Jual Milagros disini
Loading...

Masalah Akan Selalu Ada


Dear blog. Dalam kehidupan kita sehari hari tidak akan pernah luput dari yang namanya masalah dan permasalahan mulai dari diri kita sendiri, lingkungan, RT RW hingga kepada kehidupan berbangsa dan bernegara. Masalah yang timbul itu sendiri bisa berasal dari diri kita sendiri, dari luar diri sendiri, maupun sebagai akibat atau konsekuensi logis dari kelakuan dan perbuatan kita sendiri baik terhadap alam sekitar, terhadap sesama manusia, hingga kepada sang Maha Pencipta dalam hal ini kepada Allah SWT.

Semua umat beragama di Indonesia juga menginginkan kedamaian, dan persahabatan antar sesama manusia untuk saling hidup damai , selaras dan harmonis dalam koridor negara kesatuan republik Indonesia yang kita cintai ini. Namun kadang ada saja hal hal yang terjadi di masyarakat belakangan ini yang membuat hati kita miris, dan sedih dibuatnya. Berbagai masalah yang ada dan melanda bangsa Indonesia saat ini sangat kompleks dan amat beragam mulai dari masalah yang menyangkut etika kepatutan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, krimininalittas, TKI , Narkoba hingga kepada masalah harga diri bangsa yang diinjak bangsa lain seperti kasus Ambalat, Sepadan Ligitan dan lain sebagainya. Juga masalah yang timbul dari sikap dan tingkah laku kita terhadap alam yang menyebabkan bencana alam seperti gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor dan lain sebagainya. Bagaimana sikap kita, sebagai warga, dan sebagai anggota masyakarat dalam menyikapi berbagai fenomena masalah bangsa Indonesia saat ini?

Kita Memang Tidak Siap
Berbagai masalah yang timbul dan tenggelam yang melanda Bangsa Indonesia, dalam kacamata saya yang awam (walaupun saya tidak berkaca mata minus-red) seharusnya disikapi dengan bijaksana dan melihatnya dari berbagai sudut kehidupan, dan tidak terbatas pada satu sisi saja. Banyak contoh contoh yang sederhana yang terjadi di sekitar kita dan kita menanggapi masalah masalah itu dari sisi yang sempit, dan dilandasi oleh kecurigaan yang tidak berdasar , prasangka buruk serta imej yang terbangun bahwa sesuatu itu harus diberantas sampai ke akar akarnya dengan waktu yang amat singkat alias instan. Kasus yang sekarang ini sedang ramai dibicarakan adalah perseteruan antara DPR dengan KPK yang membuat kita geleng geleng tidak habis pikir. KPK yang memang di "lahirkan" sebagai produk kebijakan dari DPR menganggap "anak kandung" nya itu bersikap "durhaka" kepada "orang tuanya" di DPR. Ini yang tidak kita mengerti karena mereka berdua (DPR dan KPK-red) adalah institusi negara yang kita hormati dan berperan penting dalam memberantas budaya korupsi di Indonesia.

Ah contoh itu kelewat tinggi. Penghamburan anggaran misalnya. Masyarakat menilai jika penghamburan dana yang tidak pada tempatnya menyakiti hati rakyat yang saat ini memang sedang dilanda kesulitan, dan kesusahan. Masyarakat sudah gerah dengan berbagai atraksi, dan orkestra korupsi yang sudah menjadi hal umum dan biasa terjadi di Indonesia dan seolah olah tidak ada habis habisnya. Masalah ya masalah yang menjadi tema blog tulisan saya hari ini tidak akan selesai berlembar lembar jika membahas masalah masalah yang ada dan sedang terjadi di Indonesia.

Bagaimana sebaiknya masyarakat menyikapi berbagai persoalan yang sekarang ini sudah mencapai titik nadirnya dan nyaris hampir tidak ada lagi rasa percaya kepada para penegak hukum apalagi kepada pemerintahan yang sedang berjalan saat ini. Presiden SBY yang dalam masa kampanyenya dahulu gembar gembor berkampanye terdepan dalam memberantas korupsi di Indonesia nyata nyatanya tidak seindah dari janji kampanyenya. Pelaku korupsi dan para koruptor bisa melenggang bebas di negeri ini dan bahkan melakukan justifikasi (pembenaran-red) dengan "menyerang balik" kepada aparat penegak hukum.

Kasus musibah jatuhnya pesawatr Cassa 212 yang jatuh dibukit sekitar pegunungan Bahorok di Sumatera Selatan juga tidak kalah memilukan kita semua. Hati ini terasa sedih dan tersayat melihat anggota keluarga para korban pesawat Cassa 212 yang meraung raung menangisi kepergian anggota keluarga yang selama lamanya. Berbagai tudingan kasar maupun rasa kekecewaan terhadap kinerja aparat dalam menyelamatkan para korban terlempar , terucap dan tersiar di mana mana. Benarkah karena faktor alam yang ganas dan tidak bersahabat menjadi "kambing hitam" terhadap lambatnya penyelamatan para korban pesawat naas itu?. Harus kah alam selalu disalahkan atas lalainya kita dalam menangangi kecelakaan yang merenggut nyawa manusia ini?.

bagian Penutup
Kita sudah tau semua bahwa bangsa Indonesia memang tidak siap dalam berbagai hal dalam mengatasi musibah kecelakaan transportasi, maupun musibah bencana alam yang melanda negeri ini. Kita tidak pernah siap, dan tidak akan pernah mau siap. Koordinasi yang lama dan lambat dalam menangani musibah ini telah menyebabkan nyawa manusia hilang. Terlalu lama menunggu bantuan datang, menyebabkan mereka tidak tahan. Siapa yang bisa menjamin kalaw musibah seperti ini tidak terulang lagi. Siapa yang bisa menjamin kalaw kita tidak akan siap lagi. Sampai kapan kita akan siap?. Kalaw menunggu tim Sar dan Basarnas berkoordinasi dalam menyiapkan evakuasi, apakah harus menunggu 3 hari untuk bisa berkoordinasi dengan rapih dan siap melakukan tindakan penyelamatan para korban Pesawat naas itu?. Mengapa sikap siap kita terhadap musibah bencana alam dan kecelakaan transportasi tidak sesiap tim yang memberantas Teroris dan Terorisme.

Kita salut dengan kesigapan dan kesiapan tim pemberantas teroris yang bergerak sangat cepat dalam melumpuhkan, menangkap dan mengadili para teroris. Bagaimana kita terpukau dan kagum terhadap upaya pembebasan para sandera Garuda Woyla, Bom Bali I, II, Bom Kuningan, hingga kepada pembebasan awak kapal, dan penyelamatan TKI kita dari hukuman pancung di negara lain. Ya tentu saja kita semua merindukan akan kesiapan dan kesigapan kita akan sama perlakuannya terhadap musibah bencana alam dan musibah transportasi yang lagi ramai belakangan ini menimpa kita semua. Memang musibah adalah takdir.

Seharusnya kita memiliki Sistim yang canggih dalam menyiapkan diri untuk menghadapi musibah semacam jatuhnya pesawat Cassa 212 serta musibah bencana alam lainnya. Misalnya tim tim yang menangani musibah kecelakaan transportasi sudah disiapkan jauh jauh hari sebelumnya. Begitu juga tim gawat darurat yang menangani musibah bencana alam juga sudah disiapkan sejak lama, dan tiap daerah dapat berkoordinasi dengan Basarnas dalam menyiapkan tim tim seperti itu ditiap propinsi. Dengan demikian jika klausul terjadi, misalnya banjir, maka tim di daerah sudah bergerak dahulu menyelamatkan para korban. Bukan menunggu sampai ramai dulu orangnya atau timnya baru bergerak, ya kasihan para korban di lokasi musibah donk. Keburu meninggal para korbannya karena kelamaan menunggu. Buat donk sistim seperti militer. oh kalaw ada kasus Hijack (pembajakan pesawat-red), tim ini maju. Go. Oh kalaw ada kasus Terorisme, ini loh tim Detasemen 88 maju, Go. Nah coba dibuat seperti itu. Buat tim spesial rapid force atau semacam Mission Impossible yang bergerak cepat ke lokasi bencana maupun musibah lainnya di seluruh Indonesia. Coba bisa nda?

Betapa pun canggihnya transportasi kita, selalu ada celah dimana kekeliruan yang amat sedehana saja bisa berakibat fatal dan menimbulkan musibah dan terjadinya kecelakaan. Musibah memang bisa datang sewaktu waktu dan datangnya pun tidak pernah memberi tahu. Marilah kita mulai dari saat ini untuk berhenti menyalahkan faktor alam sebagai biang keladi lambatnya penyelamatan musibah kecelakaan seperti jatuhnya pesawat Cassa 212 yang baru saat ini. Mari dengan jantan kita mengaku lalai dalam bersikap cepat dan tepat dalam menyelamatkan mereka. Dari sinilah kita belajar dan belajar bahwa musibah bisa kapan saja terjadi, dan kita dituntut untuk selalu siap kala dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Mari kita selalu siap kapan saja


No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog