Jual Milagros disini
Loading...

Kami Harus Mandiri

Tanggal 4 Desember 2011 kemarin bagi kami sekeluarga adalah tanggal yang cukup mengharukan terutama kaitannya dengan perkembangan dan pertumbuhan anak anak. Mengapa cukup mengharukan ya karena anak anak kami, Tazkia dan Abbie, harus segera "angkat kaki" dari rumah pengasuhannya selama ini dikeluarga Pak Muhyar. Kami memang mempercayakan pengasuhan tambahan anak anak dengan keluarga itu sejak anak kami yang pertama Abbie masih berusia 8 (delapan) bulan. Keadaan sekarang sudah berubah, dimana Abbie sudah berusia hampir 3 (tiga) tahun, dan adiknya, Tazkia, hampir mencapai usia 1 (satu) tahun. t

Antara kami dengan mereka memang satu komplek yang sama yang tinggal di komplek Duta Bandara Permai yang terletak di kawasan Ahmad Yani 2 Supadio itu. Salah satu pemicunya adalah keinginan sang "bu care" yang meminta secara sepihak kenaikan "honor" pengasuhan anak anak sebesar Rp.150.000,- (Seratus ribu rupiah), sehingga kalaw ditotal biaya yang harus kami keluarkan untuk "tarif baru" ini adalah sebesar Rp.750.000,- (Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) dari kisaran normalnya yang Rp.600.000,- (Enam ratus ribu rupiah) itu. Tak pelak usulan kenaikan baru ini membuat kami tersentak, wajar sekaligus kaget. Apa pertimbangannya sampai menuntut kenaikan tersebut?

Wajar Saja Kenaikan
Ditengah derasnya kenaikan kebutuhan sehari sehari dewasa ini kenaikan apapun itu masih dianggap wajar, dan bahkan memang seharusnya naik. Usulan kenaikan sebesar yang diminta secara sepihak oleh ibu pengasuh sebesar Rp.150.000,- (Seratus ribu rupiah) itu juga masih kami anggap wajar dari sisi kenaikannya. Ya memang apa apa serba mahal sekarang, dan semua orang tau itu. Namun dari segi EKONOMI, terus terang saja angka kenaikan itu "tidak kena" di hati kami, dan kami sekeluarga merasa keberatan. Sehingga kalaw ditotal biaya yang harus kami keluarkan untuk "tarif baru" ini adalah sebesar Rp.750.000,- (Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) dari kisaran normalnya yang Rp.600.000,- (Enam ratus ribu rupiah) itu. Tak pelak usulan kenaikan baru ini membuat kami tersentak, wajar sekaligus kaget. Apa pertimbangannya sampai menuntut kenaikan tersebut? itu yang kami tanyakan kepada mereka. Mereka pun sudah diberitahu bahwa keadaan kami sekeluarga memang tidak "semewah" penampilan kami sehari hari, dan ternyata kami sekeluarga juga masih menanggung banyak hutang.

Kasus yang pernah menimpa kami sekeluarga, dengan ditipunya kami dalam urusan tanah sebesar Rp.25.500.000,- (Dua puluh lima juta lima ratus ribu rupiah) beberapa tahun yang lalu juga masih menyisakan persoalan bagi kami sekeluarga di mana kami juga masih harus menanggung beban hutang Bank Kalbar itu hingga beberapa tahun ke depannya. Belum lagi dengan pengeluaran rutin dan sifatnya tetap keluarga lainnya seperti pengeluaran untuk dapur, susu, pempes, bedak dan lain sebagainya, Kondisi keuangan kami saat ini memang masih jauh dari sebutan "Established" atau "steady" alias stabil atau mapan. Memang dari pandangan dari luar sih enak saja ya karena kami memang sama sama bekerja, saya sebagai salah satu karyawan swasta di salah satu perusahaan media cetak, sedangkan istri sebagai Pegawai Negeri Sipil dan mengajar di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kubu.

Saat saya menyambangi keluarga itu kemarin (hari Ahad 4 Desember 2011, sekitar jam 18.30) memang terjadi dialog antara saya dengan keluarga Pak Muhyar. Saya yang memang dipercaya istri menjadi duta atau wakil keluarga menyampaikan keberatan dengan kenaikan tersebut dan menyampaikan keinginan untuk "menarik" anak anak dari pengasuhan mereka selama ini. Sontak keinginan kami ini disambut dengan keterkejutan mereka juga, bahkan sang bu care yang menjadi titik sentral kenaikan ini pun sempat meneteskan air mata. Saya sih santai saja menanggapinya dan saya bisa melihat masih ada sisi baik dari kedua orang tua ini terhadap anak anak kami, dan kami menyadari kasih sayang dan cinta mereka terhadap anak anak masih ada. Itu menjadi bahan pertimbangan kami dalam memutuskan keputusan ini.

Sebenarnya sayang juga kami dengan keluarga pak Muhyar yang sudah kami percayakan menjadi pengsuhan tambahan bagi anak anak sejak kira kira 3 (tiga) tahun yang lalu. Saat anak kami pertama, Abbie, masih berusia 8 (delapan) bulan sudah dipercayakan diasuh mereka. Selain memang jaraknya dekat dengan rumah (karena memang satu komplek), keluaga pak Muhyar kami nilai sangat familiar dengan anak anak, dan menganggap anak anak sebagai anak mereka juga. Namun keputusan sudah kami ambil, dan dalam penilaian bunda (sebutan untuk stri saya-red) yang memang mempunyai latar belakang sebagai guru TK Al Azhar itu mempunyai pertimbangan lain. Anak anak yang memang sudah beranjak besar, terutama Abbie, memang memerlukan suasana baru dari yang selama ini hanya menatap orang yang "itu itu" saja, menjadi berbeda semuanya. Kami sedang survey lembaga Penitipan anak yang baik dan islami sebagai tempat pengasuhan yang baru bagi Abbie kelak, sedangkan adiknya Tazkia yang hampir satu tahun ini kembali kepangkuan pengasuhan ibu kandungnya.


No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog