Jual Milagros disini
Loading...

Kenali dan Cintai Negeri Mu Ayo Ke Museum ......

Gambar dari Internet
Catatan Asep Haryono

Apakah sudah pernah berkunjung ke Museum? Sudah berapa kali kawan kawan berkunjung ke Museum yang ada di kotanya masing masing? Atau mungkin malah di kota kawan kawan belum tersedia Museum sama sekali? Pengalaman saya beberapa kali berkunjung di beberapa museum di sejumlah kota di Indonesia banyak menemukan fenomena yang menarik.

Salah satunya adalah minat generasi muda dalam mempelajari asal usul budaya dan asal usul leluhurnya melalui serangkaian kunjungan ke museum sangat membanggakan.  Anak anak usia sekolah seperti anak anak Sekolah Dasar (SD) hingga para mahasiswa Perguruan Tinggi (PT) baik negeri maupun swasta banyak melakukan aktkfitas atau riset mereka di Museum.

Begitu pula dengan elemen masyarakat lainnya seperti tidak mau kalah dengan anak anak sekolahan itu dan ini juga merupakan indikasi betapa Museum mulai dilirik sebagai salah satu sarana hiburan dan rekreasi tanpa mengabaikan tujuan pembelajaran nilai nilai sejarahnya. Yang menjadi pertanyaan saya dalam hal ini adalah bagaimana upaya kita untuk menjadikan Museum sebagai sarana Hiburan dan rekreasi alternatif bagi generasi muda sekarang ini? 

Perlu Penyegaran Museum

Ditengah maraknya aksi aksi kenakalan remaja seperti tawuran siswa antar sekolah yang tidak mau kalah dengan seniornya para Mahasiswa berkelahi dengan mahasiswa lainnya, penyalahgunaan Narkoba dan zat terlarang lainnya, hingga kepada pelanggaran asusila karena penggunaan jejaring sosial dan masih banyak lagi. Siapa yang harus disalahkan dengan maraknya aksi aksi kenakalan remaja kita sekarang ini?  Kini barangkali sudah zamannya lagi saling menyalahkan.

Untuk Pontianak , Kalimantan Barat , peranan Musium Negeri Kalimantan Barat yang terletak di Jalan Ahmad Yani Pontianak ini juga sudah gencar berbenah dan mensosialisasikan Museum kepada para pelajar sekolah, elemen perguruan tinggi, dan kepada masyarakat Pontianak pada khususnya dan seluruh Kalimantan Barat pada umumnya.  Museum yang pernah termasuk dalam 5 (lima) besar dari 10 (sepuluh) Museum terbaik nasional yang ditetapkan Kemenbudpar ini mempunyai tantangan yang besar dalam mendekatkan Musium kepada para pecintanya.

Yang unik di sini adalah Museum yang diyakini sudah bekerja keras dalam menyempurnakan pelayanannya kepada masyarakat dituding hanya berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan even kegiatan seremonial.  Bagaimana tidak seperti penyelanggaraan resepsi pernikahan pun diselenggarakan di Museum yang seyogianya adalah sarana pendidikan sejarah dan kebudayaan bagi masyarakat. Walaupun tidak persis di dalam museum dan hanya menggunakan Aula saja namun tetap saja berada dalam wilayah museum itu sendiri.

PAMERAN : Seorang pengunjung sedang foto dalam sebuah pameran foto Tiga Dimensi yang pernah diselenggarakan di Pontianak tanggal 12-15 April 2012 yang lalu.  Foto hak cipta ANTARA/Jessica Helena Wuysang,

Saya salut dengan kerja keras pihak pengelola Museum yang selalu melakukan terobosan jitu dalam upayanya menarik sebanyak mungkin pengunjung dari kalangan siswa sekolah, dan masyarakat umum untuk datang berkunjung ke museum misalnya dengan menempatkan beberapa Information Center (pusat informasi) ,  kafe dan restaurant , dan kemudahan lainnya.  Jangan mau kalah dengan pengelola perpustakaan daerah yang juga sudah lama berbenah dalam memberikan service nya kepada masyarakat, musium pun haruis memenangkan persaingan ini.

Lelah berkeliling dalam areal museum sering membuat kondisi fisik menjadi lelah dan membuat rasa dahaga atau lapar terutama bagi pengunjung anak anak sekolah dasar, adanya kafe atau sebut saja kedai makanan ini bisa menjadi altenatif bagi mereka untuk mengganjal perutnya di tempat ini. Hal ini dimungkinkan mengingat biasanya pihak museum tidak mengizinkan para pengunjungnnya untuk membawa makanan ke dalam areal museum apalagi makan di dalamnya.

Penyediaan oulet penjualan merchandise atau suvenir khas museum diyakni menjadi salah satu pemikat yang menarik bagi para siswa sekolah.  Mereka tidak saja bertambah wawasannya dengan mengunjungi museum mereka pun bisa "pamer" kepada teman teman sekelasnya bahwa mereka sudah berkunjung ke museum dari kaos atau suvenir museum yang bisa mereka beli di sana.

Penyelenggaran berbagai even pameran foto misalnya juga menambah minat generasi muda pencinta fotografi untuk beramai ramai datag ke musium yang bisa dilakukan oleh pengelola muisum untuk mendongkrak angka kunjungan. Pemutaran film bertemakan museum juga menambah kunjungan ke museum menjadi sesuatu yang amat menyenangkan.  Tidak melulu dijejali dengan pengetahuan yang membosankan, namun unsur hiburan dan rekreasi dari berkunjung ke museum ini juga bisa dilakukan. (Asep Haryono)

9 comments:

  1. kalo soal museum, saya salahsatu peminatnya. minat seminat-minatnya pokoknya.

    bagus tuh terobosan pengelola museum di situ. memang masyarakat sekarang semuanya serba harus distimulasi. kalo nggak, ruwet jadinya.

    btw museum panci ada nggak ya Kang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngomongin panci, coba bikin bang.. sekalian ama bikin monumen panci . cakep tuh.

      Delete
  2. orang-orang KPK lagi pada bertapa apa ya?

    semoga sehat semua ya..aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya orang KPK lg sibuk ngurusun kerjaan nih, lg padat merayap. hehhe..
      soalnya di tipi KPK jadi big topic yang dibahas :)

      Delete
  3. sy yang paling suka kalo ke museum sama temen2 ga pernah lupa jadi fotograper amatiran, cepret sana-sini.. tp menyenangkan, belajar skaligus liburan :)

    ReplyDelete
  4. klo dlu2 jaman thn 90-an museum tuh bnyk yg minati mas.., jd tempat favorit anak2 sekolah tp skrg sejak ada FB dan sejenis temasuk PS museum mulai tersingkirkan *miris

    ReplyDelete
  5. pernah ke museum.. sepi, >_<
    tapi seru, banyak benda aneh , bikin penasaran.

    ReplyDelete
  6. momoy juga udah lama ngak ke muzium
    seingat momoy sewaktu umur momoy masih kanak-kanak
    saat itu pergi ketika rombongan sambil belajar
    bersama cikgu-cikgu dan temen-temen sekolah momoy

    ReplyDelete
  7. Pertama dan terakhir kalinya saya ke Museum KalBar itu udah lama banget, pas masih SD kelas 5 atau 6. Waktu itu siang-siang pengunjungnya cuma 3 orang -- saya, ayah saya, dan abang saya (plus ditemanin bapak guide-nya). Garing, memang. Mungkin karena museum selama ini sudah dapat stigma sebagai tempat 'serius', makanya sepi pengunjung, karena pengunjungnya harus mikir-mikir dulu mau ngapain ke museumnya :)

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog