Jual Milagros disini
Loading...

Ketika Resign Sebagai Pilihan

Gambar dari Internet
Catatan Asep Haryono

“Dunia tidak selebar daun kelor” begitu bunyi kalimat sebuah surat pembaca yang dimuat di salah satu media cetak yang terbit di kota Pontianak yang sempat saya baca beberapa minggu yang lalu. Si pengirim surat pembaca tersebut mengisahkan betapa permasalahan tenaga alih daya (outsourcing) sebaiknya tidak perlu ada karena menurutnya persoalan (outsourcing) itu sudah lama ada.

Pengirim surat pembaca tersebut menyarankan agar peraturan yang dibuat yang mengatur ketentuan tersebut sebaiknya dihapus saja karena para pekerja juga punya hak untuk keluar (quit) dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain demkian penutup kalimat pada bagian akhir surat pembaca yang beliau tulis itu. Ini menarik sekali menurut saya.

Ditengah sulitnya perekonomian di negeri ini yang masih dalam tahap recovery sejak krisis moneter yang pernah dengan gemilang merontokkan perekonomian Indonesia beberapa tahun yang lalu ditambah dengan semakin tingginya lulusan perguruan tinggi setiap tahun yang ternyata masih belum siap kerja membuat lapangan pekerjaan menjadi hal yang langka. Bahkan untuk posisi level yang sederhana sekalipun harus menuntut si pelamar bergelar strata 1. Hingga pada suatu titik dimana lapangan pekerjaan sudah tidak memadai lagi dengan penyerapan tenaga kerha terampil

Pertimbangan Harus Matang
“Mengapa Harus Menjadi TKI? “ ni memang pernah ditanyakan oleh salah seorang pejabat pemerintahan di kota Pontianak. Jawaban dari pertanyaan ini tentu saja beragam tergantung dari sudut pandang mana yang akan digunakan. Jika pertanyaan ini ditujukan kepada saya tentu akan saya jawab bahwa menjadi TKI adalah salah satu alternatif yang harus ditempuh ketika lapangan pekerjaan sudah tidak tersedia lagi di negeri sendiri.

Belum lagi segala tetek bengek persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa bersaing mendapatkan suatu lapangan pekerjaan yang semakin sulit untuk diraih oleh sebagian masyarakat Indonesia yang belum mempunyai skill yang cukup.  Selama belum ada aturan atau UU yang melarang warga Indonesia untuk menjadi TKI ke luar negeri, selama itu pula pemerintah harus bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan bagi warganya sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar 1945. Loh ini kok bahasannya lari ke TKI sih?

Kembali kepada diskusi kita hari ini, nah mengundurkan diri (resign) mungkin sebagai jawaban yang prakmatis ketika kepentingan pekerja (buruh) tidak sinergi dengan kepentingan pengusaha. Sebagai pihak yang kalah tentu para pekerja ini tidak memiliki banyak bargain terhadap perusahaan yang memperkerjakannya. Hal ini sangat jelas karena para pekerja tersebut bekerja kepada pengusaha, dan secara otomatis harus mengikuti aturan main yang ada. Tidak sepakat dengan aturan main yang ada tentu harus menyingkir (fade away).
 
PIKIR BAIK BAIK : Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk berhenti (quit) atau mengundurkan diri (resign0 dari pekerjaan. Jangan sampai menyesal di kemudian hari. Gambar illustrasi dari Suara Merdeka Online

Pekerja yang resign dari suatu posisi atau jabatan tentu secara otomatis  perusahaan akan mencari pengganti yang diproyeksikan akan menduduki pos yang ditinggalkan tersebut dengan mengiklankan di media masa. Begitu iklan di media massa keluar dan dibaca oleh masyarakat,  maka bisa dipastikan akan datang lamaran  oleh puluhan bahkan ratusan kandidat lain yang sudah antre menunggu untuk mengisi jabatan kosong tersebut.

Pastikan segala sesuatunya dikaji dengan cermat dengan pikiran yang tenang, damai tanpa luapan emosi karena tidak terakomodirnya kepentingan pekerja oleh pengusaha. Jangan sampai jika resign sudah terjadi dan ternyata justru menjadi bumerang bagi dirinya begitu secara resmi keluar dari pekerjaan yang selama ini membesarkannya.  Jika harus memutuskan berhenti dan keluar (quit) dari pekerjaan pastikan hal itu dilakukan dengan elegan dan terhormat dengan mengajukan permohonan resign dengan resmi kepada perusahaan. Datang dengan baik baik tentu keluar juga dengan baik baik

Jangan Jadi Pengecut
Saya pernah bertanya kepada salah seorang rekan kerja saya yang mengundurkan diri dari perusahaan beberapa bulan yang lalu. “Mengapa resign?” jawab saya kepada Tini (bukan nama sebenarnya) melalui akun twitternya yang saya kirim secara DM (drect message), dan dijawabnya dengan lugas “tidak ada perkembangan”.  Jederr seperti bunyi petir menggelegar jawaban yang saya baca dari akun Twitternya dia.  Saya malah bertanya kepada diri sendiri. “apa nya yang tidak ada perkembangan?”.   Yang tidak berkembang itu siapa kata saya dalam hati.

Begitu pula pekerja yang keluar dari perusahaan dengan cara yang tidak santun kabur begitu saja tanpa ada pemberitahuan resmi apa pun.  Hal ini tidak saja menimbulkan tendensi buruk bagi pekerja lainnya juga menimbulkan masalah baru bagi perusahaan.  Apalagi pekerja atau karyawan yang kabur begitu saja itu justru dari datang mereka yang sudah berstatus sebagai karyawan tetap (organik).  Bukankah sikap tersebut sangat childish (kekanak kanakan), dan sangat tidak bertanggung jawab.


Gambar Illustrasi dari ayepdunblog.blogspot.com
Dengan kaburnya sang pekerja tanpa pamit apa pun tersebut telah mencoreng citra karyawan organik lainnya dan bisa jadi menimbulkan preseden buruk bagi calon pekerja lainnya yang sudah bertahun tahun bekerja namun belum juga diangkat statusnya sebagai karyawan tetap (organik). Masalah semakin runyam ketika pekerja (karyawan) yang minggat tanpa pesan itu berpotensi menimbulkan kerugian materil bagi perusahaan karena ulahnya.  Perusahaan bisa jadi harus mengganti pinjaman si pekerja tersebut kepada pihak Bank yang meminjam uang di Bank atas nama perusahaan dengan menggadaikan SK karyawan organiknya.

Bukan rahasia lagi bahwa SK karyawan tetap (organik) mana pun laku oleh Bank tertentu, dan tentunya hal ini disadari betul oleh perusahaan.  Yang lebih merisaukan lagi adalah preseden buruk bagi karyawan organik lainnya yang ingin mengajukan pinjaman serupa kepada Bank karena ulah salah satu oknum karyawannya yang kabur itu tadi.  Apakah prilaku karyawan yang kabur dan meninggalkan hutang puluhan juta rupiah tersebut bisa dianggap sebagai tindakan korupsi? Penggelapan dana? atau perbuatan kriminal?   Apakah pihak perusahaan mau menanggung kerugian yang diakibatkan oleh karyawan yang kabur itu?

Jika resign adalah sebagai pilihan terakhir, maka ajukanlah permohonan pengunduran diri (resign) dengan elegan dan bermartabat. Dengan baik baik. Datang dengan Baik Baik maka keluar juga harus dengan baik baik.  Bukan dengan kabur bin minggat alias ngacir begitu.  Tunjukkanlah sebagai orang yang pantas menyandang sebagai karyawan organik yang punya moral tinggi dan prilaku (behavior) yang baik dengan mengajukan permohonan mengundurkan diri (resign) dengan tertib sesuai dengan ketentuan yang berlaku di perusahaan.  (Asep Haryono)

36 comments:

  1. ternyata dunia kerja itu mempunyai beragam kisah dan cerita. pingin rasanya menginjakan kaki didunia kerja tentaunya setelah tamat kuliah ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @fajar_p_k : Ya benar sekali. Dunia kerja memang kadang tidak seindah yang dibayangkan. Kunci keberhasilannya terletak di tangan kita sendiri yang pandai pandai menjaga sikap dan moral yang baik.

      Delete
    2. tul! (gaya mas Rudy)

      Delete
  2. Cukup menarik. Jadi enggak sabar pingin segera terjun ke dunia kerja dan mencoba hal-hal baru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Elfrida Chania : Oh ya kah menarik? Padahal cuma cerita aja kok yah mudah mudahan bisa memotivasi orang untuk segera terjun ke dalam dunia kerja. Persipkan mental dan keberanian juga bekal ketrampilan (skill) yang memadai. Good luck

      Delete
    2. bener, selain bekal disiplin ilmu, yang sanga penting adalah mental memasuki dunia kerja

      Delete
  3. Daun kelor banyak di tempat saya kang Asep.. Hehehe ^^

    Dunia kerja, saya belum nyampe ke situ..
    Mudah-mudahan nanti saya bakalan punya dunia kerja yang menyenangkan.. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. @nina rizka amalia : Walah saya malah nda tau atau belum tau Warna Daun Kelor itu kayak apa. Sering disebut orang tapi nda ngerti kayak apa si daun kelor itu hiehiheiheiee. Bisa aja mba Nina :))).

      Saya doakan mba Nina segera memasuki dunia kerja yang penuh dengan peluang, harapan dan tantangan itu hiheiheiheihieee

      Delete
    2. aamiin.
      semoga juga daun kelor tak ada dalam kamus mbak nina, hehe

      Delete
  4. Waduuhh dulu saia juga pekerja outsourcing.. Memang ada kekhawatiran ketika ingin resign, tp tetap bertahan juga bukan solusi terbaik. Artinya, ketika memutuskan untuk berhenti kita harus siap dengan segala konsekuensinya termasuk gigih mencari another job..
    Alhamdulillah, saia resign kemaren dengan cara yang baik, sesuai prosedur dan klaim jamsostek juga berjalan lancar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @zasachi : Oh ya kah dulu kamu juga sebagai tenaga alih daya (outsourcing). Kabar gembira loh karena pada tahun 2012 ini program alih daya akan segera diakhiri atau dihilangkan.

      Ya itu tepat sekali, resign dengan baik, elegan dan tertib sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Itu bijaksana sekali. Datang baik baik maka keluarjuga harus baik baik. Semua senang

      Delete
  5. detail banget nih soal resign-nya Kang. berarti banyak ya teman kang asep yang ginian. soalnya kalo sampai sedetail ini ceritanya, pasti bukan hanya Tini (nama smrn)itu ya.
    memang ada benarnya juga sih, berfikir sebelum bertindak itu sangat perlu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Bung Penho : Ah masa sih detail ya? Untuk soal yang ditanyakan bung Penho wah itu sih "rahasia perusahaan" donk hiheiheiheiheiee.

      Benar sekali penyesalan selalu datang terakhir. Jarang ada penyesalan itu datang dahulu. Berpikir masak masak sebelum bertindak adalah hal yang bijaksana

      Delete
  6. saya sempet bingung saat beberapa waktu lalu ada seorang pegawai kami resign, mendengar alasannya aja gak yakin saya, tapi apa boleh buat, itu jalan yg dia ambil :D
    dan terpaksa kerjaanya jadi kerjaan saya (itu yg gak enaknya) hehehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Stupid Monkey : Wah kok bisa sih pekerjaannya menjadi dilimpahkan ke Stupid Monkey? Bukankah akan dibentuk atau dicari orang yang baru untuk mengisi pos pos yang ditinggalkannya itu? hhmm menarik juga ya. Saya perlu belajar ini

      Delete
  7. alhamdulillah sampai sekarang ini saya selalu mengambil langkah yg baik untuk keluar dari tempat kerja mas.
    prinsip saya...."dDatang baik2 keluar ya mesti baik2"

    mengenai jadi TKI mas,mungkin karena faktor penghasilan yg lebih menjanjikan kali ya mas,buktinya banyak TKI yg sukses.
    tapi perlu di ingat kerja diluar negara tidaklah mudah,belum lagi resiko2 yg harus ditempuh.
    nasib TKI kadang menyedihkan,mereka sanggup keluar negara demi keluarga dan menjadi pahlawan devisa untuk negara...tapi sayang saat mereka pulang kadang justru mereka dikadali bangsa sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Rel Adam : Iya benar sekali mas Reo Adam. Datang dengan baik baik, maka keluar kerja pun juga harus baik baik. Jangan main minggat begitu saja, wah itu tidak bijak, tidak gentle namanya.

      Soal TKI wah speechless lah saya karena banyak sekali hal hal yang musti didiskusikan bersama sama. Satu hal yang penting setiap warga negara berhak meningkatkan taraf hidup dan ekonominya masing masing

      Delete
    2. kalo soal gentle, mas reo, dari fotonya saja, sangat menjanjikan.

      Delete
  8. Kalo mau jadi TKI ke Australia saja kang, banyak kebun yang perlu diurus, ada kebung anggur, strawberry dan masih banyak lagi. Sempet juga ngerasain kerja sambil belajar di sana, penghasilan bener2 lumayan gede', kerja kuli gaji direktur kang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Kurnia Ramadhan : hiehiheie kalaw sudah dengar nama Australia tuing angan angan saya kembali menyala, dan jadi ingin sekali menimba ilmu bahkan bekerja di sana seperti yang sudah dilakukan oleh mu. Apa kabarnya? Wah saya jarang blogwalking ke blog mu hiheiheiheiee. Salam kami sekeluarga di Pontianak. Masih di australia kah?

      Delete
  9. Dunia kerja,bgitu ya kang.saya belum pernah terjun jadi kurang mengerti masalah itu.thks kang sudah sharing ilmu.jadi banyak tau dunia kerja itu bgaimana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Zig Zoor : Masih banyak lagi sebenarnya cerita cerita tentang dunia kerja yang bisa saja tidak habis dibahas karena memang unik dan penuh dengan romantika yang asyik hiehiheiheie. Kalwa belum merasakan dunia kerja tentu akan galau hiehiee. Enak juga galau ya galau mengalau. Halah ngomong apa saya

      Delete
  10. wah, sampai sebegitu parah yaa kang asep ... ?

    pantas saja tiap instansi memberlakukan aturan 'penalty' bagi karyawannya yang seenaknya keluar begitu saja ..


    begitukah pemahamanku.. ? maklum belum mencapai ranah kesana ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @A.Y.Indrayana : Setau saya sih Penalty memang ada tapi itu lebih kepada penegakkan disiplin. Jika dianggap melakukan pelanggaran biasanya dikenakan surat teguran I, II, dan yang terakhir bisa kepada pemutusan hubungan kerja (PHK). Tapi tidak selalu demikian urutannya karena setiap perusahaan punya kebijakan masing masing

      Delete
  11. kalo aku pribadi
    kerja bukan sekedar cari duit doang
    kenyamanan hati juga penting. kalo ati dah ga nyaman biar gaji gede juga ngapain dipertahankan...

    *pengalaman pribadi tukang minggat

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Rawins : hiehiheiheie tukang Minggat tapi mantap maknyus kata Pak Bondan. BEnar sekali apa yang dikatakan mas Rawins. Kalau bisa sih semuanya di dapat dalam satu paket. Hiheiheiheiee. Terima Kasih sudah berkunjung ya mas

      Delete
  12. setuju banget kang.. kalo maen kabur aja ntar reputasi kita jadi rusak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @diniehz : Iya benar sekali. Sungguh tidak bijak dan tidak bertanggung jawab main kabur begitu saja. Sudah kabur dan menimbulkan masalah yang berpotensi merugikan secara material bagi perusahaan

      Delete
    2. bener, reputasi memang barang mahal

      Delete
  13. kalau menurut saya bang, kalau hati sudah nggak nyaman lagi dan bisa bikin stres, mendingan quit aja lah. emang sih cari kerja itu nggak segampang menyerahkan surat pengunduran diri, tapi jika itu pilihan terbaik, kenapa nggak,, toh rezeki tetap terbuka dan pasti selalu ada bagi hamba-hamba NYA yang mau berusaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @sigoblogx : Benar sekali. Ini memang pilihan bagi mereka. Dan selama pilihan pilihan itu tersedia bisa dicoba. Banyak cara yang bisa ditempuh jika sudah memutuskan resign agar tetap bisa eksis dan berkarya bisa menjadi wiraswasta atau menjadi pengusaha misalnya.

      Delete
  14. ngapain resign? sebab company baru offer 2x gaji .
    lagi pun mau gain experience juga mau coba environment baru. cara kerja baru. mantapkan diri dan kerjaya juga. jadi nga salah resign asalkan jgn salah percaturan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Princes MOMOY : I agree with you Moy. Terima Kasih sudah berkunjung di blog saya. Pada prinsipnya boleh saja resign tentu jangan salah percaturan, jangan melanggar etika dan kepatutan. I agree with you Moy. Absolutely :))))))))

      Delete
  15. iya bener...harusnya mau resign yah baik2, wong waktu masuknya juga baik2 tohh? masa minggat kayak maling? kalo ndak ada kecocokan yah tinggal pindah aja toh tapi tentunya pake etika.

    ReplyDelete
  16. bekerja dengan menjunjung martabat, itu yang sangat diidealkan. sementara banyak orang, begitu sudah bekerja, seolah2 idealisme itu luntur seiring dengan kepentingan. ini yang akhirnya menjadi antiklimaks di kemudian hari.

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog