Jual Milagros disini
Loading...

Berbagi Tidak Sama Dengan Pamer

Foto Internet
Saya sangat tertarik membaca judul sebuah berita di halaman Kayong Utara di koran Pontianak Post edisi cetak hari ini Kamis 21 Juni 2012 halaman Kayong Utara yang tertulis "kata "Pamer" tak selamanya berkronologi negatif".

Saya sudah membaca dengak seksama berita itu dan banyak mendapatkan inspirasi segar dan saya langsung menuliskannya dalam postingan saya pada hari ini.  Berita keren itulah yang menginspirasi tulisan saya pada hari ini buat kawan kawan semua.

Kata "pamer" ini sangat seperti terngiang ngiang di telinga saya dan teringat banyak sekali catatan yang terjadi dalam hidup saya kaitannya dengan "kata pamer" ini. Saya bukan ahli Bahasa atau Linguist yang menjelaskan asal usul dan asbabun nuzul kata "pamer", namun berita di koran Pontianak post di halaman 22 yang berisi dan berjudul "kata "Pamer" tak selamanya berkronologi negatif" sungguh mempunyai banyak makna buat saya. Mengapa bisa bermakna amat dalam bagi saya?

Pamer Tidak Sama Dengan Berbagi
Ini sub bahasan pertama yang saya bahas dalam tulisan amburadul saya hari ini (saya selalu menyebut tulisan saya amburadul bukan berarti menjelekkan hasil karya sendiri, tapi setidaknya berkaca pada diri sendiri bahwa apa yang ditulis adalah buah pikiran yang sederhana tidak lebih-red). 

Pamer memang tidak sama dengan Berbagi, atau dibalik saja susunan kalimatnya menjadi "Berbagi Tidak Sama Dengan Pamer" seperti judul postingan saya hari ini.    Mengapa pula disebut pamer? Mengapa pula disebut berbagi? Adakah perbedaan mendasar dari kedua kata itu.  Sekali lagi, saya bukan ahli bahasa Indonesia, saya hanya menulis apa yang terlintas di benak kepala saya saja

Sebelum saya bahas lebih lunjat eh salah lanjut perbedaan dua kata tadi antara "pamer" VS "berbagi" , marilah kita lihat contoh contoh yang sudah ada di depan mata kita semua. Anda tau pameran Komputer NICE yang baru baru ini sukses di gelar di kota Pontianak beberapa waktu yang lalu?.

Pameran Komputer yang diberi nama dengan Pameran Komputer NICE sudah berlangsung di Pontianak Convention Center, Jalan Sultan Abdurahman Pontianak dari tanggal 30 Mei hingga tanggal 4 Juni 2012 lalu.  Nah apa yang anda lihat di sana? Bukankah berderet deret komputer terbaru nan canggih tersedia di sana? Itulah yang dinamakan Pameran. Apakah panitia pelaksana Komputer NICE itu mau pamer?  Pamer bahwa mereka mampu mengoordinir toko toko komputer untuk menggelar dagangannya di sana?. Berbeda penafsiran adalah hal yang wajar, dan perbedaan pendapat tentu saja dihargai.

Juga dengan pameran Pembangunan yang sering di adakan di kota Pontianak ini. Berbagai kemajuan dan perkembangan daerah daerah di Kalimantan Barati di "obral" dan "dipajang" di etalase di Gedung Gedung untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat sejauh mana pembangunan yang sudah berhasil dilaksanakan di seluruh wilayah Kalimantan Barat. Apakah pemda pemda di seluruh Kalbar dalam ajang itu mau pamer?  Niat Pamer? Atau Suka Pamer?  O Tidak.  Mereka sedang menggelar pameran.

Apakah pemda Ketapang mau pamer bahwa pembangunan di kotanya lebih hebat dari kota lain?  Apakah pemda Sambas mau pamer akan Pagelaran MTQ yang kondang itu dibanding daerah lain?  No no way.  Mereka tidak sedang pamer.  Mereka hanya memamerkan pembangunan dan kemajuan yang dicapai sehingga masyarakat akan tahu perkembangan tiap daerah di Kalimantan Barat.

Dampak positif lainnya adalah setiap daerah di Kalimantan Barat bisa saling melihat perkembangan daerah lainnya sehingga memicu semangat membangun lebih baik lagi.  Iri akan kemajuan yang dilakukan daerah lain adalah bagus sehingga terjadi saling lomba membangun di daerah masing masing, dan itu dampak positif dari sebuah PAMERAN. Kemajuan suatu daerah yang dipamerkan dalam ajang pameran itu akan menimbulkan semangat membangun dari daerah lain untuk berbuat lebih baik lagi.    Nah bagus bukan?

Pamer Yang Tidak Elok
Untuk sub bahasan kedua ini sengaja saya tampilkan beberapa contoh ekstrim dari kata "Pamer" dalam artian negatif dan sepertinya sudah banyak contoh contoh yang ada di depan kita baik dalam media cetak, media elektronik hingga di media Televisi.  Sejatinya saya kurang suka menonton Realita Show atau tayangan selebritas yang paling sering buka konperensi pers memproklamirkan berita perselingkuhan, perceraian, perebutan harta gono gini hingga perkelahian di dunia maya seperti yang pernah terjadi antara Memes, Kevin dan  Marisa Haqua.

Ini kembali ke soal selera, dan seperti yang sudah saya beberapa waktu yang lalu bahwa yang namanya "selera memang tidak dapat diperdebatkan", jadi jangan salahkan saya kalaw saya tidak suka nonton sinetron atau tayangan infotainment selebrity.  Ini soal selera, dan selera saya tidak suka itu.  Nah sengaja saya tampilkan di sini sebagai contoh dari dikotomi kata "pamer" itu tadi.  Nah mereka memamerkan selingkuhannya saja bisa dengan begitu bangga.  Memberitakan perceraian dan kejelakan pasangannya sebagaimana yang sering dipertontonkan artis kita juga dengan bangganya. Kok bisa ya bangga dengan memamerkan berita kejelekan pasangannya di televisi.

Nah pamer yang jelek saja bisa begitu bangga, dan apakah ini juga bisa disebut dengan "berbagi" bersama orang lain?  Ini yang unik karena memang beda beda tipis antara "pamer" dengan "berbagi" hanya persoalan intinya adalah konten.  Ini menyangkut konten, dan konten yang dibagi atau dipamerkan itu adalah konten yang tidak santun berisi hujatan, berita perceraian, perselingkuhan, dan juga kejelekan pasangan.  Para pemirsa sebaiknya arif dan bijaksana dalam menyaring informasi seperti itu.  Bagaimana jika dibalik anda memamerkan wawsan anda dengan karya pembangunan, buah pikiran dalam bentuk tulisan, atau kegiatan untuk dinikmati orang lain, apakah itu juga disebut anda sedang pamer?


Media Sosial Sebagai Pameran
Tentu banyak dari kita memiliki akun jejaring sosial seperti facebook ?  Saya yakin banyak dari kita yang memiliki satu bahkan beberapa akun jejaring pertemanan yang amat kondang itu. Saya juga punya, dan rata rata temen temen saya juga memilikinya disamping akun lainnya seperti twitter.  Nah jika kita cermati dengan seksama bahwa rata rata pengguna facebook mempunyai gallery photo yang indah, berwarna warna, ada yang lucu, kocak bahkan sampai narsis sekalipun.  Apakah mereka sedang pamer?   Saya rasa tidak.  Pamer tidak sama dengan berbagi.   

Dengan anda mempublish foto foto diri anda sendiri, tentu dengan resiko yang bisa timbul dari penyalah gunaan foto foto anda tadi oleh pihak lain,  adalah anda dengan sengaja dan percaya diri "memamerkan" koleksi foto foto anda di jejaring pertemanan facebook tersebut.   Menurut pendapat saya yang humble ini (yaelah bahasanya-red) mereka tidak sedang pamer, niat pamer, atau sengaja pamer di facebook.  Menurut saya mereka hanya berbagi.  Berbagi kebahagiaan dan keceriaan bersama sama di jejaring dunia maya.  Nah bagaimana dengan tulisan di Blog ? Apakah anda sedang pamer ke orang orang kalaw ada suka menulis di blog?.   

Ini logikanya sama dengan orang yang mengirim tulisan ke media untuk dipublikasikan. Apakah mereka itu mau pamer ke orang orang akan titel atau gelarnya yang panjang kaya kereta api untuk memikat media yang akan mempublish tulisannya?  Saya rasa tidak. Mereka tidak sedang pamer, mau pamer, niat pamer atau suka pamer tulisan.   Mereka hanya membagi buah pikiran mereka untuk dibaca oleh masyarakat, dan itulah nikmatnya berbagi atau sharing.  Berbagi wawasan adalah bijak, dan sah sah saja tanpa harus disematkan julukan negatif "pamer" .   Jadi tidak usahlah menyematkan kata "pamer" kepada mereka yang ingin berbagi dengan orang lain.

Sekilas memang beda tipis antara "Berbagi" dengan "pamer" kaitannya dengan memperlihatkan "sesuatu" yang bisa dinikmati oleh orang lain.    Facebook adalah contoh yang paling masuk akal dari serangkaian tuduhan kata  "pamer" yang sering disalah artikan dengan konotasi negatif itu.  Mereka memasang foto foto narsis dan foto apa saja yang mereka sukai adalah keputusan mereka sendiri yang seharusnya dihargai, dan bukan dicemooh dengan sebutan "pamer".  Mereka hanya berbagi dengan orang lain, dan saya rasa berbagi kebahagiaan bersama orang lain adalah mulia.

Anda sering menerima undangan ulang tahun untuk anak anda?  Mungkin ada yang pernah ya. Nah apakah mereka juga sedang pamer kalaw anaknya berulang tahun tahun dan mengundang anda untuk merayakan hari ulang tahun anaknya?   Jelas tidak.  Mereka tidak pamer, mereka itu berbagi. Berbagi kebahagiaan kalaw anaknya berulang tahun dan mengundang anda untuk merayakannya. Mereka berbagi kebahagiaan bersama anda, dan mereka ingin anda merasakan kebahagian sebagaimana mereka rasakan.  Nah jelas bukan?

Apakah dengan saya menulis postingan di blog ini saya sedang pamer?  Kita tentu tidak dapat menilai apa yang kita lakukan sekarang ini masuk katagori "berbagi" atau "pamer" karena terpulang kepada penilaian masing masing. 

Sekarang kita kembalikan kepada niat dan ketulusan masing masing  dalam mepublikasikan hasil karyanya kepada orang lain, apakah ingin diketahui orang atau memang niat tulus ingin berbagi bersama orang lain.   Satu hal yang ingin saya tekankan di sini adalah "berbagi tidak sama dengan pamer" karena dalam prespektif saya kata "berbagi" jauh bermakna lebih luas yakni dengan membuat orang lain bisa merasakan apa yang yang kita rasakan. Berbagi di sini tidak selalu menceriakan membahagiakan, bahkan berbagi pengalaman hidup kita semuanya.  dan   Betapa bahagianya jika kita bisa membahagiakan orang lain. (Asep Haryono)

Lokasi       :  Pontianak. Kubu Raya. Kalimantan Barat
Lihat Lokasinya di
StreetDirectory di Bawah ini



6 comments:

  1. kalau pamer pasti ada sifat riya di belakangnya mas,
    yah, misalnya seperti yang mas bilang itu, melalui jejaring sosial, kan bisa jadi merugikan diri sendiri, fotonya digunakan pihak yang tak bertanggung jawab..

    subhanallah mas, tulisannya menegur dengan sisi intelektual yang cerdas.. :)

    ReplyDelete
  2. kembali pada niat awal kita, pasti juga akan mendapat hasilnya sesuai niat kita td....

    semoga niatku berbagi disini akan mendapatkan kebaikan, amien

    ReplyDelete
  3. kalau saya sih pamer memang berbeda kang sama berbagi....
    klo pamer kayakx lebih mengarah pada nunjukin sesuatu yang mungkin orang lain tdk punya... heheheh

    ReplyDelete
  4. tulisan ini justifikasi yang matang untuk membedakan berbagi dengan pamer. sangat clear kang. mantap.

    ReplyDelete
  5. pamer yg ga oke itu, menurut saya, pameran kemesraan yg kelewatan :D apa-apa ngabarin, suami lagi inilah, lagi itulah, semua diposting, aiiih like I care deh :p

    pamer yg oke doke itu pamer prestasi, bukan utk sombong, tapi utk motivasi diri dan org lain :)

    ReplyDelete
  6. wow nice posting :)
    salam kenal mas
    happy bloggwalking :)

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog