Jual Milagros disini
Loading...

Tanggapan

Tag : Kehidupan - Asep Haryono | Tanggapan - Powered by Blogger
Mengapa ada Ibu Mengajak Anaknya Bunuh Diri?
Tanggapan Berita DETIK COM
Oleh Asep HARYONO

Ini bukan tulisan ilmiah, hari ini Saya ingin menumpahkan perasaan saya yang terasa diaduk aduk. saya posting dalam bahasa Indonesia karena saya ingin menanggapi berita dari Detik COM yang menurut saya sangat memilukan, menyesakkan dada dan juga menyayat hati. Bagaimana tidak tersayat sayat membaca berita DETIK COM hari ini (14 Maret 2012) tertulis dengan jelas judul berita "Ibu Tenggelamkan Anaknya lalu Potong Urat Nadinya Sendiri".

Kemudian dilanjutkan dengan "Kamis tengah malam (1/3/2012), sekitar pukul 02.00 WIB, Erawati meninggalkan rumahnya di Kampung Cigeber Desa Bojongsari Kecamatan Bojongsoang. Ia pergi sambil menggendong anaknya yang tengah tertidur lelap. Sempat ada tetangga yang melihatnya, namun tak sempat bertanya".

Hidup Memang Perjuangan
Begitulah lenyataannya, hidup memang keras, kejam dan kadang sukar dimengerti. Secara langsung mau saya sebutkan salah satu faktor yang umum yang sering dituding meenjadi biang masalah adalah kesulitaan ekonomi atau faktor Ekonomi. Saya bukan ahli Ekonomi, dn juga tidak bermaksud sok tahu urusan ekonomi. Saya hanya menulis apa yang terlintas di benak saya saja, tidak lebih.

Masyarakat memang tidak biasa memahami individu seperti kita. Masyarakat tidak mau mengerti tetapi dimengerti. Cobalah lihat jika ada pria wanita berjalan beriringan, apa yang ada dibenak setiap orang yang melihat mereka berdua. "tuh liat si fulan jalan bareng sama si fulan, ih pacaran ya" dan masih banyak lagi konotasi negatif lainnya.

Padahal bisa saja mereka itu adik kakak bersaudara. Mana kita tahu bukan?. Nah itu contoh sederhana. Kembali ke urusan Faktor Ekonomi memang selalu menjadi biang keledai eh keladi dan selalu dicap "sumber masalah" selama ini. Hidup memang kejam dan keras. Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin membuncah ditambah sulitnya mencari pekerjaan plus masih ditambah lagi dengan suramanya masa depan, membuat orang bisa gelap mata walaupun dia sendiri tidak sedang memakai kaca mata gelap.

Bagi komunitas tertentu menganggap bunuh diri tidak baik, dan melampaui kehendak TUHAN YANG MAHA ESA. Saya rasa semua agama di Indonesia melarang seseorang bunuh diri, apalagi membunuh orang lain. Itu bagi kaum yang mengerti, tapi bagaimana dengan Erawati (almarhum) yang bunuh diri dengan mengajak anaknya juga itu?.

Memilukan Menyayat Hati
Disebutkan dalam berita DETIK COM juga bahwa alasan Erawati (alm) mengakhiri hidupnya adalah karena tidak tahan akan kesulitan hidup, dan tidak kuat bertengkar terus dengan suaminya. Lalu kata DETIK COM disebutkan juga alasan dia mengajak anaknya, Andika 4 tahun, turut bunuh diri karena tidak ada orang yang mau mengurusnya dan tidak ada yang beri jajan.

Hati saya amat tersayat membaca penggalan kalimat terakhirnya itu , tidak ada yang mengurus dan tidak ada yang memberi jajan , agak terasa sesak di dada saya. Sebagai ayah yang memiliki dua anak (1 tahun dan 4 tahun), saya bisa merasakan apa yang dirasakan alm. Bukannya sok solider tapi anak memang sering minta uang jajan. Bagi yang sudah punya anak tentu bisa merasakan, betapa anak anak sering merengek minta jajan. Tidak dibelikan menangis.

Anak seumur Andika 4 tahun tidak mau tau kesulitan orang tuanya. Apakah hari itu orang tuanya punya uang atau tidak, si anak tidak ambil pusing. Sekali tukang bakso pentol lewat misalnya, anak minta dibelikan. Ada tukang es cendol, anak lihat minta dibelikan.

Anak saya sendiri saja, Abbie (ultah ke 4 tahun kemarin 12 Maret-red) suka minta jajan kue dan agar agar. Abbie tidak mau tau kalaw ayahnya kadang nda punya duit. Bahkan untuk beli 1 liter bensin buat ngantor hari itu. Anak tidak akan mau tau. Pokoknya beliin kue, beliin ya Ayah.

Apalagi susu. Nah bagaimana kalaw persediaan susu buat anak anak (susu formula yang saya maksud guna menghindari intepretasi yang macam macam-red). Nah susu formula habis ya harus beli, nah bagaimana pas hari itu kita tidak punya uang sepeserpun.

Pusing 10 keliling (bukan 7 lagi sekarang-red). Belum lagi kalaw anak jatuh sakit dan harus ke dokter. Uang disaku tidak ada, nah gimana coba?. Itulah hidup. Romantika hidup berkeluarga. Ini juga bisa menjadi renungan buat kawan kawan blogger yang kelak menikah juga nanti. Hal hal seperti ini akan terjadi jika hadirnya sang buah hati.

Yang (lagi) membuat saya sedih di bagian berita itu tertulis "Dari hasil penyelidikan kepolisian, Erawati menenggelamkan anaknya yang tengah tertidur ke sungai keci selebar 1 meter dengan kedalaman selutut itu. Setelah memastikan anaknya tewas, ia memotong urat nadi lengan kirinya. Ia pun menyusul anaknya". Ini yang saya sedih sekali.

Anak yang tidak berdosa itu, Andika 4 tahun, dan sedang asyik asyiknya bermimpi indah, terlelap dalam tidur manisnya, tiba tiba bangun sudah di alam yang lain. Saya tidak dapat membayangkan air yang masuk ke dalam hidung si anak, dalam mulutnya, dalam telinganya, dan air itu masuk ke jantung dan mematikannya. Hati saya sedih, pilu dan terasa seperti tersayat. Innalillahi Wainnaillaihi Radjiun. Insya Allah Syurga ALLAH SWT sudah menanti dirimu wahai Andika sayang. Sabar lah nak.

Saat saya menulis tulisan ini jam menunjuk pukul 0.14 WIB hari Rabu, 14 Maret 2012. Ku pandangi wajah polos anak anak ku, Tazkia Putri (1 tahun) dan Abbie (4 tahun) nyenyak terlelap dalam mimpi indahnya. Memandangi mereka dikala mereka sedang terlelap adalah hal yang sangat indah dalam hidup saya. Damai rasanya melihat mereka terlelap.

Anak anak tidak mau tau betapa ayah dan bunda bekerja keras Siang Malam banting tulang untuk mereka berdua. Siapa lagi yang akan menggantikan kita kalaw bukan anak anak generasi mendatang. Anak anak kita lah yang akan meneruskan perjuangan kita, melanjutkan kehidupan, kelak kalaw kita semua sudah tiada. Saya bukannya mau menakut nakutin, karena saya sendiri juga takut. Setiap orang pasti punya rasa takut.

Miss Syahdini juga sudah memposting artikel MZ Omar tentang Dzikrul Maut yang amat menggugah itu, dan seolah menyadarkan kita semua. Harus ada kesimbangan antara kepentingan duniawi dan juga masa depan nanti. Begitu pula dengan buku "GANTI HATI" yang ditulis oleh Bapak Dahlan Iskan juga sangat menyentuh hati, buku yang membuat nafas saya terengah engah seolah turut merasakan jam demi jam berada diujung kematian.

Hidup memang perjuangan, dan perjuangan hidup ini harus kita menangkan. Apa pesan moral dari berita DETIK COM itu, bagi saya pribadi sangat banyak. Satu hal yang ingin saya sampaikan dalam pengertian dan pemahaman saya tentang berita detik com yang menjadi dasar tulisan saya ini adalah bahwa HIDUP sangat tak ternilai. Setiap menit adalah kesempatan buat kita mempersiapkan segalanya. (Asep Haryono)

1 comment:

  1. Beberapa hari lalu juga saya ada liat berita di tv tentang ibu yang bunuh anaknya, trus bunuh diri seperti yg kang asep tulis :( Sedih dan miris sekali rasanya.. Nyawa udah kayak maenan dibuatkannye *geram*

    Membunuh saja udah dosa, ini yang dibunuh anak sendiri pula, astaghfirullahal'adziim..

    Apapun alasannya, tetap takkan pernah bisa diterima. Kalau karna faktor ekonomi kemudian membunuh anak, sungguh benar-benar miris. Seakan-akan ndak percaya Allah pasti kasi rejeki untuk umatNya..

    Sepakat dengan kang asep, hidup adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Hidup adalah rejeki nyata yang Allah karuniakan untuk kita semua.

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog