Jual Milagros disini
Loading...

Mendambakan Pemimpin Yang Adil Dan Bijaksana

Gambar dari Internet
Catatan Asep Haryono
Saat saya menulis postingan ini saya mendengarkan siaran penutupan Pekan Olah Raga (PON) XVIII Riau yang dipancarkan RRI Pontianak. Itulah salah satu manfaat tteknologi yang sangat bermanfaat bagi umat manusia, kita tidak harus datang secara langsung untuk mengikuti prosesi penutupan PON tersebut. 

Dengan membuka website dan atau mendengarlan radio saja sudah bisa kita lakukan secara “real time”.   Pada saat yang bersamaan di kota Pontianak, ibukota propinsi Kalimantan Barat (Kalbar) ini juga tengah berlangsung proses penghitungan suara sementara Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalimantan Barat.

Proses pencoblosannya sendiri dilakukan pada hari Kamis tanggal 20 September 2012 dan khusus untuk saya sendiri, datang langsung ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang berlokasi di Gedung LPPM Kampus Universitas Tanjungpura Pontianak.  Saya menggunakan hak suara saya pada Pilgub tahun ini di TPS tersebut pada pukul 10.30 WIB.  Setelah selesai mencoblos, saya pun meninggalkan TPS tersebut dan langsung memacu motor MIO saya menuju bank ATM Bank B** untuk menarik sejumlah uang.

Serangan Fajar
Pagi harinya sebelum saya berangkat menuju ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang berlokasi di Gedung LPPM Kampus Universitas Tanjungpura Pontianak, saya mendapat sebuah pesan singkat Short Message Service (SMS) dari salah seorang sahabat saya di Facebook. Isi SMS nya berupa ajakan untuk memilih salah satu calon yang bertarung pada Pilgub Kalimantan Barat tahun ini.  Kaget juga saya menerima (SMS) tersebut, karena si pengirim cukup saya kenal dengan baik dan pernah sama sama satu kosan beberapa tahun yang lalu.

Yang jadi tanda tanya besar saya saat itu adalah apakah si pengirim SMS ajakan memilih salah satu calon Pigub Kalbar itu adalah murni karena ide, pemikiran dan inisiatifnya sendiri ataukah dia masuk dalam tim sukses salah satu calon.  Saya tidak tahu persis jawabannya, dan itu menjadi tanda tanya besar bagi saya.   Salahkan tindakan rekan saya itu? Tentu saja tidak salah. Bolehkah apa yang dia lakukan?  Tentu saja boleh. Mengapa tidak?

Saya jadi ingat peristiwa yang nyaris sama pada proses Pemilihan Gubernur Kalimantan Barat beberapa tahun yang lalu.  Saat itu rumah kontrakan saya di komplek Duta Bandara Supadio Pontianak didatangi oleh orang yang tidak kenal datang kerumah dan menyerahkan satu bungkus Gula Pasir seberat 1 kilogram, dan di dalamnya ada kartu nama dan brosur salah satu calon.  

Saya berasumsi hal hal seperti ini juga terjadi pada proses Pilgub di kota kota lainnya di Indonesia. Saya sendiri memang sudah memberikan hak suara saya pada prosesi Pilgub Kalbar tahun ini, dan kalaw mau bicara jujur dari hati ke hati saya tidak ada masalah siapa yang akan memimpin propinsi Kalimantan Barat.

Sebagai warga negara yang baik tentu saya akan memberikan suara saya pada Pilgub Kalbar tahun ini, dan itu sudah saya lakukan dengan benar sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.  Lalu apakah yang tidak memilih sama sekali (GOLPUT) itu bukan warga negara yang baik?  Apa ada yang bisa membantu saya dalam menjawab pertanyaan ini?   
 
AKSI GOLPUT: Mahasiswa tergabung dalam organisasi Solmadapar mengadakan unjuk rasa di Bundaran Untan, Kamis (20/9) pagi. Mereka menyerukan masyarakat untuk tidak menggunakan hak suara. FOTO HAK CIPTA HARYADI/PONTIANAKPOST

Harapan Pada Gubernur Terpilih
Saya memahami betapa membuncahnya harapan dan keinginan seluruh rakyat di propinsi Kalimantan Barat kepada siapa pun yang terpilih dan mendapat amanah dan kepercayaan dari seluruh rakyat Kalimantan Barat untuk menjadi orang nomor 1 di propinsi nan gemuk ini. Saya paham bahwa Gubernur adalah manusia biasa juga sama seperti saya, anda , dan semuanya yang hadir di forum diskusi ini.  Gubernur bukanlah Superman, yang super segala galanya dan mampu mengatasi semua persoalan klasik Kalimantan Barat dengan cepat.

Saya bukan pakar pendidikan yang tahu permasalahan yang sedang terjadi di propinsi Kalimantan Barat. Saya juga bukan pakar kesehatan yang tahu persoalan dasar kesehatan di propinsi Kalimantan Barat.  Dan saya juga bukan pengamat Ekonomi yang mengerti akar persoalan perekonomian propinsi ini.  Saya adalah warga biasa yang bekerja di Kalimantan Barat, dan membeli makan dan lauk pauk di pasar tradisional.  I am civilian and ordinary people. Orang biasa aja, warga masyarakat,

Lalu bagaimana dengan pertanyaan saya tadi di atas Apakah mereka yang tidak memilih atau GOLPUT disebut sebagai warga negara yang tidak baik.  Bukankah dengan tidak memilih (GOLPUT) itu adalah hak asasi warga juga.  Jadi jika ada orang yang punya hak memilih tapi tidak menggunakan hak pilihnya adalah hak asasi yang harus kita hormati.  Tidak memilih bukan berarti mereka tidak punya pilihan dalam hatinya. Mereka tetap punya dambaan dan harapan akan figur pemimpin Kalimantan Barat yang sesuai dengan harapannya.

Saya bangga sudah memberikan hak suara saya pada proses Pemilihan Gubernur Kalimantan Barat di bilik TPS Kampus UNTAN tanggal 20 September 2012 yang lalu, dan saya bangga menjadi salah satu saksi sejarah yang akan mencatat tinta emas memilih seorang pemimpin yang akan mengawal dan memajukan propinsi Kalimantan Barat ini.

Setiap warga Kalimanran Barat memiliki ekspetasi (harapan) yang berbeda satu sama lainnya. Dan sebagai warga kota Pontianak yang sah dan sudah memiliki indentitas (KTP Pontianak), saya juga berhak untuk berharap siapa pun yang terpilih memimpin propinsi Kalimantan Barat nanti  bisa menjadi yang terbaik buat seluruh rakyat Kalimantan Barat. Itu saja harapan saya. Bukankah itu sebuah harapan yang sangat sederhana. (Asep Haryono) 

6 comments:

  1. Wah, ternyata berbarengan dengan Pilgub DKI Jakarta yah ...

    Hmm ... kalau menurut aku sih, golput itu malah bisa mencederai demokrasi kita.
    Dan lagi, pemilukada ini dilakukan untuk kita juga. Kita yang memilih pemimpin kita, bukan DPRD atau MPR. Jadi, sayang banget kalau dilewatin.

    Lagi juga, kan kasihan KPU nya capek-capek ngadain pemilukada eh dilewatin begitu aja . hehehehe

    Hanya pendapat ... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @A.Y. Indrayana : Iya kayaknya pelaksanaan Pemilihan Gubernur (PILGUB) di propinsi Kalimantan Barat bersamaan dengan pelaksanaan PILGUB DKI Jakarta. Posisi sementara di Pilgub DKI Jakarta dipegang sama JOKOWI si "kotak". Untuk sementara si "kumis" FOKE tertinggal ya.

      Benar banged, kita punya HAK untuk memberikan suara, sayang sekali kalaw tidak digunakan dengan baik hak tersebut. Salam :)))

      Delete
  2. beritanya tertutup sm pilkada Jakarta ya. Tp siapapun pemimpin yg terpilih, semoga mampu menjaga amanah

    ReplyDelete
    Replies
    1. @ke2nai : hahahahaha iya kayaknya. PILGUB DKI Jakarta diblow up besar besaran saya rasa oke oke aja, karena barometer kemajuan kota kota di Indonesia , kan di DKI Jakarta salah satunya. Iya saya pun demikian siapa pun yang terpilih nanti haruslah menjadi yang terbaik bagi DKI Jakarta

      Delete
  3. golput bagi saya adalah alternatif pilihan juga. bagaimana tidak. jika yang jadi obyek pilihan tidak ada yang memenuhi aspirasi, masa harus dipaksakan. demikian bukan?

    apapun saya ikut berdoa, semoga pemimpin kalbar terpilih nanti adalah pemimpin yang aspiratif dan dapat menjalankan amanah sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @zachflazz : Ya saya setuju dengan pendapat bang Zachflazz karena GOLPUT pun adalah hak asasi juga. Belum pernah saya dengar seorang warga dihukum penjara hanya karena tidak menggunakan hak pilih (suara) nya dalam sebuah Pemilihan Kepala Daerah atau Pilgub seperti ini.

      Hanya saja sangat disayangkan tidak menggunakan HAK nya untuk memilih. Sangat disayangkan tidak mau menjadi salah satu saksi sejarah sebuah demokrasi. Semoga harapan Bang Zachlazz mendapat ridho dan dikabulkan Oleh Allah SWT

      Delete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog