Jual Milagros disini
Loading...

Love Of My Life - Part Two

Bagian Kedua Tulisan - Habis
Dalam Rangka Peringatan Ulang Tahun Pernikahan ke 7 tahun
11 Desember 2005 - 11 Desember 2012
Catatan Asep Haryono


Bagi rekan blogger dan pengunjung blog saya membaca posting ini sebaiknya membaca dahulu tulisan saya sebelumnya yang berisi dan berjudul Love of My life Part One sehingga bisa dengan mudah mengikuti jalan cerita ini. Saya akan sangat berterima kasih jika rekan rekan sudi kiranya membaca postingan saya sebelumnya itu sehinggan akan "nyambung dengan cerita ini.

Pertanyaan bagian kemarin yang belum saya bahas di sini adalah : Lalu bagaimana suka dukanya melakukan komunikasi jarak jauh tersebut?. Bagaimana mungkin melakukan koordinasi untuk mengadakan walimatul ursy sedangkan kami berada di 4 lokasi kota yang berbeda?. Jadikah kami menikah?. Bagaimana teknis seserahan dan lain sebagainya sedangkan kami berada di 4 kota yang berbeda?.  Puyeng kan hheiheiie. Saya aja oyeng 11 Keliling waktu itu. Jadi sudah tidak diangka 7 lagi.

Bagaimana tips tips mengatur/menyiapkan pernikahan ini? Berikut adalah bahasannya. Bagian ini habis dari dua tulisan bersambung saya. Selamat membaca. Semoga tulisan ini bermanfaat yang bagi mereka yang saat ini sedang menjalin komunikasi jarak jauh (Long Distance Relationship) dan bagi mereka yang sedang merencanakan ingin segera menikah. Tulisan ini sudah disingkat tanpa mengurangi makna dan substansi ceritanya. Halah Lebayyyyyyyyyyyyyy hiheiheiee



Komunikasi Jarak Jauh
Banyak suka duka yang saya dan calon istri saya waktu itu yang harus kami lalui dalam membina 'hubungan jarak jauh' dengan hanya mengandalkan komunikasi melalui SMS, telepon, email dan juga surat menyurat. Dengan letak geografis kami berdua yang jauhnya bermil mil, saya berada di Kota Pontianak (Kalimantan Barat), dan calon istri waktu itu berada masih Kuliah di Kota Semarang (Jawa Tengah) dan masih sibuk sibuknya menyusun panci eh salah skripsi.

Orang tua saya berada di Bekasi, sedangkan orang tua si dia berada di kota Jogjakarta (Jawa Tengah). Komunikasi kami selalu berkaitan juga dengan "koordinasi" kami berdua dengan orang tua masing masing. Jadilah komunikasi kami melintasi antar pulau atau lintas Pulau yang kalau digambarkan dalam diagram seperti ini  Jakarta, Pontianak, Semarang dan Jogjakarta. Begitu seterusnya bersliweran kesana kemari.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan di sini adalah antara saya dan Calon istri sudah ada kemauan dan tekad yang kuat untuk melangsungkan pernikahan di kota Jogjakarta. Nah Tekad dan Kuat inilah sudah dibahas bablas angine sama Mba Covalimawati.  Dan dari artikel mba Covalimawati  itulah kata kutipannya sangat kena bangeds dengan "ruh" tulisan ini, dan saya jadikan quote yang penting bagi saya.  Artikel mba Cova yang berisi dan berjudul "Seberapa Kuat Tekadmu?" luar biasa bagi saya.  Saya berterima kasih untuk itu, dan secara kebetulan saja artikel ini juga didedikasikan buat Mba Cova atas tulisan beliau.

Ini harus dicamkan dahulu dan terpenting sebelum melangkah berkomunikasi lebih intens lagi. Kesepakatan ini harus dipegang teguh dan harus memiliki kemauan yang kuat dari kami berdua. Itu syaratnya agar hubungan atau komunikasi jarak jauh bisa berlangsung dengan aman dan lancar..

Kebanyakan pasangan yang melakoni komunikasi jarak jauh runtuh di tengah jalan karena tidak ada komitmen ,keteguhan juga Tekad dan Niat yang kokoh dalam memegang kesepakatan bersama. Kemudian kami sudah menetapkan 'hari' dan tanggal pernikahan kami yakni di Kulon Progo pada tanggal 11 Desember 2005.

Dipilihnya tanggal tersebut atas diskusi keluarga calon istri dan kedua orang tuanya dengan dasar bahwa tanggal tersebut ditetapkan tanpa ada cerita ini itu yang biasa membumbui dalam setiap penetapan tanggal pernikahan dalam adat Jawa. Kami berprinsip semua hari adalah baik, walau ada sebagian keyakinan bagi masyarakat Jawa akan hari hari tertentu yang baik.

Suka Duka komunikasi jarak jauh banyak yang telah kami alami. Salah satunya adalah komunikasi dalam SMS Handphone. Kenapa sampai SMS dibawa bawa?. Keliatannya seperti remeh saja ya komunikasi SMS namun jangan dikira hal yang satu ini pernah membuat kami bersitegang hanya karena tidak sabar menunggu jawaban SMS dari pasangan.

Mungkin bisa saja SMS tidak sampai karena komunikasi jaringan yang dodol atau error dijaringan Halo atau Telkomselnya sehingga SMS yang dikirim tidak pernah sampai atau tidak pernah terkirim. Halah saya nyebut merek eui iheiheiieeihiee.   Kalian harus punya kesabaran dan toleransi yang tinggi jika ingin langgeng melakukan komunikasi jarak jauh apalagi yang sedang merencanakan pernikahan seperti kami waktu itu.

Bagaimana merencanakan pernikahan sedangkan kami berada di kota dan Pulau yang berbeda?
Setelah kami berdua menetapkan tanggal 11 Desember 2005 sebagai tanggal walimatul ursy (resepsi pernikahan) kami di Kulon Progo, kendala lain segera bermunculan satu persatu yang harus kami hadapi berdua. Satu persoalan selesai, muncul lagi 2 (dua) permasalahan baru. Apakah dua permasalahan itu?.

Pertama Calon istri menghadapi kendala untuk pindah dan menetap ikut suami jika sudah menikah pergi ke Pontianak, Kalimantan Barat. Saat itu sang calon istri harus bersabar memberi pengertian kepada ibu kandungnya yang berada di Kulon Progo yang saat itu tidak 'rela' anak gadis satu satunya dibawa ke pulau Kalimantan Barat jauh dari kampung halamannya.

Saat itu saya masih di Pontiana (Kalimantan Barat) dan sang calon istri masih kuliah di IKIP PGRI Semarang (Jawa Tengah). Orang tua calon istri berada di Jogjakarta, dan orang tua saya berada di Bekasi

Kedua. Kendala lainnya adalah kekisruhan manajemen di TK Islam Bias di Kota Semarang tempat sang istri mengajar dan juga carut marut manajemen di organsiasi tempat calon istri meenimba ilmu di IKIP PGRI Semarang.  Manajemen TK Islam Bias tempat mengajar sang calon istri saat itu tidak "rela"  kalaw salah satu stafnya berhenti mengajar karena pertimbangan murid murid dan kelangsungan pendidikan anak anak di sekolah itu. Namun Alhamdulillah sekali lagi kendala kendala itu berhasil di atasi oleh sang calon istri.

Sedangkan persoalan yang muncul dari pihak saya adalah menyangkut soal Finansial atau keuangan. Dari mana saya mendapatkan uang untuk membiayai pernikahan di Jogjakarta?. Terlintas di kepala saya betapa biaya yang sangat besar yang mungkin terjadi sehubungan dengan rencana pernikahan saya itu.

Uang ditabungan saya hanya cukup untuk membiayai hidup saya sehari hari. Mau tidak mau saya harus mencari pinjaman ke sana kemari untuk menutupi kekurangan biaya pernikahan. Saya gadaikan BPKB Motor SupraFIT 2004 saya kepada FIF dan saya berhasil mendapatkan kredit sebesar Rp.6.000.000,- (Enam Juta Rupiah), dan dari Pinjaman Kantor tempat saya bekerja juga sekitar kisaran angka itu. Dana ecek ecek inilah yang gunakan buat modal menikah. 


Jadikah Kami Menikah?Lazimnya orang yang akan melangsungkan pernikahan biasanya kan sang calon mempelai pria menyerahkan uang dan seserahan berupa barang kepada calon mempelai wanitanya bukan. Nah ini juga berlaku buat saya. Hanya saja kendalanya (kendala lagi khan) saya berada di Pontianak (Kalimantan Barat) dan sang calon istri berada di kota Semarang (Jawa Tengah). Apakah saya harus menggotong gotong seserahan barang barang itu dari Pontianak - Bekasi - Semarang - lalu ke Jogkakarta?. Bagaimana caranya agar saya tidak merepot membawa barang barang itu di hari pernikahan kami kelak pada tanggal 11 Desember 2005?
Catatan : Kami sepakat acara Akad Nikah dan sekaligus resepsi Pernikahan (Walimatul Ursy) dilakukan dalam 1 paket satu hari selesai hari itu 11 Desember 2005. Kedua keluarga sudah juga menyetujui demi efisiensi waktu dan biaya. Jadualnya adalah pagi acara ijab kobul dan siangnya langsung diadakan resepsi. Ini harus disepakati dulu ya jika kalian ingin mengikuti jejak kami. Cieeee. LebayyyyyyyyyyyyyyyyyyYYYYy. Hidup KPK. HIheihiehiee
Dan jalan keluar terbaik berhasil dipecahkan : Untuk barang seserahan yang terdiri dari berbagai paket seperi kosmetika wanita , baju dan pakaian daleman (ehm ehm), dan perhiasan disiapkan oleh sang Calon Istri dibantu rekan rekan akhwat sang Istri di Semarang (Jawa Tengah). Mereka akan membawa dahulu barang barang itu ke tempat lokasi pernikahan kami di Jogjakarta. Saya hanya mengirim uang untuk disesuaikan dengan keperluan itu. Mudah bukan?.

Untuk urusan barang seserahan yang menyangkut "perangkat lunak" seperti underwear dan lain lain (seyem nyebutin) saya serahkan kepada calon istri dan kawan kawan Akhwatnya. Saya tidak mendampingi untuk urusan barang ini secara saya risih. HIheiheiee. Ini aseli saya malu untuk milih milih barang "ajaib" yang biasa dipake di bagian dalam tubuh. Ini aseli malu dan nda perlu narik narik celana lagi hiehiehiehiee. Semua teknis atur mengatur ini dilakukan secara jarak jauh via SMS , telepon, email dan Surat.  Jarak jauh Pontianak - Semarang.

Detik detik menjelang keberangkatan saya dari Pontianak untuk ke Bekasi untuk membawa rombongan orang tua saya ke Jogjakarta, saya , malam itu dikamar kos, saya sempat mengirimkan SMS bernada basa basi atau intermezo aja kepada sang calon Istri. Yang kira kira isi SMS saya adalah "Maukah kau menikah dengan ku?". (Will you marry me?)  Tidak begitu lama saya menunggu jawaban SMS dari sang calon istri, munculah SMS balasan dari dia yang isinya kira kira :

Jika dia beriman kepada Allah, sanggup membimbing diriku kepada NYA, dicondongkan hatiku oleh NYA kepada dirinya, maka tidak ada keraguan dalam dirku untuk menolak

Sampai sekarang SMS itu masih saya simpan dengan baik dan sebagai kenang kenangan dari si dia.  Namun karena terlalu lama akhir SMS tersebut kena delet tidak sengaja. Namun isi kalimat dalam SMS nya sudah dicatat dan dipindahkan dalam buku. Jadilah sms jawaban dari si calon istri ini bisa dipublish dengan baik.  Ini jawaban SMS canda candaan saja dari calon istri hiehiehiehiee.  Walau cuma sms candaan saja, namun konten SMS nya penuh makna

11 Desember 2005 Walimatul Ursy
Akhirnya dengan segala perjuangan dan komitmen kuat yang dibangun bersama akhirnya tibalah saat yang sangat mendebarkan dan menjadi tolok ukur hidup kami seterusnya. Kami sepakat untuk melaksanakan sunah Rasullah SAW untuk menikah. Hari itu tibalah saatnya yang sangat kami nantikan, Ahad, 11 Desember 2005 kami melangsungkan pernikahan di kota Jogjakarta. Berikut adalah foto foto yang berhasil saya sertakan dalam tulisan ini. Foto lebih "bercerita" bukan? Bukannnnnnnnnnnnn


IJAB KABUL suasana setelah berhasilnya pengucapan ijob Kobul dengan satu kali ucapan saja. Setelah dilakukan ijab kabul, penanda tanganan buku nikah simbolis. Foto dokumen Asep Haryono



SESERAHAN : Suasana Seserahan kepada pihak mempelai wanita yang diwakili oleh keluarga kami yang berada di Jogjakarta



MENIKAH11 Desember 2005 Asep Haryono-Rudi Maryati. Jogjakarta, Jawa Tengah.

Saya langsung berangkat dari Pontianak (Kalbar) langsung menuju Bekasi , ke tempat kedua orang tua saya. Saya, kedua orang tua, dan 2 orang saudara (suami istri, Le yat dan Ngatemi. Nah Ngatemi ini adik kandung ibu saya). Dengan menumpang naek Kereta Api Aggro Anggrek berangkat dari Gambir Jakarta langsung menuju kota Jogjkarta. Sedangkan calon istri beserta rekan rekan akhwat yang mengantarnya langsung berangkat dari Semarang menuju Jogjakarta juga dengan menggunakan kereta.

Ahad, 11 Desember 2005.
Pada Pagi hari dilangsungkan serah terima seserahan dan juga cincin emas sebagai tanda pelamaran. Besarnya seserahan dan cincin disesuaikan dengan kemampuan kalian ya jika ingin mengikuti jejak kami. Cieeeeeeeeee Lebay. Ada hadist yang mengatakan bahwa mudahkanlah dalam memberikan mahar pernikahan, dan semulia mulia pasangan adalah jika bisa memahalkan maharnya. Saya masih mencari referensi hadist ini. Ada yang bisa bantu saya mencarikannya? Saya akan berterima Kasih sekali.

Dengan kondisi ekonomi kami yang serba kekurangan, saya hanya sanggup menyerahkan uang kepada pihak perempuan sebesar Rp.5.000.000,- (Lima juta rupiah saja) dan segala keperluan seserahan pesta dan segala macamnya juga dibantu oleh keluarga pihak perempuan. Saya tidak mengerti mengapa saat saya mengikrarkan ijob kobul dengan tenang dan berhasil mengucapkan hanya 1 kali saja. Wallahu Alam, dari mana datangnya kekuatan rasa ketenangan itu datang saat itu, bener bener saya tidak mengerti.

Saya biasanya gugup dan nervous jika menjadi center of attention (pusat perhatian) atau ditonton banyak orang.  Walimatul ursy juga seperti tontonan banyak orang.  Saya aja bingung kok bisa setenang itu dalam mengucapkan ijob Kobul sekali saja dengan lancar. Wallahu Alam.  Saya mengucapkan dengan tenang. Hanya Allah SWT saja yang tahu. Sedangkan siang hingga selesai dilangsungkanlah resepsi pernikahan atau Walimatul ursy hingga selesai.

Masalah terus ada di sekitar kami
Setelah menikah 11 Desember 2005 pun masih terbentang "masalah" lagi. Kali ini kata masalahnya saya cantumkan tanda petik, tentu rekan rekan maklum maksudnya. Setelah kami resmi menjadi suami istri, saya harus segera kembali ke Pontianak (Kalimantan Barat) untuk kembali bekerja sebagaimana biasanya. IZin cuti 11 hari ditambah 5 hari izin menikah terasa sangat singkat disaat kami masih menikmati hanimun (cieee). Kedua orang tua dan saudara sudah kembali ke Bekasi melalui kereta Api, dan saya bawa sang istri juga ke Bekasi beberapa hari kemudian.

Saya bawa istri ke rumah orang tua di Bekasi sekaligus memperkenalkan sang istri kepada semua sodara saya lainnya. Perlu diketahui bahwa saya adalah anak ke 8 (delapan) dari 9 (sembilan bersaudara).

Setelah beberapa hari di Bekasi, akhirnya saya kembali ke Semarang (Jawa Tengah) dengan menumpang kereta Anggro Anggrek yang saat itu bertarif sekitar 200 ribu rupiah. Dipilihnya kereta eksekutif Anggro Anggrek karena selain relatif cepat, juga fasilitas yang diberikannya juga keren, dan suasananya asyik dan bersih. Saya harus "mengembalikan" istri tercinta ke Semarang (Jateng) karena harus meyelesaikan skripsinya. Saya pun kembali ke Bekasi dan segera terbang ke Pontianak dengan menumpang pesawat Garuda.
WISUDA. Kenangan saat Istri saat diwisuda dari IKIP PGRI Semarang (Jawa Tengah) pada tanggal 25 April 2006. Foto kenangan.



Minggu Minggu pertama sebagai Suami Istri
Begitulah ceritanya bahkan setelah menikah pun kami "berpisah" beberapa bulan lamanya hingga akhirnya kami bisa berkumpul kembali sekitar Mei 2006. Setelah urusan wisuda selesai, dan urusan lain juga sudah selesai, sang Istri datang dari Jogjakarta dan tiba di Bandara Supadio Pontianak sekitar Mei 2006 dengan menumpang pesawat ADAM AIR (Sekarang ADAM AIR sudah bangkrut-red).

Saya didampingi oleh Mochamad atau Moch (Karyawan Percetakan Sungai Raya Pontianak Post) mendampingi saya menjemput sang istri. Dan kami pun bertiga ke rumah kontrakan yang saat itu berlokasi di komplek Komplek Griya Husada, Sungai Raya Dalam, Pontianak. Kami berdua mengontrak rumah yang sederhana di sana dengan biaya sewa kontrak pertahun saat itu taon 2005 an sekitar Rp.1.900.000,- (Satu juta Sembilan ratus Ribu rupiah).

Karena sang istri aseli orang Jogjakarta, dan mungkin belum terbiasa dengan air kolam yang ada di rumah itu. Air ledeng PDAM ada tentu, tapi kalaw saat PDAM lagi 'ngerajok' (bahasa Pontianak yang artinya "ngambek" alias macet) kan ujung ujungnya macet juga tuh PDAM. Jadi pas Macet itulah air kolam dipake untuk keperluan mandi dan cuci. Dan air kolam itulah yang membuat sang istri tidak 'betah' menggunakan air itu. Saya bisa memaklumi. Namun sedikit demi sedikit sang istri akhirnya terbiasa untuk itu.

Dalam keadaan uang sudah habis habisan bahkan untuk makan besok harinya kami harus menghemat luar biasa. Bagaimana menyiasiati hari hari pertama kami sebagai suami istri dengan hanya mengandalkan satu gaji?. Tentu saja harus berhemat sehemat mungkin. Dalam keadaan itulah sang Istri berinisiatif untuk tidak stay at home and doing nothing saja.  Sa

Kami memang sudah sepakat di awal pernikahan kami bahwa saya mendukung karir istri kelak sejauh itu tidak melupakan 'tugas'nya mengurus rumah tangga dan keluarga. Bosan berstatus sebagai "Pengacara" (Pengangguran banyak acara-red), sang Istri pun mencoba mengirim surat lamaran ke berbagai tempat mengajar kursus Bahasa Inggris , sekolah-sekolah SMA di Pontianak dan juga kampus. Semua lamaran yang dikirim ke sekolah SMA itu ditolak atau tidak diterima. Hanya satu saja lamaran yang mendapat jawaban dipanggil untuk melakukan tes, dari Yayasan Kejayaan Islam, TK Islam Al Azhar Pontianak.

Istri pun menghadapi 4 (empat) tes untuk bisa diterima mengajar di TK Islam Al Azhar Pontianak. Tes itu meliputi 1).Tes Tertulis. 2).Tes Wawancara/Interview. 3).Tes Membaca Al Quran. 4).Tes Psikotest serta Micro Teaching. Semua itu bisa dilalui dengan baik dan istri dinyatakan BERHASIL lulus dan diterima mengajar sebagai Pengajar di TK Islam Al Azhar Pontianak.

Saat bekerja masih magang selama 6 (enam) bulan, lalu Calon Pegawai selama 1 Tahun, dan akhirnya diterima sebagai pegawai Penuh . Dan saat itulah ekonomi kami mulai sedikit membaik. Kali ini saya dan istri sama sama punya penghasilan tetap. Dari sinilah kami mulai membeli peralatan rumah tangga ya piring, gelas, lemari pakaian , kompor minyak tanah dan lain lain. Mencicil barang rumah tangga, siapa tahu kelak kami memiliki rumah sendiri, kan barang barang sudah ada ya ndak. Biar pun rumah ngontrak , tapi rajin kumpulin barang barang.

Ekonomi Mulai Membaik.
Selama kurang lebih 1,5 bulan istri masih dalam keadaan 'kosong' atau belum 'berisi', dan itu membuat hati saya sedih. Saya selalu memohon dan berdoa kepada ALLAH SWT agar kami diberikan momongan, buah hati, pelipur lara, dan penerus kami. Bulan demi bulan sang istri masih mendapatkan bulannya, dan tidak jarang saya merenung, dan mencoba tabah akan semua ini.

Saya selalu berprasangka baik sama ALLAH SWT. Mungkin Allah SWT menguji kami saat itu, karena secara kebetulan saja saat itu kami masih banyak berutang sana sini untuk biaya pernikahan kami di Jogjakarta. Hutang dari lembaga keuangan, hutan dari Kantor yang jumlah NOL nya banyak itu akan semakin kerepotan jika sang anak hadir saat itu. Untuk makan aja susah. Mungkin ALLAH SWT melihat kondisi ekonomi kami saat itu yang habis habisan, jadi buah hati belum diberikan ke rahim sang istri.

Pindah Kontrakan dan Hamil
Akhirnya kami pun pindah rumah kontrakan ke Komplek Duta Bandara, Jalan Ahmad Yani II Supadio Pontianak pada tanggal 5 Pebruari 2007. Semua barang barang dari Komplek Griya Husada diborong semua ke kontrakan yang baru itu. Trims buat bang Moch dari Percetakan Sungai Raya yang selalu setia mengantar kami kesana kemari. Bang Moch bisa mengantar kami dengan mobil kantor dengan izin dari Alm.Tri Hanjaya dan juga koordinator Bang Ismail juga dari percetakan Sungai Raya.

Suatu hari saat hujan mau turun, langit di atas rumah ku sangat gelap. Angin berhembus lumayan kencang, dan secara tidak sengaja saya melihat konfigurasi langit di atas rumahku berbentuk lafaz ALLAH. Huruf itu terbentuk dari bungkahan gumpalan awan hitam kelam karena angin kencang tanda mau turun hujan. Betapa saya merinding melihat konfigurasi huruf ALLAH di langit gelap itu.

Bentuk yang sangat besar sekali. Hal ini belum saya ceritakan kepada istri. Juga mengenai mimpi saya beberapa hari kemudian, dalam mimpi saya memancing ikan dan ikannya berubah menjadi seorang bayi cantik putih laki laki dan bayi itu diminta oleh orang, dan saya berikan bayi itu kepadanya. Apakah itu tanda tanda dari ALLAH bahwa istri saya akan hamil?. Wallahu Alam, Hanya ALLAH Yang tau.

Hingga pada suatu ketika, ketika saya masih di Bali dalam rangka kegiatan Kang Guru Indonesia bulan Juli 2007, saat saya sudah packing di Hotel Bali Summer saya ditelepon dari sang istri bahwa ia sudah terlambat 2 (dua) minggu, dan saya katakan hal itu sangat menggembirakan. Sekembali dari BALI, saya mengantar sang Istri ke dokter Taufiq di RS Bersalin "JEUMPA" yang terletak di depan Kantor PELNI Pontianak. Dari beliaulah diberitahu bahwa sang istri sudah hamil lebih dari 1(satu) bulan. Maha Besar ALLAH SWT.

Akhirnya berkat izin ALLAH SWT akhirnya lahirlah putra kami yang pertama. Bayi kam yang pertama. Kami memberinya nama Abbie Muhammad Furqan Haryono atau disingkat dengan Abbie. Lahir di Rumah Sakit Bersalin Jeumpa yang di jalan Sutan Syahrir pada hari Rabu, tanggal 12 Maret 2008 atau bertepatan dengan 04 Rabiul Awal 1429 H. Waktu Abbie lahir Panjangnya 50 cm, Berat 3,5 Kg.

Bagaimana akhirnya sedikit demi sedikit perekonomian kami membaik seiring dengan hadirnya sang buah hati pertama kami, Abbie Muhammad Furqan Haryono lahir ke dunia 12 Maret 2008 melengkapi kebahagiaan kami. Seiring itupula sang istri berhenti mengajar di TK Islam Al Azhar dan akhirnya mengantarkannya diterima dan lulus CPNS 2008 hingga kini mengajar sebagai salah satu staf pengajar Bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Kubu Raya.

Kondisi keuangan kami sedikit demi sedikit mulai kearah perbaikan, dan kami akan segera mewujudkan mimpi mimpi kami yang masih lama kami simpan dan kami siap mewujudkannya kelak Insya Allah.

Sang istri pun masih berkeinginan melanjutkan kuliah S2 nya, dan saya menyarankan untuk mengambil Kuliah melalui jalur beasiswa ADS (Australian Development Studies) kuliah di negeri Kang Guru Australia. Jika tidak memungkinkan kuliah di LN, ya kuliah di UI atau UGM juga tidak masalah.  Seiring waktu berjalan, adiknya pun Lahir. Tazkia Putri Montessori Haryono yang kini hampi 2 tahun.  Foto lengkap kami sekeluarga bisa dilihat di sini

Saya mendukung cita citanya. Sedangkan saya sendiri masih berjuang untuk bisa ikut tes Beasiswa Endeavour  juga di Negeri Kang Guru itu, dan mimpi kami lainnya adalah memiliki rumah sendiri walaupun cuma sederhana, dan Istri juga sangat mendukung rencana bersama kami ini.

Rekan blogger semua..
Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi dan diambil hikmahnya bagi mereka yang sedang menjalani hubungan jarak jauh dan yang serius ingin menikah. Kepada ALLAH SWT jugalah saya serahkan semuanya.  SELESAI

33 comments:

  1. semoga bisa menjadi inspirasi saya kelak ! :D maaf karena saya jarang berkunjung :D

    ReplyDelete
  2. wah, ikut berasa sumringah (tau artinya? kalo nggak, tanya Mbak Uut deh). seneng banget saya. bangga dan ikut bersyukur. wis pokoke doa saya ikut nitip buat kebahagiaan Kang Asep dan Mbak. juga untuk rumah impian, Insya Allah Kang, pasti segera didapatkan. rumah yang asri, indah, dan menyejukkan hati dan badan.

    btw, antusiasme Kang Asep sampe dibela-belain nulis sampai keringetan begini, diimbangi nggak sama Mbak Uut? atau beliau juga nulis di blognya dengan kapasitas yang tak kalah serunya.

    btw lagi, akhirnya saya menyaksikan foto Kang Asep yang lagi pake bedak. haha... hidup bedak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. @zachflazz : Terima kasih atas ucapan, harapan dan doanya buat kami sekeluarga di hari jadi pernikahan kami yang ke 7 tahun ini. Masih "anak bawang" dan masih banyak belajar dari senior senior yang sudah berpengalaman dalam membina rumah tnagga.

      Istri saya bukan blogger hiheiheiee. Nulis memang jiwanya namun tidak diunggah dalam blog dan juga belum berminat merambah dunia blogging

      Delete
    2. Kang ASep ternyata cantik juga kalo dibedakin ya? hihihiee..

      btw..jadi ceritanya happy ending nih ya? alhamdulillah..

      Delete
    3. pake bando nggak?

      Delete
  3. happy 7 anniversary ya pak Asep... saya doakan semoga langgeng dan bahagia selamanya bersama dg keluarga tercinta. amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Riaberbagi : Terima kasih sudah hadir di sini ya mba Ria. Saya senang sekli dengan hadirnya mba Ria di sini menambah keceriaan dan juga persahabatan. Terima Kasih atas ucapannya. Smoga Allah SWT membalas kebaikan dan keihkhlasan mba Ria, Amin ya robbal alamin

      Delete
    2. amin.... saling support dan doakan utk hal yg positif itu baik bgt, dan pastinya barokah juga kan...

      Delete
    3. indahnya percakapan dua insan di atas

      Delete
    4. jiaahhhhhhh.... hahahhaha

      Delete
  4. di part kedua ini saya banyak mengambil inspirasinya, makasih mas sudah berbagi cerita manisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Muro'i El-Barezy : Terima Kasih sudah mampir. Mohon mangap eh maaf kalaw kepanjangan. Soale ini naskah memang sudah ada beberapa bulan sebelumnya, jadi saya tinggal edit dengan informasi terkini aja. Terima Kasih sudah mampir di sini ya. Salam kami sekeluarga

      Delete
    2. ambillah inspirasinya Mas Muroi, saya juga ikhlas

      Delete
  5. Jika niat tulus dan ikhlas pasti apa yang di cita-cintakan terlaksana juga ya bos ? Masih satu negara , kendala cinta tidak serumit antara Jakarta dan Penang ( Tidak nyambung ya bos :D )
    Salam sukses dan hepy terus !

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Djangkaru Bumi : Iya benar sekali, masih satu negara hiehiehieheie. Iya kadang juga tidak serumit Jakarta dan Penang aja. Hiehihee sudah kaya judul lagu aja hiehheiehehiehiee. Terima Kasih atas ucapannya, dan semoga Allah SWT membalas kebaikan mas. Amin ya Robbal Alamin

      Delete
  6. selalluuuu seru kalo baca cerita kisah romansanya kang asep sama mbak rudi.. langsung terbayang2 bagaimana kang asep dan mbak rudi melewati 7 tahun rumah tangga yang pastilah penuh ujian dan cobaan, dan berhasil dilewati!

    barokallahulakuma wabaraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fii khoir kang.. walopun sudah 7 tahun, anggap saja masih manten baru yah kang hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. @diniehz : Memang selalu dijaga kemesraan diantara kami berdua walaupun sudah dikaruniai 2 orang anak pemberian dan amanah dari ALLAH SWT. Menyapanya dengan "I love you" akan membuat suasana seperti layaknya pacaran saja. Hiehiehe. Tetap mesar eh mesra setiap hari hiehiheiheiee

      Delete
    2. ikut mengaminkan.
      kayaknya dambaan banget nih pasangan.

      btw Kang Asep suka kumat gokilnya nggak di depan Mbak?

      Delete
  7. jika semua diserahkan pada Kuasa-Nya.. apapun yang terjadi.. akan selalu baik hasilnya.. keren kang perjalanannya.. tapi saiia coba ngebayangin jika buah hati pertamanya lahir, lalu sang istri tetep ngajar gmn iia..?!?!? huehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar sekali. Buah hati yang pertama LAhir, sang istri masih mengajar. Namun saat itu mengajar di TK Islam Al Azhar. Hingga buah hati pertama, Abbie, berusia dua tahun kalwa nda salah.

      Lahir buah hati kedua, sang istri mengundurkan diri dari mengajar di TK Islam Al Azhar tersebut karena diterima menjadi CPNS kalau nda salah di era taun 2010. Sekarang sang Istri sedang diproses Golongan III B nya

      Delete
    2. Mbak Uut pernah masakin Kang Asep bubur nggak? (pertanyaan iseng, udah terlanjur kesini, masak nggak komen)

      Delete
  8. mau kasih komen tambahan di atas koq nggak bisa masuk2 ya? saya diverbodden ya Kang? awass ya, takjebol nanti komennya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. @zachflazz : saya juga sering gituh. Nda bisa komen di blog kawan kawan, lalu Kompie saya banting saya injak dan diunyel unyel dulu baru bisa dan mau. HIheiheiheie.

      Maksud saya direstart dulu baru bisa. Karena mungkin ada CACHE atau BUG di PC yang harus di "bersihkan" dengan scan, atau Restart

      Delete
    2. udah saya restart, saya jebolin sekarang!

      Delete
    3. sy juga suka gitu tuh...bang asep...

      Delete
    4. Kang Asep suka restart

      Delete
  9. liat poto pengantin....nya
    bang asep gagah juga......hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. gagah berani kayak burung garuda

      Delete
  10. happy anniversary ke 7 ya...
    semoga awet selalu

    ReplyDelete
  11. werrrrr ... benar benar kisah yang penuh liku dan memakan waktu, apalagi kisah jarak jauhnya ... hmmm ... saya kudu belajar banyak neh kang :D

    ReplyDelete
  12. weh...weh...ada yg lagi hajatan disini.
    sm0ga tambah awet n lengket yaa pak asep....sampe kakek n nenek :)

    ReplyDelete
  13. HEBAT!!
    ceritanya memberikan semangat buat sy, kebetulan insya Allah bulan depan menikah.

    Bismillah... :D

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog