Jual Milagros disini
Loading...

Distribusi Terhambat, Harga Terancam Naik

PONTIANAK – Jelang hari raya Natal dan Tahun Baru, para distributor barang dikalutkan dengan terhambatnya sistem distribusi mereka. Kontainer-kontainer barang yang sejatinya akan disalurkan ke daerah-daerah, tertumpuk di pelabuhan Pontianak. Penyebabnya adalah belum berfungsinya beberapa container crane milik PT Pelindo II.

Pengerjaan bongkar muat dari kapal ke darat yang seharusnya berlangsung cepat, menjadi lebih lambat dari biasanya. Kapal-kapal harus mengantre untuk sandar di dermaga karenanya. Selasa (6/12) saja sampai ada sembilan kapal yang menunggu giliran untuk berlabuh. Sementara kemarin (7/12), ada enam kapal yang mengalami nasib serupa.

Untuk mengatasai masalah tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Barat menggelar dan memfasilitasi pertemuan dengan mengundang berbagai stake holder, seperti Pelindo II, Gabungan Forwarder & Ekspedisi Indonesia (Gafeksi), Indonesian Forwarders Associations (Infa), Asosiasi Pelayanan Bunker Indonesia (APBI), Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), Forum Komunikasi Perusahaan Distribusi (FKPD) Kalbar, dan lain-lain.


Dalam pertemuan yang diadakan di Kantor Kadin Kalbar tersebut, Ketua Umum FKPD Stivanus mengatakan jika hal tersebut dibiarkan berlarut-larut, akan mempengaruhi harga barang di pasaran. Pasalnya keterlambatan barang tersebut akan menambah biaya distribusi. “Otomatis waktu yang dibutuhkan untuk distribusi semakin panjang. Ini akan menambah cost kita, karena harus membayar lebih buat karyawan. Selain itu barang yang di sini belum sempat didistribusikan, kapal dari Jakarta sudah datang lagi. Akibatnya terjadi penumpukan,” kata Stivanus.

Menurut dia hal itu dapat menyebabkan kenaikan harga barang. “Ujung-ujungnya rakyat kecil yang akan terkena imbasnya, kalau seperti ini harga barang akan naik. Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru, kebutuhan pasti meningkat,” sebutnya. Stivanus menyampaikan ada lebih dari 40 persen dari total barang yang masih di pelabuhan dan belum tersalurkan.

Sementara itu, Wakil Ketua Gafeksi Kalbar, Marzuki Hamid menilai saat ini bukan hanya itu yang menjadi masalah. “Ketersediaan lahan yang tidak cukup menampung bongkar muat dan belum tertata dengan baiknya kontainer-kontainer juga menjadi masalah,” ujarnya.

PT Pelindo II langsung merespon keluhan-keluhan tersebut. Titah Yudhana, manajer teknik Pelindo II berjanji masalah tersebut akan segera teratasi. “Saat ini kita sedang membenahi dua container crane yang baru. Paling lambat mungkin minggu depan sudah dapat berfungsi semuanya,” ungkapnya.

Soal keterbatasan daya tampung lahan dermaga Pelindo sekarang, Titah mengatakan Pelindo akan menambah depo-depo baru agar proses bongkar muat bisa lebih efesien. “Kami akan membuat depo baru di Nipah Kuning, luasnya 1,6 hektar. Bisa menampung kelebihan kapasitas saat ini. Rencananya semester I 2012 sudah mulai dimulai,” kata Titah.

Bahkan Pelindo juga siap membangun depo besar di Wajok, Kabupaten Pontianak seluas 26 hektar. “Sekarang masih dalam tahap pengkajian dan pembebasan lahan. Kemungkinan baru bisa dibangun tahun 2013,” cetusnya. Permasalahan lain yang dibahas adalah soal rencana perdagangan bebas untuk wilayah Asia Tenggara tahun 2015 nanti. Wakil Ketua Kadin Kalbar, Soetaryo Soeradi menilai pemerintah pusat maupun provinsi harus mempersiapkan infrastruktur yang layak agar produk Kalbar mampu bersaing dengan milik negara lain.

“Ekonomi kita adalah ekonomi biaya tinggi. Kita tidak bisa mengantar barang dalam jumlah yang besar. Jalan-jalan kita hanya mampu menahan kendaraan seberat delapan ton saja. Jadinya sistem distribusi kita tidak efesian. Bandingkan dengan jalan Malaysia yang mampu menahan 30 ton atau jalan di China yang mampu sampai 80 ton. Sudah pasti produk mereka lebih murah. Belum lagi kebijakan suku bunga dan pajak,” pungkas dia.

Sumber Pontianak Post

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog