Jual Milagros disini
Loading...

Ketika Corby Menjadi Urusan Negara

Schapelle Corby. Foto JawaPos
Oleh Asep Haryono

Sudah sejak lama kita semua ketahui bahwa penegakkan hukum di Indonesia memandang "bulu" dalam artian bulunya milik siapa dan apa "bulunya", dan sekali (lagi) rasa keadilan kita terusik oleh semangat Yang Mulia Preside SBY yang mengabulkan grasi si ratu Mariyuana"  dari Negeri Kang Guru Australia , Schapelle Corby , seperti dilansir di berbagai media online seperti Detik COM.

Sekilas mengulang kembali informasi yang beredar dari DETIK NEWS bahwa Ratu Mariyuana, Schapelle Corby, mendapat pengurangan hukuman lima tahun setelah Presiden SBY menandatangani pemberian grasi. Dan DETIK NEWS juga menyebutkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya menandatangani pemberian grasi kepada terpidana ratu mariyuana asal Australia, Schapelle Corby itu berupa pengurangan hukuman lima tahun penjara dari 20 tahun menjadi 15 tahun penjara


Negeri Masalah
Saya jelas bukan Ahli Hubungan Internasional, apalagi ahli politik dan saya juga tidak satupun terlibat dalam partai apa pun di negeri "antah berantah" (Meminjam sebutan Justin Bieber kepada Indonesia-red) dalam hal penegakkan hukuman di Indonesia ini.  Bahkan santer diberitakan jika kasusnya menyeret para petinggi Negeri "lucu" ini pasti ujung ujungnya menjadi tidak jelas, dan bahkan (kalaw perlu) dibuat isu pengalihan agar konsentrasi perhatian rakyat jadi teralirkan.  Ada ada saja, atau saja ada ada?

Tidak perlu lah saya mengulas lagi kasus yang menggantung di langit langit negeri syurganya Koruptor ini, karena sudah banyak media , tulisan dan juga artikel mengenai hal ini mulai dari kasus Gayus Tambunan, rekening gendut , Penghilangan paksa aktifis mahasiswa dan sampai pada urusan konser Lady Gaga pun carut marut.. Bukan Indonesia namanya kalaw tidak ada masalah.

Rakyat pun jadi bingung dibuatnya, termasuk saya.  Loh saya kan rakyat Indonesia juga. Baru aja minggu lalu rekam data E-KTP di kantor Kecamatan Pontianak Tenggara, Nah warga negara yang baik juga kan?.  Tapi bukan berarti yang belum punya E-KTP tidak baik loh, semuanya baik.  Daripada ngurus warga yang belum E-KTP mendingana ngurus penduduk liar tanpa KTP. Nah lebih sreg donk ye.

Nah kembali kepada urusan Corby ini, tampak jelas pemerintah kita tunduk dengan tekanan yang diberikan oleh Pemerintah Australia yang memang sudah dari dulu gencar mengupayakan pengurangan hukuman dan pembebasan Corby dengan iming iming bantuan kepada pemerintah Indonesia. Ini yang menjadi runyam urusannya jika urusan kemanusiaan, dan bantuan sosial negara Kang Guru itu dikaitkan dengan urusan Politik, dan ujung ujungnya jadi urusan "dagang" alias "barter barteran" urusan politik.


Rumuskan Pola Kerja Sama Baru
Okelah kalaw memang Yang Mulia Presiden SBY sudah terlanjur menandatangani Grasi dan kerja sama dengan pemerintah Australia dalam rangka pengurangan hukuman, karena Indonesia juga mempunyai agenda tersendiri dengan penandatanganan ini, seperti yang dilansir oleh DETIK NEWS, bahwa Indonesia memiliki masalah dengan banyaknya warga Indonesia bermasalah hukum di Australia.  Kalaw memang itu merupakan salah satu syarat untuk pembebasan Nelayan kita memang tidak fair seperti kata Guru Besar Hukum UI Hikmahanto Juwana kepada DETIK.COM.

Mungkin sudah saatnya antara Pemerintah Indonesia dan juga pemerintah Australia membahas lebih detail lagi bagaimana pola penanganan masalah pelanggaran hukum yang dilakukan oleh rakyat kedua negara sehingga tercipta saling pengertian dan tidak menimbulkan berbagai penafsiran yeng berbeda dan juga ambivalensi yang bisa saja timbul dari keputusan yang dibuat oleh kedua negara.

Saya memang termasuk fans dengan Negara Australia karena memang berniat menimba ilmu (suatu hari nanti) di sana, namun demikian hati dan perasaan saya tetaplah pada Indonesia, dan sangat prihatin sekali jika hanya karena suatu kepentingan, rasa keadilan sepertinya dinjak injak oleh negara lain.

Sebenarnya isu isu seperti ini memang sudah lama tidak diperhatikan oleh negara kita ini, dan semua masalah itu bermuara pada ketidak tegasan pemerintah dalam membela warga negaranya yang kini sedang berjuang hidup mati mencari nafkah di negeri lain. 

Saya jadi tidak mengerti fokus penyelesaian masalah bangsa Indonesia yang dipimpin oleh Yang Mulia SBY ini, di saat persoalan remeh dan kecil tidak bisa ditangani dengan baik, sedangkan persoalan besar dianggap remeh dan angin lalu yang lewat begitu saja.  Urusan yang sebenarnya kecil jadi besar, dan urusan yang besar dijadikan menjadi kecil.  Jadi yang mana yang harus menjadi fokus untuk diselesaikan dengan tuntas sebenarnya?.  Ini suatu pertanyaan saya.

Nanti jika urusan si ratu narkoba Schapelle Corby ini beres, kira kira apa lagi yang akan dijadikan "booming" atau diblow up besar besaran sehingga rakyat Indonesia tidak terfokus lagi pada masalah besar yang tengah dihadapi oleh bangsa ini, atau inikah semacam pengalihan isu?. 

Adakah yang bisa menjamin jika urusan Schapelle Corby ini selesai, lalu tidak akan muncul lagi kasus lain yang serupa atau bahkan menjadi lebih buruk lagi.   Negeri ini memang negeri syurganya masalah.   Tidak seperti kata penyanyi Lenka Kripac yang menembangkan lagu "Trouble Is A Friend", bagi saya masalah tetap saja masalah yang tidak bisa dijadikan teman. Buat apa mencari teman yang akhirnya akan menusuk kita dari belakang, itu bukan teman yang baik. Masalah harus diselesaikan dan dicarikan jalan keluarnya. Masalah bukan diajak menjadi teman.

Masih banyak masalah besar bangsa Indonesia yang memerlukan penyelesaian dan penuntasan dengan seksama sampai kepada akar akaranya mulai dari masalah sulitnya mendapat lapangan pekerjaan bagi rakyat, beras murah, Harga BBM , kasus korupsi BLBLI , Bank Century, Kasus Munir , Tragedi Trisakti , Gayus Tambunan serta segudang masalah lainnya yang harus diselesaikan oleh pemerintah daripada mengurus seorang cewek bule yang bernama Schapelle Corby itu.

Dia , Schapelle Corby , memanglah bukan anak pejabat, dia bukan pimpinan partai, dia juga bukan bahkan seorang artis, dia adalah Schapelle Corby orang sipil biasa. Tidak beda dengan rakya t sipil biasa di mana aja di negara manapun.  Namun Schapelle Corby jadi "hebat" karena urusannya make Narkoba menjadi urusan Negara. Suatu "kehormatan" buat Schapelle Corby , kalaw gitu saya ucapkan selamat   .(Asep Haryono)

5 comments:

  1. Coba kang Asep mampir ke akun twitternya @benny_israel, dia juga ada bahas isu ini. I dont know who to believe. But I also feel that I trust less to this so-called random country *sigh*

    ReplyDelete
  2. itulah indonesiaku,, pmerintah sok sibuk sma msalah sepele dan kurang responsip sma msalah gede yg ada didpan mata

    ReplyDelete
  3. kalo gak salah, pemerintah australia bilang, ini bukan corby yang salah, tapi ada yang naro narkoba itu di tas corby. benerkah? kalo bener...

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan-jangan nanti yang disalahin petugas kita, kenapa Corby ditangkep, apa nda bisa pura-pura tidak tahu? Puyeng kalau nyimak perkembangan hukum di negeri tercinta ini.

      Delete
  4. saya juga gemes nonton beritanya corby, bagi orang awam tentu bertanya2 apa sih alasannya? apa karena pak beye beneran mau menjunjung pepatah "hundred friend zero enemy" sampe2 negara tetangga 'dilemah lembutin?' *sigh

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog