Jual Milagros disini
Loading...

Pentingnya Menjaga Tali Silaturahmi

Gambar dari Internet
Catatan Asep Haryono

Masih ingat catatan saya beberapa waktu yang lalu tentang rekan kerja saya Subhan Zainuddin atau yang akrab saya sapa dengan panggilan “Udin” mengundurkan diri (resign) dari kantor dan pulang ke Jawa untuk mengurus orang tuanya, saya dikejutkan lagi dengan “menghilang” nya rekan kerja saya yang lain , Ade Riyanto atau yang akrab saya sebut dengan Ade.

Tepatnya sih kang Ade sebutannya sama seperti saya yang juga mendapat julukan "Kang" di depan nama saya.Padahal saya aseli bukan urang Sunda, dan tidak bisa berbahasa Sunda. Sebab banyak juga kawan atau rekan kerja saya yang bukan urang Sunda tetapi mahir bahasa Sunda.

Memang saya termasuk orang “barat” karena blasteran Ayah saya dari Cirebon (Jawa Barat) yang sudah masuk daerah urang Sunda, dan lidah saya (aksen) memang letoy atau kata orang disebut klemar klemer jadi lebih mirip aksen urang Sunda, padahal saya aseli lahir dan dibesarkan di DKI Jakarta tepatnya di daerah Pademangan, Jakarta Utara. Yah sudahlah bicara soal garis lahir dan primordial, nanti bisa disebut SARA berabe juga urusannya hahahahahaa. Oppssss

Malah beberapa hari sebelumnya, rekan kerja saya yang lain dari departemen yang berbeda, Handayani, atau akrab disebut Yani dari akun twitter nya menyebut tentang fisiknya yang “mudah lelah dan sakit pinggang”. Saya tertarik dengan status di akun twitternya tersebut, slalu saya kirim DM (direct message) kepadanya dan dari dialah saya dapat kabar kalaw Handayani (Yani) ini juga sudah resign dari kantor. Dia mengaku kini bekerja di Prudential. Saya sempat bertanya kepada Yani mengapa keluar (kerja)? Dijawabnya “tidak ada perkembangan” katanya lewat akun twitternya itu.

Yang paling mutakhir (terbaru) adalah resign nya rekan kerja yang lain, Sujarwadi, atau yang akrab kami panggil dengan sapaan Sujar ini juga sudah secara resmi mengundurkan diri dan selanjutnya beliau fokus dan berkonsentrasi penuh pada bidang usaha Percetakaan yang sudah dirintis dan dibangunnya sejak beberapa tahun yang lalu. Sahabat dan rekan kerja satu per satu meninggalkan saya.

Kita Tidak Harus Selalu Bersama
Pindah kerja atau mengundurkan diri karena alasan tertentu yang diyakininya adalah hal yang biasa dalam hubungan industrial atau lebih dikenal dengan sebutan dunia kerja. Ada banyak faktor atau alasan yang melatar belakangi seseorang pindah kerja atau mengundurkan diri (resign) tersebut yang bisa kita diskusikan bersama sama. Dari contoh contoh real rekan kerja tersebut di dapat kesimpulan sementara karena faktor karir yang mentok, alasan keluarga menjaga orang tua, dan alasan ingin berkarir di bidang lain atau punya usaha sendiri.

Namun sayang sekali bukan itu yang menjadi fokus tulisan saya kali ini. Saya hanya membahas ruang lingkup yang saya sempitkan lagi menjadi “silaturahmi”. Ya satu kata yang mudah sekali diucapkan karena pendeknya, silaturahmi, namun mempunyai makna yang dalam dan saya sendiri sempat merinding mendengar kata itu. Dalam artian sempit mudah saya kita tebak “ah paling juga kontak kontakan via email, SMS, BBM, atau teleponan sudah cukup ya khan?” katanya

Benar secara syar’ie memang komunikasi lewat berbagai media sosial dan elektronik merupalan salah satu cara untuk menjalin silaturahmi namun pada dasarnya itu hanyalah alat atau tool yang digunakan untuk tetap stay connected. Tapi sesungguhnya makna Silaturahmi bagi saya pribadi sungguh luar biasa dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Memandang rendah “silaturahmi” merupakan ha yang serius bagi saya. Silaturahmi dalam pandangan dan prespektif saya tidak sama dengan mengobrol atau berbicara berhadapan (face to face) seperti bertemu di jalan atau melalui tool yang saya sebut itu tadi.

Jadi dalam sub bahasan ini dapat disimpulkan sementara bahwa kita tidak selalu harus selalu bersama sama. Masa depan ada ditangan kita masing masing. Setiap orang tentu punya ekspektasi terhadap pekerjaan yang sedang dilakoninya, dan juga harapan yang membuncah yang ingin dia wujudkan di masa yang akan datang. Semuanya terpulang kepada diri kita sendiri.

Jadi jika itu sudah memasuki ranah masa depan (future), orang boleh boleh saja memilih pergi meninggalkan kita. Kita tidak harus selalu bersama sama. Mungkin ada sebagian orang yang merasa sentimentil dengan perpisahan, namun ada juga orang yang alergi terhadap nostalgia. Yang manakah yang gue banged dalam hal ini? Semuanya terserah pada diri anda masing masing. Wah bisa dibilang wow gitu lah

Kurang Penghargaan
Salah satu parameter yang ingin saya coba tawarkan untuk didiskusikan bersama adalah bahwa Silaturahmi adalah saling menghargai satu sama lainnya. Kita ditakdirkan memang tidak sama dalam beberapa hal seperti jabatan dan kekuasaan. Orang yang sudah memiliki jabatan dan posisi yang strategis tidak seharusnya memandang remeh (under estimate) kepada bawahan OB atau cleaning service sekalipun. Kita adalah sama hanya saja persoalannya adalah keberuntungan lebih berpihak kepada anda, daripada mereka.

Perasaan begitu dihargai tidak sama dengan meminta penghargaan. Dalam hal ini mereka yang sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan kita (bukan karema wafat loh-red) adalah hak asasi mereka yang harus dihargai. Kita tidak mungkin “mengusir” orang hanya karena cara kerja dan kinerjanya tidak memenuhi “standar” kita.

Bukankah lebih bijak jika mereka diberitahu bahwa yang demikian itu tidak memenuhi harapan. Memberikan mereka training atau pelatihan bisa merupakan alternatif untuk meningkatkan kinerjanya. Bantulah mereka agar bisa maksimal membantu anda. Jika tidak bisa memberi mereka ikan, beri saja mereka kail agar mereka bisa mencari ikan sendiri. Kata bang Haji “terlalu” kalaw memberi kail saja tidak mau.

Tapi baidewei baswei, Kan semuanya pake biaya? Training atau pelatihan kan perlu biaya? Siapa bilang harus keluar duit. Orang yang dalam otaknya sudah dipenuhi oleh pecahan seratus ribuan selalu memandang segala sesuatunya dengan ukuran duit atau materi. Padahal dengan hadirnya internet ilmu apa pun bisa diperoleh secara gratis. Mereka yang punya keinginan untuk mengembangkan kualitas dan kemampuan (skill) nya seharusnya didukung dan dibantu. Bukankah suatu kebanggaan kalau team kita adalah orang orang yang terampil dan well trained?

Berangkat dari penghargaan seperti inilah yang kelak akan membekas di hati. Tentu kita berharap mereka yang pergi tersebut mempunyai kesan yang baik terhadap perusahaan tempat mereka dibesarkan. Di mana pun mereka berada sekarang, mereka adalah saudara kita, dan sahabat kita. Kita keluarga besar. Tidak ada istilah “mantan teman” atau “mantan sahabat” yang ada hanyalah “mantan pegawai” itu saja. Kalaw “mantan teman/sahabat’ karena sudah menjadi pasangan istri atau suami adalah hal yang lain lagi hehehe

Tentu saja kita tidak mungkin bisa menyenangkan setiap orang namun hal hal yang remeh seperti inilah yang justru akan berbuah manis. Di mana pun mereka sekarang adalah harga yang harus mereka bayar dan tentu dengan sejumlah resiko (risk) yang sudah mereka perhitungkan sebelumnya. Di sisi lain Keluar atau mundurnya mereka sebenarnya suatu kerugiaan (lost) karena tidak mudah “mencetak” tenaga yang berpengalaman dan sudah terlatih di bidangnya. (Asep Haryono)

11 comments:

  1. Brebes mah bukan Sunda Kang, ehh Bang (hahaha).

    sorry nih keburu anak saya pulang, tu anaknya keluar gedung (dia ada tes hari Minggu ini).

    Nasib pak sopir ya begini, nasiib, nasiib..
    hahai..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...iya ya, kalo gak salah sih Brebes itu gak berada di daerah sunda Bang :D.

      Kalau saya sih justru yang meninggalkan teman-teman saya di Bandung, karena harus pindah rumah. Tapi alhamdulillah silaturahmi kita terus terjaga dengan mengandalkan fasilitas komunikasi yang ada. :)

      Delete
    2. Terima Kasih atas koreksiannya ya. Thanks Bang Roni dan Rudy Arra. Sudah saya perbaiki. :)))))

      Delete
  2. silahturahmi itu penting banget sobat,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. @binkbenk : hahhaha jelas Silaturahmi itu penting cekaleeeeeeeeee

      Delete
  3. aku malah kebiasaan manggil anda kang Asep ..
    mungkin faktor keakraban kali yaa ..
    sama kayak manggil kang Zachroni. Hahaha

    kalau pindah-pindahan memang seringkali jadi alasan kecil kenapa tali silaturahmi bisa putus.
    tapi aku alhamdulillah tidak. karena setelah lulus dari kampus yang lama aku tetap berhubungan baik dengan teman-temanku yang lama.

    hiehiehieheiheie
    *asep haryono laughing mode on* hehehehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @A.Y.Indrayana : hahahaha saya sih dipanggil apa saja silahkan. Tidak ada masalah buat saya. Toh yang memberikan apresiasi dan penghargaan kan dari orang lain. Dan bukan minta dihargai hahahaha. Saya mah beda. Terserah orang mau memanggil saya sebutan apa saja kang, bang, kak bole boleee

      Delete
  4. Postingan yang sangat bagus kawan, saya merasa bertambah banyak pengetahuan di sini, terutama setelah membaca postingan ini.
    bagi saya setuju banget, silaturahmi memang penting, apalagi kita adalah sesama muslim, dengan silaturahmi kita bisa merasa saling menghargai, silaturahmi merupakan cara dan sikap kita dalam mempererat persaudaraan, persahabatan, pertemanan bahkan mempererat sistim kekeluargaan.
    terima kasih banyak pak Asep.
    salam..

    ReplyDelete
    Replies
    1. @wawasanku : Terima kasih atas kunjungannya dan juga komen mas yang sangat mencerahkan dan membuka wawasan saya juga tentang arti pentingnya menjaga tali silaturahmi sesama kita di mana saja berada. Salam kami sekeluarga di Pontianak

      Delete
  5. aku ngga baca sampe tuntas, cuma mo bilang saya follow blog bagus ini...sapa tau dipolbek

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Desa Cilembu : hi hi makasih sudah mampir di Blog saya, dan saya sudah kunjungan balik dan sekalian di follow back juga. Salam dari Pontianak :))

      Delete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog