Jual Milagros disini
Loading...

Bersahabat Dengan Masalah


Bangsa Indonesia saat ini memang sedang dirundung banyak masalah. Mulai dari masalah yang amat sederhana dalam lingkup yang kecil sampai kepada masalah besar menyangkut hajat hidup orang banyak, persatuan dan kesatuan , hingga pada masalah kedaulatan bangsa dan negara. Luar biasa masalah itu, sehingga ada yang mengatakan kalaw bangsa Indonesia bukan Indonesia namanya kalaw tidak ada masalah. Hidup memang penuh masalah, dan masalah itu akan selalu ada dilingkungan sekitar kita yang masih memerlukan penelahan bersama sama.

Masalah. Hmmm. Siapa sih yang ingin memiliki masalah wah tentu tidak ada satupun yang kalian katakan suka ya. Walaupun tulisan ini diinspirasi dari lirik lagunya si cantik Lenka Kripac menyebutkan "Trouble is A Friend" atau dalam bahasa Indonesia kira kira diterjemahkan menjadi "Masalah adalah Sahabat", namun kebanyakan orang di Indonesia kurang menyukai masalah. Namun ada juga sebagian kalangan yang senang menghadapi masalah, bahkan membuat masalah (trouble maker) itu sendiri. Hmmm. Saya sih maunya menjadi pemecah masalah (troubler solver-red) dan bukan orang yang hobinya menciptakan masalah (trouble maker-red). Namun bisakah kita berlaku atau berbuat menjadi seorang yang mumpuni dalam memecahkan masalah (Trouble solver-red) di jaman serba penuh masalah sekarang ini?

Masalah itu Baik
Coba kita telaah dengan baik mengapa kita selalu dan selalu mendapatkan masalah. Nah dalam terminologi sederhana seseorang yang mendapatkan masalah itu sebenarnya bisa berasal dari dua sumber yang berbeda. Pertama masalah yang ditimbulkan oleh pihak lain, dan yang kedua adalah masalah yang timbul karena ulah, sikap, dan perbuatan kita sendiri. Nah dari kedua katagori ini, yang manakah yang paling menjadi dominan sebagai faktor timbulnya masalah itu?. Nah pada umumnya masalah diciptakan karena kita melalaikan kewajiban atau sesuatu yang menjadi kebiasaan baik sehari hari.

Sedangkan kelakuan dan sikap kita kaitannya dengan kewajiban yang berujung pada jatuhnya masalah biasanya menyangkut kewajiban kepada negara dan bangsa. Contoh yang paling mudah adalah kewajiban kita membayar rekening PLN atau PDAM. Terlepas prilaku PLN yang sering kacow balaw listriknya yang sering padam tanpa pemberitahuan, dan kadang Air Ledeng macet, kewajiban kita sebagai warga negara yang baik adalah membayar tagihan mereka tepat pada waktunya. Jika lalai, maka masalah yang akan kita terima sebagai konsekuensinya; bisa diputus sementara atau goodbye forever.




Sedangkan masalah yang timbul karena diakibatkan oleh kelalaian atau kekhilafan orang lain juga kadang menimbulkan masalah baru buat kita, disamping aneka permasalahan yang kita miliki sendiri. Contohnya amat banyak. Salah satu contoh yang sederhana adalah kebiasaan anak muda yang mengendarai kendaraannya (motor atau mobil-red) melebihi batas kecepatan yang normal yang dianjurkan. Sebagai contoh khusus untuk lintasan jalan sepanjang Ahmad Yani di Pontianak, sudah tertera di rambu rambu lalu lintas bahwa kecepatan (batas) maksimum yang diperkenankan adalah 40 KM.

Nah yang saya liat sendiri, begitu banyak pengendara mobil dan motor yang memacu kendaraannya melebihi batas kecepatan yang dianjurkan tersebut. Akibatnya bisa fatal baik untuk si pengendara sendiri ataupun orang lain yang berisiko terlanggar atau tertabrak akibat ulahnya itu. Nah dari contoj contoh sederhana ini kita, manusia, akan selalu dikelilingi oleh masalah. Masalah itu sebenarnya Indah. Bukan berarti masalah yang ada harus kita nikmati, namun akan terasa amat indah, dan melegakan jika masalah masalah hidup bisa dan berhasil kita selesaikan dengan baik.

Kita seharusnya bersyukur jika kita mendapatkan masalah bukannya malah mengutuk dunia, dengan bahasa kamar mandi atau bahasa tidak santun lagi. Dunia itu tidak ada masalah dengan kita, tapi kita yang sering bikin masalah dengan dunia tempat kita diami sekarang ini. Banjir datang, air macet, lalu listrik sering padam, bahkan cuaca panas yang kita alami, namun kita tidak terima dengan itu semua. Seolah olah semua itu adalah masalah yang tidak bisa diterima begitu saja. Jangan begitu. Sikapi semua masalah ini dengan jernih, dengan akal sehat dan perasaan yang tenang. Dengan pemikiran dan perasaan yang tenang, itu Insya Allah masalah akan tampak jelas jalan keluarnya. Cobalah mulai sekarang tidak lagi mengutuk dunia karena banyaknya masalah yang datang dan pergi dalam hidup kita. Seperti yang sudah saya sebut di atas sebaiknya kita bersyukur mendapat masalah karena dengan demikian kita dilatih untuk bisa membuat keputusan yang tepat dan benar. Dengan masalah itulah kita akan menjadi dewasa dan lebih bijaksana dalam membuat keputusan. Bukankah masalah itu baik? Nah marilah kita berprasangka baik dan berbuat baik dalam menyikapi masalah.

Bagian Penutup
Sebagai penutup dari tulisan pendek ini saya mencoba mengambil salah satu kutipan dari Mario Teguh yang sudah saya revisi menjadi versi saya sendiri. Kutipan aselinya adalah kira kira "janganlah kita berkompromi dengan penilaian negatif orang lain terhadap diri kita, tetapi perbaikilah diri kita agar berkualitas agar orang lain memperbaiki penilaiannya kepada diri kita". Nah kutipan si mas Mario Teguh The Golden Way inilah bisa menjadi dasar dan pijakan kita dalam memandang permasalahan yang tidak lagi dengan paradigma benar atau salah si masalah itu, namun lebih merujuk kepada diri kita sendiri untuk bisa melakukan apa yang dinamakan instropeksi diri ke dalam diri, dan memandang orang lain sebagai masukan yang positif.

Kritik atau bahkan hujatan orang lain terhadap diri kita sebaiknya tidak disikapi dengan sikap defensif dalam artian "membela diri" dari "serangan" seperti itu. Bersikap bijak dan melihat ke dalam sendiri apakah memang demikian seperti yang dituduhkan orang kepada kita. Diam juga bisa berarti mengiyakan apa yang disangkakan orang kepada kita, namun diam juga bisa bermakna dalam yakni merenungi sikap dan tingkah laku kita yang memancing orang lain melakukan serangan seperti itu. Semua berpusat pada diri sendiri sebagai faktor utama dari semua masalah yang ada dalam kehidupan ini. Nah dengan memakai diri sendiri sebagai sasaran kemarahan kita, niscaya akan ada gambaran jernih mengenai akar masalah itu sendiri.

Memang bukan hal yang mudah "menerima" masalah sebagai sahabat dan teman dalam kehidupan sehari hari, dan menerima kenyataan bahwa hidup kita akan selalu dikelilingi oleh masalah masalah. Menerima keadaan seperti itu mungkin jauh lebih melegakan daripada "lari" dari masalah, karena kemanapun kita pergi, kemanapun kita bersembunyi, masalah akan selalu datang mencari kita.

Masalah sudah selayaknya tidak perlu kita ciptakan, atau menciptakan masalah baru karena masalah yang sudah ada saja masih memerlukan perhatian besar dari kita semua. Masalah memang tidak perlu dicari cari, namun kita juga harus punya perisai sekaligus juga "senjata" untuk bisa mematahkan masalah yang datang. Kita semua harus berani dan bisa memecahkan masalah serumit apapun. Tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Terlepas dari itu semua, harapan terakhir kita tentunya memohon bantuan dan pertolongan dari Allah SWT Yang Maha Perkasa dan Maha Tahu. Meminta petunjuk Allah SWT setiap saat agar kita semua diberikan kekuatan dan kemampuan dalam memecahkan segala permasalah yang ada dalam kehidupan kita semua. Amin ya robbal Alamin

No comments:

| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog