Jual Milagros disini
Loading...

Masih Sering dituduh" Sebagai Wartawan

Gambar dari Internet
I am nota reporter. I am not a journalist.
Saya Bukan Profesi Wartawan

Catatan Asep Haryono

Dalam suatu kesempatan saya pernah sampaikan dalam forum bapak bapak di komplek bahwa saya bukan wartawan dan hanya kebetulan bekerja di media koran, namun bukan profesi Wartawan. Bidang saya hanya ngurus website saja dan berkutat dengan koneksi sambungan internet dan database CMS atau control management system seperi PHP, Joom....

Belum sempat saya teruskan kata kata saya tadi, saya lihat bapak bapak melongo semua, ada yang menganga mulutnya. Suasana mendadak hening. Jarum jatuh pun terdengar nyaring. Huaaaa banyak bapak bapak yang tidak paham penjelasan saya.

Saya lupa kalaw bahasa yang saya pake kelewat ”tinggi” sehingga sulit dimengerti bapak bapak itu. “eh ehm Maksud saya pak saya kerja bagian betulin komputer gitu deh pak e” jawab saya ces pleng. “oooooooooooooo” persis suara paduan suara. Bapak bapak di ruangan itu pada manggut manggut. Alhamdulillah

Pasrah Saja Saya Eui
Sampai sekarang “tuduhan” saya seorang wartawan masih lekat dan semacam imej yang “menempel” kepada saya belakangan ini walaupun sudah berkali kali dijelasakan bahwa saya bukan atau tidak berprofesi wartawan hanya kebetulan saja bekerja di media koran teteup saja gitu Ya udah deh pasrah saja hiheihiehiehiheiee. Itulah masyarakat yang tidak mau dan tidak akan bisa mengeri keadaan kita ya kan?

Masyarakat tidak mau mengerti dan tidak akan mengerti keadaan kita. Mereka maunya dimengerti. Banyak hal hal salah kaprah atau salah paham yang sering terjadi di masyarakat.  Sebenarnya buan total salah kaprah karena persoalan Bahasa, tapi suer deh bahasa memangh bisa menjadi persoalan dalam pemahaman untuk tercipta nota kesepahaman, oala bahasanya makin galau aja sayah ini.

Bahasa bisa menjadi pemersatu dan bisa juga berpotensi menjadi biang keledai eh keladi hingga menjadi pertengkaran. Mengapa kita harus bertengkar sesama kita hanya karena perbedaan penafsiran suatu kosa kata atau bahasa?.   Sudahlah sesama kita jangan bertengkar hal hal yang tidak prinsip.  Membesar besarkan hal yang kecil dan atau menganggap remeh hal yang besar.  Auk ah gelap.

MEJA KERJA : Nah ini dia kokpit saya, kalaw sudah duduk di sini pusing segera melanda. kawan kawan liat ada laci (drawer) ya. Nah itulah kota DoraEmon karena isinya kue kering, snack, kopi susu sachet, gula pasir, sendok dan juga cemilan lainnya. Hahhahaha. Sudah kaya toko.  Cemilan saya banyaak.  Foto Asep Haryono

Lompat Pagar
Ini sama saja dengan analogi latar belakang wartawan (reporter). Tidak semua jurnalis (reporter/wartawan) kita itu punya basic atau latar belakang pendidikan khusus wartawan. Malah banyak dari jurnalis kita yang pendidikan sebelumnya sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia kewartawanan atau jurnalis seperti dari Fakultas Kehutanan dan lain sebagainya.  Apa saja boleh kok, istilahnya "lompat pagar" gitu deh.

Walau saya senang bergaul dengan komunitas para kuli disket (dulu sebutannya kuli tinta-red), pekerja pers, atau nyamuk pers, bukan berarti saya harus larut bersamaan dengan lunturnya hobi menulis saya ini dan meleburkan diri dengan beralih profesi menjadi seorang wartawan atau jurnalis. Oh tidak, saya tidak ada bakat (talent) profesi sebagai wartawan. Ditawari atau diajak pun pasti saya akan menolaknya karena profesi (wartawan) itu bukan dunia saya. 

Senang memasak bukan berarti kelak harus menjadi seorang chef.  Hobi memoto moto bukan berarti harus menjadi seorang juru foto atau fotographer. Namun dari sini semuanya bisa disalurkan atau diarahkan menjadi profesi yang sesuai dengan minat tentunya.  Namun semuanya itu terpulang kepada diri kita masing masing.  Passion saya sepertinya tidak berbakat menjadi seorang wartawan atau reporter yang menurut pandangan saya adalah profesi yang sangat menantang dan punya peluang untuk berkembang sangat cepat.

Bagi saya pribadi menekuni hobi adalah sesuatu yang menyenangkan, dan dari hobi inilah bisa mendatangkan uang, atau ketenaran. Hah ketenaran? Oh iya mengapa tidak.  Jika itu sah dan tidak melanggar etika, kepatutan dan tidak melanggar hukum, mengapa tidak?. Orang butuh publicity, dan blogging adalah salah satu media yang tepat untuk menawarkan ide, gagasan, dan pendapat kita kepada dunia. Membaginya kepada dunia. Sungguh suatu kebanggaan jika apa yang kita bagikan kepada dunia itu bermanfaat bagi sesama.

Saya bukan Profesi Wartawan

(Asep Haryono)

46 comments:

  1. Lah ... aku juga memanggil dengan sebutan Kang Asep ...
    Dan aku juga masih menuduh akang sebagai seorang 'Wartawan' ...
    gimana ituuh kang?? :D


    Kalau perihal Kang Asep, aku memanggil dengan sebutan Akang karena nama Asep kebanyakan berasal dari tanah Sunda. Jadi, yaa spontaniti saat aku kenal pertama kali dengan kakang aku panggil aja kang Asep.
    Eh ternyata gak cuma aku... :D


    Tapi jika kang Asep agak keberatan, mungkin aku bisa panggil dengan sebutan yang lain gitu seperti Suhu, Guru, atau apa gituu .. hahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @A.Y.Indrayana : no no no saya senang dipanggil kang Asep karena sudah trademark saya bertahun tahun. Tetaplah demikian hiheiheiheiheiiee.

      Oh ya ngomong ngomong artikel ini accident karena sebenarnya merupakan part of others. ini bagian dari artikel lain yang akan tayang di hari mendatang.

      Jadi banyak paragraf yang kacow dan tidak nyambung dengan paragraf di atas atau dibawahnya. Sudah gitu nda ada foto sama sekali. Apa yang menarik dari tulisan ini? Hiheiheihieiee. Auk ah gelap

      Delete
    2. tuduh aja beliau sebagai wartawan, nggak bakalan ada sanksi koq. gimana Pak Wartawan? hiehie..

      Delete
    3. tapi secara dari tampilan, Kang asep cocok kok 'dituduh' wartawan...(wajah mupeng dan kepo..hihi)

      Delete
    4. @zachflazz : Hiheiheee nda ah. Nanti saya bisa dijewer sama Editor In Chief hiehiehiehiee. Nda ah. Jangan ah. Saya bukan Wartawan

      @Popi : Hiehiehie jangan ah. Enak dituduh "ganteng" atau dituduh "ngetop" aja deh. Yang menuduh berPAHALA, yang dituduh pun merasa senang hiehiehieee

      Delete
  2. Blasteran tengah dan barat terbalik ya ? Wartawan sebenarnya memang berhak disandang kang asep eits mas asep karena postingannya sangat bagus dan runut bahasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Djangkaru Bumi : Seperti insiden ini masih belanjut. Saya tidak sengaja memotong beberapa paragraf dari tulisan saya yang akan tayang di hari mendatang, dan "memisahkannya" di edisi yang lain.

      Saya nda sengaja menyetting tayang hari ini, padahal ini artikel yang terdiri atas potongan potongan paragraf yang tidak nyambung sama paragraf di atas dan dibawahnya.

      Jadi nda jelas mau kemana arahnya tulisan ini, namun pada intinya sebutan wartawan padahal bukan walaupun kerjanya di koran. Hiehiheiheiieee.
      Hiheiee Saya senang aja disapa "Kang Asep" atau Mas Asep. Tapi saya secara pribadi sangat senang disapa "Kang Asep" aja karena sudah bertahun tahun sih dan semua di kantor suka menyebut itu. Hiheihieiee

      Delete
    2. gimana kalo buka lembaran baru, jadi Bung Asep aja? lebih wartawan tuh.

      Delete
    3. Hieieei nda ah. Jangan ah. Biar saya aja apa adanya. Blogger, dan penggemar Wisata Kuliner. Saya bukan wartawan

      Delete
  3. ou ternyata ente wartawan ya gan.. hehehehhe. saya juga masih ga ngeh. ya sudah terima aja, itu jadi jadi diri ente. toh orang lain yang manggil ini kan? ehm.. pantesan blog ente maju, ternyta ente emang urusan kerjanya yang begituan toh. sukses dah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @cerita anak kost : Hi hi selamat datang. Bukan mas. Saya bukan profesi Wartawan, walaupun saya bekerjanya di salah satu media cetak (koran) yang terbit di Pontianak. Kalimantan Barat.

      Departemen saya Online atau lebih kerennya disebut "website content specialist". Dalam bahasa cueknya Tukang Aplod website gitu heihiehehiee. Saya senang karena artikel atau tulisan saya sudah siap untuk 1 minggu ke depan. Tinggal edit sana sini aja hiehiheiheie. Terima Kasih ya

      Delete
    2. wah ud terbiasa dengan editing di koran, ya pantes blognya pun ikut kena ibas yang baik. ngomong ngomong tentang lompat pager, bisa ga ya dari mesin ke wartawan.. heheheh

      Delete
    3. pokoknya kang asep wartawan, titik, ehh, koma aja. masih banyak ntar komentar di bawah.

      Delete
    4. @cerita anak kost : IHeihieei ya kadang saat tulisan itu sudah siap dan akan tayang, eh mendadak ada tambahan adta baru atau mau nyelipkan foto baru dalam postingan. Jadilah di edit dulu hieieiee. Kadang mendadak ada paragraf baru "nongol" ditengah tengah

      Delete
  4. siapa yang berani menuduh Kang Asep? Kejam sekali. akan berhadapan dengan kami murid-muridnya. Kalo nanti ada lagi yang berani nuduh lagi, bilang ke kami. pasti kami hadapi, untuk kemudian kami akan masuk barisan, buat menuduh bersama-sama, bahwa Kang Asep memang wartawan. Hidup wartawan!

    ohhhh (ikut paduan suaranya),jadi Kang Asep blasteran to?

    ReplyDelete
    Replies
    1. #Siapkan baju zirah

      Delete
    2. @zachflazz : Hiheiheiehie ini namanya saya digebukin sama anggota KPK beramai ramai huaa bisa babak belur serta babak babak selanjutnya nih. Mendingan saya salto aja sekalian ambil keputusan untuk tidak tinggal diam. Iya lah tidak tinggal diam alias melarikan diri kaburrrrrrrrrrrrrrr

      Delete
    3. sebelum salto, coba koprol dulu, udah bisa apa belum. kalo udah bisa baru mikirin salto. emang Kang Asep pikir salto itu gampang, apa? gampang tau!! (lho, nggak jelas ya? biarin, emang mumet koq)

      Delete
    4. @zachflazz : Wah jangan salah Bang Zach, saya pernah salto satu kali langsung jeder ni jidat. Benjut heiheihiehiee. Padahal alasnya sudah pake tilam atau kasur, tetap aja benjut di jidat. Besoknya kapok nda mau latihan salto lagi

      Delete
  5. Hahaha aku juga rada rada bingung loh, om Asep nih wartawan atau pegimana seeehh...
    Oh ternyata itu to...
    Ooooooooo...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihieiee bukan mba Una. Profesi saya bukan wartawan. Hanya saja kebetulan gawe di media cetak (surat kabar) saja. Nah dengan postingan ini diharapkan clear alias jelas bahwa saya bukan profesi wartawan. Hiheihiehiehiee.

      Delete
    2. wartawan ding! tuduh dia sebagai wartawan!

      Delete
  6. ternyata mastere web site mas,,, musti berguru ke sampean iki hhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. @ahmad muazim abidin : Hiheiheie Alhamdulillah. Terima Kasih sudah berkunjung. Wah saya sih biasa biasa aja mas, dan masih belaja sanah sini hiheiheiheiheiheie

      Delete
    2. berguru harimau.. eh itu berburu ya

      Delete
  7. pasti ahli ya mengelola website. bisa belajar PHP sama kang Asep nih..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Artabez.Cam Berita dan Informasi : Hiheiheie ah saya aja masih belajar kok mas. Nda paham yang namanya pemograming atau bahasa yang "aneh aneh" seperti PHP. Perl, atau segala macem.

      Saya cuma operator web saja yang anak SMA aja sudah bisa melakukan pekerjaan saya ini. iehiheie. Terima Kasih dah mampir ya

      Delete
    2. nggak cuma PHP, PMP juga loh

      Delete
    3. wah kalau PMP (Baca : pe em pe alias pempek) Palembang wah itu saya suka. Terutam Lenjer, bakso bulat dan juga jenis Pempek Kapal Selam hiehiehiehiehiehiee

      Delete
  8. induk kerjanya dipercetakannya atau korannya kang, kalau dipercetakannya berarti percetakan kompas ya? selama ini saya menduga dari melihat penampakan foto yang ada kang Asep seorang pns seperti kang zachlazz, eh ternyata keliru dugaan saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Thanjawa Arif : Saya di Harian Pagi Pontianak Post yang merupakan anak perusahaan dari Group JPNN (Jawa Pos News Network). Percetakannya kita punya sendiri namanya Percetakan Akcaya Pariwara. Bukan percetakan Kompas seperti yang mas Thanjawa Arif sebutkan. :)))))))

      Swastah saya mas, yang PNS itu istri sayah hihieiehiheiheiheiheiee. Wah Bang Zachflazz mah hebring udah canggih hiehiheihee

      Delete
    2. kang Asep kalo Sabtu sama minggu, berbaur dengan seorang PNS, hihui..

      Delete
    3. Benul eh betul sekali, dan PNS itu adalah istri saya tercinta yang sudah digadang gadang mau naek pangkat ke Golongan III B Insya ALlah

      Delete
  9. wah posting ini ada lagi ...
    oh jadi akang udah terbiasa dipanggil kang Asep? Padahal akang asli Bekasi yang pindah ke Kalimantan.
    Ditambah lagi nama twitternya "cepot" menambah keyakinan kita semua kalau akang ini hars dipanggil dengan sebutan "kang Asep".
    Hehehehe :D

    ReplyDelete
  10. mungkin para bapak kurang mudeng atas penjelasannya, jadi mohon lebih dijelaskan lebih detail lagi... *yang ada makin bingung kayaknya. hehehe
    mungkin kerja di media itu paradigmanya selalu dianggap wartawan ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. @riaberbagi : Hiehiheiee iya benar sekali. Padahul eh padahal itu semua karena saya lupa karena forum RT RT tersebut dari berbagai kalangan.

      Jadi ini seperti masukan yang berharga buat saya. Pelajaran buat saya agar hati hati dalam menyampaikan pesan agar bisa dipahami oleh setiap orang

      Delete
    2. hwhehehehe... kadang kita hrs menyesuaikan kpd orang yg mendengarkan ya.. :)

      Delete
  11. kalo mau tenar sekarang gampang Kang! tinggal bobol Bank negara aja...hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Popi : Saran yang luar biasa mantapsnya. Yang jelas saya sudah praktekan "membobol" hati istri saya iheiheiheiheiheie.

      Delete
  12. bukannya mas asep emang wartawan? ayo ngaku! *maksa* hehehe..
    buktinya mas asep ini sangat piawai dalam menulis, persis bgt ama wartawan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiheihehiehiee bukan mba cova, saya bukan profesi wartawan. cuma kerjanya aja di komunitas wartawan dalam sebuah perusahaan media cetak atau koran yang terbit di pontianak, kalimantan barat.

      ah masa sih. Segala puji hanya milik ALLAH SWT, terima kasih mba cova sudah mampir. Quotenya sangat bagus, dan saya pasang 1 minggu lagi

      Delete
  13. untunglah saya bekerja di volare sebagai penyiar, dan masih 'dituduh' penyiar walopun sekarang sudah berubah jadi news editor, tukang input berita ke website juga xixixi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhiehiheie wah masa sih. masak di dapur. hiehiehiee kalaw gitu paling enak dituduh 'ngetop' atau tertuduh 'ngetop' aja ya secara itu sangat menguntungkan semua pihak. yang dituduh merasa senang, yang menuduh dapat pahala. win win solutions gitu hiheheiheiheiheiee

      Delete
    2. boleeeeh.. dituduh langsing juga saya mau kang xixixi

      Delete
    3. Kalaw gitu okelah akan saya tuduh miss Syahdini seperti yang dimintakan. Terima Kasih atas kehadiran Miss Syahdini yang langsing pada hari ini, dan meninggalkan komentarnya di blog saya yang humble be ini hiheiheiheiheee

      Delete
  14. cie ciee.. yang ahli di bidang CMS,,,, hihihi...

    pelajaran nya adalah, kita mesti liat² lawan bicara kita ya, jangan sampe bahasa yang kita pake bukan nya bikin komunikasi lancar malah justru nyusahin diri sendiri :D

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog