Jual Milagros disini
Loading...

Hidup Dikejar Hutang

Gambar ini  dari Internet
Halo semuanya. Hari saya posting tulisan sederhana mengenai hutang dalam bahasa Indonesia, our national language, lah pake bahasa Inggris lagi. Hehehe. Memang tidak konsisten sekali sayah. Tema tulisan saya hari ini adalah bertema hutang yang sengaja saya posting pada hari ini.

Nah siapa sih diantara kita yang tidak pernah berhutang sama sekali? Baik berhutang secara finansial, dalam arti pinjam meminjam uang atau hutang dalam arti yang lebih luas seperti hutang jasa atau hutang budi?. Well, saya sendiri memang tidak ahli dalam hutang berhutang, bukan pula seorang pakar atau ahli keuangan.

Namun untuk yang satu ini (hutang) memang pernah suatu masa kami menjalaninya atau mengalaminya, namun lebih banyak terfokus pada hutang secara fisik dalam bentuk uang. Meminjam uang atau berhutang memang pernah kami lalui dengan sukses. Ada banyak cerita, yang barangkali juga dialami oleh para pelaku hutang alias peminjam uang, dan mungkin kilas pengalaman hidup ini menjadi cerminan buat saya sekeluarga untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan keluarga. Apa sajakah itu, the story begins:

Mengapa Kita (Harus) Berhutang
Nah ini memang persoalan hidup seseorang, atau bisa jadi gaya hidup seseorang. Ah masa sih, adakah gaya hidup seseorang yang berhutang? Ataukah dengan hutang itu kita bisa bergaya?. Adakah rekan rekan blogger yang bisa menjawab pertanyaan pertanyaan sederhana ini. 

Pada prinsipnya kita tidak bisa blame (menyalahkan-red)  orang yang memiliki hutang dari orang lain, mempunyai puitang kepada orang lain, atau berhutang dengan orang lain.  Setiap orang pasti, tentunya , memiliki alasan yang jelas dan kuat mengapa seseorang itu harus berhutang kepada orang lain.  Ini sama saja halnya dengan hak asasi seseorang yang harus dihormati.   Perkara dikabulkan atau tidak seseorang yang mengajukan proposal hutang kepada orang lain adalah hal yang lain lagi.

Gambar dari Internet
Hutang selalu identik dengan orang yang dilanda kesulitan keuangan, namun benarkah demikian?.  Bukankah kartu kredit adalah kartu hutang juga?.

Lantas orang yang membeli barang barang dengan kartu kredit bisa dikatakan hutang?   Saya sendiri tidak punya kartu kredit, dan tidak tertarik untuk punya kartu plastik tersebut, namun prinsipnya sama. 

Hutang, alias dibayar belakangan.   Orang membeli barang, dan bayarnya dikemudian hari juga disebut hutang, hanya saja lebih elegan dengan menggunakan kartu kredit. Berhutang rupanya bisa gaya, seolah olah kita banyak uang, padahal kita ambil barang dahulu bayarnya dikemudian hari, dan itu sama saja dengan berhutang secara manual atau konvensional.

Apa? Hutang manual atau konvensional? Maksudnya apa tu.  Dalam konsep pemikiran saya yang humble ini (ya ela bahasanya-red), yang saya maksud dengan hutang cara manual atau konvensional, adalah anda berhadapan langsung dengan pihak lain (bisa berupa orang atau pihak lembaga) berupa dana berbentuk fresh money dalam jumlah tertentu disertai dengan ketentuan tertulis atau tidak tertulis mengenai cara , teknis, dan waktu pelunasannya.  

Misalnya saja saya meminjam uang sebesar Rp.100.000,- (Seratus Ribu Rupiah) dari Bapak Fullan dengan "perjanjjian" dana itu akan dikembalikan pada bulan depan gajian atau pada gajian bulan depan.  Nah dari transaksi sederhana inilah akhirnya terciptalah "hutang" manual atau konvensional. Saya rasa rekan rekan cukup mudah memahami konsep sederhana ini.  Jika dalam proses pelunasannya terjadi penundaan atau kalaw dalam istilah dunia perbankan disebut dengan "kredit macet" , maka pihak pemberi hutang bisa saja menagih hutang kepadanya, dan saya rasa proses ini berlangsung amat wajar.

Malu Namun Terpaksa
Ada banyak asalan eh alasan mengapa orang harus berhutang kepada pihak lain.  Saya rasa ini bisa diukur dari tingkat hubungan emosional si pengutang dengan pihak pemberi hutang.  Jika hubungan emosional kedua pihak dirasa dekat, maka persoalan pelunasan hutang bukan merupakan persoalan. Dalam arti krta hutang bisa diselesaikan "kapan kapan".  Namun hal ini akan menjadi masalah jika hubungan emosional dan kekeluargaan antara pengutang dan pemberi hutang kurang dekat, dan lebih mengarah kepada hubungan profesional, nah untuk kelas ini  bisa runyam urusannya.

Gambar dari  erwinandsandy.com
Jangan salahkan keluarga atau seseorang yang meminjam uang kepada pihak lain, karena urusan rumah tangga seseorang bisa jadi bukan urusan kita, jadi tidak sepatutnya kita menjudge orang lain hanya melihat dari permukaannya.  Seperti dalam tulisan Miss Syahdini yang menuliskan di blopgnya "Don't judge a book by its cover", nah silahkan baca tulisan beliau di blognya itu biar nda penasaran.

Nah dari sinilah kita bisa mencoba menaruh respek atau menghargai orang yang berhutang dari kelas atau apapun tingkatan ekonomi mereka.   Coba saja lihat kantor Pegadaian, nah ini bukti jelasnya.  Pegadaian menawarkan format hutang dengan cara sederhana, nasabah datang dengan membawa barang berharga untuk jaminana dari dana yang dipinjam oleh nasabah. 

Setelah disepakati, dana pun cair, maka nasabag Pegadaian, akan melunasi sesuai dengan waktu yang diberikan (jatuh tempo) dan kemudian barang yang digadaikan itu kembali kepadanya.  Apakah yang menjadi nasabah Pegadaian itu orang miskin semua?  Jangan remehkan Pegadaian.  Banyak orang tajir, mampu, kaya, berdasi dan bermobil mewah juga menjadi nasabah Pegadaian. Jadi stigma orang yang berhutang itu rata rata orang kurang mampu adalah tidak benar.

Namun demikian dampak sosial dan ekses negatif  dari hutang bisa jadi luar biasa, dan menjadi pahit seperti kita menelan obat dari apotek.  Tapi sekarang obat pun banyak yang rasanya buah, dan tidak pahit, jadi stikma obat rasanya pahit saya rasa juga kurang tepat hehehehe.   Dampak negatif berhutang sungguh luar biasa dan bisa jadi tidak akan dapat anda bayangkan.  Bisa saja orang yang anda minta pinjaman itu bisa saja mengejar ngejar anda untuk segera melunasi hutangnya, nah apa yang bisa anda lakukan?. Pada posisi sulit seperti itu anda menjadi pihak yang kalah.  Mereka berhak atas anda, karena uangnya anda pakai. Jadi kalaw diuber uber orang yah itu sudah menjadi resiko anda.

Hidup tidak akan menjadi damai jika masih ada "hutang mengganjal" kehidupan anda sehari hari, dan gaji yang anda terima setiap bulannya bisa saja "hanya numpang lewat" karena sudah habis untuk melunasi hutang hutang anda.  Kebiasaan menunda nunda untuk membayar hutang lama sebelum melakukan pinjaman baru adalah "lobang maut" yang sengaja anda gali sendiri untuk anda terjun bebas ke dalamnya.  Saya tidak menganjurkan anda berhutang, tapi jika itu pilihan terakhir, maka hutanglah dengan Bijak.  Jika dalam proses pelunasan hutang anda bermasalah dengan mereka (pemilik modal), bayarlah segera hutang anda sehingga anda tidak dikejar kejar mereka lagi.  Hindari berhutang lagi dengan orang itu. Titik habis perkara.

Sebagai penutup tulisan sederhana ini , saya mau mengutip kata pakar Keuangan Keluarga, Safir Senduk dan rekan , yang berpesan agar bisa menambah penghasilan lain diluar gaji agar pengelolaan keuangan keluarga menjadi lancar.  Tidak melulu mengandalkan gaji, dan bayarlah hutang dari "uang kaget" seperti dari Bonus, THR, Hadiah sesegera mungkin, karena itu adalah pilihan yang bijak.

Tidak mengganggu penghasilan utama (Gaji), tetapi bisa dikikis hutang itu dari sumber sumber penghasilan lain.  Cara lainnya. seperti kata Safir Senduk dan Rekan, adalah menekan pengeluaran yang tidak perlu, dan menaikkan penghasilan diluar gaji.  Saya sekeluarga masih berusaja keras melaksanakan pesan pesan beliau seperti ini. Semuanya masih dalam proses, dan kami masih banyak belajar (Asep Haryono).

5 comments:

  1. Prinsip saya dan suami adalah menjauhi hutang. Kalaupun terpaksa berhutang, mending pinjam dengan orangtua/abang/adek/kakak saja.

    As you wrote kang, hidup jadi ga tenang kalo berhutang. Bimbang jak bawaan hehe..

    ReplyDelete
  2. menurut pakar ekonomi yang saya follow di twitter sih, hutang yang baik adalah hutang yang produktif yaitu hutang dikarenakan bisnis dan itupun hitung2annya harus sangat matang biar ga salah jalan. nah kalau hutang yang tidak baik itu yaa hutang konsumtif, berhutang cuma untuk beli benda2 mahal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan :)

    ReplyDelete
  3. iya setuju banget Mbak Dini.

    Cuma gini Kang Asep, Pamaeintah Amerika bahkan punya utang, Perusahaan Bakrie pun punya utang. Katanya ini strategi pengelolaan pendanaan mereka. Padahal mereka juga ngutangin pihak lain lho.

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog