau itu panggilan lamaran kerja, wah pasti aku stop motorku terlebih dahulu...

    hanya saja kalau aku, semau-maunya smsan sambil di jalan itu aku pelankan kecepatan motor terlebih dahulu kemudian melihat disana-sini banyak mobol atau motor yang melintas atau tidak.
    Jadi, intensitas kecelakaannya agak berkurang...

    kalau aku boleh minjem ketawanya kang asep,
    Hieheihiehiehiehiehiehie............... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. maksudnya ngeriplei yang ini
      kenapa masuk di bawanya bu miz ya...?

      Delete
  5. emang sering begitu, kadang batasnya biasanya memang jauh banget, dan biasa yang sering dan banyak yg gitu anak sekolah kan reme-rame.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo aku ga peduli
      buka sms tar aja di lampu merah.
      kalo ijo mulu ya jalan terus. paling paling tar nyampe tujuan, yang diapelin ga ada di rumah. begitu buka hape, ada sms
      "aku ga di rumah. jemput di mol aja ya..."

      *srampang knalpot...

      Delete
    2. #trend br: srampang knalpot

      Delete
    3. apa nggak mlothas tu?

      Delete
  6. di jalan itu yang penting tawakal pak
    kita hati-hati orang lain meleng tetep aja nubruk
    yang lebih penting lagi
    kalo lagi apes gausah mendramatisir apa lagi dikomersialisasi. asal badan sama-sama sehat, kerusakan kendaraan bisa diobrolin sambil ngopi

    kecuali kalo ketemu orang rese, mendingan diajak ke pos polisi. tapi sebelum ngomongin masalah polisinya kasih "salaman" dulu. dijamin nyaman dah biarpun salah...
    hiduplah indonesia raya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya suka dengan komentar kang rawins yang ini,
      (kalau diperhatiin dengan seksama, kita ini mirip lo' kang)

      Delete
    2. waduh mang...
      bakalan ada gosip lagi tar...
      hihi

      Delete
    3. saya juga suka dengan komentar mas rawins

      Delete
    4. saya datang buat visit para pasien saya.

      Delete
    5. padahal beliaulah raja paseinnya..kalau raja, pasti stadiumnya udah paling tinggi...buwahahaaa

      Delete
    6. itu stadium bola mana kang yang paling tinggi?

      Delete
  7. Yak, sebenarnya kalo budaya disiplin itu bisa dibangun dengan benar, hal" tersebut pasti bisa dilaksanakan secara otomatis ya. Sayang, masalahnya kedisiplinan itu belum mengakar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita maunya teriak teriak doang tapi ga mau memulai dari diri sendiri. kira kira begitu...

      Delete
    2. tumben nggak lucu komennya

      Delete
  8. kadang juga pengaturan lampu merah...makan waktu lama buat nunggu giliran hijau...ada di daerah senen jakarta depan atrium...klw merah lama bgt... :)

    sampe banyak orang ksh julukan..lampu merah perempetan senen..lampu merah terlama di dunia...hrhe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu pasti di atur buat para pengamen...

      Delete
  9. memang sekarang sudah jadi kebiasaan orang nelpon sambil motornya jalan. kadang orang baru sadar ketika sudah menerima akibat dari kelalaian seperti ini.

    ReplyDelete
  10. juga cek kondisi/kesehatan badan/tubuh .. sakit, mabok, pusing atau apalah.

    ReplyDelete
  11. Saya termasuk yang disiplin. Saat bawa mobil tetap pakai helm. Disiplin toh kang saya? buahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. berenti di lampu merah buka pintu. satu kaki dikeluarin nyagak ke jalan...

      *obsesi motoris...

      Delete
    2. saya pake helm kalo vivis

      Delete
  12. Fenomena bermotor yg m'abaikn kslmtan diri merupakan pwmandangan yg jamak trjadi. sy sndiri prnh di srampang motor swktu lampu utk arahnya saya sdh ijo dan dtinggal kabur dg sukses

    ReplyDelete
  13. yang pastinya kita sama-sama saling berhati-hati sesama pengguna jalan, jangan hanya kita , orang lain juga .betul tidak...
    untuk itu berhati-hatilah dengan hati kita..
    #salahfokus.

    ReplyDelete
  14. dalane mbaeh....itulah yang ada dibenak para penunggang motor saat ini.
    mungkin lagi trend kali ya mas,bawa motor main sms....padahal membahayakan nyawa sendiri dan orang lain.
    peraturan ketat,disiplin jalan banyak dipromosikan....tapi kesadaran diri sebagai pengguna jalan raya yang masih kurang kayaknya pada masyarakat kita ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. jalan punya kakeknya, itu artinya dalane mbaeh.

      Delete
  15. dalam berkendara, kalo malam terutama, saya menemukan 3 hal paling sering bikin saya nervous, yaitu:
    1. lampu kendaraan dari arah berlawanan yang terlalu terang (seperti menggunakan lampu jauh)
    2. kendaraan dari arah berlawanan tanpa lampu.
    3. orang menyeberang jalan berpakaian gelap.

    sebagai antitesis, saya pun nggak pernah pake lampu terlalu terang, selalu pake lampu jika malam, dan menggunakan pakaian terang jika malam (jika ada momen menyeberang)

    ReplyDelete
    Replies
    1. pakai obor kayaknya aman kalau mau nyebrang..:D

      Delete
  16. Saya paling takut kalo di jalan terima telfon atau sms. Takut ketabrak atau nabrak. heheheh. Saya dulu tinggal di Paris II pak. Saya suka berkunjung ke blog bapak, setiap postingan pasti ada gambarnya, dan saya suka itu, sebab saya rindu akan Pontianak. heheheh

    ReplyDelete
  17. inilah budaya orang indonesia yang gak perna patut dengan peraturan lalin.

    pamer kalau punya HP dan sok sibuk. bukan gak tau soal rambu2 lampu merah, memang sengaja di langgar biar klihatan sok berani.

    kalau orang ndeso (desa) bisa dimaklumi. karena gak tau peraturan lalin. lah kalau orang kota..?

    ReplyDelete
  18. SSetuju banget mas... harus hati2
    elain rawan kecelakaan, kini di jalanan rawan kejahatan

    ReplyDelete
  19. .: setuju, safety driving...^_^

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog