Jual Milagros disini
Loading...

Idealis : Mengapa Tidak?

Siluet Diri
Catatan Asep Haryono

Manusia hidup bermasyarakat yang berbeda beda kultur, bahasa, adat istiadat, dan juga kebiasaan adalah hal yang biasa terjadi di lingkungan kita masing masing.  Perbedaan yang ada di dalam masyarakat tentu harus disikapi secara bijak.

Kata para pejabat kita sering bilang perbedaan tetap satu, tetapi kalaw ini dibalik satu dalam perbedaan. Nah perbedaan adalah hal yang wajar dan lumrah saja terjadi dalam kehidupan manusia yang hidup berbaur di masyrakat.   Kita tidak harus selalu sama dalam keseharian, dan juga kita harus selalu berbeda dalam penafisran. Ah indahnya perbedaan.

Namun acapkali perbedaan yang terjadi di masyarakat menimbul pergesekan, dan friksi yang menimbulkan perselisihan, dan pertengkaran yang bisa  membawa kepada kehancuran masing masing. Kok bisa sih? Ya tentu saja kalaw kedua belah pihak tidak ada yang saling mengalah, dan selalu berpendapat bahwa pikiran dan konsepnya sajalah yang paling benar dari yang lain.  Ini keliru.  Berbuat sesuatu yang benar jauh lebih bijaksana daripada berbuat sesuatu yang kita anggap benar. Kebenaran memang harus dan layak dipertahankan. Idealis boleh saja dipertahankan. Pertanyaanya adalah sampai kapan idealis itu harus kita perjuangkan?

Santai Sajalah

Coba kita tengok tren sekarang ini yang lebih kepada aspek keduniawian. Mengejar materi dan harta sebanyak banyaknya, dan juga sekaligus merengkuh karier yang cemerlang. Bolehkah itu semua kita lakukan? Ya tentu saja boleh. Setiap dari kita, setiap diri kita, setiap individu tentu sah sah saja melakukan apa saja yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan bathin. Kebahagiaan materi, kebebasan finansial, atau apa saja yang bisa membuat dirinya bahagia itu saja boleh.

Menjadi kaya atau mempunya target untuk jadi kaya itu juga baik. Yang tidak baik adalah mengejar kekayaan dan kemakmuran dengan cara cara yang tidak baik, tidak santun, menjegal sana sini, memfitnah orang lain, sampai pada perbuatan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan. Nah yang saya gambarkan yang terakhir itu yang tidak baik.   Bagaimana dengan pola hidup sederhana dan betah dengan kesederhanaannya? Itu juga baik. Semuanya juga baik.

Perlu dipisahkan di sini antar persoalan pribadi dengan professional yang sama sekali tidak ada hubungannya sama sekali. Pemimpin yang bijaksana dan cerdas tentu bisa dengan mudah memilah milih mana yang termasuk ranah profesional dan mana yang termasuk urusan personal atau bersifat pribadi. Tidak bisa dicampur aduk begitu saja antara urusan pribadi dengan professional.  Kata orang temen ya temen, bisnis ya tetap bisnis. " Kamu tetap sahabat  saya, tapi  hutang sama saya ya harus dibayar donk hehehe" begitu kira kira penggambarannya. 

Hidup lurus lurus sesuai dengan kaidah, dan ketentuan yang ada kadang menyakitkan hati. Itulah yang saya namakan idealis.  Walaupun kita sudah melaksanakan urutan demi urutan peraturan yang sudah ada dan semuanya sesuai dengan ketentuan Hukum yang berlaku, tetap saja kita sering mentok hanya karena pimpinan tidak suka kepada kita.  Suka atau tidak suka (like and dislike-red) sebenarnya sah sah saja. Setiap orang berhak bersedih, senang, gembira, begitu juga rasa tidak senang, dan saya rasa justru itulah sifat manusiawi dalam diri kita.  Kita adalah manusia yang punya perasaan. Kita semua punya.

Kita tidak harus selalu tunduk dan bersungut sungut kepada orang lain hanya untuk meminta "belas kasihan" mereka agar memudahkan karir kita menjadi (sedkit) cemerlang di masa depan.  Sejauh itu bisa kita lakukan sendiri, dengan kemampuan sendiri, mengapa tidak.  Idealis memang. Tapi itulah kita, ciri kita dengan segala kemampuan yang ada pada diri kita bisa kita coba semaksimal mungkin. Gagal atau berhasil usaha kita nantinya itu urusan nomor 16, yang penting berusaha sebaik mungkin dengan kemampuan yang ada pada diri ktia masing masing.  Hasil akhir tentu saja kita serahkan kepada Allah SWT.  Idealis, mengapa tidak? (Asep Haryono)



20 comments:

  1. Bicara soal idealis jadi inget jaman kerja kantoran dulu. Berhubung saya 'lurus-lurus' aja, dibilangnya idealis. Kebanyakan orang berpikir bahwa pegawai 'lurus' lama naik jabatannya. Jadi, katanya, kalau karir pengen cepat meningkat, harus pintar-pintar politik kantor, termasuk masalah 'menjilat'.

    Saya suka jadi 'lurus' dan saya suka untuk tetap idealis :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Diar Adhihafsari : Tadinya postingan ini mau saya "belokkan" ke hubungan industrial pimpinan dan karyawan atau bawahan namun saya kuatir berdampak kurang positif dan kondusif buat saya. Mengingat blog saya sudah banyak yang tau, dan verkaca kepada pengalaman sebelumnya.

      Yang jelas saya sudah "berubah" dalam artian lebih fokus kepada mengurus keluarga, dan anak anak, dan berbicara soal karier di kantor biarlah seperti air yang mengalir. Let it flows like water

      Delete
  2. "Kamu tetap sahabat saya, tapi hutang sama saya ya harus dibayar donk hehehe" ... ih ini mah saya banget! haha.. Tapi Utang kan emang harus dibayar toh? sekaliun yang berhutang itu sodara sendiri! Kecuali kita membebaskan utang itu secara ikhlas. Hayoo..kang Asep punya utang ga sama saya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Popi : Hahaha setau saya sih "utang" saya sudah dibayar lunas ieiheiheiheie. Utang mengirim hadiah hahahaha. Masa sih disebut ntar dibilang riya berabe neh urusannya hehehehhe. Kalaw berhutang sama keluarga sendiri emmang gampang gampang susah, kadang suka bercampur antara tega dengan nda tega.

      Mau nagih eh sodara sendiri ujung ujungnya main perasaan perasaan. Enak minjem sama lembaga atau kedinasan, nagihnya enak, ditagih juga senang karena resmi dan ada hitam putihnya. Terima Kasih sudah mampir ya mba Popi :))

      Delete
  3. /Mmmm.. salam kenal aja dlu ya pak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Ulan News : hi hi terima kasih sudah mampir ke blog saya. Wah kunjungam yang pertama yah. Wah saya aja sudah senang dikunjungi oleh sobat baru. Met kenal juga ya. Salam hangat dari Pontianak. Kalimantan Barat

      Delete
  4. betul sob, perbedaan yang ada di dalam masyarakat tentu harus disikapi secara bijak aga tidak menjadi keributan atau lain sbg na.
    kita harus menyikapi perbedaan yang ada dilingkungan msyarakat tsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Senja Berita : Nah itu dia. Justru ang terjadi sekarang ini adalah menjadikan perbedaan sebagai "amunisi" untuk menyerang lawan atau orang lain. Memaksakan kehendak secara paksa dan atau menghilangkan hak orang lain dengan dalih perbedaan. Ah romantika kehidupan ya.

      Inilah kita semua ditantang untuk benar benar melaksanakan amanat UUD 1945 dan Pancasila dalam kehidupan keseharian kita. Terima Kasih atas komentarnya ya

      Delete
  5. yang jelas sebuah kebahagiaan tidak hanya diukur dari materi ato kekayaan/harta Kang. hehehee...
    idealis itu perlu, tapi ada saatnya juga kita jgn terlalu idealis!

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Bung Penho : Benar sekali terkadang saya juga kesal sendiri dengan sikap dan prinsip idealis dalam diri saya sendiri. Misalnya saja dalam menghadapi birokrasi yang sering berubah ubah atau sering berlika liku dan luar biasa rumitnya.

      Menyederhanakan masalah juga sering saya lakukan dalam memandang suatu kasus misalnya. Dari urusan birokrasi toh masih bisa dipangkas dalam mengurangi substansinya. Masih banyak dari kita yang masih berpegang teguh pendirian dengan sikap idealisnya, termasuk saya sendiri. Ini sebuah pilihan

      Delete
  6. Misalnya dengan menyelesaikan kuliah sesuai target tanpa meremehkan nilai-nilai dalam suatu pendidikan. Karena teman saya sekarang menyatakan, kenapa harus kuliah serius kalau yang menunjukkan keberhasilan kita malah setelah kuliah. Saya tidak suka pemikiran seperti itu, terkadang membuat saya tidak ingin mengenal mereka karena dapat membuat saya malas belajar dan berharap-harap dunia menerima seperti membalikkan telapak tangan. >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Siti Isni : Saya setuju dengan pendapat mba. Justru pada saat hidup dan tinggal di masyarakat itulah "pertempuran" yang sebenarnya.

      Nilai nilai idealis sebagai buah dari doktrin masif di kampus sering bertolak belakang dengan kenyataan di masyarakat. Justru peran KKN itulah yang menjadi "jembatan" antara nilai nilai tri dharma perguruan tinggi bisa bersinergi dengan masyarakat. Super sekali pencerahan mba dalam komentar di sini. Saya senang sekali. :)))

      Delete
  7. ini bisa dibilang Esai mas,
    bagaimana sebuah sikap idealis dijelaskan,
    bahkan tentang idealis yang sering tidak dinamis dan tidak lagi dapat dipaksakan dengan kondisi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Yudi Darmawan : Terima Kasih atas kunjungannya ya mas Yudi Darmawan. Betul sekali kata mas Yudi, dalam konteks kekinian, idealis hampir sudah mau ditinggalkan karena masih ada jalan "kompromi" dan "win win solution" untuk pencapain tujuan yang bisa diakomodir dan memuaskan kedua belah pihak. Terima Kasih atas komentarnya mas Yudi :)))

      Delete
  8. idealis untuk perkara yang terkait moral, saya sepakat sekali.

    tapi kalo saya nih, soal karier, soal pekerjaan dan hal ikhwal bermasyarakat, saya ada di wilayah yang lebih konservatif. yang penting saya ada di rel yang benar, orang lain tidak keganggu oleh kehadiran saya, dan orang2 terdekat saya berbahagia, itu sudah lebih dari cukup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @zachflazz : Saya sependapat juga mas. Saya setuju juga dengan pemikiran mas, terutama sekali dalam hubungan interpersonal dalam dunia kerja. Sebaiknya kita tidak menjadi "ancaman" bagi orang lain juga merupakan sebuah strategi yang baik dan bisa disenangi oleh lawan ataupun kawan.

      Delete
  9. arif duluuuuu pernah bikin postingan yg sepertinya senada... coba tengok deh *maksa XD http://garishorizon.blogspot.com/2010/06/yuk-berpikir-benar.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Arif Chasan : Ya saya sudah membacanya. Sepertinya memang senada. Berpikir benar dan berbuat yang benar. Pemikiran mas yang indah sekali. Saya senang membacanya. Salam dari Pontianak

      Delete
  10. yang jadi masalah, masyarakat kita masih gagap dalam urusan semacam ini. mereka suka menuntut kebebasan berpendapat, tapi tidak mau belajar menerima kalo orang lain pun punya hak yang sama..

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Rawins : Tepat sekali mas. Kebebasan berpendapat juga sering ditafsirkan melakukan agitasi (perlawanan) sehingga mendapatkan tindakan represif yang berlebihan.

      Kritik konstruktif dipersepsikan menjadi "kebencian" ini yang kurang tepat saya rasa. Namun cara penyampaian juga menjadi perhatian juga ya jangan sampai maksud yang baik tetapi cara penyampaiannya kurang tepat

      Delete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog