Jual Milagros disini
Loading...

Gempa di Bali Bukan Karena Maksiat

Saat ke Bali tahun 2010

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Gempa yang menerjang kota Denpasar, kuta di Pulau Bali kemarin memang menghentakkan kita semua di seluruh Indonesia. Informasi yang begitu cepat tersebar di berbagai media cetak maupun online semakin santer dan kita semua sudah mengetahui detailnya. Gempa berkekuatan sekitar 6 skala richter itu memang tidak menimbulkan korban jiwa, namun tidak urung telah banyak menciderai para siswa sebuah SMK di Denpasar, dan banyak bangunan yang rusak ringan karenanya,. Gempa di Bali ini memang amat unik. Unik bukan karena Gempanya terjadi di pulau Dewat, sebab gempa bisa terhadi di mana saja, namun karena beredar isu santer Gempa di Bali karena banyaknya maksiat di pulau tersebut hingga menimbulkan murka Tuhan dan mengakibatkan Gempa. Sontak saya tertawa mendengar isu sampah ini akhirnya sampai juga ketelinga saya.

Saya tertawa bukan karena gempa itu lucu, sama sekali bukan. Saya tertawa spontan saja mendengar isu yang tidak masuk akal ini. Karena apa, ya karena isu yang beredar itu amat menyesatkan. Isu yang beredar saat ini memang santer, bahwa Pulau Bali kena Gempa karena banyak turis asing (bule-red) yang berbuat maksiat di Pulau Bali. Bahkan rekan saya, sesama perwakilan KangGURU Australia di Indonesia, sebut saja Mr Fulan mengirimkan SMS nya kepada saya beberapa jam setelah gempa itu menerjang Bali. Dalam SMSnya dia mengatakan agar warga bule di Bali tobat untuk tidak lagi berbuat maksiat di Bali. Weleh weleh sampai segitunya isu isu tidak baik ini menyebar.

Bali Memang Surga Turis
Well, kita semua tau persis bahwa Pulau Bali memang amat terkenal di Indonesia. Turis manca negara, terutama Australia, memang amat gandrung datang ke Pulau Bali. Bom Bali I dan II yang pernah meluluhlantakan pulau Bali sekitar taun 2002 yang lalu seakan tidak berpengaruh sama sekali. Pariwisata di Bali terus bangkit dari keterpurukannya akibat bom yang amat mengerikan itu. Saya sendiri yang sudah 9 (sembilan-red) kali mengunjungi pulau Bali sejak tahun 2004 yang lalu juga mengagumi pulau Bali dengan segudang wisata eksotisnya, kulinernya (Karena saya doyan makan-red) dan juga pemandangan alam pulau Bali yang memang indah dan memanjakan mata siapa pun yang datang melihatnya

Apa yang kalian ketahui tentang Bali? Pulau yang amat dikenal mendunia ini lebih terkenal dibandingkan dengan "induk"nya yakni Indonesia. Setiap orang di Indonesia pasti tahu pulau Dewata atau Bali. Ya pulau Bali. Mendengar kata Pulau Dewata atau Bali , ingatan kita pasti melayang kepada Joger, Pantai Kuta, Uluwatu, Pasar Sukowati lengkap dengan tarian tarian dan juga pesona bule bule di sana. Ah ingatan anda itu memang tidak berbeda dengan apa yang sudah saya rasakan. Lantas apa yang menjadi daya tarik bagi anda hingga selalu ingin dan ingin sekali mengunjungi pulau Bali? Atau bagi anda yang sudah pernah ke Bali, lalu apa yang menjadi daya tarik pulau Bali sehingga anda ingin kembali mengunjungi kembali pulau Bali itu?

Obyek wisata yang pertama sekali yang saya datangi saat pertama kali mengunjungi pulau Bali tentu saja monumen Bali Bombing yang terletak di posisi Kuta. Memang saat saya melihat monumen Bom Bali pada tahun 2007 lalu memang sudah tidak ada lagi karangan bunga duka cita. Memang sudah bersih semua wis plek. Memang saat itu saya sempat melihat beberapa bule yang menaruh karangan bunga di Monumen Bom Bali. Peristiwa Bom Bali memang sempat membuat pariwisata Bali terpuruk beberapa saat, namun kemudian Bali kembali bangkit meraih cita citanya kembali sebagai lokomotif wisata di Indonesia. Kini semakin banyak saja turis turis asing berdatang ke Pulau Bali untuk berbagai tujuan baik untuk kepentingan bisnis, urusan family, berinvestasi, berwisata kuliner, bernostalgia, dan tentunya juga untuk bersenang senang (pleasure-red) di pulau Bali. Memang ada larangan bersenang senang? Tentu saja tidak ada larangan, dan siapapun boleh menikmati hidup dan bersenang senang bukan. Namun demikian ekses negatif dan stigma miring selalu dilekatkan pada setiap turis yang datang ke Bali selalu didentikan dengan berbuat maksiat. Mengapa harus di Bali kalau soal Maksiat? DI mana mana selalu ada maksiat jangankan di Bali, di kota kota lain di seluruh Indonesia juga ada maksiat. Maksiat bisa terjadi di mana mana, dan tidak harus di Bali.


Kita Perlu Introspeksi
Dengan musibah gempa ini seakan mengingatkan diri kita akan musibah gempa gempa lainnya di Indonesia. Fenomena ini memang menarik dikaji dari berbagai sisi, mulai dari sisi historis dalam artian sejarah lempengan gempa di Indonesia, sisi agama dalam hal ini kepercayaan dan keyakinan kita kepada sang Pencipta, dan juag dari sisi gosip gosip lainnya yang sering menyertai disetiap musibah yang terjadi di Indonesia. Mungkin kita semua sudah saatnya untuk tidak menjudge suatu wilayah, suatu kota atau suatu pulau apa pun di Indonesia dan menyalahkannya jika terjadi musibah.

Masih segar dalam ingatan kita Tsunami yang menerjang Aceh beberapa tahun yang lalu, apakah masih kita salahkan Aceh ada maksiat sehingga menimbulkan murka Allah SWT dengan menurunkan bencana alam Tsunami yang dahsyat dan menimbulkan ribuan korban jiwa itu? Kita tidak boleh menyalahkan siapa siapa atas setiap musibah yang terjadi di Indonesia. Gempa dan Tsunami di Aceh, Gunung Meletus di Jogjakarta, dan Gempa terbaru di Bali, adalah musibah yang merupakan siklus alami dari alam semesta dan tentunya juga atas sepengetahuan dari Allah SWT. Kita harus introspeksi diri. Sekali lagi saya tekankan untuk tidak menyalahkan siapa siapa atas musibah dan bencana yang bersifat masif melanda Indonesia ini. Saya pribadi sangat geram dan sangat mengecam adanya opini yang menyatakan bahwa bencana yang menimpa pulau Dewata tersebut adalah azab yang menimpa pulau tersebut.

Yang namanya perbuatan Maksiat tidak harus di pulau Bali. Saya mengatakan ini bukan bermaksud "membela" Bali namun lebih bermakna meluruskan opini yang beredar santer saat ini yang mengatkaan bahwa bencana yang menimpa pulau Dewata tersebut adalah azab yang menimpa pulau tersebut karena banyaknya maksiat di sana. Seperti kata Bang Napi bahwa kejahatan bisa terjadi karena ada niat dan kesempatan. Saya jadi bertanya apa hubungan antara niat dan kesempatan untuk suatu kejahatan?
  1. NIAT
    rang kalaw sudah berniat jelek atau berniat melakukan perbuatan yang tidak baik apakah itu mencuri dan lain sebagainya, adalah perbuatan terencana. Jika itu dilakukan dalam rangka untuk berniat menghabisi nyawa orang lain, apa pun motifnya, mendapat ancaman hukum berat. Mengapa terancam hukuman berat? Ya karena sudah ada niat untuk melakukan hal ini.

    Jika niat sudah kuat, apa pun bisa dilakukan. Kesempatan bisa diciptakan karena memang sudah ada niat kuat melakukan perbuatan yang tidak terpuji itu. Lain halnya jika kesempatan yang dia inginkan, atau dibuat tidak terlaksana dengan baik, ini bisa dikatakan niatnya terkendala. Lain halnya jika si pelaku sadar walaupun kesempatan berbuat jelek sudah dia ciptakan, tapi kalwa si pelaku berubah pikiran bisa saja dia mengurungkan niatnya untuk berbuat jahat.

    Niat amat berperan penting dalam hidup seseorang. Niat yang sudah benar benar tertanam dalam dada seseorang akan dieksekusi dan akan dilaksanakan jika sudah datang masa (waktu) yang tepat. Bahkan jika niat sudah membara, apalagi niat yang baik, tentu akan melakukan apa saja agar niat baiknya terwujud. Anda punya niat menyumbang, maka anda bisa menyumbang di mana saja bisa anda lakukan. sama halnya jika anda punya niat jelek. Jika niat jelek sudah ada diotak anda, maka apapun akan anda lakukan agar niat jelek anda itu terwujud. Niat adalah biang keladi dari semua tindak kejahatan dimuka bumi ini.
  2. KESEMPATAN
    Nah ini juga ada kaitannya dengan Niat yang sudah saya paparkan secara singkat pada bagian atas. Kesempatan (opportunity). Jika tidak ada niat jahat dalam diri seseorang, walaupun didepannya ada kesempatan, maka sudah dipastikan orang itu tidak akan melakukan tindak kejahatan. Bahkan orang itu bisa saja mengembalikan kepada yang berhak atasnya. Sebagai contoh yang amat sederhana adalah menemukan dompet di jalan. Jika orang itu berniat baik, maka ia akan mengembalikan dompet beserta isinya itu kepada pemiliknya.

    Contoh sederhana lainnya adalah kantin kejujuran. Nah kantin kejujuran adalah kantin tanpa awak. Maksudnya semua penganan, makanan disajikan di meja. Jadi jika anda jujur dan tidak ada niat "korupsi" kue yang anda makan, maka anda akan membayar kue di kantin kejujuran sebanyak kue yang anda makan. Jangan curang. Makan Bakwan habis 5 biji tapi ngakunya makan 2 saja, dan membayar sesuai yang dia bilang, yakni 2. Bukankah itu anda sudah berniat tidak baik?. Jadi dalam pemikiran saya, kesempatan itu bersifat relatif. Jika anda memang sudah dari awal punya niat jelek, kesempatan bisa diciptakan, Dan jika ada kesempatan terbuka tentu akan anda sambar. Namun jika anda memang tidak punya niat jelek, atau niat berbuat tidak baik, maka kesempatan terbuka pun tidak akan ada perdulikan

Nah maksiat adalah juga sebagai salah satu bentuk manifestasi Kejahatan. Jadi berhentilah menyalahkan orang lain atau pihak lain atas datangnya suatu musibah. Kita semua harus introspeksi ke dalam diri kita masing masing. Benarkah kita ini sudah melaksanakan perintah Allah SWT (Bagi yang beragama Islam seperti saya-red) yakni dengan menjalankan semua perintah ALLAH dan menjauhi segala laranganNYA?. Musibah dan bencana yang kerap kali melanda bangsa Indonesia seharusnya disikapi dengan dewasa dan bijaksana. Tidak menyalahkan alam semesta yang sudah beredar sesuai siklus yang ditentukan oleh Allah SWT. Tidak menyalahkan orang lain atas musibah yang datang kepadanya. Namun dari semua itu, yang harus kita perhatikan sekarang ini, adalah introspeksi ke dalam diri kita. Menjalankan semua perintah ALLAH dan menjauhi segala laranganNYA adalah suatu statemen yang amat dalam yang mengandung nilai dimensi vertikal (kepada TUHAN YME-red) dan dimensi horizontal (yakni hubungan sesama masyarakat-red) yang harus kita jaga bersama sama.

Mari kita instrospeksi diri kita masing masing....

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog